Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Part 135 MCS


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawin nya Tasya Amelia Wijaya binti Tuan Bara Wijaya dengan mas kawin satu set berlian dan uang tunai sebesar 5 milyar rupiah di bayar tunai." Suara lantang diki terdengar sangat merdu ketika mengucapkan ijab qabul.


Seluruh keluarga besar dan tamu yang hadir sebagai saksi pun serempak menyerukan kata sah. Dan mulai detik itu juga diki dan chacha resmi menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama.


Chacha yang memang belum di hadirkan di tempat prosesi ijab qabul itu pun langsung di minta untuk keluar dari tempat persembunyian nya. Tempat dimana dia, ibu nya dan juga dinda sang sahabat menunggu sampai diki selesai mengucapkan kalimat sakral tersebut


Semua mata langsung tertuju pada gadis yang penampilan nya saat ini berubah 180° itu. Termasuk diki, yang statusnya sudah berbuah menjadi seorang suami dari gadis yang terus berjalan menghampiri nya dengan anggun.


Laki laki itu pun sampai tidak berkedip bahkan dia juga tanpa sadar menahan nafasnya saking tidak percaya dengan penampilan chacha saat ini.


"Astaga, aku tidak menyangka bocah itu bisa berubah menjadi wanita tulen.." bisik riko yang duduk sedikit berjarak di belakang kursi diki


Diki tidak memperdulikan ucapan riko karena saat ini fokusnya hanya satu, sang istri tentu nya.


Diki pun reflek berdiri ketika chacha sudah ada di depan nya.


Dengan mata berkaca kaca, chacha mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan sang suami. Setelah itu diki mencium kening chacha di saksikan oleh seluruh keluarga besar nya.


Tiba tiba tangan diki terulur dan di letakkan nya tangan itu di atas kepala istrinya..


"Aku bersumpah atas nama Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan menduakan istriku apapun yang terjadi. Aku akan menjadikan mu satu satu nya di hidup ku sampai maut yang menjemput ku lebih dulu!!" ucapnya dengan suara yang begitu lantang.


Chacha menatap kedua mata sang suami dengan air mata yang mulai membasahi kedua pipi nya.


Sementara dinda yang sudah duduk di sisi suami nya tiba tiba saja mengingat kejadian masa lalu nya saat melihat bagaimana seorang diki begitu meratukan sahabatnya.


"Betapa bahagia nya chacha bisa bersama lelaki yang menjadi pilihan nya sendiri.."

__ADS_1


Bukan dinda menyesali keadaan diri nya di masa lalu, tapi dia merasa sedih karena tidak seberuntung chacha bisa memilih sendiri pasangan hidupnya.


Dinda memang sudah berdamai dengan masa lalu nya, tapi ketika mengingat lagi bagaimana hubungan nya dulu dengan bima di awal pernikahan nya membuat dinda menjadi sangat sedih karena terbawa suasana.


Dinda pun meneteskan air mata nya tanpa dia sadari.


"Chacha yang nikah kenapa kamu yang nangis ??" tanya bima sengaja menggoda istri nya, dia mengira dinda menangis haru karena sahabatnya menikah.


Tanpa menjawab dan menoleh dinda menghapus air mata nya dengan kasar.


Setelah itu, pasangan pengantin baru pun langsung di arahkan untuk duduk di pelaminan nya.


Mereka berdua pun menyambut para tamu yang ingin mengucapkan selamat.


"Selamat ya cha, kak diki. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.." ucap dinda saat melepaskan pelukan nya pada chacha..


"Makasih ya din, aku seneng banget karna kamu selalu ada buat aku.." ucap chacha sambil terus menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Selamat ya bro, aku sudah mengirimkan hadiah untuk kalian. Mungkin sebentar lagi akan datang.."


"Kenapa ?" tanya chacha tanpa suara, hanya menggerakkan mulutnya sambil menatap sang sahabat.


Dinda langsung menggelengkan kepala nya sambil tersenyum getir..


Setelah itu, dinda dan bima pun turun dari atas pelaminan kedua sahabat nya..


"Om, aku mau pulang.." kata dinda pelan,

__ADS_1


Bima mengerutkan keningnya.. "pulang ?" beo nya


Dinda mengangguk cepat, "Aku capek.." katanya dengan tatapan dingin


"Kamu sakit ?" tanya bima sambil meletakkan telapak tangan nya di kening dinda..


"Nggak, aku cuma capek doang. Pengen istirahat, kaki aku juga pegel.." ucap dinda tidak ingin membuat suami nya khawatir


"Kan aku udah bilang tadi, jangan pake high hills segala sayang. Kamu sih nggak dengerin aku.."


Ya, memang tadi dinda memaksa untuk memakai sepatu hak tinggi, karena dia ingin tampil cantik dan anggun di pesta pernikahan sahabatnya itu. Lagi pula dinda merasa kandungan nya belum besar, jadi memakai sepatu seperti itu tidak akan membahayakan janin yang di kandung nya.


Dinda tidak menjawab ucapan suami nya, dia memilih diam.


Setelah itu, bima pun langsung mengajak sang istri pulang dengan terus menggenggam tangan dinda. Tapi lagi lagi dinda tidak membalasnya.


*Di dalam mobil..


"Kamu kenapa ? Marah lagi ?" tanya bima ketika merasa ada yang tidak beres dengan istrinya


"Nggak om, aku cuma lelah. Aku pengen tidur sebentar ya.." kata dinda seraya menyandarkan kepala nya ke pojok antara jendela dan jok mobilnya.


Bima semakin yakin pasti ada yang sedang di sembunyikan sang istri, karena dinda lebih memilih bersandar tempat itu dari pada di bahu nya yang jelas jelas lebih nyaman.


Bima menghela nafas nya.


"Salah apa lagi ya.." gumam bima tapi masih bisa di dengar dinda..

__ADS_1


"Sebentar ya om, beri aku waktu sendiri dulu.." jawab dinda dengan mata yang masih terpejam..


...****************...


__ADS_2