
"Tetap di dalam dan kunci mobilnya."
"Kau mau kemana!" Habibah meraih tangan Lee agar tidak keluar.
"Telepon seseorang atau polisi." ucapnya malah menutup pintu dari luar.
"Lee!" Habibah menatap cemas kepada pria tersebut, dia bingung harus menghubungi siapa. Jika itu Bram, maka sama artinya dia sedang membuka peluang untuk berbaikan.
Sedangkan di luar sana beberapa orang keluar dari mobil mereka dan mulai menatap Lee seperti ingin membunuh. Dan perkelahian tak bisa di hindari.
Habibah semakin khawatir, apalagi mobil yang ada di belakang mereka juga datang dan dua orang laki-laki yang tadi dilihatnya malah turun dan menggedor-gedor pintu mobil Habibah.
"Tidak...tidak." Habibah beringsut ke kiri dan ke kanan sambil menekan panggilan entah untuk siapa.
"Keluar, atau kami pecahkan." ancam salah seorang dari luar, dan seorang lagi memberikan benda tumpul untuk memukul.
"Pergi!" ucap Habibah mengibas-ngibaskan tangannya.
Menoleh Lee yang masih sibuk saling memukul, ternyata pria itu lumayan hebat, dua orang sudah jatuh terpental.
"Buka atau tidak!" marah laki-laki berwajah berandalan tersebut, mengangkat benda yang sejak tadi di pegangnya.
Dan akhirnya pria itu memukul kaca mobil beberapa kali hingga retak dan kemudian pecah.
"Tolong, tolong!" Habibah menjerit takut, tapi tak urung juga akhirnya dua orang laki-laki itu membuatnya keluar.
"Kau mau apa? Aku tidak ada urusan dengan kalian." Habibah meronta-ronta.
Mereka hanya menatap dengan seringai mengerikan.
"Bawa dia." perintah seorang lagi.
"Tidak, aku tidak mau." Habibah mencoba melawan, menendang bagian inti seorang laki-laki itu dan berhasil lepas. Ia berlari ke arah Lee yang baru saja selesai memukul orang yang ke tiga.
"Habibah."
"Kita pergi Lee." Habibah menarik tangan Lee namun terlambat, dua orang bangun dan menyerang, membuat Habibah menjerit.
Satu lawan banyak tak mungkin bisa menang, dan kedua orang itu memegang Habibah yang meronta-ronta tak mau menurut.
Ia berusaha melawan, menendang dan menggigit membuat dua orang itu semakin marah.
"Dasar bodoh!" seorangnya kemudian melayangkan pukulan di wajah Habibah hingga ia terjatuh sakit.
Tak sampai di situ mereka semakin beringas memukuli Habibah.
"Habibah." Lee berbalik dan tanpa tahu harus melakukan apa, jika melawan tak akan mampu. Ia memeluk Habibah sangat erat dan membiarkan dirinya yang di pukuli beberapa orang tersebut.
"Lee..." Habibah menangis dan balas memeluk Lee dalam tekanan, mencoba menjerit dan minta tolong di jalanan itu.
Dan entah darimana, beberapa orang datang mendekat, lalu memukuli lima orang penjahat yang sedang bahagia memukul keduanya.
"Ya Allah. Alhamdulillah." ucap Habibah di sela menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Tapi kemudian sadar bahwa laki-laki yang masih memeluknya sudah lebih parah bahkan berdarah.
"Lee." panggilnya melihat wajah yang meringis.
__ADS_1
Dia tidak menjawab, melainkan hanya membuka mata sedikit.
"Lee." Habibah mulai panik, menopang tubuh lemas pria yang begitu kesakitan karena dirinya.
"Tolong...!" Habibah kembali menjerit meminta seseorang datang membantu, bahkan menopang tubuh yang lebih besar darinya itu dia sangat kesulitan.
"Cepat." seseorang mendekat dan menahan tubuh Lee yang kemudian pingsan.
"Lee." Habibah menangis ketakutan.
Dan kemudian polisi datang meringkus kelima orang yang berkelahi dengan beberapa orang yang baru datang.
"Cepat." perintah seseorang tersebut meminta rekan yang lain membawa Lee juga Habibah.
Tak punya pilihan, Habibah ikut masuk ke dalam mobil mereka mendampingi Lee yang tak sadarkan diri.
"Anda terluka?" tanya seseorang menanyai Habibah.
"Tidak." ucapnya, dia sendiri tidak tahu yang mana yang terluka, rasanya seluruh tubuhnya sakit dan nyeri.
Hingga di rumah sakit terdekat, Lee langsung di bawa menuju ruang rawat dan segera di periksa.
Tak hanya Lee, Habibah pun di periksa lantaran banyak luka memar di tubuh dan sebelah pipinya.
"Apakah Lee sudah sadar?" suara seseorang yang sangat di kenal Habibah. Langkah yang baru saja keluar dari ruangan periksa itu berhenti.
"Belum tuan, kita tunggu sebentar lagi." Dokternya yang memeriksanya menjawab.
Rudy mengangguk, tapi kemudian berbalik dan melihat Habibah berdiri mematung, menatap dirinya.
Rudy mendekat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rudy Utama pelan.
Sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, Habibah mendongak sedikit, memberanikan diri menatap Rudy Utama.
"Aku tidak apa-apa. Terimakasih sudah menyelamatkan kami." ungkapan yang terbata-bata. Tidak tahu bagaimana awalnya sehingga orang-orang Rudy Utama bisa menolong mereka.
"Hemm." Rudy tersenyum tipis.
Seolah sama canggungnya, baik Rudy ataupun Habibah memilih duduk berjarak menunggu Lee sadar dari pingsannya.
Beberapa saat kemudian, seorang suster keluar dari ruangan itu.
"Keluarga pasien?" ucapnya melihat Rudy juga Habibah bergantian.
"Iya Suster." Habibah berdiri dan maju selangkah.
"Pasien sudah sadar." ucapnya kemudian tersenyum.
"Terimakasih." Habibah langsung masuk ke ruangan itu mendahului Rudy Utama.
Tampak di ranjang itu Lee sedang menatap langit-langit kamar rumah sakit tersebut.
"Kau sudah sadar?" Habibah mendekati pria yang mengalami lebam di wajah dan seluruh tubuhnya itu.
__ADS_1
Lee menoleh, berusaha tersenyum walaupun sulit. Keduanya saling menatap melihat keadaan masing-masing.
"Maafkan aku, gara-gara aku kau menjadi seperti ini." ucap Habibah pelan.
Lee menggeleng, kemudian menarik nafas lega.
"Lee."
Dia menoleh Habibah, berusaha bangun setelah merasa penglihatannya lebih terang.
Habibah membantunya, memegangi bahu Lee yang sedikit kesulitan.
"Aku ingin pulang saja." ucapnya memandangi wajah wanita yang sekarang lebih terasa dekat.
"Kau masih sakit." Habibah mengatur bantal agar ia lebih nyaman.
"Kau baik sekali." ucap Lee terdengar malas, bibirnya pecah dan pastinya sakit.
"Tentu saja, ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan padaku." Habibah mengambil selimut dan menutup setengah badan laki-laki itu.
"Kau tidak perlu melakukannya, ini bukan hutang budi yang harus kau bayar. Ini tidak ada apa-apanya."
"Kau keras kepala, andaikan kau tidak... memelukku." ucapnya menjadi ragu.
Tak terkecuali Lee membuang pandangannya, tidak ingin terlibat pembicaraan seperti itu kepada Habibah.
"Aku permisi, mencari makanan sebentar." kemudian Habibah berlalu dengan salah tingkah.
Sedangkan Lee menghempaskan nafas beratnya, beristirahat dari ketegangan otot dan perasaan yang kacau.
"Kau mencintainya?"
Langkah dan suara Rudy Utama terdengar bersamaan.
Lee kembali membuka mata melihat pria itu mendekat.
"Kau mencintai istri orang." ucapnya lagi.
Lee tersenyum sinis. "Itu lebih baik, daripada mencintai orang dan mengabaikan istri sendiri."
Rudy tertunduk mendengarnya, jujur saja hatinya marah tapi juga mengakui itu benar.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi di belakangmu." sambung Lee lagi.
"Apa?" tanya Rudy menatapnya.
"Kau pikir apa yang membuat aku seperti ini? Rela membuang masa muda hanya untuk mencari kebenaran tentang Habibah?" ucapnya membuat Rudy semakin bersalah.
"Ibunya meninggal karena di habisi."
Rudy membulatkan matanya, sedikit berjongkok mendekati wajah Lee yang menyandar.
"Yang menghabisinya adalah istrimu, dan Ibuku."
Brak!
__ADS_1
Keterkejutan Rudy belum habis. Habibah menjatuhkan makanannya dengan mata memandang lurus Lee yang juga menatap dirinya.