Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Ingin memiliki keduanya.


__ADS_3

"Pergi dari sini!" geram Bram lagi dengan emosi yang sudah tidak terkendali.


Lee bangkit dari jatuhnya yang tentu sakit, mendadak di dorong dari kursi bukanlah hal yang bisa di hindari, kaki dan tangannya sakit, bahunya juga sakit.


"Mas Bram, kau tidak bisa mengusirnya dari sini. Dia lelah dan lapar sama seperti aku."


Bram tak mendengarkan Habibah.


"Aku sudah cukup sabar dengan sikapmu, membawa Habibah pergi seolah sedang menantangku. Sepertinya kau sengaja ingin pernikahanku hancur." marah Bram menunjuk-nunjuk Lee.


"Kau sendiri yang membuatnya hancur." jawab Lee dengan sorot mata menusuk tajam.


"Kau juga ikut membakar suasana!"


"Kau yang bermain api mengapa harus menyalahkan orang lain!" bentak Lee mengepalkan tangannya, terlihat jelas ia sudah sangat bernafsunya ingin memukul.


Bram-pun tak ketinggalan menatap nyalang pada anak asisten kakek Raharja itu.


"Posisi kita sama, sama-sama anak asisten yang tidak ada apa-apanya."


"Aku suaminya!" Bram mendorong bahu Lee dengan kasar.


"Justru karena itu aku hanya diam menahan diri. Jika tidak, sudah lama aku membuatmu tak bisa berdiri."


"Kau!" Bram kembali maju ingin menyerang Lee yang terlihat menantang.


"Hentikan Mas, dia benar jika kau yang bermain mengapa harus marah kepada orang lain!" Habibah mendorong Bram agar lebih mundur, jangan sampai keduanya berkelahi. "Itu sama sekali bukan salahnya, tapi salahmu sendiri. Kau yang berbohong mengapa menyalahkan Lee yang hanya memberitahu aku tentang kebohongan mu. Jika bukan karena dia, kau akan membohongi aku selamanya."


"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya butuh waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya, agar kau bisa mengerti." Bram berusaha menjelaskan.


"Sampai kapan Mas? Sekarang saja kalian sudah tidak bisa di pisahkan, apalagi nanti?"


"Habibah mengertilah, hubungan kami memang terjalin sejak lama sebelum engkau datang. Aku ingin kau memberi aku sedikitpun waktu untuk_"


"Kita sudah tinggal di sana hampir empat bulan Mas, selama itu kau dan Larisa bertemu dan bersama. Selama itu pula kalian membohongiku. Mulai sekarang aku tidak akan memaksakan dirimu lagi, silahkan kau lakukan sesuka hatimu." ucapnya tetap berdiri, tak menghindari Bram.


"Habibah, kau istriku."


"Aku memang istrimu. tapi tidak bisa jika selalu harus bersaing dengan wanita yang jelas-jelas kau juga memilihnya, itu sudah berulangkali ku katakan padamu."

__ADS_1


"Habibah."


"Ku pikir aku akan mendapatkan mu Mas, bodoh sekali aku berharap suatu hari kau akan menyadari bahwa akulah yang benar-benar mencintai dan layak untuk mu. Tapi semakin hari aku malah semakin menyadari bahwa kau tidak bisa hidup tanpa Larisa. Di sini, akulah penghalangnya."


Tatapan sedih dan kecewa itu membuat hening sejenak, Lee memilih pergi tak mau ikut campur urusan keduanya walaupun sebenarnya ia sangat kesal kepada Bram yang sudah beberapa kali memperlakukannya seenak hati.


"Habibah." panggil Bram memohon.


"Meskipun tak kau ucapkan, bagiku semua yang terjadi sudah sangat jelas."


Bram menatap wajah sendu di hadapannya. "Aku memang masih mencintai Larisa."


Pelan namun sangat menusuk hati.


Tes...


Air mata hangat itu mengalir lagi, luka yang masih menganga kembali pedih terasa.


"Tapi belakangan aku juga menyadari bahwa aku..."


Mereka saling menatap, dengan hati berkecamuk luar biasa, terutama Habibah yang berusaha tidak mengindari Bram walaupun dengan hati yang amat terluka.


Habibah membuang pandangannya, enggan mengulur harapan lagi. Bahkan hati yang dulunya utuh kini sudah patah berkali-kali.


"Jangan berharap bisa memiliki keduanya Mas. Karena hanya satu tulang rusukmu yang patah, jika kau ingin mengambil keduanya maka dapat dipastikan salah satunya tidak mendapatkan tempat yang layak."


"Hanya kau yang akan mendapat tempat yang layak, bukan Larisa atau siapa saja. Aku berjanji Habibah, aku tidak mau kehilanganmu."


"Apa maksudmu Mas?" tanya Habibah semakin bingung, mata yang sudah basah itu kini semakin memerah.


"Aku..."


"Mas!" tangisnya sambil memegangi dada yang semakin sesak.


"Aku harus menikahi Larisa, karena..."


Ah, tak bisa di ungkapkan rasa sakitnya, ternyata dugaanya benar.


"Menikahlah." ucapnya Habibah tak mau membahasnya.

__ADS_1


Habibah berbalik meninggalkan ruang makan itu. Makanan yang hangat kini dingin sia-sia, hanya di sentuh tapi tidak ada yang mengisi perut yang kosong.


Bram tak menyerah, mengejar Habibah naik ke lantai dua dengan langkah cepat. Meraih tubuh ramping itu dan memeluknya dengan paksa.


"Ingatlah kita melakukannya di rumah ini, di kamar ini." bujuk Bram memeluk tubuh dingin yang penuh kepedihan itu.


Kaku, beku, dan terluka. Bahkan tak mampu hanya sekedar bersuara. Tentu saja dia ingat, tidak akan pernah bisa ia lupakan.


"Sejak hari itu aku mencintaimu, aku mencintaimu. Tapi aku terlalu munafik tak mau mengaku dan menganggap semuanya biasa saja. Sampai akhirnya tak sengaja malam itu, aku lembur dan aku tidak tahu apa yang aku lakukan sehingga di pagi hari, aku bangun dan melihat aku tidur di ruangan ku bersama_"


"Ya!" Teriak Habibah cepat, tak sanggup rasanya membayangkan bagaimana sakit itu dulu di rasakan ibunya, dan sekarang?


"Maafkan aku." Bram semakin memeluk Habibah, menangisi kesalahannya. "Aku tidak akan menyia-nyiakanmu, apa yang di lakukan ayahmu tidak akan terulang, aku berjanji."


Habibah memberontak, mendorong Bram agar melepaskannya. "Semua sudah terulang Mas, semua sudah berakhir."


Habibah berlalu cepat, menutup pintu kamar itu namun Bram menahannya.


"Habibah beri aku waktu untuk bicara."


"Sudah jelas Mas! Jika kau ingin menghindar maka sejak awal kau bisa berhenti dan memilih aku. Bukan setelah terjadi baru kau berusaha mempertahankan aku! Kau keterlaluan, jahat, kau menyakitiku!" Habibah berteriak dan menangis meluapkan sedih dan marah.


"Aku salah! Benar aku salah Habibah, tapi aku ingin minta maaf. Beri aku kesempatan untuk mencintaimu."


"Dan menjadi yang kedua dari Larisa?" marahnya, tersenyum kecut di tengah tangisnya. "Aku tidak Sudi!"


Brakk!


Pintu berhasil di tutup rapat, Habibah menguncinya tanpa peduli Bram yang sedang memohon.


"Habibah." dia menggedor-gedor pintu kamar tersebut, namun sia-sia.


Bram terduduk lemas di depan pintu.


Mengingat tiga bulan yang lalu ia sedang lembur di akhir bulan, ia sangat bersemangat meskipun bekerja di tempat sepi, perusahaan yang memang berlokasi di pinggiran kota seperti itu.


Terus sibuk bekerja tanpa peduli siapa saja teman lemburnya, sebagai seorang manager cabang dia tentu memiliki ruangan khusus yang tidak sembarang orang masuk kedalamnya.


Namun tak di duga malam itu sekretaris Bram membawa seorang datang, dia mengatakan direktur perusahaan air mineral itu akan menemuinya.

__ADS_1


Hanya berpikiran positif, datang di malam hari ke tempat yang sepi seperti ini tentulah dia seorang lelaki. Tapi dugaannya salah, malah di kejutkan oleh wajah cantik yang tersenyum penuh rindu kepadanya, Larisa.


__ADS_2