
5 Tahun kemudian....
5 tahun sudah berlalu sejak dinda pergi dari rumah. Pergi tanpa berpamitan dan meninggalkan semua orang termasuk suami dan kedua orang tuanya.
Pencarian sudah di lakukan tapi hasilnya nihil. Tidak ada siapapun yang tahu dinda pergi kemana dan bersama dengan siapa. Termasuk chacha, sahabatnya. Chacha begitu terkejut ketika mengetahui kabar menghilangnya sang sahabat. Dia bahkan sampai jatuh sakit dan hampir saja menyebabkan diri nya keguguran, karena chacha memang sedang mengandung buah hati nya bersama dengan sang suami saat itu.
Bima benar benar mengerahkan seluruh kemampuan nya. Di mulai dari anggota kepolisian resmi hingga mafia mafia luar negeri yang di kenalnya pun gagal menemukan sang istri. Kabar berita tentang pergi nya sang nyonya besar sudah di tayangkan di berbagai media masa. Tapi tak ada satu pun yang tahu keberadaan wanita itu sekarang.
"Aku harus mencari kamu kemana lagi, sayang..??" gumam bima dalam hatinya..
Sungguh hanya penyesalan yang bima rasakan saat ini. Dia sudah menyianyiakan istri nya. Dia juga sudah melanggar janji nya untuk tidak menyakiti hati dinda lagi.
Penyesalan nya semakin membuncah ketika david mengingatkan bahwa sebelum kepergian dinda, wanita itu pernah menghubungi david dan ingin bicara dengan bima tapi bima dengan tegas tidak mau bicara dengan siapapun termasuk istrinya, dan david tahu di sambungan itu dinda mendengar semua yang di ucapkan bima.
Dan david juga memberitahu apa yang bima lakukan pada dinda di hari kematian dad yuda. Meskipun tanpa sadar tapi bima hampir saja mencelakai istri dan calon anak nya. Di tambah dia mengatakan tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini.
Sesak dada bima ketika david terus mengingatkan tentang kesalahan nya pada sang istri.
Kenapa bima sampai sekarang belum juga bisa menemukan sang istri. Sebab sejak awal dinda sudah mempersiapkan semuanya tanpa ada satu orang pun yang menyadari itu.
***
*Di belahan bumi yang lain..
"Mami, tunggu..!! Dewa mau ikut.." rengek bocah laki laki yang usia nya sekitar 4 tahunan dengan bicara nya yang masih cadel khas bocah seusia nya..
Seorang wanita mensejajarkan tubuhnya dengan anak laki laki tersebut.. "Jangan sayang, mami kan mau kerja. Kamu di sini saja ya sama sus. Okay ?? Nanti sore kita main lagi.. Dewa mau kan tunggu mami dirumah ??" tanya wanita itu pada putra nya..
"Tapi mami selalu pulang terlambat. Dewa marah sama mami.."
"Sayang, mami ini kan dokter, kalau di rumah sakit masih ada pasien yang sakit mami nggak bisa langsung pulang, nak. Dewa kalau sakit mami langsung kasih dewa obat, begitu juga dengan mereka. Mami harus memberikan mereka obat seperti yang mami berikan sama dewa, biar mereka cepet sembuh.."
"Oh jadi gitu mi ?? yaudah deh dewa nggak marah lagi sama mami.." kata anak itu dengan wajah yang lucu..
Setelah di berikan pengertian, akhirnya bocah itu pun mau membiarkan mami nya pergi bekerja. Sebab ini sudah jam 7 pagi, wanita itu harus segera pergi ke tempat kerjanya karena sudah banyak pasien yang pasti memerlukan nya.
"Sus, titip dewa ya. Aku harus berangkat sekarang..!!"
"Baik, nyonya.." kata suster yang menjadi baby sitter putranya sejak masih bayi
Setelah melihat nyonya nya pergi, sus kiki pun langsung membawa dewa masuk kembali ke dalam rumah..
"Ayo mas dewa kita main di dalam.." ajak wanita muda itu menuntun dewa berjalan masuk ke dalam rumah
**
*Skip perjalanan..
Rumah Sakit Umum di London...
Luna turun dari mobilnya. Dia mulai berjalan memasuki area rumah sakit dengan jas putih yang menggantung di lengan kanan nya.
"Selamat pagi dokter luna..." sapa beberapa perawat dan dokter lain ketika luna sudah berada di dalam area rumah sakit tersebut..
"Selamat pagi..." jawab nya dengan sangat ramah
__ADS_1
Wanita itu terus berjalan menuju ruangannya dan tidak jarang orang orang di sekitarnya terus memperhatikannya. Tapi luna sudah sangat terbiasa dengan hal tersebut, sebab dia selalu bekerja dengan orang orang yang baru di lihatnya.
Seperti biasa, luna akan langsung masuk ke dalam ruangan pribadi nya yaitu ruangan bertuliskan "Dokter Bedah Jantung" di pintu ruangan nya.
Luna mulai memakai jas putih kebanggaan nya. Jas yang di pakainya sudah sejak 3 tahun yang lalu. Berkat kejeniusan nya luna hanya butuh waktu kurang dari 4 tahun dan dia langsung di angkat menjadi dokter muda di rumah sakit tersebut.
Tok tok tok..
Ceklek
"Dok, operasi akan segera di mulai.." kata seorang perawat yang mengetuk pintu ruangan Luna.
Ya, memang pagi ini dia ada jadwal operasi penting bersama dengan beberapa dokter senior yang ada di rumah sakit tersebut.
"Baik.." kata luna lalu mulai mempersiapkan diri nya untuk menuju ruang operasi..
*Di depan ruang operasi..
"Selamat pagi dokter luna..." kata seorang pria bule pada luna yang baru saja tiba di ruang operasi..
"Selamat pagi, Dokter Daniel.." kata luna tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya. Sebab saat ini dia memakai masker medis nya..
*6 Jam kemudian...
Seperti biasa, operasi yang di lakukan luna dan dokter di rumah sakit itu selalu berhasil. Mereka sangat teliti dan hati hati dalam melakukan tugasnya.
Setelah melakukan meeting dadakan untuk membahas operasi yang baru saja di lakukan, kini luna sudah kembali ke dalam ruangan kerjanya..
Tok tok tok
"Ada apa dokter daniel ??" tanya luna ketika melihat pria bule itu memasukkan sedikit kepalanya mengintip dari balik pintu..
"Dokter luna. Apa sudah makan siang ??" tanya dokter senior itu
Luna mengangkat bungkusan makanan siap saji agar pria bule itu melihat nya..
"Oopss.." ucapnya..
Luna tersenyum..
"Maaf dokter. Tadi saya langsung memesan makanan setelah operasi selesai.." kata luna jujur..
"Baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali.." ucap dokter daniel membalas senyum luna,
Pria itu pun kembali menutup pintu ruangan luna..
Kring!! Kring!!
Suara panggilan telepon menghentikan luna yang sedang makan siang..
"Baik dokter. Saya segera kesana.." jawab luna di panggilan itu..
"Ada apa ya, kenapa kepala rumah sakit memanggil ku.." Luna sedikit cemas ketika panggilan itu ternyata berasal dari kepala rumah sakit..
Luna pun merapikan kembali meja nya kerja nya, dan tentu saja dia menunda lagi makan siang nya yang memang selalu terlambat karena profesi nya sebagai dokter membuat jam makan luna tidak pernah tepat waktu..
__ADS_1
Tok tok tok..
Luna mengetuk pintu, lalu langsung membuka pintu tersebut...
"Selamat siang, dokter.." kata luna langsung masuk ke dalam ruangan
"Selamat siang, dokter muda. Silahkan duduk.." ucap dokter senior yang merupakan kepala rumah sakit disana..
"Begini dokter luna. Beberapa hari lagi kita akan kedatangan pemilik rumah sakit yang baru.." ucap dokter itu membuat luna mengerutkan kening nya..
"Apa dokter luna belum tahu ? Rumah sakit ini bukan lagi milik Tuan Berry. Tuan Berry menjual rumah sakit ini pada pengusaha kaya raya yang berada di Jerman.." kata dokter itu pada luna..
Sebenarnya luna sudah tahu kabar ini, tapi dia tidak terlalu memikirkan nya. Karena menurutnya kabar ini sama sekali tidak penting, yang terpenting saat ini dia harus bekerja keras setiap hari untuk menghidupi dewa, putra semata wayang nya..
"Oh, saya sudah tahu kabar itu dokter.."
"Akan ada seleksi dokter dokter muda yang di adakan oleh pemilik rumah sakit yang baru. Beliau akan memberikan beasiswa penuh untuk dokter muda melanjutkan pendidikan kedokteran nya jika bisa lolos ujian dengan nilai terbaik.."
Mata luna berbinar. Tiba tiba saja dia menjadi sangat bersemangat..
"Bagaimana dokter luna ? Apa dokter tertarik untuk mengikuti tes ujian tersebut..??" tanya dokter senior itu
"Kapan akan di adakan nya, dok ??" tanya luna
"Satu minggu lagi. Di rumah sakit ini..!!"
Luna tiba tiba mengeluarkan ponselnya.. "Astaga, saya ada operasi penting minggu depan dokter.." kata luna bingung..
"Kalau begitu, minta saja dokter daniel yang menggantikan." kata dokter itu mencoba memberi solusi
Luna terdiam.. Dia tahu dokter daniel sejak dulu menyukai nya. Makanya luna tidak pernah mau terlibat percakapan dengan pria itu.
"Dokter, apa masih ada waktu untuk saya berpikir ??" tanya luna
Dokter senior itu mengangguk..
"Baiklah, Saya akan memikirkan dulu tawaran dokter tadi. Terimakasih.."
Luna pun pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruangan nya..
"Hei!! Lun.."
Tiba tiba seseorang memanggil luna..
"Kenapa muka di tekuk begitu, hem ??"
"Aku lagi bingung Jen.." kata luna setelah tiba di dalam ruangan dan di ikuti oleh dokter muda yang seumuran dengan nya..
"Bingung kenapa ??" tanya dokter jenifer yang merupakan teman dekat luna di rumah sakit itu
Luna pun menceritakan semua nya pada jenifer.
"Ya sudah, kalau begitu minta saja dokter daniel yang gantikan..!!" ucap jenifer yang berpikiran yang sama dengan dokter senior yang tadi bertemu luna..
"Ck!! Aku tidak mau berhutang budi pada siapapun, jen..!! Kamu kan tahu itu.." kata luna seraya menjatuhkan bokong nya di kursi kebesaran nya..
__ADS_1
"Tapi lun, ini kesempatan emas untuk mu. Aku tahu kamu sangat terobsesi dengan dunia kedokteran. Tidak mungkin ada dokter muda seperti kamu yang memiliki jam terbang yang cukup tinggi di ruang operasi. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini lun, katanya kamu ingin menjadi dokter senior di rumah sakit yang lebih besar dari ini. Aku yakin dokter daniel dengan senang hati menggantikan mu di ruang operasi.."
Luna mencerna setiap kata yang di ucapkan jenifer kepadanya. Benar, memang benar, dia sangat terobsesi dengan dunia kedokteran. Hanya saja dulu dia mengubur semua mimpinya itu begitu saja.