
Luna, jenifer dan beberapa dokter muda lain sudah lebih dulu masuk ke ruang meeting. Sementara kepala rumah sakit dan para dokter senior biasanya datang ke ruangan tersebut 5 menit sebelum meeting itu di mulai.
"Lun, jangan tegang gitu dong.." kata jenifer ketika melihat perubahan di wajah luna..
Luna menggenggam tangan jenifer, "Aduh jen, perut ku jadi mules begini ya.." kata luna dengan ekspresi penuh kekhawatiran sambil memegang perut nya..
"Astaga..!! Itu nama nya demam panggung, luna..!! Nih kamu minum dulu.." kata jenifer seraya memberikan sebotol air mineral berukuran kecil pada luna
Glek glek glek
Luna menghabiskan satu botol minuman tersebut..
"Astaga lun, kamu itu haus apa doyan ??" goda jenifer..
"Jen, sekarang aku pengen pipis.." kata luna lagi yang semakin membuat jenifer geleng geleng kepala..
"Sudahlah, kamu hanya gugup, luna. Sekarang tarik nafas... Buang..." kata jenifer seraya membantu luna menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkan nya perlahan, agar luna bisa jauh lebih tenang. Beruntung di saat seperti ini luna memiliki teman yang selalu menyemangatinya. Jenifer gadis berdarah campuran indonesia-amerika ini mampu menyeimbangi luna. Ketika pertama kali bertemu pun keduanya langsung akrab. Apalagi jenifer juga bisa berbahasa Indonesia meskipun tidak begitu lancar.
Mata luna mulai bergerak ke kanan dan ke kiri ketika melihat satu persatu para dokter senior mulai berdatangan dan langsung mengambil posisi duduk di bagian depan..
*Di sisi lain..
Bima dan david sudah tiba di ruangan kepala rumah sakit yaitu dokter ricardo. Hari ini awal mula seleksi beasiswa untuk para dokter muda..
"Tuan bima, sepertinya 1 menit lagi meeting akan segera di mulai. Mari kita bersama sama menuju ke ruang meeting.." kata dokter ricardo
Kepala rumah sakit itu pun berjalan beriringan dengan bima yang postur tubuhnya tinggi dan berisi, dan jangan lupakan wajah tampan namun dingin nya yang selalu menjadi daya tarik bagi kaum hawa yang melihat nya..
"Tuan bima, silahkan masuk." Dokter ricardo berhenti di salah satu ruangan..
"Ruangan ini tepat bersebelahan dengan ruang meeting. Kaca di dalam ruangan ini tembus pandang dan dari dalam sini kita bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi di ruangan meeting itu, tuan.."
"Itu.." tunjuk bima pada salah seorang dokter yang memakai jas putih berdiri membelakangi nya..
"Oh, itu dokter luna, tuan. Dokter muda yang sangat berbakat di rumah sakit ini, dan beliau akan menjadi pembicara utama selama meeting berlangsung, tuan.." jawab dokter ricardo..
Bima menatap datar punggung dokter luna, wanita yang sejak lima tahun lalu mempertahankan rambutnya untuk tetap pendek itu berdiri membelakangi bima.
"Tuan bima, ini biodata para kandidat dokter muda yang mengikuti seleksi beasiswa itu.." dokter ricardo memberikan berkas berkas berisi data diri peserta lomba..
Setelah duduk di salah satu kursi yang menghadap langsung ke ruang meeting, bima pun mulai membuka lembar demi lembar dan membaca satu persatu apa yang tertuang di berkas tersebut..
Deg!!
Mata bima membulat sempurna ketika membaca salah satu berkas yang ada di tangannya..
Tiba tiba...
"ekhem..ekhem.." suara deheman luna di depan microphone..
"Selamat pagi, rekan rekan dokter sekalian. Saya Putri Luna mewakili para dokter muda untuk menjadi pembicara utama pada meeting kita hari ini..."
Deg!!
"Tuan..." ucap david tidak percaya dengan apa yang di lihat nya. Pria itu sampai gemetar ketika melihat dari balik kaca besar itu ada sosok yang sudah 5 tahun ini di cari nya..
Bima langsung berdiri dan tanpa sadar menjatuhkan berkas yang ada di tangan nya..
"Tuan, ada apa ??" tanya dokter ricardo menatap bingung pada bima dan david..
Dengan langkah panjangnya, bima langsung berlari keluar dari ruangan itu..
"Tuan david, sebenarnya ada apa ?" tanya dokter ricardo semakin kebingungan melihat bima yang tiba tiba keluar
David tidak menjawab, dia mengekor bima di belakang..
Brug!!
__ADS_1
Pintu ruang meeting di buka dengan kasar...
Semua mata tertuju pada pintu yang terbuka itu, termasuk luna yang berdiri seorang diri di atas panggung kecil di ruangan tersebut...
Deg!!
Luna membeku, saking terkejutnya wanita itu sampai tidak bisa menggerakkan satu pun anggota tubuh nya..
Bima berjalan dengan langkah panjang, lalu...
Grep!!
Bima memeluk luna dengan air mata yang sudah menetes di kedua pipinya...
Para dokter yang hadir pun ikut terkejut dengan kejadian membingungkan di hadapan mereka. Melihat suasana yang sudah tidak kondusif, david meminta dokter ricardo yang kini berada di belakang nya untuk membubarkan meeting hari ini.
Dan hanya hitungan menit, ruangan itu pun sudah sepi tidak ada siapapun lagi kecuali Luna dan Bima..
Bima menangkup wajah istri nya..
"Kemana saja kamu selama ini, hem ? Aku mencari mu kemana mana..." tanya bima dengan deraian air mata yang semakin deras..
Luna berjalan mundur ke belakang..
"Maaf, tuan. Sepertinya anda salah orang..!!" ucapnya lalu berbalik, membelakangi bima..
Bima mengerutkan kening nya. Dia tidak mungkin salah, meskipun saat ini penampilan wanita di hadapan nya jauh berbeda dengan penampilan dinda, tapi bima yakin 100% wanita ini adalah istri nya, istri kecil nya..
Bima kembali menghampiri luna dan berdiri tepat di depan nya lagi...
Bima menurunkan kaca mata luna, lalu mengangkat dagu luna perlahan agar wanita itu melihat ke arah nya..
"Kalau memang aku salah orang, lalu kenapa kamu menangis, hem ??" tanya bima dengan suara pelan..
"Seperti nya mata ku terkena debu.." sanggah wanita itu lalu mulai menghapus air mata nya dengan kasar..
"Lihat aku!!" seru bima..
Luna tetap diam, dia terus memalingkan wajahnya tapi air matanya kembali menetes meskipun dia sudah menahan sekuat tenaga dengan terus menggigit bibir bawahnya..
"Lihat aku!!" bima mengulangi ucapan nya, lalu kembali menangkup wajah mungil itu agar melihat ke arah nya..
Kini kedua netra yang saling merindu itu kembali bertemu..
Bima menempelkan kening nya dengan kening wanita di hadapan nya..
"Aku merindukan mu, sangat merindukan mu, istri ku.." gumam nya tepat di depan wajah luna..
Luna memegang kedua tangan bima yang masih menangkup wajahnya, lalu...
"Istri mu sudah mati 5 tahun lalu..!!"
Deg!!
Bima sontak menjauhkan wajahnya lalu kembali menatap wanita di hadapan nya..
"Jika tidak ada urusan lagi, silahkan anda pergi dari sini.!!" tegas luna tidak ingin berlama lama.
Bima menatap dinda dengan tatapan sedih.. "Aku tidak akan pergi kemana pun, karena ini rumah sakit milikku.."
Deg!!
"Jadi pemilik yang baru itu ternyata..... Astaga..!! Kenapa aku ceroboh sekali melewatkan hal sepenting ini.."
"Kalau begitu, aku berhenti!!" luna meletakkan dengan kasar kertas kertas yang jadi bahan meeting nya hari ini tepat di dada sang suami, Lalu mulai melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Kak david..." gumam luna dalam hati nya, ketika menoleh sekilas melewati asisten pribadi suami nya. Tatapan david padanya pun jelas berbeda. Pria itu menatapnya dengan penuh tanya dan kebingungan..
__ADS_1
Luna pun berjalan semakin cepat menuju lift untuk ke ruangan nya lagi. Wanita bertubuh mungil itu pun berkali kali menekan pintu lift tersebut agar cepat terbuka..
Ting!!
Pintu lift pun terbuka dan luna langsung masuk tanpa menoleh ke belakang. Luna menekan tombol angka 3 dimana ruangan kerja nya berada..
Deg!!
Ketika pintu hampir menutup, ada tangan seseorang yang menahan pintu lift tersebut. Luna hanya diam menatap dengan datar wajah itu ketika pintu lift kembali terbuka sempurna..
Bima pun masuk ke dalam lift...
Hushhh...
Bima langsung mendorong tubuh kecil itu hingga menempel sempurna di dinding lift..
"Istri ku masih hidup. Jangan pernah mengatakan seperti itu lagi..!!" ucap nya dengan terus menatap wajah luna dari jarak yang sangat dekat.
Ting!!
Pintu lift terbuka. Tapi dengan cepat bima menekan tombol agar lift itu kembali tertutup dan berhenti di tempat..
"Aku mau keluar!!"
Bima menggeleng.. "Kita harus selesaikan kesalahpahaman ini..!!"
Heh..
Luna tersenyum smirk, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan pada siapapun..
"Kesalahpahaman apa tuan bima yang terhormat..!! Tidak ada kesalahpahaman apapun di antara kita. Semua sudah jelas bagi ku..!!"
Luna menepis tangan suami nya, lalu kembali menekan tombol lift..
"Aku akan mengirimkan surat cerai pada mu!!"
Deg!!
Bima membeku, pria itu tidak percaya dengan apa yang di dengar nya..
Ting!!
Lagi, bunyi pintu lift terbuka. Luna buru buru keluar dari sana, takut bima akan menahan nya lagi. Wanita itu pun mengambil tas nya yang ada di dalam ruangan, dia ingin cepat cepat pergi dari rumah sakit ini..
Tok tok tok
Ceklek!!
"Mami..."
Deg!!
Mata luna melebar, dia lupa sudah ada janji untuk makan siang dengan putra nya.
Dewa berlari dan langsung memeluk mami nya.
"Mami, kita jadi kan makan siang bersama ??" tanya dewa dengan mata berbinar. Sebab sangat jarang sekali mami nya itu mengajak nya makan siang. Wanita satu anak itu selalu sibuk, bahkan tak jarang luna saja selalu melewatkan makan siang nya. Ya, begitulah profesi seorang dokter. Tidak ada jam makan yang benar benar tepat pada waktu nya.
Deg!!
Belum sempat luna menjawab, mata nya melihat sosok pria bertubuh tinggi tegap, berdiri di depan pintu ruangan nya yang masih terbuka, menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sungguh, luna tidak menyangka hanya dalam satu waktu bima sudah melihat semua nya. Apakah ini doa putra nya semalam ? Ya, mungkin saja Tuhan langsung mengabulkan doa si kecil dewa. Tapi ini situasi yang sulit untuk luna. Dia tidak menyangka pria yang di rindukan nya muncul kembali setelah 5 tahun luna pergi dari kehidupan suami nya dan seluruh keluarga nya.
"Mami, om itu siapa ??" tanya dewa polos ketika netra nya juga menangkap sesuatu yang janggal. Ada seseorang berdiri di depan pintu ruangan dan terus menatap nya tanpa bicara.
"Sus.." luna memberikan kunci mobil nya.. "Tunggu di mobil bersama dewa, ya.."
__ADS_1
"Mas dewa, ayo kita tunggu mami di mobil.." kata sus itu, lalu membawa dewa keluar dari ruangan mami nya, Ketika dewa melewati bima, sepasang manik mata yang sama pun bertemu.