
#Mengejar Cinta Suamiku part19 (Kontrak Kerja)
Hari ini merupakan hari pertama Nisa masuk Universitas setelah sebelumnya mendaftar lewat website.
Bahagia dan bangga dirasakan olehnya karena dia berhasil masuk ke salah satu Universitas bergengsi.
Dengan mengambil jurusan manajemen bisnis, dia berharap suatu saat bisa mengembangkan usahanya lebih besar lagi.
Sarapan pagi sudah terhidang di meja makan, aroma kopi menyeruak dari dapur membuat pagi ini menjadi lebih bersemangat.
Rizki keluar dari kamar saat Annisa memanggilnya untuk segera sarapan bersama, khawatir kalau keduanya akan berangkat kesiangan.
Sepiring nasi goreng kambing lengkap dengan kerupuk semakin menggugah selera, Rizki duduk di meja makan disusul dengan Annisa yang baru selesai mengemasi seluruh perlengkapan kuliahnya.
Ditengah kesibukan pagi hari, ponsel Annisa berdering beberapa kali.
Dilihatnya nomor si penelepon merupakan nomor baru. Ponsel yang tergeletak di meja makan membuat Rizki bisa melihatnya dengan leluasa.
Dia merasa heran karena Annisa tidak kunjung mengangkat telepon.
“Kenapa nggak di angkat?”
“Males, Mas. Nomor baru, biasanya orang iseng, kalo penting pasti dia chat dulu.” Ucap Nisa dengan lahap memasukan nasi goreng ke mulutnya.
Rizki menanggapi dengan anggukan tanda memahami perkataannya.
Ponsel Annisa berdering lagi, kali ini sebuah pesan masuk ke WhatsApp.
Annisa melirik notifikasi pada layar, mencari tahu siapa orang yang mengirimi chat sepagi ini.
“Assalamualaikum, Mbak Nisa, ini saya Fatur. Sore ini ada waktu nggak? Kita bicarakan soal yang waktu itu, kebetulan saya udah dapet orang yang tepat buat maklun produk Mbak.”
Annisa mengingat saat itu, hari dimana dia meminta tolong kepada Fatur untuk dicarikan tempat maklun agar membantu memproduksi barang jualannya.
Suapan pada sendok terakhir sudah selesai Nisa lahap, kini, dia menyeruput kopi yang aromanya sudah menggoda sejak tadi.
Rizki menatap Annisa, penasaran dengan siapa dia berchatting ria. Meski begitu, dia tidak berniat bertanya kepadanya.
“Mas, kayaknya Nisa pulang sedikit malam. Nggak papa?”
Rizki merasa aneh, karena jam pulang kuliah tidak sampai malam. Apa Annisa akan pergi ke suatu tempat?
“Bukannya kuliah hanya sampai jam dua siang?”
“Iya, Nisa mau ketemu seseorang untuk membicarakan soal pekerjaan. Waktu Nisa beli kain, Nisa meminta tolong pemilik toko untuk dicarikan tempat maklun. Katanya, dia sudah menemukan tempat maklun yang cocok untuk Nisa, jadi mau bertemu untuk membicarakannya langsung.”
Ternyata benar dugaannya, Rizki merasa sedikit khawatir karena Nisa akan bertemu orang yang baru dikenalnya. Apalagi, ini adalah kota besar dimana kejahatan sering terjadi.
Banyak orang melakukan segala cara demi mendapatkan uang, Rizki khawatir Nisa akan menjadi korban penipuan.
“Hati-hati, kalo orangnya minta uang di awal dengan alasan apa pun, jangan diteruskan, sudah pasti dia penipu.”
Ujar Rizki menasehati Annisa.
“Siap, Bos.” Nisa menjawab dengan candaan sambil melayangkan hormat kepadanya layaknya pemimpin upacara.
***
“Maaf, Kak, Nisa terlembat, tadi mampir ke Mushola sebentar soalnya belum sholat Ashar tadi kejebak macet.”
__ADS_1
Nafasnya tersengal karena setengah berlari, dia merasa tidak enak kepada Fatur yang sedari tadi sudah menunggunya.
Mereka bertemu di Starbuck yang tidak jauh dari toko kain milik Fatur.
Mendengar alasan Annisa datang terlambat membuat Fatur semakin tertarik kepadanya.
Dijaman sekarang, di tengah hiruk pikuk kota Jakarta dengan macam-macam pergaulan, dia masih menemukan seorang perempuan yang masih menjaga sholatnya.
Perempuan cantik dan anggun dengan balutan hijab panjang menyembunyikan ke elokan tubuh. Perempuan yang ada di hadapannya sekarang, adalah perempuan pertama yang membuat jantungnya berdebar-debar sejak pertama kali menatapnya di supermarket tempo hari.
Nama Annisa sudah menganggu pikirannya, seringkali dia kesulitan tidur karena memikirkannya.
Banyak cara dilakukan agar dia dapat bertemu dengan Annisa, namun yang paling masuk akal hanya cara ini, yaitu membahas soal bisnisnya.
Fatur merasa sangat bahagia bisa berjumpa lagi dengan Annisa setelah beberapa lama menahan rindu karena tidak kunjung bertemu.
“Nggak papa, santai aja. Pesen minum dulu biar rileks.”
Fatur menunjuk banner menu kepadanya, dia bangkit dari tempat duduk hendak memesankan apa yang dipilih Annisa.
“Nisa pesan sendiri aja Kak, ngga enak malah merepotkan.”
“Nggak papa, saya aja. Kasian kamu capek abis lari-lari”
Akhirnya, Nisa menuruti apa yang dikatakan Fatur.
“Asian Dolce Latte ukuran grande aja, Kak.”
Nisa menyodorkan uang selembar merah, namun Fatur menolak.
“Siap, tunggu sebentar, ya. Simpan aja uangnya, saya yang bayar.”
Fatur pergi menghampiri meja barista hendak membeli Asian Dolce Latte pilihan Annisa. Tidak lupa, dia juga memesan segelas Caffe Americano favoritnya.
Memiliki perawakan seperti orang arab, dengan postur tubuh tinggi dan berisi, membuat Fatur cukup famous di kalangan wanita, terlebih, dia merupakan seorang selebram yang memiliki jutaan followers.
Alis yang hitam dan lebat melengkung teratur, membuat wajahnya nampak indah dipandang.
Potongan rambut undercut membuat tampilannya semakin cool, kulitnya putih bersih, menggambarkan bahwa Fatur adalah pribadi yang memperhatikan penampilan.
Namun, Nisa sama sekali tidak mengetahui bahwa orang yang sedang bersamanya merupakan idola banyak wanita. Dia mengenal Fatur sebagai seorang pemilik toko kain langganannya.
Beberapa menit berlalu, Fatur datang dengan sebuah nampan berisi pesanan Annisa dan pesanan miliknya, tidak lupa dia juga memesan cemilan dan menaruhnya di atas meja.
“Minum dulu,”
“Terimakasih” Ucap Annisa dengan senyum.
Fatur semakin terpesona melihat senyum Annisa, sejak awal mereka bertemu, baru kali ini dia melihat senyum manis yang membuat Annisa terlihat semakin cantik. Kecantikan yang natural, secantik hatinya.
Sebagai seorang selebram, tentu saja Fatur sudah banyak bertemu perempuan cantik lainnya dengan macam-macam karakter, namun hanya Annisa yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Annisa, seorang perempuan biasa yang bahkan tidak memoleskan lipstik di bibirnya, namun tetap terlihat cantik.
“Jadi gimana, Kak?”
Suara Annisa membuyarkan lamunannya. Fatur mengeluarkan berkas yang dibutuhkan untuk perjanjian kontrak kerja.
“Saya sudah tanya beberapa kenalan, kebetulan job mereka sedang overload dan menolak menerima maklun skala kecil.”
__ADS_1
Muka Annisa seketika muram mendengar apa yang dikatakan Fatur. Dia sadar bahwa usahanya belum sebesar brand lain, sehingga dia belum sanggup untuk memproduksi dalam jumlah banyak.
“Tapi, kebetulan saya punya konveksi. Tidak terlalu besar sih, Cuma punya delapan karyawan. Dan kebetulan lagi tidak banyak klien, jadi sepertinya kita bisa bekerjasama. Kamu tinggal atur aja sample produknya, nanti kita proofing. Setelah dirasa cocok, baru kita produksi masal sesuai jumlah yang kamu minta.”
Seperti mendapatkan angin segar, Annisa mengucap hamdalah, karena Allah memudahkan jalan baginya merintis kembali usaha di rantauan.
‘Sepertinya dengan kerjasama ini, kita akan sering ketemu’ Imbuh Fatur, dalam hati. Dia merasa senang karena bisa sering bertemu dengan Annisa, meskipun itu hanya sebatas pekerjaan.
“Mengenai fee, karena konveksi saya belum terlalu besar, jadi tidak akan semahal konveksi profesional. Tapi saya jamin, kualitasnya tidak kalah dengan mereka. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa lihat di surat kontrak ini.”
Selembar kertas berisi kontrak kerjasama berada di depan Annisa, dia membacanya dengan seksama.
Nisa ingat apa yang diucapkan Rizki kepadanya, jika meminta uang di awal, jangan mau.
Namun, dalam surat perjanjian kontrak kerja itu, Nisa tidak menemukan pasal yang mengharuskan dirinya membayar uang di awal. Kekhawatiran Rizki ternyata salah, Fatur justru orang baik dan amanah.
Merasa cocok dengan isi perjanjian yang tertera, Nisa setuju dan menandatangani surat kontrak itu di atas materai, hal yang sama dilakukan Fatur. Kini, mereka sudah terikat dengan perjanjian kontrak kerja.
Nisa merasa lega, akhirnya dia bisa kembali menjalani rutinitasnya berjualan. Apalagi, dia hendak meluncurkan produk baru. Nisa semakin tidak sabar menantikannya.
Sambil menghabiskan kopi, Nisa dan Fatur mengobrol lebih banyak lagi tentang kerjasama yang akan mereka jalani.
Di luar, Ajis dan Rizki baru saja memarkir motor, mereka hendak masuk ke sebuah apotek yang letaknya bersebelahan dengan Starbuck tempat Nisa dan Fatur berada.
Rizki berniat membeli obat untuk memar di wajah yang diresepkan oleh dokter klinik di tempat kerjanya.
Namun, Ajis menghentikan langkah dan memanggil Rizki saat dia melihat Annisa sedang ngopi berdua dengan seorang pria.
Nisa dan Fatur duduk di sebuah meja dekat dengan jendela yang menghadap langsung ke jalan, dinding kaca transparan membuat wajah mereka terlihat jelas dari jalan yang di lewati Ajis dan Rizki.
“Itu Annisa kan, Ki?”
Ajis bertanya, memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak salah.
Ada rasa panas yang membakar dada saat Rizki melihat istrinya berdua dengan seorang pria, terlebih, pria itu masih muda dan tampan.
Umurnya seperti tidak jauh dari umur Annisa, namun Rizki teringat perkataan Annisa yang bilang bahwa dirinya akan bertemu dengan seseorang untuk membicarakan mengenai pekerjaan.
Dia tidak menyangka bahwa partner Annisa ternyata seorang pria muda.
“Iya, itu Nisa. Tadi pagi, dia izin bertemu seseorang untuk membicarakan masalah bisnisnya.”
“Oh, mau di samperin, nggak?”
“Nggak usah, takut ganggu. Kita langsung pulang aja.”
“Bukannya mau beli obat dulu?”
Sahut Ajis merasa heran melihat wajah Rizki yang terlihat gusar.
“Nggak jadi, lain kali aja.”
Rizki memilih pergi, dia tidak ingin melihat lebih dekat lagi keberadaan Annisa yang terlihat sedang asyik berbincang dengan pria itu.
Ajis menyusul dari belakang, mereka berlalu menuju jalan pulang.
Rizki merasa tidak tenang, hatinya jengkel saat melihat Nisa bersama dengan pria lain.
Laju motor semakin kencang, angin menyatu dengan rintik hujan yang membasahi jalanan, angin bertiup menerpa muka Rizki yang terlihat kusut.
__ADS_1
Dia mengomel dalam hati, mengapa harus sejengkel ini? Apakah dirinya sedang cemburu?
Bersambung...