
Mobil yang membawa bima dan dinda sudah terparkir sempurna di parkiran rumah nya.
"Om, aku ingin pulang kerumah orang tua ku.." ucap dinda yang sejak di perjalanan hanya diam
"Kenapa sayang ? Kali ini apa lagi kesalahan ku ??"
Dinda menggeleng pelan, "Tidak ada. Aku hanya rindu sekali dengan bunda dan ayah.." jawab dinda berbohong.
Entah kenapa sejak melihat kemesraan sahabatnya tadi, perasaan dinda menjadi tidak karuan. Mungkin juga ini bawaan si jabang bayi yang ingin sedikit menjauh dulu dari papi nya.
"Boleh kan om ??"
Bima terdiam beberapa saat. Sebagai seorang lelaki , dia pun punya insting yang kuat jika saat ini pasti istri nya itu sedang merajuk lagi.
"Boleh. Tapi besok! Sekarang sudah malam.." jawab nya datar..
Mungkin bima juga merasa lelah dengan mood swing istrinya. Sebentar sebentar marah, membuat bima jadi serba salah.
Dia pun lalu keluar lebih dulu tanpa menunggu dinda turun. Bukan nya tega, tapi bima membiarkan istri nya itu untuk memikirkan perasaan nya juga.
Dinda terkejut dengan sikap bima kali ini. Wanita itu lalu membuka high heelsnya, dan mulai keluar dari mobil dengan bertelanjang kaki.
Sementara bima sudah jauh berada di depan. Dengan langkah pelan dinda masuk ke dalam rumah. Wanita itu pun duduk di ruang tamu nya untuk beristirahat. Di pernikahan chacha saja dia tidak makan apapun, alhasil membuat tubuh nya lemas. Karena memang dia tidak bisa makan apapun kecuali makanan yang di masak langsung oleh suami nya.
Dinda menyandarkan punggung nya di sofa. Dengan lembut tangan nya mulai mengelus elus perut nya yang sedikit mulai timbul.
"Kamu lelah ya sayang ? Sama, mami juga.." gumam dinda berbicara pada janin nya
Sementara itu, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan nya dengan perasaan sakit.
Tapi seseorang itu memutuskan untuk tidak menghampiri istrinya. Dia malah berjalan menuju kamar nya.
"Kita istirahat dulu di sini ya, kaki mami sakit kalau harus jalan lagi.." kata dinda lagi seraya membenarkan posisi nya jadi berbaring di sofa panjang itu.
__ADS_1
Dan tanpa sengaja, dinda pun tertidur di sofa ruang tamu tersebut.
Setengah jam kemudian...
Sementara itu, bima yang baru selesai membersihkan diri nya khawatir saat keluar dari kamar mandi tidak melihat sosok sang istri.
Dengan masih memakai handuk berbentuk kimono berwarna putih susu itu bima pun keluar dengan langkah panjang mencari sang istri.
Deg!
Hati nya nyeri, dada nya sesak melihat istri nya tertidur di atas sofa dengan posisi yang menurutnya sangat tidak nyaman..
"Maaf kan aku sayang. Ego ku masih terlalu besar.."
Dengan perlahan, bima pun mengangkat tubuh istrinya ala bridal.
Bima membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur mereka. Setelah memakai pakaian tidurnya, bima lalu ikut naik dan berbaring sambil memeluk tubuh kecil sang istri.
Pukul 12 tengah malam..
Dinda bangun dari tidurnya. Dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Besok kita kerumah oma dan opa ya sayang. Kamu jangan rewel ya kalau papi nggak masakin buat kita lagi.." batin dinda terus berbicara dengan perutnya. Sejak tahu hamil, dinda jadi merasa punya teman bicara 24 jam penuh. Karena mau dimana pun dia berada, sedang apapun keadaanya, ada seseorang yang mendengarkan ucapan nya di dalam perutnya.
Setelah selesai membersihkan diri, dinda pun keluar dari kamar menuju dapur. Karena perutnya terasa lapar meminta untuk segera di isi.
"Cuma ada roti, gak apa apa ya nak kita makan ini dulu.." ucap dinda sambil menarik kursi di meja makan..
Sambil memainkan ponselnya, wanita itu memasukkan sedikit demi sedikit potongan roti ke dalam mulutnya. Beruntungnya, tidak ada rasa mual sedikitpun saat roti tersebut masuk ke dalam mulutnya. Mungkin janin di perutnya mendengar ucapan nya tadi.
Di dalam kamar...
Mata bima langsung terbuka sempurna saat tangan nya yang kekar itu tidak menemukan kulit lembut dan halus yang tadi bersentuhan dengan kulit nya.
__ADS_1
Buru buru bima bangun dan langsung mencari di setiap sudut kamar nya..
Karena tidak menemukan istri nya di dalam kamar, bima pun keluar dengan langkah yang panjang dan jangan lupakan raut wajah nya yang penuh dengan kekhawatiran..
Lagi lagi hati nya serasa tercubit melihat istrinya yang hanya makan roti tawar gandum di meja makan nya.
Tangan bima terulur, mengusap pucuk kepala dinda..
Otomatis dinda langsung mengangkat kepalanya karena terkejut..
"Kamu laper ??" tanya bima. Dinda menggeleng cepat,
"Udah nggak.." katanya kembali menatap layar ponselnya yang menayangkan drama korea yang beberapa hari ini menjadi aktifitas favoritnya
"Kamu mau makan apa ? Biar aku masakin.." kata bima lagi
"Nggak om. makasih. Aku sudah makan 2 lembar roti ini.."
"Nggak mual ??"
Lagi lagi dinda menggeleng dengan wajah datar. Sebenarnya dinda tahu saat di ruang tamu tadi, bima melihat nya dari balik tembok yang menyekat antara ruang tamu dan ruangan bagian dalam rumah nya. Perasaan dinda pun semakin sakit saat suami nya itu mengacuhkan dan membiarkan nya begitu saja sejak keluar dari dalam mobil.
Dinda menguatkan hati nya, tidak apa apa jika bima bersikap seperti itu. Mungkin dia lelah dengan sikap nya yang sering berubah ubah. Kalau boleh memilih, dinda pun tidak mau seperti ini. Tapi apa boleh buat. Mungkin sebagian ibu hamil mengalami apa yang dinda alami di awal kehamilan nya.
Bima duduk di kursi utama meja makan itu. Menemani dinda tanpa banyak bertanya lagi.
Karena terus di perhatikan, dinda menjadi tidak nyaman dan mengakhiri kegiatan nya disana. Padahal perutnya masih sedikit lapar.
"Aku sudah selesai.." katanya seraya bangun dari kursi tersebut..
"Aku duluan ya om..hoam!!" ucap nya sambil menguap, lalu berjalan kembali menuju ke kamar nya
Bima hanya bisa menatap punggung istrinya dengan perasaan sedih..
__ADS_1