Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 17 (Peristiwa di Cafe)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 17 (Peristiwa di Cafe)


Annisa termenung sendiri di dalam kamar, beristighfar beberapa kali karena hatinya merasa kesal. Berkali-kali dia menengok jarum jam yang terasa begitu lambat.


Rizki pergi baru sejam yang lalu, akan tetapi baginya terasa sudah lama.


Demi menghilangkan kebosanan, Nisa membuka halaman Al-Qur’an dan membacanya dengan suara merdu. Tak lama, pintu diketuk, dengan semangat Nisa meraih gagang pintu.


Rasa kecewa kembali ditelan Nisa saat mendapati sosok di balik pintu itu bukanlah suaminya, melainkan adalah Ajis dan dua teman lainnya yang tidak Nisa kenal.


“Assalamualaikum, Nis.” Sapa mereka secara bersamaan ketika mendapati Nisa membuka pintu.


“Waalaikumsalam, Kak Ajis, kok di sini? Apa nggak ikut acara makan malam sama Mas Rizki?”


Mendengar pertanyaan Annisa, mereka kebingungan. Ajis yang tidak mengerti, menengok teman lainnya, seolah mencari jawaban yang pas tanpa membuat Nisa curiga.


Meski sebenarnya mereka tidak tahu dengan apa yang dikatakan Annisa, namun, mereka mencoba mencari alasan yang tepat agar Nisa dan Rizki tidak salah paham.


“Oh.. Itu.. Anu... Ta-tadinya kita ke sini mau berangkat bareng. Ternyata dia udah berangkat, ya?” Ucap Ajis yang gugup karena dia berbohong.


Tapi, dia terpaksa melakukannya agar Nisa tidak khawatir dan berpikiran negatif kepada suaminya. Ajis yakin, bahwa ada sesuatu yang mengharuskan Rizki berbohong kepada Annisa.


Tadinya, mereka berkunjung untuk merayakan pernikahan Rizki dan Annisa, juga untuk rumah baru yang mereka tempati, tapi rencana gagal saat mendapati Rizki tidak ada di rumah.


Annisa merasa ada yang aneh, perasaannya merasa bahwa Rizki telah membohongi dirinya.


Astagfirullah.. Dalam hati dia segera menyadarkan diri dan membuang semua pikiran negatif dalam otaknya.


“Oh, begitu. Mas Rizki pergi sejam yang lalu, Kak.”


“Oke deh kalo gitu kita pamit ya, mau langsung nyusul, assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Nisa menutup pintu dan melanjutkan kembali bacaan Al-Qur’an-nya yang sempat terhenti.


***


Di sebuah cafe ditengah Kota Jakarta, seorang vokalis salah satu band hits di Indonesia menyanyikan lagu dengan ciri khas suaranya yang merdu.


Membuat seluruh pengunjung seolah terhipnotis dengan alunan musik dan lagu yang dibawakan olehnya.


Di meja sudut cafe, Rizki dan Sheila tengah menikmati makan malam berdua, dalam meja yang cukup besar, terhidang banyak makanan dengan rupa-rupa menu.

__ADS_1


Tidak ada makan malam dengan teman-teman untuk merayakan pernikahannya, apa yang dikatakan Rizki hanyalah alasan agar Annisa tidak curiga.


Sebenarnya, dia sendiri tidak tega membohongi Annisa. Tapi, karena situasinya mendesak, Rizki terpaksa melakukan hal itu.


“Halo, kenapa, Jis.”


Dering telepon menghentikan sejenak makan malam mereka. Si penelepon menanyakan keberadaan Rizki, dan meminta penjelasan mengapa dia berbohong kepada Annisa.


“Nanti gua jelasin, sekarang gua tutup dulu, ya.”


Ceklek..


Sambungan telepon terputus saat Rizki mematikannya.


Sheila tertegun, menatap Rizki dengan nanar.


“Sepertinya, foto ini cukup ampuh membuat kamu menuruti apa kataku untuk bertemu malam ini.”


“La, sekarang coba kamu jelaskan, darimana kamu mendapatkan foto ini? Sedangkan selama kita bersama, menciumu saja tidak pernah! Apalagi tidur bersama seperti foto yang kamu kirimkan kepadaku di WhatsApp.”


Foto yang dimaksud Rizki adalah foto dirinya yang sedang tertidur satu ranjang dengan Sheila. Dalam foto tersebut, Sheila memeluk Rizki yang sedang tidur pulas. Foto itu lalu dikirim melalui chat WhatsApp dengan isi pesan sedikit mengancam, dalam pesan tersebut, Sheila menyuruh Rizki untuk datang ke cafe ini, jika Rizki tidak menuruti kemauannya, dia mengancam akan mengirimkan foto itu kepada Annisa dan keluarganya.


“Saat kita touring bersama yang di adakan PT waktu ke pantai, kamu ingatkan? Sebenarnya saat itu, aku cuma mau ngasih makanan yang dititipkan Ajis. Beberapa kali mengetuk pintu, ternyata tidak dikunci, dan aku lihat kamu sedang tidur. Aku hanya iseng mengambil foto itu buat kenang-kenangan, tapi ternyata hari ini foto itu sangat berguna.”


Sheila beranjak dari tempat duduk dan mendekati Rizki hendak memeluknya, namun, dengan sigap dia menghindar dan menjauhi Sheila.


“Tepati janjimu untuk tidak menggangguku lagi, La. Kita sudah selesai!” Rizki terlihat marah, namun tetap bersikap tenang tanpa berbuat kasar kepada Sheila.


Dia tahu, jika berbicara dengan amarah hanya akan membuat suasana semakin runyam.


“Tapi suamiku adalah seorang pengidap persetubuhan yang menyimpang, Ki. Aku tidak tahan lagi dengan kelakuannya. Dan itu semakin membuat aku menyesal sudah menyia-nyiakan kamu. Aku tidak tahu lagi harus berbicara dengan siapa, sedangkan selama ini hanya kamu tempat curhatku.”


Kini Sheila meledak, amarahnya keluar begitu saja saat melihat Rizki menghindarinya. Tangisnya pecah, dia duduk dengan menelungkupkan tangan di wajahnya menyembunyikan wajah cantik yang dibasahi air mata.


Rizki termangu mendengar apa yang diucapkan Sheila. Dia kini tahu bahwa hidup Sheila sedang tidak baik-baik saja.


Selama ini dia mengira bahwa Sheila sudah hidup bahagia dengan suami sempurna dan kaya raya, namun nyatanya, dia menyembunyikan duri dalam rumah tangganya.


“Dia adalah Sadomasokisme, itu adalah perilaku dimana aku disakiti agar dia mendapatkan kepuasan seksualnya. Aku cape, Ki. Aku ditampar, dicubit, dijambak, dan kekerasan lainnya saat dia memintaku melayaninya.”


Dengan masih tersedu, Sheila menceritakan hal mengerikan itu kepada Rizki dengan suara gemetar mendandakan bahwa dia benar-benar merasa tertekan dengan keadaannya sekarang.


Shock dengan kenyataan yang di dengar, Rizki tidak tahu harus bicara apa. Dia hanya menenangkan Sheila sambil menepuk-nepuk pundaknya.

__ADS_1


Ponsel Rizki berdering beberapa kali, terlihat nama Annisa di layar. Rizki sengaja tidak mengangkat, kini posisinya serba salah, dia tidak mungkin meninggalkan Sheila dalam keadaan seperti ini, namun, Annisa juga pasti sedang menunggunya di rumah.


“Pulanglah, istrimu pasti sedang menunggu dan mengkhawatirkanmu. Aku janji akan menghapus foto itu, dan nggak akan memberitahukan ke Annisa. Maafkan aku Ki, aku nggak bermaksud ngancam kamu menggunakan foto itu, aku hanya ingin curhat, tapi tidak tahu harus memakai alasan apa untuk bertemu kamu, aku lelah memendam semuanya sendiri.”


Setelah merasa sudah tenang, Sheila menatap Rizki dan menyuruhnya pergi saat dia tahu Annisa terus menelepon Rizki.


“Aku turut prihatin mendengarnya, La. Apa kamu sudah mencari jalan keluarnya?”


Sheila menggelengkan kepala, seolah tidak ada celah baginya untuk melarikan diri.


Suaminya memang baik dan sangat mencintainya, segala keinginan Sheila terpenuhi, di rumah dia diperlakukan seperti ratu, dia tidak pernah mengerjakan apa pun, ada asisten rumah tangga yang dengan sigap membantunya.


Suaminya juga loyal terhadap kebutuhan keluarga Sheila, Ibunya sudah tidak pernah lagi kebingungan memikirkan keuangan. Adik-adik Sheila dicukupi segala keperluan sekolah dan biayanya.


Hal itu, menjadi alasan Sheila bertahan. Namun, Sheila juga manusia biasa, dia frustrasi dan lelah menghadapi takdir yang menimpanya.


“Aku tidak bisa menyuruhmu meninggalkannya, jika kamu sendiri tidak melakukan apa pun untuk merubah keadaanmu. Aku hanya bisa mendoakan semoga kamu mendapatkan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini.”


Rizki tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga oranglain. Jika Sheila mau, dia bisa melaporkan hal itu sebagai perlakuan KDRT dan menggugat cerai suaminya. Namun, Sheila tidak melakukan hal itu.


“Aku tidak bisa meminta cerai darinya, Ki. Karena aku sedang mengandung anak dia. Aku nggak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah. Itulah sebabnya aku selalu memikirkan kamu, aku pikir kamu akan kembali kepadaku dan menerima anak ini. Nyatanya, aku terlambat. Sudah ada wanita lain yang menggantikan posisiku di hatimu.”


Pintu cafe terbuka, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka.


Bruuukkkkkk...


Sebuah tinju mendarat di hidung Rizki dan menyebabkan hidung mancung itu berdarah.


“Sudah kuperingatkan untuk menjauh dan menghilang dari istriku, tapi kamu tetap berulah, kalian malah makan malam berdua.”


Seorang lelaki berkata dengan penuh amarah, dia mencengkram kuat kerah baju Rizki. Mata yang penuh amarah itu menatap Rizki penuh dendam.


“Hentikan, Mas. Dia tidak salah, aku yang mengajaknya bertemu.”


Sheila melepaskan dengan paksa cengkraman tangan di kerah baju Rizki yang membuatnya kesulitan bernafas, dia menarik tangan suaminya dan mengajaknya pergi dari cafe tersebut.


Rizki terhuyung dan duduk di kursi, dia memegangi kepala menahan amarah yang menggebu.


Ingin sekali dia membalas tinju itu dan memukulinya sampai mati. Perlakuan keji yang dilakukan kepada Sheila membuat Rizki sangat membencinya.


Namun, dia memilih untuk tidak ikut campur, dia tidak ingin terlibat dengan sesuatu yang bukan menjadi urusannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2