Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 30 (Naura)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 30 (Naura)


Detik berkumpul menjadi menit, menit berkumpul menjadi jam, jam berkumpul menjadi hari, tidak terasa sudah satu tahun pernikahan Rizki dengan Nisa.


Mereka hari ini sedang merayakan anniversary bersama Ummi, dan seluruh keluarga Rizki. Makan bersama dan sekedar bercengkrama.


Bagi Nisa bisa melewati satu tahun dengan berbagai cobaan yang tidak mudah, adalah satu hal yang perlu di apresiasi.


Namun, Nisa juga mensyukuri semua cobaan yang datang, karena banyaknya cobaan yang datang silih berganti membuat cinta mereka semakin kuat.


“Itu yang kamu bawa kemari itu siapa toh, Nak?” tanya Ummi kepada Annisa


Mereka sedang memasak untuk makan bersama sore nanti.


“Itu pegawai Nisa, Ummi. Namanya Naura, anaknya baik.”


“Kamu ketemu dimana?”


“Nisa pasang iklan di platform lowongan kerja, dari banyak pelamar lainnya, Nisa lebih srek ke Naura.”


“Alasannya?”


“Mmm.. Nggak tau juga, tapi Nisa merasa cocok aja ketika lihat CV-nya. Pas udah ketemu saat interview makin cocok, dan kerjanya bagus, anaknya juga cekatan.”


“Hmmm... Ya semoga saja dia memang benar-benar anak baik seperti prasangka kamu ya, Nak.”


Ujar Ummi merasa khawatir kepada anaknya.


“Maksudnya gimana Ummi?” Nisa merasa terganggu dengan perkataan Ummi.


“Bukan mau suuzon loh ya, setelah tiga hari kalian menginap di sini, Ummi terus memperhatikan pegawai kamu itu. Ummi merasa ada yang aneh,”


“Aneh bagaimana, Ummi?” Nisa semakin penasaran dengan ucapan Ummi.


“Ummi lihat dia terus memperhatikan suamimu. Kemarin waktu di halaman depan, Ummi lihat dia memotret suami kamu diam-diam.”


“Husss.. Nggak boleh suuzon Ummi. Mungkin Naura sedang motret pemandangan di halaman depan.”


“Bukan suuzon, hanya berhati-hati.” Kata Ummi dengan tegas.


Nisa tidak sampai berpikiran ke sana, tidak mungkin Naura seperti itu.

__ADS_1


Naura adalah anak baik, dia dua tahun lebih muda dari Annisa. Meski memakai hijab, namun pakaiannya tidak se-syar’i apa yang dipakai Nisa. Dalam pikirannya Nisa menolak mentah-mentah apa yang dituduhkan Ummi, namun dalam hatinya merasa terganggu. Bagaimana kalau ucapan Ummi tadi benar terjadi?


“Kalau kamu ndak percaya, coba nanti kamu perhatikan Naura baik-baik saat Rizki ada di hadapan Naura, kalau ada yang berbeda dari sikap Naura, berarti betul apa yang Ummi bilang.”


Nisa mengangguk menuruti perkataan Ummi. Satu persatu sayuran sudah beres di kupas dan dipotong, Nisa juga menyiapkan daging untuk dibuat gepuk.


Saat pulang kampung, Nisa dan Rizki sengaja mengajak keluarga berkumpul untuk makan bersama, selain untuk melepas rindu, ritual ini bisa memperat ikatan antar keluarga.


Naura yang sudah dianggap sebagai adik sendiri oleh Nisa tidak terlihat canggung, karena seluruh keluarga menyambut baik kedatangannya.


Ditengah hangatnya kebersamaan mereka, Naura merasa senang, karena kehangatan itu tidak pernah didapatkan di rumahnya, orangtua Naura bercerai saat dirinya kelas tiga SD, Naura diasuh oleh bibi dari ibunya.


Bibi Naura memiliki anak perempuan yang sebaya dengannya, membuat dia dipilih kasih dan diperlakukan seperti pembantu. Meski begitu, Naura bersyukur karena sudah diizinkan tinggal bersama bibi dan keluarganya.


Nisa mengakui Naura perempuan yang cantik, dia memiliki pipi chubby dan dagu yang lancip, kulit Naura tidak seputih kulit Nisa, tapi warna kulit Naura yang sawo matang membuatnya nampak eksotis.


Ibu dan Syauqina datang untuk membantu Nisa di dapur, mereka tampak seru bercengkrama bersama, sambil mempersiapkan masakan yang satu persatu sudah matang.


***


Seluruh makanan yang dimasak Ummi dan Annisa sudah tersaji di meja makan, semua anggota keluarga sudah duduk di kursinya masing-masing tidak terkecuali Naura.


Masakan Ummi dan Nisa banyak dibanjiri pujian, Nisa yang pandai memasak mewarisi bakat tersebut dari Ummi.


“Kami sudah ikhtiar, Pak. Cuma belum waktunya aja.” Rizki menjawab.


“Yang sabar, anak itu sepenuhnya hak Allah. Terus ikhtiar dan berdoa.” Ibu menimpali


“Iya, Bu. Iki pengen anak perempuan yang cantik dan solehah kayak Ibunya.” Imbuh Rizki sambil memegang tangan Nisa.


“Perempuan atau laki-laki, sing penting soleh dan solehah.” Tambah Ibu.


Naura melirik tajam melihat kemesraan Rizki dan Annisa, ditambah perbincangan ini membuat dadanya bergemuruh. Ekspresi wajahnya tidak bisa ditutupi bahwa dia sedang marah. Nisa yang sedari tadi memperhatikannya, menyadari perubahan wajah Naura saat melihat Rizki memegang tangannya.


Nisa kini merasa ucapan Ummi benar, ada yang aneh dengan Naura. Mungkinkah dia mencintai Rizki?


Astagfirullah.. Nisa menghalau segala pikiran buruk. Bagaimana dia bisa berpikiran begitu hanya dengan melihat perubahan ekspresi pada wajah Naura?


Dia sudah bekerja hampir setahun dengannya dan merasa tidak ada yang aneh. Terlebih, tidak ada bukti yang bisa menguatkan dugaan tersebut. Sejauh ini, Nisa tidak melihat hal-hal mencurigakan dari Naura.


“Tambah lagi nasinya, sayang.” Rizki menyendok satu centong nasi ke piring Nisa, lalu menyuapinya dengan mesra.

__ADS_1


Naura melirik, matanya dan mata Nisa bertemu membuat Naura salah tingkah seketika dia membuang muka.


Naura menyadari Annisa memperhatikannya sejak tadi, membuat dia menjadi tidak nyaman, dia menyudahi makan dan pamit ke dalam kamar dengan perasaan kesal.


“Kenapa kok makannya sedikit sekali, Nduk?” Tanya Ibu.


“Sudah kenyang, Bu.” Jawab Naura kemudian berlalu.


“Sepertinya dia seumuran Syauqina.” Ucap Bapak setelah Naura tidak terlihat lagi dari pandangannya.


“Lebih tua setahun, Pak. Dia sudah lulus, Qina baru lulus tahun depan kan, ya?” Tanya Nisa melirik Qina.


“Iya, Mbak.” Jawabnya.


“Mbak Nisa hati-hati, kayaknya pegawai Mbak itu suka sama mas Rizki deh.” Qina berkata dengan suara berbisik.


“Tuh kan, ternyata bukan hanya Ummi saja yang berpikiran seperti itu.” Ummi menimpali.


“Kamu ini, Dek. Nuduh tanpa bukti namanya fitnah, loh hati-hati.” Ujar Rizki menggelengkan kepala.


“Qina emang nggak punya bukti, Mas, tapi gelagatnya kelihatan sekali, Mbak Nisa nggak sadar apa?”


Ucapan Syauqina kini menambah ketakutan di hati Nisa. Meski beberapa kali berpikir positif, namun Nisa khawatir Naura benar-benar menyukai suaminya.


 Annisa akan mencari tahu lebih dalam tentang semua ini. Dia tidak mau lengah, dia tidak mau ada duri dalam rumah tangganya.


Meski dia berpikir ini tidak mungkin, tapi apa pun bisa terjadi.


"Syuuuttt.. Qina ayo lanjutkan makannya. Jangan membuat Mbak-mu berpikiran yang tidak-tidak." Bapak menyuruh Qina agar tidak melanjutkan lagi ucapannya.


"Nggih, Pak."


"Tapi, yang diucapkan Qina ada benarnya. Sebaiknya kamu hati-hati, karena kita tidak bisa menerka hati manusia. Naura masih muda, dia wanita normal, bukan hal mustahil kalau dia menyukai suamimu." Ibu seolah membenarkan ucapan Qina dan Ummi, membuat Nisa semakin galau.


Kenapa hanya dirinya saja yang tidak menyadari Naura menyukai Rizki? Apakah selama ini Nisa terlalu baik, hingga membuatnya berpikir mustahil Naura akan mencintai Rizki?


Nisa mengangguk menyetujui ucapan Ibu. "Iya, Nisa akan lebih berhati-hati lagi."


Rizki yang menjadi objek utama dalam perbincangan itu hanya diam. Dia tidak mau membuat perasaan istrinya semakin buruk.


Rizki tahu kini istrinya sedang khawatir, dia menggenggam tangan Annisa dengan erat, seolah berjanji dia akan setia apa pun yang terjadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2