
Flashback On..
5 tahun lalu...
Setelah kepergian mertua nya, bima kembali menjadi bima yang dulu. Yang begitu dingin, datar dan tidak lagi memperdulikan nya.
Setiap hari dinda hanya bisa bersabar, berharap dengan berlalu nya waktu suami nya akan kembali lagi pada nya. Tapi itu tidak pernah terjadi sampai detik terakhir sebelum kepergian nya..
Suami nya itu lebih memilih melakukan banyak perjalanan bisnis, dari pada menemani nya yang sedang mengandung buah hati mereka. Dinda selalu di tinggal di rumah itu sendirian.
Tidak ada lagi percakapan. Tidak ada lagi kasih sayang yang bima berikan untuk nya.
*Pagi terakhir sebelum mereka tidak lagi bertemu..
"Mas, hari ini hari terakhir aku periksa kandungan sebelum melahirkan.." kata dinda memecah keheningan di meja makan..
Bima hanya diam..
Dinda memegang sendok dan garpunya dengan kuat, menahan sesak di dada nya..
"Apa bisa mas menemaniku ke rumah sakit hari ini ??" tanya dinda lagi..
Bima lalu mengangkat kepalanya menatap dinda dengan tatapan mengintimidasi..
Deg!!
Hati dinda sakit saat melihat mata suami nya yang tidak lagi terlihat ada cinta disana..
"Baiklah. Kalau tidak bisa. Tidak apa apa.." kata dinda masih dengan posisi menunduk..
Cupp..
Bima mengecup pucuk kepala dinda.. "Aku pergi.." kata bima tanpa mengatakan apapun lagi..
Air mata dinda jatuh mengalir menetes ke atas piring makan nya..
Dinda langsung masuk ke dalam kamar nya..
"Apa salah ku pada mu, om ??" gumam dinda di sela sela tangisan nya menyebut nama bima dengan sebutan om, seperti dulu.
Dinda mulai memasukkan pakaian nya dan pakaian untuk bayi nya ke dalam koper yang cukup besar. Setelah selesai, dinda keluar lagi menuju ruangan cctv..
"Nyonya.." ucap salah seorang pengawal ketika terkejut melihat dinda datang ke ruangan nya, sebab sekalipun nyonya nya itu tidak pernah datang dan sampai masuk ke ruangan tersebut.
Pengawal itu pun langsung berdiri memberi hormat..
Sementara dinda terus memperhatikan layar di monitor tanpa bicara..
"Mohon maaf nyonya, ada yang bisa saya bantu..??" tanya pria itu
Dinda hanya diam, tatapan nya terus mengarah dan sesekali bibirnya komat kamit seperti sedang berhitung..
"CCTV di sini apa aktif semua ??" tanya dinda mulai membuka percakapan..
Pria itu mengangguk.. "Tentu saja, nyonya.."
"Kalau aku hitung jumlah semua nya ada 24 camera pengawas, ya ??"
"Bukan nyonya, total semua cctv di rumah ini ada 32 dan semua nya aktif.."
__ADS_1
"Astaga. Banyak sekali.." ucap dinda seraya menutup mulutnya yang sedikit terbuka saking terkejutnya..
"Iya nyonya, tuan bima sangat konsen dengan yang nama nya keamanan. Di mansion bahkan ada lebih dari 50 cctv yang kesemuanya menyala.."
Dinda mengangguk. Lalu melangkah keluar tanpa bicara lagi..
*Beberapa hari kemudian..
"Nyonya, anda mau kemana ??" tanya pengawal yang berjaga di depan rumah..
"Aku mau keluar sebentar, lihatlah, di luar sana sudah ada mobil orang tua ku yang menjemput.." jawab dinda seraya menunjuk ke mobil yang terparkir di depan rumah nya..
Dinda melambai, kaca mobil pun terbuka memperlihatkan bunda nya yang duduk di kursi pengemudi membalas lambaian tangan nya..
"Baiklah, nyonya. Tapi anak buah saya akan mengikuti nyonya dari belakang.."
Dinda mengangguk, lalu melangkah dengan perut besar nya menuju ke mobil sang bunda..
"Kamu kenapa nggak mau bunda jemput di dalam sayang..??" tanya bunda saat putri nya itu sudah duduk di kursi penumpang di samping nya..
"Nggak apa apa bun. Anggap saja olahraga biar cepat baby nya lahir.." jawab dinda dengan senyuman seraya mengusap perut besar nya
Bunda mengusap surai putri nya dengan lembut.. "kita mau kemana ??" tanya bunda..
"Kemana saja bun, aku hanya ingin jalan jalan seharian sama bunda, boleh kan ??"
Bunda tersenyum, "tentu saja boleh. Kalau gitu gimana kalau kita nonton film saja ??"
Dinda mengangguk, "Boleh bun. Sudah lama.juga kan kita nggak nonton bareng.."
Setelah itu bunda melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju mall terbesar di kota J.
"Sudah, disini saja bun.." ucap dinda ketika mobil bunda nya sudah tiba kembali di depan rumah
Sebenarnya bunda merasakan keanehan dari sikap putri nya hari ini. Tapi bunda buru buru menepis perasaan itu, takut jika sampai hal buruk terjadi pada dinda.
Cupp..
Bunda mengecup kening dinda, "Istirahat ya, kamu pasti lelah.." ucap bunda
grep
Dinda tiba tiba memeluk bunda nya dengan sangat erat..
"Bun, apapun yang terjadi, aku sangat sayang sama bunda dan ayah. Maafkan aku ya bun karena belum bisa membahagiakan ayah dan bunda sampai saat ini.." ucap dinda dengan air mata yang sudah menetes di pipi nya..
Bunda semakin bingung.. "Sayang, kamu nggak apa apa kan ??" tanya bunda perlahan melonggarkan tangan putrinya yang memeluknya begitu erat..
Bunda menghapus jejak air mata di pipi dinda..
"Mungkin karena sedang hamil, aku jadi sering melow.." ucap dinda seraya tertawa kecil..
"Kalau begitu aku langsung masuk ya, bun. I love you bunda. Cupp.." dinda berpamitan seraya mengecup pipi bunda nya..
Bunda menatap bingung punggung putrinya yang mulai menghilang dari balik pagar besar rumah nya itu...
*Keesokan hari nya..
Hari ini dinda berniat untuk mengejutkan chacha dengan datang ke rumah sahabatnya itu..
__ADS_1
Chacha tinggal di rumah lama nya bersama dengan sang suami. Sebab ibu chacha dan dad bara sudah lama meninggalkan negara ini untuk menetap di Jerman.
"Non dinda.." ucap satpam penjaga rumah chacha ketika dinda turun dari mobil nya..
Dinda tersenyum.. "Chacha nya ada pak ??" tanya dinda
"Ada non. Tadi tuan diki saja yang sudah berangkat bekerja.." Jawab pria paruh baya itu dan langsung membukakan pagar agar dinda bisa masuk..
Tok tok tok..
Dinda mengetuk pintu.
"Dinda..??" ucap chacha terkejut ketika melihat sahabatnya ada di depan pintu..
"Kamu nggak bilang bilang kalau mau kesini ??"
"Memang nya aku nggak boleh main kesini tanpa memberi kabar dulu ??" tanya dinda
"Ish. Bukan begitu, sayang ?? Aku takut kamu kesini tapi aku nya tidak ada.." jawab chacha lalu memeluk dinda erat..
Dinda membalas pelukan sahabatnya seraya memejamkan kedua matanya, menikmati moment yang pasti akan di rindukan nya nanti..
Setelah cukup lama saling melepas rindu, chacha pun mengajak dinda masuk ke dalam..
Dinda dan chacha duduk bersebelahan di sofa ruang tamu..
Dinda lalu memberikan paper bag yang tadi di bawa nya pada chacha..
"Apa ini ??" tanya chacha sambil menerima pemberian dari sang sahabat..
"Buka saja.." jawab dinda
Chacha pun membuka paper bag itu. Alis nya bertaut saat melihat benda yang membingungkan menurutnya.. "Buku..??" tanya chacha sambil mengambil benda itu
Chacha lalu membuka buku berukuran sedang yang cover nya seperti buku diary..
Deg!!
"Astaga. Ini kan...??" pertanyaan chacha menggantung, wanita itu terkejut melihat isi di tiap lembar buku itu
Dinda tersenyum.. "Itu hadiah dari ku untuk mu.." kata dinda
"Astaga dinda. Kapan kamu mengerjakan ini semua ??" tanya chacha..
"Tadi malam.." jawab nya singkat..
Chacha menggelengkan kepalanya sambil terus melihat dan membaca tiap lembar yang dinda tulis di buku itu. Buku yang berisikan tempelan foto foto kebersamaan mereka berdua selama bersahabat. Foto yang tidak hanya sekedar foto, tapi lengkap dengan tanggal dan kapan kejadian itu terjadi. Ya, semalam dinda mengerjakan itu semua seorang diri. Dia ingin memberikan sesuatu yang berharga pada sahabatnya meskipun bukan barang yang mahal tapi dinda ingin chacha selalu mengingat nya.
Tiba tiba dinda mulai menggenggam tangan chacha.. "Cha, kalau aku punya salah padamu, kecil ataupun besar, aku minta maaf.." mata dinda mulai berembun..
Deg!!
Chacha menarik tangannya, tiba tiba merasa takut dengan ucapan dinda..
"Kamu apa apaan sih ?? Jangan bicara seperti itu, ah.." ucap chacha..
Dinda memaksakan senyum nya.. "Kamu kan tahu sebentar lagi aku akan melahirkan. kata orang kita harus banyak minta maaf saat dekat menuju waktu persalinan, kita kan tidak tahu apa saat melahirkan nanti kita selamat atau tidak.."
"Hush!! Kamu ini!! Jangan bicara sembarangan. Aku yakin kamu dan bayi mu pasti selamat.." Chacha menggeleng cepat, lalu memprotes ucapan sahabatnya tadi
__ADS_1