
"Bodohnya aku." Bram memegang kepalanya sendiri.
Pada akhirnya beberapa orang tak dapat tidur nyenyak malam itu. Habibah sedang merintih kesakitan, meringkuk dengan kedinginan. Bram tetap menyandar di pintu kamar itu, tak mampu beranjak karena tubuhnya terasa berat dengan penuh penyesalan.
Lee pulang dengan marah dan benci yang masih mengonggok di dada. Dan malah semakin kacau ketika ponselnya berdering.
"Tuan, ayah Anda hilang!"
"Apa?" dia berhenti mendadak.
"Tadi pagi ada seorang yang datang, tapi Tuan mengizinkannya masuk." jelas Asisten rumah tangga di rumah Hiko tersebut.
"Siapa dia?" tanya Lee sangat ingin tahu.
"Aku tidak tahu, laki-laki itu kira-kira lebih mudah sedikit dari Tuan Hiko."
Lee semakin menautkan alisnya, bingung juga khawatir ia tak dapat menembak siapa yang menemui ayahnya.
"Atau jangan-jangan orang suruhan Marisa."
Lee memutar mobilnya ke arah yang entah akan kemana, pria itu panik setengah mati mendengar hilangnya Ayah yang sudah tidak berdaya tersebut.
"Paman, seseorang sudah membawa Ayah. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana?" ucap Lee melalui ponselnya.
Jelas di seberang sana juga tak kalah khawatir. Frans sibuk menekan tombol ponselnya untuk menghubungi orang-orang mereka yang tersisa untuk mencari keberadaan Hiko. Dia berpikir jika Orang yang mungkin melakukan ini adalah Marisa.
"Habibah." ucapnya tiba-tiba teringat sang menantu yang mungkin saja akan menjadi sasaran selanjutnya.
Frans menghubungi Habibah namun tak ada jawaban membuat ia sangat khawatir.
"Bram, mengapa lama sekali mengangkat telepon dariku!" bentak Frans kepada putranya setelah panggilannya tersambung.
"Maaf Ayah." jawab Bram terdengar lemas.
"Bram dengarkan aku, Lee sedang mencari keberadaan ayahnya yang sekarang hilang. Jaga Habibah baik-baik, jangan tinggalkan sedikit saja. Karena bisa saja saat ini beberapa orang akan mengincar istrimu."
"Mengincar bagaimana Ayah?" tanya Bram tak mengerti.
"Dasar bodoh, kau suaminya! Harusnya kau paham jika istrimu harus di jaga."
Frans memutuskan panggilan ponsel tersebut dan masih membuat Bram bingung. Tapi kemudian ia berpikir.
"Apakah ada hubungannya dengan Larisa dan ibunya?" Bram beranjak dari duduknya, mengintip melalui pegangan pintu yang tak memiliki lubang.
Pria itu mengepalkan tangannya, kesal tak bisa melihat istrinya yang ada di dalam sana.
__ADS_1
Malam terasa panjang bagi semua orang, terlebih lagi Lee yang menebak-nebak dimana ayahnya berada.
Hanya Larisa yang tersenyum senang saat ini, dia sangat bahagia melihat Bram dan Habibah sedang menjalani suasananya yang kacau. Dia sedang membayangkan bagaimana gadis udik itu sedang menangis tersedu-sedu karena dirinya. Dia juga sedang membayangkan bagaimana nanti mereka akan berpisah.
"Aku berhasil."
Pekiknya tertahan dengan kegembiraan serasa ingin memecah dadanya.
Begitu pula di tempat lain, wanita yang seiras dengan Larisa itu sedang bersilang dada di tengah malam yang gelap. Semua orang ingin beristirahat, tapi dia malah sedang bersemangat.
Dia yakin sekali akan bisa menyingkirkan siapapun yang akan merusak kebahagiaan dirinya dan putrinya.
Namun kemudian harus kecewa dengan kabar dari seseorang melalui ponselnya.
"Dia tidak ada Nyonya, malah yang aku dengar laki-laki tua itu di bawa seseorang sebelum aku tiba."
"Apa?" Marisa terkejut dengan membulatkan matanya.
"Siapa yang mendahului aku, bukankah tidak ada seorangpun yang tahu tentang tua bangka itu?" Marisa meremas ponsel di tangannya.
Dia khawatir jika Rudy utama diam-diam menyelidiki dan sudah menemukannya lebih dulu.
"Tidak-tidak, aku harus merubah rencanaku." dia terduduk lemas, mencoba tenang memikirkan jalan keluarnya.
"Bagaimana bisa aku lengah." kesal Marisa lagi duduk dan berdiri berkali-kali.
"Sial!" kesalnya menggebrak meja di ruang kerja rumah Rudy utama tersebut.
"Jangan sampai Rudy tahu semuanya, aku tidak mau bercerai dengan Rudy. Dia harus selalu percayalah padaku." ucapnya dengan nafas naik turun.
Wanita itu kembali meraih ponselnya, menghubungi seseorang yang sudah pasti bisa diandalkan.
"Harry, aku butuh bantuan mu." ucapnya terdengar khawatir.
"Bantuan apa Marisa? Aku bisa menebak jika sekarang posisimu sedang tidak aman." ucap laki-laki itu terdengar santai.
"Ya, kau memang selalu benar. Tapi aku sungguh ingin kau melakukan sesuatu seperti dulu." ucap Marisa meremas kerah bajunya sendiri.
"Jika menghabisi seseorang, aku tidak mau." jawab seseorang bernama Harry tersebut.
"Tidak!" jawabnya kemudian menjelaskan hal yang dia inginkan.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu, di kantor Media Utama tampak Rudy Utama sedang duduk termenung di ruangannya menatap ubin yang dingin.
"Kau membawa uang perusahaan begitu banyak, dan menghilang tanpa jejak." ucap Rudy tak mau melihat wajah asisten ayahnya itu.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak pernah mengambil apapun dari perusahaan Tuan Raharja ini. Dia memang pernah memberikan sejumlah angka untuk menanggung hidupku dan anakku hingga menyelesaikan pendidikan dan bisa menggantikan aku. Tapi tidak sebesar yang kau tuduhkan padaku."
"Tapi tanda tangan berkas dan penarikan uang perusahaan ini atas namamu. Kau yang terakhir mengendalikan keuangan perusahaan!" bentak Rudy kepada Hiko.
"Setelah meninggalnya istrimu, aku disibukkan dengan mencari penyebab meninggalnya Mayra secara tiba-tiba. Aku tahu persis dia baik-baik saja setelah proses bersalin hari itu, Dua puluh dua tahun yang lalu." jelas Hiko lagi.
"Apa?" ucap Rudy sangat terkejut.
"Ya, dia melahirkan anakmu." jawabnya tegas.
Rudy tertunduk lemas, dadanya merasa sesak mendengar istri pertamanya sempat hamil dan melahirkan.
"Mengapa aku tidak tahu jika Mayra hamil?" ucapnya penuh penyesalan.
"Karena kau tidak pernah ingin tahu. Siang dan malam dia ingin kau segera pulang, tapi malah harapan itu tak pernah terwujud hingga nafasnya berhenti." jawab Hiko yang hanya duduk tenang di kursi roda tanpa bisa kemana-mana.
"Mayra..." gumamnya, mata tuanya mulai berembun.
Walaupun menyesal tak ada guna, tapi di saat-saat seperti ini hanya itu yang dapat dilakukan Rudy Utama.
"Mengapa tidak ada yang memberitahu aku? Kau, Frans, atau Ayahku!" ucap Rudy sedih bercampur marah.
"Kami hanya ingin anak dan istrimu aman. Tapi ternyata, kabar Mayra yang sedang melahirkan sampai juga di telinga Marisa istrimu. Dia datang di hari itu, dia datang dengan wajah beringas bersama dua orang laki-laki yang tampak ingin membunuh."
"Tunggu! Apa maksudmu dengan Marisa?" Rudy merasa kesal nama istrinya disebut.
"Dia datang ke rumah sakit hari itu." tak henti Hiko membuat Rudy terkejut.
"Tidak mungkin, dia tidak pernah mengatakan hal itu padaku!"
"Dia tidak sebaik itu Rudy Utama. Dia akan menyingkirkan siapapun yang menghalanginya termasuk Mayra dan putrimu." pelan Hiko semakin membuat Rudy semakin terhenyak.
"Kau sedang berbohong?"
"Untuk apa?" sahut Hiko tersenyum tipis.
"Putriku? Apakah putriku meninggal?" tanya Rudy menebak apa yang akan di katakan Hiko selanjutnya.
Hiko terdiam, ada sedikit keraguan untuk mengungkapkan.
__ADS_1
"Jawab aku?"