
*Dinda tiba tiba keluar dari kamar nya..
"Sayang kamu mau kemana ?" tanya bunda saat melihat dinda terus berjalan ke arah depan..
"Aku mau cari mas bima, bun.." jawab dinda tanpa menoleh..
Bunda dan ayah segera menghampiri putri nya itu. "Kamu mau cari kemana ?" tanya ayah melingkarkan tangan nya di kedua bahu dinda,
"Kemana aja. Yang penting aku bisa ketemu mas bima.."
"Sayang sebentar lagi mas mu pulang, kita tunggu aja dirumah ya.." bujuk bunda pelan pelan..
Dinda menggeleng. "nggak mau bun. Aku mau mas bima sekarang.."
Dinda lalu kembali melangkahkan kaki nya ke depan.
Dinda lalu melambaikan tangan nya ke salah satu pengawal bertubuh besar yang ada di depan rumah..
"Ada apa nyonya muda..?" tanya pengawal itu..
"Pak, tolong siapkan mobil.." kata dinda..
"Baik nyonya muda.." jawab pengawal itu dengan cepat..
"Nak, jangan begini sayang..!! Kamu kan gak tahu dimana suami mu sekarang.." bunda lagi lagi mencoba untuk membujuk putri nya itu..
Dinda tidak menjawab..
Tiba tiba mobil yang di minta dinda sudah siap..
Tanpa pamit dinda lalu melangkahkan kaki nya menuju tempat mobil itu berada..
"Ayah bagaimana ini ?" tanya bunda panik..
"Ayo bun, kita ikut saja kemana pun dinda ingin pergi.." Ayah lalu menarik tangan istrinya dan mereka berdua mengekor dinda di belakang.
Dinda duduk di belakang bersama bunda nya, sementara ayah di depan bersama supir pribadi bima.
Dan jangan lupakan ada dua mobil yang mengikuti mereka di belakang..
*Di mobil..
"Kita mau kemana nyonya muda ?" tanya supir itu..
"Jalan saja pak.." jawab dinda,
Supir itu pun reflek menoleh ke arah Tuan Arya karena bingung..
Ayah yang mengerti lalu meminta supir itu ke rumah sakit milik majikan nya..
Dinda terus menatap kosong ke arah jendela, hingga dia tidak mendengar ucapan ayah nya pada sang supir..
Ayah lalu mengetikkan pesan di ponselnya..
Dinda sedang menuju rumah sakit.
Pesan itu ayah kirimkan ke sahabat sekaligus besan nya, Tuan Yuda.
Bunda yang berada di samping putrinya hanya bisa menguatkan dengan terus menggenggam tangan dinda.
*Di rumah sakit..
__ADS_1
Selang 40 menit, kini mobil yang membawa dinda, ayah dan bunda sudah tiba di parkiran sebuah rumah sakit..
"Ayah, kenapa kita ke rumah sakit ? Aku mau cari mas bima.." kata dinda saat tersadar mobilnya sudah berhenti dan memperlihatkan sekeliling halaman rumah sakit yang tidak asing bagi dirinya. Karena saat dia sakit beberapa waktu lalu, dia di rawat di rumah sakit ini.
"Ayo kita turun dulu.." jawab ayah.
Salah satu pengawal yang tadi mengikuti mobil milik dinda segera membukakan pintu untuk nyonya muda nya..
Dinda pun keluar dari mobil. Terlihat di depan pintu rumah sakit itu sudah berdiri daddy dan david asisten pribadi suami nya..
deg
.
Tubuh dinda seketika lemas tak bertenaga..
"Ayah ada apa ini ? Kenapa dad yuda dan kak david ada dirumah sakit ?"
Ayah lalu memapah tubuh dinda untuk melangkah menuju mertua nya..
"Nanti kamu akan tahu nak.." jawab ayah pelan
"Daddy.. Ada apa ini ?" tanya dinda saat sudah berada di hadapan ayah mertua nya..
grep
Daddy lalu memeluk menantu kesayangan nya tersebut..
Dinda tidak mengerti kenapa dad yuda memeluknya begitu lama. lalu setelah melepaskan pelukan nya dad yuda memanggil asisten pribadi putra nya
"David, tolong ambilkan kursi roda.." perintah tuan yuda pada laki laki itu..
"nak, kamu duduk di sini ya.." kata daddy meminta menantu nya untuk duduk di kursi roda tersebut..
"Aku bisa jalan sendiri daddy.." kata dinda menolak dengan halus..
Tuan Yuda melihat wajah dinda yang pucat, bahkan tubuhnya jauh lebih kurus dari sebelumnya. Entah apa yang terjadi pada menantunya itu, dia belum menanyakan pada sahabatnya karena terlalu sibuk mengurusi putranya yang masih koma itu.
Setelah sedikit mendapat penolakan, akhirnya dinda pun mau untuk duduk di kursi roda.
Salah satu pengawal pribadi yang berjaga mendapat tugas untuk mendorong kursi roda tersebut..
"David, kau pulang lah dulu.."
"Tapi tuan.."
"Jangan membantah..!! Aku tidak mau karena terus menunggu bima kau malah sakit..!! Beristirahatlah di rumah, aku akan mengabari mu jika bima sudah siuman..!!" sambung Tuan Yuda lagi..
Setelah itu david pun pamit. Sebelumnya dia meminta para pengawal yang berjaga di rumah sakit untuk bertukar dengan pengawal yang berjaga di mansion, agar mereka juga bisa beristirahat.
*Di depan kamar VVIP..
"Dad, kenapa kita kesini ?" tanya dinda saat mereka berhenti di depan pintu kamar..
Dad Yuda lalu berjongkok mensejajarkan posisi nya dengan dinda..
"Sayang, kamu bisa berjanji sama daddy satu hal tidak ?" tanya Tuan Yuda seperti berbicara pada anak kecil..
Dinda mengangguk cepat, karena dia juga penasaran ada apa sebenarnya ini.
"Apapun yang kamu lihat di dalam, kamu harus janji sama daddy, kamu harus kuat menghadapi nya.."
__ADS_1
Dinda mengerutkan kening nya..
"Di dalam ada suamimu, dia sudah menunggu kamu sejak kemarin.."
deg
Air mata dinda tiba tiba menetes tanpa permisi.
"kenapa mas bima di dalam ? sedang apa dia ? Kenapa nggak langsung pulang menemui aku ?" tanya dinda tanpa isakan tangis tapi air mata nya terus jatuh tidak bisa berhenti..
"Dad, tolong buka pintu nya. Aku mau masuk.." kata dinda lagi menatap kosong ke arah pintu kamar rumah sakit itu..
Sreeettt..
Daddy menggeser pintu.
deg
Dinda lalu bangun dari kursi roda itu, dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya dia berusaha untuk melangkahkan kaki nya menuju ke arah seseorang yang terbaring dengan begitu banyak alat yang menempel di tubuhnya..
Ayah, bunda maupun tuan yuda, mereka bertiga membiarkan dinda untuk berdua dengan suaminya..
Dad Yuda pun kembali menutup pintu kamar tersebut..
*Di dalam kamar..
Dinda memegang salah satu tangan bima dengan gemetar..
"Om.." katanya dengan suara bergetar..
Dinda melihat tangan dan wajah bima yang begitu banyak luka..
Hiks..Hiks..
Wanita itu pun tidak bisa lagi menahan suara tangisan nya..
Dinda mengusap usap kepala bima lembut..
"Kenapa om tega sama aku..hiks..hiks.. Aku kan udah bilang jangan pergi..hiks..hiks.." dinda terus menangis di sisi suami nya..
"Bangun om bangun..!" dinda menggoyangkan tubuh bima pelan..
Melihat dinda yang sudah sangat histeris dari balik kaca pintu kamar, ketiga orang tua itu pun langsung masuk ke dalam..
"Sudah sayang sudah. Jangan seperti ini..!! Kasian suami kamu.." Bunda menahan dinda yang terus menggoyangkan tubuh suaminya yang terbaring tidak sadarkan diri itu..
"Om bima jahat bun, aku benci sama dia. hiks..hiks.." Dinda memeluk bunda nya dengan isakan yang sangat memilukan..
Dinda akhirnya di bawa pulang oleh bunda dan ayah karena kondisi nya yang tidak memungkin kan untuk dia terus berada di ruang perawatan bima.
*Di dalam mobil..
"Bun, tolong rahasiakan kehamilan ku dari siapapun termasuk dad Yuda.." kata dinda pada bunda nya yang otomatis ayah yang duduk di kursi depan pun mendengar..
"Kenapa sayang ? Dad Yuda harus tahu kabar baik ini.." kata ayah sambil menoleh ke arah putrinya..
"Biarkan aku yang memberitahu dad dan suami ku.." katanya lagi dengan tatapan kosong memandang ke luar jendela
Ayah dan bunda pun pasrah, mereka setuju saja agar putrinya itu tidak banyak memikirkan hal hal yang akan mengganggu janin yang di kandung nya.
...****************...
__ADS_1