Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Kiriman bunga


__ADS_3

"Bram."


Larisa mengejar Bram yang terlihat frustasi, berjalan menuju mobil tanpa menoleh.


"Bram." Larisa meraih tangan Bram dan memeluk lengannya.


"Larisa, tolong beri aku waktu untuk menenangkan diri." pinta Bram melepaskan tangannya kemudian pergi meninggalkan Larisa.


"Bram, aku harus bagaimana? Aku_" Larisa melihat kiri dan kanan area pemakan itu, sepi.


Sungguh ia putus asa meyakinkan Bram agar tetap menikah dengannya.


Tak hanya ucapan memohon, bahkan tindakan yang nekad sudah ia lakukan ketika itu.


Hubungan yang sudah bertahun-tahun itu tentu membuat Larisa yakin bahwa Bram masih menyimpan cinta di hatinya. terlebih lagi jika mereka sudah tidur di satu ranjang yang sama.


Larisa ingat betul pada awalnya Bram marah dan tidak suka, tapi pada akhirnya ia berjanji akan menikahi Larisa atas kesalahan di malam itu.


Pendidikan yang tinggi dan pergaulan yang luas tak membuat larisa berputus asa, ia hanya butuh waktu berdua dan membuat Bram menyentuh dirinya.


Dan sangat mudah, obat yang di berikan temannya sungguh bereaksi dengan baik, bahkan Bram terlihat nyaman ketika mereka tidur berdua. Dalam suasana mengantuk laki-laki yang amat dicintainya tak menolak ketika Larisa memeluknya.


Ingatan yang sama, Bram meratapi kebodohannya sambil menyetir dengan mata yang mengabur.


Menyesal dengan apa yang sudah terjadi, andaikan saja Bram menolak untuk lembur bersama Larisa malam itu, tentu dia tidak akan kehilangan Habibah.


Sejak awal Larisa memang menginginkan untuk di sentuh, bahkan ia memintanya terang-terangan. Dan entah mengapa malam itu Bram tak dapat menolak. Larisa membuatnya tak berdaya, bahkan mendominan di bawah kendalinya.


Antara sadar dan tidak, keduanya saling memeluk, berpagut mesra dan berlanjut dengan yang lainnya. Tapi Bram tidak yakin sudah melakukan inti dari kemesraan mereka malam itu. Yang jelas, ketika bangun keduanya sudah tidak memakai apapun.


Bram berhenti di tepi jalan yang sepi, mencoba mengendalikan emosi yang entah harus diluapkan kepada siapa.


Sungguh ia sadar jika Larisa tidak salah dalam hal ini, perasaan cinta yang tersisa jelas selalu menuntut untuk memiliki, itu dapat dirasakan Bram saat ini, rasa yang masih ingin memiliki Habibah.


Tapi, kehilangan Habibah membuat Bram merasa sangat bersalah, Dia juga tidak salah, dia hanyalah seorang istri yang menurut, berusaha mempertahankan dirinya sekuat hati dalam keadaan sulit sekalipun. Dan itu yang membuat Bram merasa bersalah, sungguh sangat kehilangan.


"Akulah yang salah. Salah kepada istriku, juga Larisa yang memang sejak awal adalah kekasihku." Bram memejamkan matanya, mencoba berdamai dengan sejuta rasa berkecamuk di dada. Mengakui jika dirinya yang salah, tak harus menghukum Larisa, juga tidak memaksakan kehendak kepada Habibah.


Kembali memutar arah, berbalik ke pemakaman dan menjemput Larisa bersamanya.


"Maafkan aku."


*


*


*

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain.


Habibah duduk setengah melamun di bawah pohon halaman pesantren, mereka baru saja selesai berolah raga.


Belum siap pulang, begitu jawaban Habibah hari itu. Lebih memilih pulang ke pesantren dan hidup sederhana, sungguh luka yang tertoreh ketika di kota besar itu membuat ia kehilangan rasa nyaman di sana.


"Sebaiknya kau mulai belajar ikhlas, tidak baik selalu menghindar, apalagi menjauhi ayahmu sendiri. Luka jangan di balas luka." begitu ucapan Bibi Rumini terdengar bijak.


Habibah mendengarkan kata-kata Bibinya tersebut, sejak kecil wanita itulah yang paling mengerti dirinya.


"Atau Habibah sudah siap menerima lamaran salah satu ustadz di sini?" tanya Bibi untuk kesekian kali, memegang tangan keponakan yang sudah seperti anak sendiri itu.


"Belum Bibi, aku masih ingin sendiri." jawabnya jujur.


"Dan itu, orang yang setiap kali selalu mengirim bunga dan hadiah untuk mu. Sekarang malah semakin sering, apakah kau tahu dia siapa?"


"Aku tidak tahu Bibi." jawab Habibah ikut berpikir.


Kalau dihitung, semenjak ia resmi bercerai sudah ada 17 kiriman dari nama yang sama.


Namun untuk menebak siapa orangnya, Habibah tidak pernah tahu. Andaikan dia seorang ustadz, tentu dia akan bersikap berani dalam mengungkap perasannya. Tapi jika bukan ustadz, lalu siapa?


Dia ingat jika tadi pagi baru saja mendapatkan kiriman bunga dari seseorang tersebut. Dan ada sebuah kartu ucapan ikut serta kali ini.


Habibah merogoh kantong baju panjang selutut yang dipakainya itu.


"Dari ustadz Aris ya Kak?" Yuni yang sejak tadi hanya mendengar kini bersemangat ingin tahu seperti apa isi kartu yang akan dibuka Habibah.


"Bukan." jawab Habibah melirik Syafitri yang sejak tadi duduk lumayan jauh.


Habibah menjadi ragu, tapi kemudian Syafitri mendekat dan meraih kartu ucapan berwarna putih tersebut.


"Biar Syafitri buka."


Habibah tak keberatan, lagi pula dia tidak kenal siapa pengirimnya.


"Assalamualaikum." suara Syafitri memaksa semua orang menjawab, namun kemudian sedikit terkekeh.


"Dear, Habibah. Maaf untuk semua buket bunga yang selalu datang mengganggu aktifitas mu.


Jika boleh jujur, ingin sekali aku datang dan mengungkapkan semuanya secara langsung, bahwa aku mengagumi dirimu. Namun urung sebab tak yakin wanita seperti dirimu akan menerima diriku yang bukan apa-apa ini.


Tapi, sesuai apa yang pernah ku dengar, seorang gadis yang mengatakan bahwa jangan jatuh cinta selain kepada istrimu. Dan aku selalu mengingat itu, aku tidak pernah jatuh cinta, dan tidak pernah mencintai siapapun selain dirimu.


Kiranya, bersediakah kau menjadi istriku yang banyak bersalah ini?


Kiranya, bersediakah hidup sederhana bersama orang yang tak punya apa-apa seperti diriku ini?

__ADS_1


Sungguh untuk bertatap muka aku merasa malu. Tapi cintaku menuntut untuk ingin memilikimu.


Lendra.


Syafitri melipat lagi kartu di tangan itu.


Hening...


Beberapa saat masih saja hening ...


"Siapa Kak?" tanya Yuni kepada Syafitri, ustadzah seumuran Habibah itu.


Namun Syafitri menggeleng, dia hanya menatap Habibah dengan menerka-nerka.


Begitu pula Bibi Rumini yang tak bisa berkata apa-apa, lantaran ucapan-ucapan itu adalah ungkapan hati seseorang yang kenal dengan Habibah.


"Aku pernah mengatakan hal itu." ucapnya begitu saja, matanya menerawang dengan mencoba mengingat dimana ia mengatakannya.


"Jika dia seorang ustadz, bahasa yang di pakainya pastilah menyebut Ukhti." Yuni mencoba menebak.


Syafitri menggeleng lagi, tak mau mengganggu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.


"Dia sudah terlalu lama mengagumimu." Bibi Rumini kembali berkata.


"Enam bulan Habibah." ucap Syafitri pula.


"Itu yang kita tahu, kalau yang belum tahu?" Yuni ikut menimpali dengan tersenyum.


Habibah hanya menarik nafas, dia benar-benar tidak tahu siapa yang mengirim bunga dan banyak hadiah itu.


Sejak hari itu, Habibah semakin menduga-duga akan siapa yang selalu memperhatikan dirinya, bahkan kata-kata yang tertulis di hari berikutnya semakin menunjukkan bahwa seseorang tersebut selalu mengawasi dirinya.


Hingga seorang kurir kembali mengantarkan paket selanjutnya.


"Aku rasa orang yang mengirim semua ini, bukanlah orang yang sangat jauh." ucap Habibah kepada kurir tersebut.


Bukan tanpa alasan, beberapa kali Habibah melihat orang yang mengantar bunga adalah orang yang sama.


"Maaf ustadzah, saya tidak tahu." jawabnya menunduk.


"Bisakah untuk selanjutnya, jika dia mengirimkan bunga maka kau katakan padanya untuk menghubungi aku." Habibah memberikan nomor ponselnya yang memang sudah diganti.


Kurir tersebut sedikit tercengang.


"Aku menunggu pesan darinya." ucap Habibah kemudian berlalu masuk kedalam pesantren tersebut.


Langkah yang tak begitu cepat itu berhenti sejenak, bibir merahnya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2