Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 36 (Pulang Kampung)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 36 (Pulang Kampung)


Setelah menghitung keseluruhan biaya yang dibutuhkan akhirnya tekad Rizki semakin kuat.


Seperti yang direncanakan sejak awal, dia akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan orang tua dan Ummi.


“Halo, Assalamualaikum Nak.” Bapak menyapa dari telepon.


“Waalaikumsalam, Pak. Sedang sibuk tidak?” Rizki memastikan bapaknya punya banyak waktu agar diskusi ini tidak terburu-buru.


“Lagi nyantai, baru pulang dari sawah abis ngasih pupuk buat padi. Ada apa Nak sepertinya serius sekali?”


“Iya, Pak. Ada yang mau Iki bicarakan. Pengen diskusi, siapa tahu Bapak punya banyak masukan buat Iki.”


Batin orang tua selalu peka, Bapak tahu anaknya sedang mengalami masalah, seperti ada ikatan batin.


“Iya bicara saja, Bapak akan bantu semampunya.”


Rizki menceritakan semuanya kepada bapak, dia bahkan mengungkapkan isi hatinya yang merasa tidak enak menggunakan tabungan Nisa.


Bapak paham, dia menyuruh Rizki memakai uangnya saja agar lebih leluasa, tapi Rizki menolak, karena inti dari diskusi ini bukan soal uang, tapi keyakinan untuk memulai. Rizki butuh support, dia butuh banyak pencerahan untuk memulainya.


Bapak memberi banyak arahan dan pencerahan, Rizki manggut-manggut mendengarkan apa yang di nasehatkan oleh orang yang menjadi panutannya itu.


“Sing penting yakin dulu, siapkan mental baja, karena menjadi pengusaha tidak boleh cengeng dan mudah putus asa.” Satu kalimat itu membuat tekad Rizki semakin bulat.


“Iya Pak.”


“Ini Ibumu mau bicara katanya.” Ucap Bapak.


Setelah Bapak selesai bicara, ibu memberi nasehat tambahan untuk anak sulungnya. Tidak lupa ibu juga mengingatkan anaknya untuk tetap berjalan sesuai syariat agama.


Setelah dirasa cukup, mereka mengakhiri pembicaraan via telepon itu. Rizki merasa lega, betapa orangtuanya begitu mempercayai dirinya, dan mensupport dengan penuh.


Selesai berbicara dengan bapak dan ibu, sekarang giliran diskusi dengan kepada ummi. Meski Rizki yakin ummi pun akan mendukung keputusannya, tidak ada salahnya untuk meminta restu terlebih dahulu.


Terutama doa dari mereka, karena doa orangtua kepada anaknya adalah doa paling mustajab.


“Tidak ada doa yang tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797).


Rizki dan Annisa menghubungi ummi, menceritakan segala hal yang terjadi bahwa Rizki di PHK dan rencana mereka yang akan pulang kampung, juga akan membuka usaha di sana.


Ummi menyambut rencana mereka dengan gembira, mensupport sepenuhnya, ummi merasa bahagia bisa berkumpul kembali dengan anak semata wayangnya.


“Rencananya kapan kalian akan pulang?” Tanya Ummi.


“Perlu Ummi jemput ngga?” Lanjutnya.  


“Nggak perlu Ummi, kami akan pakai jasa untuk membawa barang-barang.” Rizki menjawab.


“Baik kalau begitu nanti kabari Ummi lagi ya, Ummi bereskan dulu kamar kalian biar nyaman.” 


“Terimakasih Ummi.” Ucap Nisa tidak kalah gembira.


“Dengan senang hati sayang.”


 Nisa dan Rizki telah sepakat akan tinggal di rumah ummi, tapi tidak menutup kemungkinan juga mereka akan sesekali tinggal di rumah bapak dan ibu.


 ***


Tok... Tok... Tok


 “Assalamualaikum” Sapa seseorang.


 “Waalaikumsalam, sebentar.” Jawab pemilik rumah yang tak lain adalah Rizki.


 Dia bergegas membuka pintu, tidak ingin sang tamu menunggunya lebih lama.


 “Halo, Bro.” Sapa Ajis ketika melihat Rizki membuka pintu. Dia memeluk dan menepuk punggung Rizki seolah tanda perpisahan.


 “Yuk masuk, sendirian aja lu?”


 “Iya, lu kapan pulang kampung?” Ucapnya dengan raut muka sedih. Rizki dan Ajis merupakan sahabat dekat, malah sudah seperti keluarga. Perjuangan mereka ketika sama-sama melamar kerja di PT tersebut berlangsung hingga sekarang, menjadikan keduanya sahabat yang tidak terpisahkan.


 “Besok, ini lagi beres-beres. Lu sendiri kapan balik? “


 “Lusa kayaknya, gua masih ada urusan. Sedih gua, ternyata kita terpisah di sini.”

__ADS_1


 “Perjalanan dari Bandung ke Cirebon gak sampai lima jam, sering-sering main ke sana.” Rizki menghibur.


 “Lu mau nyari kerja di sana?”


 “Rencananya gua mau buka usaha, itu yang dulu gua sering ceritain ke lu.”


 “MasyaAllah, keren lu. Pasti butuh modal gede ya kan?”


 “Iya, dari pesangon, dari tabungan gua hasil kerja paruh waktu, dan dari tabungan Nisa, alhamdulillah cukup.”


 “Syukur deh, ikut seneng gua dengernya.”


 “Lu sendiri gimana? Lanjut nyari kerja baru atau mau nerusin usaha keluarga?”


 Ajis adalah anak seorang juragan bakso. Di kota Bandung, bakso orangtuanya terkenal, setiap hari kedai baksonya tidak pernah sepi pembeli.


Mereka juga memiliki lima cabang yang tersebar di seluruh wilayah Bandung, tidak hanya itu, orang tua Ajis juga memiliki banyak mitra di kota Garut, Sumedang dan Subang, sehingga pabrik baksonya tidak pernah berhenti beroperasi.


Dulu, Ajis seringkali diminta orangtuanya untuk meneruskan usaha mereka atau mengelola salah satu cabang. Tapi Ajis menolak, dengan alasan lebih suka kerja di PT.


 Meski lahir dari keluarga cukup berada, Ajis tidak pernah berfoya-foya menggunakan uang orang tua, dia selalu berusaha sendiri untuk mendapatkan uang hasil keringatnya.


Contohnya saat SMP, dia sering berjualan kue basah di sekolah, dia mengumpulkan modal dari hasil uang jajannya.


 Masuk ke SMA, dia sering nyanyi dari cafe ke cafe dengan honor yang lumayan. Meski tidak pernah mengecap pendidikan di pesantren, tapi Ajis aktif dalam kegiatan remaja Masjid, dia tidak pernah absen mengaji yang dilaksanakan setiap selesai sholat Subuh. Dia juga merupakan ketua rohis saat duduk di bangku SMA.


 Jadi tidak heran Ajis tumbuh menjadi seorang yang religius. Itulah salah satu alasan dia bersahabat baik dengan Rizki, keduanya sama-sama orang yang memegang teguh larangan dalam agama, pondasi itulah yang membuat keduanya tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.


 “Hehe iya, kayaknya sekarang emang udah waktunya gua jadi pedagang bakso. Selain nggak ada pilihan lain, orang tua gua udah tua, kasian harusnya udah nimang cucu, tapi malah ngurus bakso mulu.”


 “Iya, tunjukkin kalo emang lu anak berbakti yang bisa di andalkan.”


“Beres, oh iya bay the way adik lu udah lulus?”


 “Syauqina? Iya tahun ini dia lulus. Kenapa emang?”


 “Nggak papa, nanya doang.” Ucap Ajis.


 “Yaudah yuk, gua kesini sengaja mau bantuin lu beres-beres.” Tambahnya.


 “Wah, emang deh lu mah sahabat paling baik sedunia.”


Mobil engkel membawa barang-barang Nisa dan Rizki yang tidak terlalu banyak, menyusuri jalanan yang begitu lengang karena masih diberlakukan lockdown.


 Sementara itu, Rizki mengemudikan mobilnya beriringan dengan mobil itu. Sebelum pulang kampung, mereka sudah terlebih dahulu melakukan swab dan PCR sebagai salah satu syarat memasuki daerah lain.


 Mereka juga membawa surat jalan yang menyatakan akan pulang kampung dari petugas setempat.


 Rizki terlihat murung, banyak kenangan dan perjuangan dia di Jakarta yang harus ditinggalkan. Berpisah dengan teman-teman yang belum tentu bisa bertemu lagi, memulai kehidupan baru, dan keluar dari zona nyaman.


 Nisa mengelus tangan Rizki, dia memahami apa yang dirasakan suaminya kini. Dia terus mengelus tangan suaminya, sesekali mencium tangan itu sebagai bentuk support agar Rizki tetap kuat menjalani semua ini.


Perjalanan yang biasanya memakan waktu enam jam, kini hanya empat jam saja, mereka sudah tiba di Cirebon.


 Fenomena yang baru sekali dialami seumur hidup, biasanya jalanan padat terlebih saat melewati pusat kota, tapi kini lengang seperti tak berpenghuni.


 Rumah-rumah tertutup rapat, tidak ada riuh anak kecil yang bermain. Sekolah ditutup, begitupun dengan fasilitas lainnya.


Tidak terkecuali dengan usaha ummi, dia terpaksa menutup toko untuk mengikuti aturan pemerintah. Beruntung, ummi masih punya pemasukan dari kos-kosan sehingga tidak membuat ekonominya terpuruk.


Banyak teman-teman ummi di pasar yang gulung tikar akibat pandemi ini. Ummi sendiri merasa khawatir jika terus menerus lockdown bagaimana nasib karyawannya?


Tapi ternyata Allah maha baik, salah satu karyawan Ummi memberi ide agar menjualnya secara pre-order. Hari ini mereka merekap pesanan yang masuk, besoknya mengantar pesanan tersebut dengan ongkir yang disesuaikan jarak dari toko ke rumah pelanggan.


Semenjak itu, Ummi tetap bisa berjualan tanpa harus membuka toko. Alhamdulillah, karyawan tetap bisa bekerja dengan waktu lebih fleksibel.


Nisa dan Rizki sudah sampai di rumah, mereka di sambut oleh ummi dan keluarga lain yang telah menunggu sejak tadi.


Seketika kesedihan Rizki hilang melihat keluarga yang tersenyum bahagia menyambut keputusannya untuk menetap di sana.


Mereka tidak lagi terpisah oleh jarak, bisa kapan saja bertemu saat merasa rindu. Ibu memeluk Rizki erat - erat, disusul bapak.


Ummi mempersilakan mereka masuk, makanan favorit sudah tersaji di atas meja.


Kue-kue yang di bawa ibu sudah terjejer rapi di lemari, sayuran organik yang di tanam bapak sudah memenuhi kulkas sejak tadi, semua antusias itu membuat Rizki dan Nisa terharu.


"Kalian pasti belum makan, yuk makan dulu. Ibu sudah buatkan nasi Jamblang kesukaanmu. Ibu juga buatkan nasi Lengko favorit Nisa." Kata Ummi melirik ibu yang sedari tadi memperhatikan anaknya.

__ADS_1


"Iya, kami sengaja belum makan karena tau pasti akan disiapkan Ibu." Nisa berbinar melihat sepiring nasi favorit ada di depan matanya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, sudah pasti perut mereka keroncongan, apalagi saat melihat masakan Ibu yang membuatnya semakin tergoda, akhirnya mereka langsung memakannya.


"Masakan Ibu emang nggak pernah gagal." Tukas Rizki.


"Iya, enak Bu." Nisa menimpali.


Ummi tersenyum bahagia menyaksikan mereka, dalam hati bersyukur akhirnya doa yang selalu dipanjatkan olehnya terkabul. Kini dia bisa bernafas lega tanpa tersiksa merindukan Annisa.


"Habiskan, ya. Kalau perlu tambah lagi." Ujar ummi sambil menuangkan minum pada gelas Nisa dan menantunya.


"Terimakasih Ummi, padahal Iki bisa ambil sendiri." Rizki terlihat tidak enak.


"Jangan sungkan, hanya menuangkan minuman saja, kok."


Bapak berada di halaman, memperhatikan burung yang sedari tadi lalu lalang hinggap di pohon mangga milik ummi.


Pohon yang tidak terlalu besar, tapi seringkali berbuah lebat. Dalam hati Bapak juga bersyukur, akhirnya anaknya pulang dan tidak akan pergi lagi.


Hari semakin siang, keluarga itu bercengkrama bersama melepas rindu.


Rizki menatap setiap sudut rumah, pandangannya berhenti di bangku taman, dia melihat bapak yang sedang melamun sendirian.


Lalu, Rizki menghampirinya. "Melamun aja, Pak. Ada apa?" Tanya Rizki.


"Itu loh adikmu, enam bulan lagi baru akan lulus tapi sudah banyak yang datang ke rumah untuk mengkhitbah. Bapak sudah beberapa kali menolak karena merasa tidak cocok, tapi ada satu hal yang menggangu pikiran Bapak."


"Apa itu?" Rizki penasaran.


"Anak dari sahabat Bapak minggu kemarin datang ke rumah dengan maksud yang sama. Bapak merasa cocok, selain anaknya baik dan sholeh, Bapak juga sudah mengenal dengan baik keluarganya." Bapak menghentikan ucapannya, karena masih penasaran Rizki bertanya lagi.


"Terus apa yang mengganggu pikiran Bapak sampai membuat Bapak jadi sebingung ini?"


"Adikmu itu nggak mau, dia menolak mentah-mentah. Padahal cowoknya ganteng, sholeh, mandiri pula. Bapak bingung nanti harus pakai alasan apa untuk menolak mereka."


"Loh, ya bilang aja Qinanya nggak cocok Pak."


"Yo ndak bisa, Bapak saja tidak menerima alasan itu, apalagi mereka. Bagaimana bisa adikmu itu bilang nggak cocok lah ketemu aja belum." Bapak menyeka wajahnya terlihat frustasi.


"Kamu coba bicara sama adikmu itu, siapa tau dia akan mendengar omonganmu."


"Iya, nanti kalau Qina pulang Iki bicara sama dia, sudah Bapak ndak perlu bingung lagi, nanti biar Iki yang urus."


Mendengar ucapan anaknya, Bapak terlihat gembira. Akhirnya kegalauan yang seminggu sudah menggangu seketika hilang disapu janjinya Rizki.


Hari mulai sore, matahari mulai turun ke peraduannya. Bapak dan Ibu pamit pulang, kemudian berlalu dengan mobil sedan hitam yang dikendarainya.


Ummi menyuruh Nisa dan Rizki untuk istirahat, sementara dirinya pamit ke ruang kerja hendak merekap pesanan untuk dikirim besok.


Nisa membuka kamarnya, kamar yang sudah lama dia tinggalkan namun tidak satupun berubah, malah semakin rapi.


'Ummi pasti merawatnya dengan baik' Batinnya.


Melihat kamar ini membuat ingatan Nisa kembali ke masa dirinya baru saja menikah dengan Rizki. Malam pertama yang tidak di harapkan. Nisa tertawa mengingat itu.


Dimana pengantin pada umumnya memadu kasih, menjadikan moment malam pertama sebagai hal yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya.


Tapi tidak dengan Annisa, malam itu justru dirinya terluka memikirkan suami yang tidak mencintainya. Suami yang selalu menghindar saat dia mendekatinya.


Ingatan itu membuat dia bersyukur kini Rizki sudah berbalik 360 derajat kepadanya. Rizki yang sekarang begitu mencintai dan mengistimewakannya.


"Sedang apa sayang, kok nggak masuk." Rizki memeluk Nisa dari belakang membuyarkan lamunannya.


"Tiba-tiba keinget malam pertama kita dulu, malam pertama yang bukan malam pertama." Nisa terkekeh.


Rizki ikut membayangkan malam itu, malam dimana dia berusaha menghindar dari istrinya. Jika dipikir-pikir, mereka belum pernah sama sekali bersenggama di kamar ini.


"Ini kamar kesayangan kamu, tapi kita sama sekali belum mencicipinya untuk bercinta" Ucap Rizki menggoda istrinya.


Nisa tertawa, memang benar ucapan suaminya. Semenjak menikah mereka tidak pernah bersetubuh di kamar ini, bukan tidak mau, hanya belum menemukan moment yang pas.


Dulu saat pulang kampung, mereka tidak punya banyak waktu, karena lebih menikmati menghabiskannya dengan keluarga.


"Gimana kalau malam pertama pulang kampung ini kita jadikan sebagai malam pertama bercinta di kamar kesayangan kamu ini, lagian Mas lagi kebelet banget nih." Ucap Rizki membenamkan wajahnya di pundak Nisa.


Nisa tersenyum melihat tingkah suaminya. "Setuju, kita ulang malam pertama yang gagal waktu itu."

__ADS_1


Mendengar itu, Rizki mengunci pintu dan menggendong istrinya ke ranjang. Dia mencumbu dengan mesra setiap tubuh istrinya, dan untuk pertama kalinya mereka bercinta di atas ranjang kesayangan Annisa.


Bersambung...


__ADS_2