
Pukul 9 pagi..
Chacha baru tiba di rumah nya lagi. Sebenarnya dia hanya lari pagi sampai jam 7, sisa nya dia lakukan dengan merenung di taman dekat komplek rumah nya. Merenung dan berpikir bagaimana caranya agar ayah dan ibu nya bisa bertemu tanpa menyakiti hati sang ibu..
Saat chacha baru sampai depan rumah, dia melihat mobil diki sudah terparkir sempurna di halaman rumah nya..
Chacha pun masuk ke dalam..
"Kak.." kata chacha saat melihat diki dan ibu nya sedang berada di ruang tamu..
Diki tersenyum, "Sini.." panggil diki meminta chacha duduk di sebelah nya..
Chacha pun melangkahkan kaki nya lalu duduk di sebelah diki.. "Aku mau mengajak kamu dan ibu ke salah satu hotel tempat pernikahan kita nanti.." kata diki membuat chacha mengerutkan kening nya..
"Tapi kak.."
"Sssttt.. mending sekarang kamu mandi dulu, nanti kita sekalian sarapan di hotel.."
Chacha semakin bingung, karena saat dia beradu pandang dengan sang ibu, ibu nya malah tersenyum dan tidak membantah ucapan calon menantu nya itu..
"Ayo cepet cha, kamu mandi dulu. Ibu juga mau siap siap.." kata ibu seraya bangun dari duduknya, wanita itu berjalan menuju kamarnya untuk bersiap siap..
"Kak, apa maksudnya ?? Chacha gak ngerti.."
Cupp
Diki malah mencium pipi gadis nya.. "Aku tidak mau lagi melihat kamu menangis seperti semalam, jadi aku minta serahkan semuanya pada ku..hem..!!"
"Tapi kak..." chacha kembali akan melayangkan protes nya
"Ssssttt.." Diki meletakkan telunjuknya di bibir chacha..
"Dengar sayang, aku sudah merencanakan pertemuan ibu dan om bara hari ini. Jadi kamu tidak boleh lagi menangis seperti malam tadi. Aku sakit melihat kamu seperti itu.."
Tiba..tiba..
grep..
Chacha memeluk diki dengan melingkarkan tangan nya di leher pria itu dengan mata yang berkaca kaca..
Tanpa banyak berkata Diki pun langsung membalas dengan melingkarkan tangan nya di pinggang chacha..
"Makasih kak.." ucap chacha pelan
Diki tersenyum, "Keringatmu wangi.." bisik diki seraya menciumi leher chacha yang sedikit basah..
"Ah.. geli kak.." chacha reflek melepaskan lingkaran tangan nya..
Diki tersenyum geli, "Ayo mandi, apa mau aku yang mandiin ??" goda diki membuat chacha langsung memukul dada bidang pria itu..
"JANGAN MIMPI..!!" Pekik chacha, lalu gadis itu pun berdiri dan langsung meninggalkan diki yang masih tertawa geli karena reaksi chacha yang lucu itu..
**Hotel Bintang 5..
Setelah selesai sarapan bersama. Sekarang chacha, diki dan ibu nya sudah berada di dalam ballroom sebuah hotel mewah yang ada di kota J.
Mereka di dampingi oleh beberapa staf yang akan mengurusi persiapan pernikahan diki dan chacha.
"Kak.." pekik chacha seraya menarik tangan diki untuk berbicara 4 mata meninggalkan ibu dan beberapa orang yang mendampingi mereka. Ibu sampai heran kenapa tiba tiba chacha membawa diki sedikit menjauh dari mereka..
"Kenapa sayang ??" tanya diki seraya membelai rambut chacha lembut..
"Ini salah..!!" ucap chacha serius membuat diki menautkan kedua alisnya..
"Ajak chacha dulu ketemu keluarga besar kakak.. Jangan buat chacha seolah hanya akan menikahi kak diki saja..!!"
Diki tersenyum, dia memang berniat membawa gadis nya bertemu dengan keluarga nya setelah selesai dengan urusan persiapan pernikahan mereka ini. Tapi chacha ternyata lebih dulu memprotes nya..
Diki mengusap pucuk kepala chacha, "Kamu tahu, di salah satu kamar President suit di sini keluarga ku sudah menunggu kamu.." ucap diki membuat kedua mata chacha melotot saking terkejutnya..
"Serius kak ??" tanya chacha memastikan,
Diki mengangguk pelan, "Ayo selesaikan ini dulu, setelah itu kita langsung naik ke atas.." kata diki seraya menautkan jemari nya..
__ADS_1
**Di lift menuju kamar president suit..
"Gak usah tegang sayang. Keluargaku tidak semenakutkan itu.." kata diki sambil tersenyum geli,
Chacha tidak merespon ucapan pria itu. Dia terus sibuk berbicara dengan pikiran nya sendiri.
Gadis itu sibuk memikirkan bagaimana respon keluarga diki terhadap dirinya, dan satu lagi, chacha juga memikirkan ibu nya yang saat ini sedang bertemu dengan ayahnya di salah satu ruangan private di hotel yang sama.
Diki menautkan kembali jemari nya dengan jemari chacha saat pintu lift sudah terbuka..
Mereka saling pandang sesaat, lalu setelah itu keluar dari lift bersama menuju salah satu kamar president suit yang sudah di sewa oleh keluarga diki..
*Di depan pintu kamar..
Chacha tiba tiba menahan tangan diki seraya menggeleng pelan dengan tatapan mata seolah mengatakan "jangan sekarang". Diki tersenyum lalu memposisikan diri untuk saling berhadapan dengan diri nya..
"Tenang sayang. Ada aku..!!" kata diki mencoba menenangkan gadisnya..
Ceklek..
Tiba tiba pintu kamar terbuka, menampakkan seorang wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat sangat cantik dan sexy dengan balutan pakaian yang super ketat..
"Astaga.. kenapa kalian malah di luar..?? Ayo masuk.." ucap wanita itu pada kedua orang yang hanya berdiri di depan pintu kamar
Diki tersenyum lalu menggenggam tangan chacha dan mengajaknya masuk ke dalam..
deg
Chacha tidak pernah membayangkan bahwa dia akan bertemu dengan keluarga besar diki. Karena di dalam kamar itu, ada lebih dari 10 orang yang chacha pun belum tahu siapa saja mereka..
"Cantik sekali cucu menantuku.." ucap nenek tua yang masih terlihat segar dengan rambut yang sudah putih semua,
Chacha tersenyum lalu sedikit membungkuk memberi hormat pada wanita itu..
"Mas Raden, bawa kemari gadis cantik itu.." ucap nya lagi,
"Mas Raden..." batin chacha seraya mendongakkan kepala nya melihat ke arah diki, sementara laki laki itu hanya tersenyum
Diki pun membawa chacha untuk menghampiri oma nya lebih dulu. Chacha yang saat itu menjadi pusat perhatian menjadi sangat gugup,
Gadis itu lalu mencium tangan oma,
"Siapa nama ku sayang ?" tanya oma
"Chacha oma.." jawab chacha malu malu.
"Bu, jangan terlalu lama, kita juga mau kenalan sama calon mantu.." ucap seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan diki.
Chacha lalu menoleh ke sumber suara,
Tanpa chacha tahu, seluruh keluarga diki sangat menyambut kedatangan gadis itu. Karena betapa tidak, mereka sangat bahagia saat diki yang selama ini tidak pernah membawa seorang wanita pun ke keluarga nya tiba tiba meminta izin untuk menikah di usia nya yang sudah menginjak kepala 3 itu.
Diki berkali kali di desak oleh keluarga nya, terutama sang oma untuk segera menikah. Bahkan oma nya itu berkali kali mencoba menjodohkan cucu nya itu pada anak anak dari rekan bisnis keluarga nya. Dan berkali kali juga diki menolaknya, sampai akhirnya diki memutuskan pergi dari rumah dan hidup tanpa tujuan seperti saat belum bertemu dengan chacha.
Diki bukan tidak mau bekerja seperti bima, tapi dia malas untuk bertemu dengan keluarga nya yang selalu bertanya kapan dia akan menikah. Terlebih Mami dan Papi nya yang selalu meminta ingin cepat memiliki cucu dari putra tunggal mereka tersebut.
Setelah dari oma, chacha menghampiri 2 orang yang sekarang dia yakin bahwa wanita yang berpakaian sexy dan superketat itu adalah ibu dari lelakinya.
Chacha mencium tangan ke duanya bergantian..
"Akhirnya mami punya partner untuk shopping dan perawatan.." ucap wanita itu seraya menyunggingkan senyum nya pada chacha
"Iya mi, ajarkan menantu kita cara menghabiskan uang.." sambung papi diki menimpali..
"hey hey.. jangan sembarangan..!! Dia istriku, kalian tidak boleh mengajarkan hal yang buruk seperti itu.." ucap diki seraya menjadi garda terdepan untuk chacha
Memang keluarga diki sangat kaya dan suka menghamburkan uang, tapi meskipun begitu mereka tidak lupa untuk berbagi. Keluarga diki bahkan memiliki beberapa panti asuhan untuk anak anak terlantar yang tersebar di seluruh kota kota di Indonesia.
Semua yang mendengar ucapan diki langsung tersenyum bahagia, memang ini yang mereka inginkan. Melihat diki memiliki sosok yang harus di jaga nya selain kedua orang tua dia tentu nya.
Setelah itu chacha pun menyalami satu satu keluarga diki. Ada tante dan Om nya, dan ada sepupu sepupunya dari keluarga mami dan papi nya yang hampir ke semuanya sudah memiliki seorang anak. Diki adalah cucu tertua dari keluarga besarnya.
Setelah bertemu dengan chacha, beberapa keluarga diki pamit untuk kembali ke kamar mereka masing masing.
__ADS_1
Dan di kamar itu tinggal Oma Opa, dan mami papi nya saja.
"Jadi apa kalian sudah menentukan konsep apa yang akan kalian ambil di pernikahan kalian nanti ??" tanya opa yang baru mengeluarkan suara nya..
"Sudah opa.." jawab chacha masih sedikit malu..
Oma tiba tiba berjalan menuju tasnya yang ada di sisi lain kamar itu, dia mengambil sebuah kotak yang entah apa isinya..
Oma lalu memberikan kotak itu pada chacha..
"Buka sayang.." kata oma seraya kembali duduk
Chacha dengan ragu membuka kotak itu..
"Astaga.." batin chacha saat melihat isi kotak nya..
"Itu hadiah pernikahan dari oma dan opa.." ucap oma sambil tersenyum pada calon cucu menantu nya
Chacha menoleh ke arah diki, dan laki laki itu pun juga langsung mengembangkan senyumnya pada chacha..
"Astaga bu, kapan ibu membeli satu set berlian yang langka itu ??" ucap mami terkejut saat tahu isi di dalam nya..
"Tunggu nak, mami dan papi juga punya hadiah buat kamu..." sambung mami tidak mau kalah
"Ini sayang.." ucap nya setelah mengambil sesuatu
"apa ini mi ?" tanya chacha tidak mengerti saat calon mertua nya memberikan 2 benda
"Itu yang satu kunci rumah, dan satu lagi kunci mobil.." kata papi menjawab pertanyaan chacha..
"Astaga, kalian ini kenapa memberikan barang barang seperti itu pada istriku ??" diki awalnya senang saat oma memberikan hadiah untuk pernikahan nya, tapi saat tahu bahwa hadiah itu adalah berlian yang langka diki jadi tidak suka karena dia takut chacha tersinggung dengan hadiah hadiah itu..
"Memang nya kenapa ? Lagi pula ini bukan hanya sekedar hadiah, tapi ini bentuk rasa syukur kita karena kamu akhirnya akan menikah.." ucap opa
"Sayang, kamu mau menerima nya kan ?" tanya oma pada chacha..
Ini benar benar di luar ekspektasi chacha, dia tadi sempat berpikir akan mendapat penolakan dari keluarga diki. Tapi nyatanya, dia benar benar di sambut baik oleh keluarga pria itu.
Chacha tersenyum, "Iya oma, chacha terima hadiah nya. Terimakasih oma opa, mami dan papi atas hadiah pernikahan untuk chacha dan kak diki.." kata chacha untuk pertama kali nya berbicara panjang lebar pada mereka
Pertemuan pun berakhir..
Kini diki kembali membawa chacha keluar dari kamar itu..
huh
Akhirnya chacha bisa bernafas lega.. "Terimakasih kak.." ucap chacha saat mereka masuk ke dalam lift
"Aku yang harusnya berterima kasih sayang, karena kamu mau menerima keluarga ku yang super aneh itu..hehe" ucap diki sambil terkekeh
Chacha tersenyum,
"Jangan tersenyum seperti itu, rasanya aku ingin mencium bibir mu sekarang juga.." ucap diki tidak tahan melihat chacha tersenyum dengan menampakkan deretan gigi nya yang putih dan rapi itu..
Cupp
Tiba tiba chacha mendaratkan kecupan di bibir diki,
Mata diki langsung terbuka sempurna. Dan saat chacha ingin melepaskan bibirnya, laki laki itu malah menahan tengkuk chacha, di ***** nya bibir gadis itu atas dan bawah.
Chacha memejamkan kedua matanya, tangan diki meraba tombol lift agar lift itu berhenti sesaat..
Mulut chacha mulai terbuka, mereka saling me l u ma t dan bertukar saliva..
Dan saat diki merasa chacha sudah kehabisan oksigen nya, dia pun mulai melepaskan bibirnya perlahan..
Di usap nya bibir gadis itu dengan ibu jari nya lembut,
"I love you cha, aku sayang banget sama kamu.." ucap nya seraya menempelkan kening nya pada kening chacha..
"I love you too.. Chacha juga sayang sama MAS RADEN.."
...****************...
__ADS_1