
#Mengejar Cinta Suamiku part 22 (Memadu Cinta)
(PoV Rizki)
Di tempat kerja, semua orang membicarakan Sheila yang memutuskan diri untuk berhenti. Menurut gosip yang kudengar, dia dilarang untuk bekerja oleh suaminya. Entah itu banar atau tidak.
Sebenarnya aku merasa kasihan setelah tahu bahwa rumah tangga Sheila tidak sebahagia yang kukira. Tapi karena dia wanita kuat, dia selalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
Sheila lahir dari keluarga yang cukup berada. Namun, saat dirinya duduk di bangku SMA, usaha orangtuanya bangkrut dan meninggalkan banyak hutang.
Di masa tuanya sekarang, ayahnya sakit-sakitan, sedangkan ibunya banting tulang mencari uang.
Adik-adik Sheila masih menempuh pendidikan, yang pertama umurnya 16 tahun, dan yang kedua, 12 tahun.
Sheila bekerja keras untuk membantu ibunya mencukupi kebutuhan keluarga, dia juga bertanggung jawab atas biaya pendidikan kedua adiknya.
Dibalik sikap Sheila yang ceria, ada banyak beban yang dia pikul di pundaknya. Itulah mengapa aku berusaha memahami Sheila saat dia lebih memilih menikah dengan laki-laki kaya dibandingkan aku.
Setidaknya, laki-laki itu mampu meringankan beban yang selama ini membayangi hidupnya.
Meski aku hancur, tidak apa. Yang penting Sheila bahagia dengan pilihannya.
Begitu pemikiranku saat belum mengetahui bahwa suami Sheila ternyata orang yang mengerikan.
Tapi, dia tetap bertahan hingga sekarang, aku salut karena dia mengorbankan diri demi keluarganya. Apalagi, sekarang ada janin dalam rahimnya.
Bertahanlah Sheila, aku yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang kamu impikan.
Sejak pertemuan terakhir dengannya di cafe, aku tidak pernah mendapat kabar tentangnya lagi.
Semoga dia dalam keadaan baik-baik saja.
Aku berjalan hendak menuju ke kantin untuk makan siang, Ajis dan teman-teman lainnya sudah menunggu di sana.
Mushola di PT penuh, hingga harus menunggu giliran untuk sholat Dzuhur, ini membuat aku ketinggalan dari rombongan teman-teman.
“Rizki..”
Panggil seseorang dari belakang. Aku sangat mengenali suara itu, suara wanita yang sangat tidak asing di telinga.
Aku berbalik, dan melihat Sheila di sana. Tangannya membawa box besar berisi semua barang-barangnya saat bekerja di sini.
Ternyata kabar Sheila berhenti, bukan hanya gosip belaka. Kini, aku menyaksikan langsung keadaan sesungguhnya.
Aku tersenyum, dan mendekati Sheila.
Rambut panjangnya yang di ikat, dengan masker hitam menutupi wajah tidak membuatku kesulitan mengetahui bahwa itu Sheila.
Aku mengambil alih box yang berada di tangannya. Tubuhnya terlihat sedikit kurus, sedangkan box ini cukup berat, aku tidak sampai hati melihatnya memikul ini sendirian.
“Kenapa resign?”
Tanyaku tanpa menatap mata Sheila. Melihat keadaannya sekarang membuatku tidak kuat untuk mencerna setiap kesedihan dari sorot matanya.
Dia tersenyum, akan tetapi, senyuman itu adalah senyuman kesedihan.
“Kamu pasti udah dengar dari gosip yang beredar.”
“Apa itu benar?”
“Tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak salah.”
“Maaf, Mas bukan nggak mau bantu, tapi Mas nggak mau ikut campur dan memperkeruh suasana. Kamu sudah dewasa, pasti tahu keputusan terbaik untuk hidupmu sendiri. Mas hanya ingin berpesan, jangan terus menerus mengorbankan diri sendiri, sayangi dirimu, dan kejarlah hal yang bisa membuat bahagia. Jangan terlalu keras kepada diri sendiri.”
Aku menepuk pundak untuk memberinya semangat, dia tersenyum dan mengangguk. Matanya berkaca-kaca, dengan segera Sheila memalingkan muka dan menghapus air matanya.
“Hal yang membuatku bahagia adalah kamu. Tapi, aku malah memilih jalan yang salah, hingga akhirnya sekarang aku berada di sebuah jalan buntu. Tapi, aku janji tidak akan menyerah, Mas jangan khawatir, aku akan bahagia.”
“Bagus, pegang janjimu dan tetaplah semangat.”
“Mas, aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan. Tapi, tolong jangan membenciku, jangan bersikap seolah-olah kamu tidak mengenaliku. Itu akan membuatku merasa lebih bersalah.”
Aku mengangguk.
“Jangan lupa untuk selalu ingat makan, sekarang kamu tidak sendiri, ada janin yang ikut hidup dalam tubuhmu. Jangan egois!”
“Apa ini? Harusnya aku senang di khawatirkan oleh Mas, tapi sekarang, aku merasa malu. Aku tahu Mas hanya merasa kasihan, bukan mengkhawatirkanku seperti dulu. Sekarang aku benar-benar sudah yakin, kalo Mas sudah tidak memiliki rasa apa pun lagi kepadaku.”
Aku menghela nafas, yang dikatakan Sheila memang benar. Sekarang, aku sudah tidak pernah memikirkannya lagi, rasa yang dulu begitu dalam, kini sudah lenyap entah kemana, yang ada dalam pikiran dan hatiku saat ini hanyalah Annisa.
Aku sudah tiba di masa ini, masa dimana aku melihatnya sudah tidak merasakan sakit lagi. Yang ada, aku kasihan kepada Sheila, berharap semoga wanita ini tetap tegar menghadapi segala takdir yang menimpanya.
“Iya, Mas harap kamu pun akan melakukan hal yang sama, buang jauh-jauh rasa yang dulu pernah kita jalin bersama. Sekarang, fokus pada suami dan janin dalam perutmu. Cari jalan keluar bagi penyakit suamimu, ada banyak psikiater bagus di kota ini.”
“Sudah, jangan berlebihan dalam mengasihaniku, Mas tahu aku tidak selemah itu. Aku hanya perlu membiasakan diri dengan Sadomasokismenya.”
__ADS_1
“Mas selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu”
“Terimakasih Mas. Aku pamit, ya. Titip salam untuk istrimu”
Aku mengangguk. Kuantar dia hingga ke mobilnya, setelah meletakan box dalam bagasi, dia pamit dan melaju meninggalkan tempat ini.
Tempat kerja yang sudah selama enam tahun menjadi rumah kedua baginya. Di tempat ini pula, banyak kenangan manis yang Sheila dapatkan saat menjadi kekasihku.
Memutuskan untuk berhenti sudah pasti menjadi keputusan berat yang harus dia ambil. Karena, jika tidak menuruti perintah suaminya, dia akan kehilangan seluruh fasilitas yang selama ini di dapatkan.
***
Sesampainya di rumah, aku memberi tahu Annisa tentang pertemuan dengan Sheila tadi siang.
Entah kenapa, aku tidak pandai menyembunyikan apa pun darinya.
Seluruh hal yang terjadi antara aku dan Sheila, sudah kuceritakan semua kepada Annisa.
Melakukannya membuat hatiku merasa lega, dengan begitu Nisa akan mempercayaiku sepenuhnya.
“Maafkan Mas, ya. Pertemuan Mas dengan Sheila siang tadi hanya kebetulan, Sheila menyapa sekalian pamit.”
“Nisa senang sekarang Mas selalu cerita apa pun tanpa Nisa minta. Nisa tidak marah, kok. Oh, iya bay the way, kenapa Mbak Sheila tiba-tiba resign, Mas?”
“Karena dia sedang hamil, suaminya melarang dia tetap bekerja.”
“MasyaAllah, semoga mereka sehat-sehat sampai lahiran nanti.”
“Aamiin..”
Aku memberitahu Annisa hanya sebatas itu saja, tentang aib rumah tangganya, biarlah hanya aku dan Sheila yang tahu.
Aib adalah aib, aku tidak bisa menceritakan aib oranglain sekalipun kepada istriku sendiri.
Kami sedang mengemasi baju dan perlengkapan lain untuk besok pergi ke Bogor.
Kini, aku semakin dekat dengan Annisa. Kami sering menghabiskan waktu dengan mengobrol atau bercanda.
Aku merasa nyaman dengannya, saat aku bekerja, selalu saja ada perasaan ingin pulang. Aku mulai suka melihat dia tersenyum. Uniknya, Annisa adalah wanita yang suka sekali tersenyum meski aku tidak membuat lelucon.
Aku juga merasa senang saat menerima chat darinya, mungkin karena aku menikmati kebersamaanku dengan Annisa, sehingga saat mendapat kabar darinya, aku selalu merasa gembira.
Besok kami akan pergi ke Bogor untuk berlibur dengan tiket yang di dapat Annisa dari sahabatnya sebagai kado pernikahan kami.
Awalnya aku ragu-ragu untuk pergi, tapi kini aku merasa bersemangat untuk menghabiskan waktu dengan Annisa.
“Mas..”
Annisa memanggil,
“Iya, kenapa?”
Jawabku antusias
“Mmmm... kado dari Dewi yang Mas buka saat itu, bawa atau jangan?”
Deg.. deg.. deg..
Ada apa dengan jantungku, memikirkan Annisa memakai lingerie itu rasanya...
Kenapa tiba-tiba aku jadi salah tingkah begini?
“Terserah kamu aja, memangnya nggak akan kedinginan memakai baju minim seperti itu? Di sana kan dingin.”
“Kan ada Mas. Kalau kedinginan tinggal peluk Mas aja”
Celetuknya dengan senyum menggemaskan.
“Memangnya nggak takut? Nanti kalau yang dipeluknya minta plus-plus gimana?”
Aku menggodanya.
Ah, dasar mulut comel, kenapa malah bilang begitu. Malu sekali rasanya, terlanjur diucapkan mana bisa ditarik lagi.
Sontak Annisa menatapku dengan senyum menghakimi, genit sekali, tapi itu membuatnya terlihat semakin cantik.
“Berani memangnya? Coba Annisa pakai sekarang aja kalau begitu,”
Turur dia sambil perlahan menarik resleting gamisnya. Sontak aku kaget, dengan refleks tanganku menahannya yang akan membuka gamis.
“Mas bercanda..”
Keringatku mulai membanjiri tubuh. Kurasa hawa semakin panas, padahal AC menyala di suhu paling rendah. Jantungku tidak karuan, nafasku terasa sangat berat.
Annisa tertawa dengan nikmatnya, seolah merasa menang karena sudah membuatku merasa gugup.
__ADS_1
Tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahku sekarang, yang jelas, aku tidak bisa menyembunyikan kegugupan ini.
“Serius juga nggak papa, Nisa malah senang.”
Ujar dia semakin bersikap genit. Aku tidak tahan lagi dengan situasi ini.
“Sudah cepat selesaikan packingnya.”
Kataku menghindari kenakalannya yang terus menggodaku.
“Lagian, Mas sih sosoan godain Nisa. Giliran digodain balik, malah gugup sendiri”
Dia masih tertawa penuh kemenangan, Aku memperhatikannya. Dia cantik sekali, sangat cantik! Aku rasa, aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadanya.
Kuhampiri dia, dan menarik badanya ke pelukanku. Ah, gadis ini sangat pendek, kepalanya hanya sebatas bahuku. Tapi, aku merasa nyaman berada di pelukannya. Dia membalas pelukanku dengan sangat erat.
“Maafkan Mas yang terlambat menyadarinya bahwa Mas sudah jatuh cinta kepadamu. Annisa.. I lOVE YOU”
Aku semakin erat memeluknya, kuelus dan kuciumi kepalanya. Aku sangat bahagia, lebih bahagia dari saat aku bersama Sheila.
Lega rasanya, awalnya aku mengira akan sulit melupakan Sheila. Nyatanya, dengan kepribadian Annisa yang lemah lembut kepadaku, aku bisa secepat ini membuang Sheila dari hati dan ingatanku.
Sekarang hanya ada Annisa, sekarang aku hanya ingin membahagiakan dia.
Annisa bukan tipe wanita yang mencintai dunia seperti Sheila. Dia justru wanita yang sangat sederhana, selalu terngiang di telingaku saat dia menceritakan harapannya untuk bisa seperti Abi dan Ummi.
Menuntut ilmu bersama, saling mengingatkan perihal takwa. Aku akan melakukannya, aku akan memperdalam ilmu agama.
Agar Allah ridha, agar aku lebih layak untuknya, agar aku bisa membimbingnya menuju surga Allah.
Lama kami hanyut dalam pelukan, Annisa menengadahkan kepala menatapku, langsung kucium keningnya, dia tersenyum lagi diiringi air mata.
Kali ini, aku yakin itu adalah air mata bahagia, senang sekali hati ini saat melihat dia bahagia karenaku.
Malam mulai hening, hujan perlahan turun, cuaca bertambah dingin, tapi hawa di kamar ini semakin panas.
Aku mengambil lingerie itu dan memberikannya kepada Annisa. Seperti tahu maksudku, dia segera meraih dan mengganti gamis dengan lingerie itu.
Saat sudah memakainya, dia berkutat di meja rias, memoles wajah cantiknya dengan makeup.
Setelah selesai, dia menghampiriku yang sedari tadi memperhatikannya di atas ranjang.
Sungguh sulit aku menjabarkan betapa indahnya istriku malam ini, mungkin ini yang Rasulullah maksudkan wanita itu adalah perhiasan, karena dengan keindahannya, mampu membuat lelaki lupa dengan segala hal.
Annisa merupakan sebaik-baik perhiasan dunia, dengan pakaian seksi itu, dengan makeup yang dia poles di wajahnya, dengan parfum yang menyeruak menusuk hidung, membangkitkan gairah yang sulit kujabarkan.
Rasa yang indah, maha suci Allah yang telah menumbuhkan syahwat kepada setiap makhluk-Nya.
Ditemani hujan yang lebat, juga cuaca yang dingin, di malam Jumat ini, aku akan menafkahi batin Annisa yang sudah lama kutangguhkan.
Malam ini, aku akan menebus kezaliman yang telah kulakukan padanya.
Malam ini, akan kubuat Annisa melayang dari bumi, memanjakan dia dengan kenikmatan dunia yang tiada dua.
Aku akan melakukannya dengan sepenuh cinta, semoga kenikmatan yang akan kuberikan kepadanya menjadi sedekah yang besar pahalanya di sisi Allah.
Sebagaimana yang di sabdakan Rasulullah dalam salah satu haditsnya,
“Hubungan badan antara kalian (dengan isteri atau hamba sahaya) adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1006)
Para sahabat kemudian bertanya,
“Wahai Rasulullah, apabila kami mendatangi istri dengan syahwat, apakah akan mendatangkan pahala?”
Rasulullah SAW kemudian menjawab,
“Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya, jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim no. 1006)
Di malam yang indah ini, kami hendak memadu cinta. Bercumbu ria, melebur segala rasa dengan bersenggama.
“Bismillah Allahumma Jannibnis syaithaana wa jannibnis syaithaana maa razaqtanaa”
Dengan (menyebut) nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari (gangguan) setan. Dan jauhkanlah setan dari rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami)”
Kami terlebih dahulu melantunkan doa yang diajarkan Nabi. Agar ini menjadi sebuah ibadah, agar jika Allah memberi benih dari hasil cinta ini, kelak menjadi anak yang takwa.
Anak yang soleh atau solehah seperti Annisa, anak yang bisa menjadi syafaat untuk kita di hari kiamat kelak.
Malam ini sungguh indah, aku merasa menjadi lelaki seutuhnya.
Melihat Annisa yang sedang larut dalam kenikmatan dunia membuatku menjadi lebih percaya diri, aku akan memuaskannya sebagai bentuk balas dendam.
Juga sebagai bentuk terimakasih karena Annisa sudah mau menungguku melakukannya dengan waktu yang cukup lama.
Aku tidak henti-henti menyatakan perasaanku kepadanya, menyatakan cinta saat sedang bersenggama menumbuhkan sensasi tersendiri yang membuat ibadah paling nikmat ini menjadi semakin panas.
__ADS_1
Air hujan yang menimpa genteng semakin bising, menyamarkan suara kami yang sedang hanyut dalam aktifitas menyenangkan ini.
Bersambung...