Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 20 (Kusadari, Aku Cinta)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 20 (Kusadari, Aku Cinta)


(PoV Rizki)


Aku merebahkan diri di kursi, beberapa kali menengok ke luar jendela menantikan kedatangan Annisa.


Hujan begitu lebat, cuaca dingin dengan petir saling menyambar membuatku semakin mengkhawatirkan Annisa. Ponselnya tidak aktif, sehingga sulit bagiku untuk mengetahui dimana keberadaannya.


Inikah yang dirasakan Annisa saat aku meninggalkannya malam itu untuk menemui Sheila?


Entah mengapa, akhir-akhir ini aku sering memikirkan Annisa. Saat melihat dia tertawa, aku merasa bahagia.


Saat melihat Annisa menangis, hatiku juga ikut teriris.


Saat melihat Annisa tersenyum dengan pria lain, hatiku merasa sakit.


Perasaan ini, sama persis seperti pertama kali aku jatuh cinta kepada Sheila.


Apakah kini, aku sudah mulai mencintai Annisa? Gadis manis dengan berbagai kekonyolannya.


Saat memeluknya, aku merasa sangat nyaman. Sepertinya, aku benar-benar sudah jatuh hati kepada gadis itu.


Suara mobil terdengar memasuki garasi, aku membuka pintu dan keluar untuk menyambutnya.


Seperti biasa, senyuman manis itu selalu dia lontarkan saat bertemu denganku.


Dia turun dari mobil, mencium tangan dan meminta maaf karena pulang terlambat.


Hujan yang lebat membuat beberapa ruas jalan terendam banjir, sehingga membuat Annisa memutar arah.


Dan lagi, macet di Jakarta memang tidak bisa dihindari, terlebih di jam seperti ini. Itulah alasan mengapa Annisa pulang terlambat.


Aku memahami yang dikatakan Annisa dan menyuruhnya masuk karena hujan semakin lebat.


“Nisa mandi dulu ya, Mas” Pamitnya kepadaku.


“Setelah mandi langsung ke dapur, ya. Mas sudah memasak untuk makan malam kita, sekalian nanti Mas bikinkan teh hangat supaya nggak kedinginan.”


Annisa menengok ke arahku dan mengedipkan matanya.


“Gumawoyo, Oppa. Sarangheo..” Ucapnya dengan melingkarkan jari membentuk tanda love.


Aku sering melihat adegan itu dalam beberapa drama Korea yang di tonton oleh Annisa. Artinya adalah ucapan terimakasih dan ungkapan cinta.


Pipiku memerah mendengarnya, hatiku gembira setiap kali Annisa mengungkapkan perasaannya.


Aku bukan tipe pria romantis seperti tokoh dalam drama yang sering ditonton Annisa.


Sehingga membuatku tidak bisa menjawab ungkapan itu meski hatiku menginginkannya.


Di dapur, air panas menyatu dengan gula dan teh melati yang baru saja diseduh.


Dengan hati-hati, aku menata makanan di meja. Sejak tadi sore, saat menunggu kedatangan Annisa, aku memasak makanan ini.


Meski tidak sepandai dia, aku mencoba menghindangkan masakan terbaik yang kubisa.


“Wangi sekali,”


Nisa datang menghampiriku yang sedang sibuk menata makanan.


Aku terkesima melihat Annisa yang nampak anggun dengan gaun selutut berwarna ungu.

__ADS_1


Polesan makeup membuat wajahnya semakin cantik. Tidak lupa, dia menyematkan bando Mickey Mouse di kepala yang membuat penampilannya semakin gemas.


Jantungku berbedar, aku sungguh dibuat salah tingkah olehnya.


“Ekhemm.. Biasanya aja dong Mas liatinnya. Nanti cinta loh.”


Uhukk..


Aku tersedak makanan mendengar yang diucapkan Annisa. Dia tidak salah, faktanya memang begitu.


Setelah melewati banyak waktu dengannya, dan mengenal lebih dekat sosok Annisa, aku bisa mengenyahkan Sheila dari hatiku. Kini, aku dibuat tak berdaya oleh Annisa, sungguh aku telah jatuh cinta kepadanya.


Nisa menyodorkan segalas air putih, aku segera meminumnya untuk menetralisir tenggorokan yang sakit akibat tersedak makanan tadi.


“Mas..”


“Hmm... Kenapa? Mau bikin Mas tersedak lagi?”


Tawanya pecah saat mendengar ucapanku, apa dia tidak menyadari bahwa senyumnya itu bisa membuatku semakin menggilainya.


Dia menggeleng pelan.


“Terimakasih untuk teh dan makanannya.”


“Sama-sama, maaf kalo kurang enak. Mas nggak pandai masak kayak kamu.”


“Ini enak kok, Nisa suka, apalagi sama yang masakin.”


Ucap dia tidak hentinya menggoda, membuatku semakin salah tingkah.


“Gimana soal meeting bisnisnya? Lancar?”


“Alhamdulillah, lancar Mas. Sudah tanda tangan kontrak, mereka tinggal menunggu sample dari Nisa untuk proofing.”


Sebenarnya aku merasa sedikit khawatir, karena dengan kerjasamanya, Nisa pasti akan sering bertemu dengan pria itu.


Entahlah, hatiku seolah tidak rela melihatnya bersama dengan pria selain aku.


“Kuliahnya gimana? Seru?” Tanyaku lagi memecah sunyi.


“Dosennya baik, teman-temannya juga asyik,”


Sepertinya Nisa mulai bisa beradaptasi dengan baik, dia tidak lagi galau karena merindukan Ummi. Kini, dia punya kesibukannya sendiri.


“Lain kali, kalau mau pergi ponselnya di charger dulu. Mas teleponin tapi nggak aktif terus.”


Nisa tidak begitu sering membuka ponsel, sehingga dia sering lupa mengisi ulang daya baterai.


Ini menjadi kesulitan sendiri saat aku mengkhawatirkannya, namun tidak bisa bertanya bagaimana dan dimana kondisinya.


“Hehe, Iya Mas. Nisa lupa semalam nggak di charger. Maafin Nisa ya, sudah bikin Mas khawatir.”


Kami menikmati makan malam yang sempat tertunda tempo hari. Dengan lahap, Annisa menghabiskan makanan yang sudah aku buatkan untuknya.


***


Sudah jam sebelas malam, namun Annisa belum terlihat memasuki kamar.


Aku mencarinya ke setiap rungan, namun tidak juga kutemukan.


Kemana dia? Apakah dia keluar rumah? Mengapa tidak pamit. Membuatku khawatir saja.

__ADS_1


Dari pojok ruangan di dekat halaman belakang, tepatnya di tempat kerja Annisa, aku mendengar suara mesin jahit dijalankan.


Ruangan itu memang belum aku cek karena kupikir tidak mungkin Annisa bekerja semalam ini.


Aku mendekati sumber suara, dan mendapati Annisa berada di sana.


“Sedang menjahit apa malam-malam begini?” Suaraku sedikit mengagetkannya yang sedang fokus dengan pekerjaan.


“Tadi Nisa lihat Mas tidur, Nisa kira Mas udah nyenyak,”


“Iya, tadi sempat tidur, tapi kebangun lagi”


“Nisa berisik, ya? Sampai ganggu Mas tidur?”


“Nggak, Kok. Itu lagi bikin apa?”


“Nisa bikin jaket anak-anak, sekalian bajunya. Kebetulan ada kain yang sudah nggak di pakai, tapi masih bagus. Apalagi ini kain impor, daripada terlantar, mending dibikin pakaian, lumayan sudah jadi enam piece.”


“Buat dijual?”


“Bukan, Mas.”


“Lalu, buat siapa?”


“Tadi saat jalan pulang, Nisa melihat seorang Ibu dan anaknya yang masih balita duduk di emperan toko tanpa selimut dan baju hangat. Rencananya, besok sambil berangkat kuliah mau Nisa kasih ke mereka.”


MasyaAllah.. Aku terharu mendengar kebaikannya bahkan kepada orang yang sama sekali tidak dia kenal.


Hatinya mudah tersentuh, dengan keahlian yang dimilikinya, dia membuat dirinya bermanfaat bagi oranglain.


“Kenapa nggak beli aja, kan lebih efisien?”


“Hehe, iya sih. Tapi bikin sendiri rasanya lebih puas aja gitu loh, Mas.”


Aku mengelus rambutnya yang wangi, merasa bangga dengan apa yang dilakukan gadis ini.


“Jadi, apa yang bisa Mas bantu?”


“Mmm.. Mas bantu temenin Nisa aja udah cukup kok, itu bikin Nisa jadi semangat, hehe”


Ada saja celotehnya yang membuat hatiku tersentuh.


“Tiket hadiah pernikahan waktu itu, expiernya kapan?”


Annisa melihatku dengan tatapan genit.


“Tiga hari lagi, Mas.”


“Yasudah, kamu kemasi baju dan barang yang dibutuhkan. Tiga hari lagi kita berangkat ke sana.”


“Hah.. Serius, Mas?”


Matanya membelalak tidak percaya dengan kalimat yang aku bicarakan.


“Iya.”


Annisa berjingkrak-jingkrak mendengar penegasanku. Aku senang melihat dia sebahagia ini.


Apa pun yang terjadi di sana nanti, biarlah mengalir sesuai keadaannya. Akan kuungkapkan rasa cinta kepadanya yang sudah mulai tumbuh lebat.


Rasa yang perlahan membelenggu hingga membuatku tidak bisa lagi jauh-jauh darinya.

__ADS_1


Pergi sebentar saja aku sudah tersiksa karena merindukannya. Membayangkan dia yang selalu cantik dan wangi saat aku pulang bekerja, membuatku selalu tidak sabar untuk cepat-cepat tiba di rumah saat selesai mencari nafkah.


Bersambung...


__ADS_2