
Hari ini tepat 9 bulan usia kehamilan dinda. Dan hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi wanita itu akan melahirkan bayi nya.
"Sayang. Apa kamu sudah mempersiapkan semua nya ??" tanya bunda pada putri nya di sambungan telepon..
Bunda dan ayah tidak tahu apa yang terjadi pada dinda selama ini sebab dinda tidak pernah bercerita apapun lagi. Wanita itu menyimpan semua nya sendiri..
"Sudah bun.." jawab dinda singkat..
Ya, wanita itu sudah menyiapkan semua kebutuhan nya sendirian. Dinda bulak balik keluar masuk mall untuk membeli keperluan bayi nya seorang diri tanpa ada bima di samping nya.
"Katakan pada suami mu untuk tidak melakukan perjalanan bisnis dulu dalam waktu dekat ini. Dia harus menjadi suami yang siaga..."
Deg!!
"Iya bun..." hanya itu jawaban dinda. Padahal saat ini bima sedang berada di negara J mengurus kembali perusahaan induk yang berada di sana. Sudah seminggu dinda tidak bertemu dengan suami nya..
*Malam hari...
Dinda menatap diri nya di cermin besar di kamar nya..
"Kamu sudah siap, sayang ??" tanya dinda pada bayi di perutnya...
Dughh!! Dughh!!
Seolah mengerti ucapan mami nya, bayi di perut dinda menendang kuat berkali kali..
Dinda tersenyum sambil mengusap pelan perut buncitnya...
Wanita itu lalu berjalan keluar dengan menarik koper yang cukup besar..
"Selamat tinggal, mas. Terimakasih karena kamu sudah mengajarkan aku untuk terus bersabar. Tapi aku kalah. Aku memilih untuk menyerah..!!"
*Beberapa hari kemudian...
Setelah satu minggu lebih dia berada di Jerman, akhirnya dia kini kembali lagi ke tanah air.
"Bos, apa tidak sebaiknya anda pulang kerumah.." kata david saat bima meminta nya untuk langsung ke perusahaan. Padahal mereka baru saja tiba dari perjalanan panjang nya...
"Kasihan istri mu, bos. Dia pasti merindukan suami nya..." kata david lagi
"Tidak perlu memikirkan nya. Dia masih memiliki orang tua yang lengkap yang pasti selalu ada untuk nya..!!" kata bima yang mata nya terus tertuju pada ipad yang ada di tangannya
Deg!!
"Astaga!! Kenapa dia berpikiran seperti itu..!!"
"Tapi bos, kau kan suami nya. Sudah jadi kewajiban mu untuk menjaga nya.." kata david lagi
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan campuri urusanku. Apa kau sudah tidak betah bekerja dengan ku..??"
David pun langsung diam seketika. Dia tidak berani lagi bicara...
"Lihat saja bos!! Aku yakin kau akan lebih menyesal dari sebelum nya..!!"
*Tengah malam...
Setelah menghabiskan waktu nya di perusahaan, akhirnya bima kembali pulang ke rumah..
Bima masuk ke dalam kamar nya seperti biasa. Dia membersihkan diri lalu naik ke atas tempat tidurnya untuk beristirahat..
"Pasti dia menginap di rumah orang tuanya lagi.." gumam bima ketika menyadari tidak melihat dinda di kamar nya. Kenapa bima berpikir seperti itu, sebab jika dia ada perjalanan bisnis dinda selalu meminta izin untuk menginap di rumah kedua orang tua nya melalui pesan singkat. Tapi bima hanya membaca nya tanpa niat untuk membalas pesan itu..
Bima pun terlelap dengan cepat karena kelelahan..
*Keesokan hari nya...
Hari berjalan seperti biasanya bagi bima. Tidak ada yang aneh meskipun istri nya tidak ada.
Bima yakin hari ini dinda akan pulang kerumah saat wanita itu tahu suami nya sudah kembali.
Begitulah yang ada di pikiran bima.
"Tuan, di depan ada kedua orang tua nyonya dinda.." ucap asisten rumah tangga di rumah bima..
Bima lalu berjalan menuju ruang tamu nya..
"Dimana dinda ???" tanya ayah tanpa basa basi dengan raut wajah yang penuh dengan kemarahan
Dahi bima berkerut..
"DIMANA Putri KU..??" Bentak ayah..
Bima terus diam, dia masih mencerna apa maksud ucapan ayah nya..
Bunda lalu maju menghampiri menantu nya..
"Bim, ini sudah lewat dari jadwal dinda melahirkan. Sudah berkali kali kami bulak balik kesini, tapi dinda selalu tidak ada di rumah..!!"
Deg!!
Jantung bima seakan berhenti...
"Jangan bercanda bunda. Bukankah dinda sekarang di rumah kalian...??"
Bughh
__ADS_1
Ayah langsung melayangkan tinju nya di wajah bima..
"Kau yang jangan bercanda..!! Cepat katakan dimana putri ku, hah ???" lagi lagi ayah tersulut emosi..
Bima lalu mengambil ponsel nya yang dia letakkan di saku dalam jasnya. Bima mengecek pesan, adakah pesan dari dinda yang dia lewatkan..
Deg!!
Tidak ada pesan apapun. Pesan yang di kirimkan sang istri berhenti di 2 bulan yang lalu...
Bima langsung menghubungi nomor ponsel istrinya itu...
Deg!!
Lagi lagi jantung bima berdetak sangat kencang..
Nomor ponsel dinda tidak aktif...
Mata bima membulat sempurna, wajahnya pun sudah memucat...
Bugh!! Bugh!!
"Kau memang brengsek!! Bajingan!!" ayah kembali melayangkan pukulan di wajah bima berkali kali sambil terus mengumpat..
"Ayah sudah yah, cukup.. Hiks..hiks.." bunda mencoba menahan suami nya agar berhenti memukuli menantu nya itu
Bima tidak berkata apapun. Pikiran nya seolah hilang menerawang jauh ke belakang..
Setelah itu ayah dan bunda langsung pergi meninggalkan rumah bima dengan kekecewaan yang mendalam di hati kedua nya..
"Bi.. Bibi..." pekik bima pada ART nya.
"Dimana nyonya ??" tanya bima tanpa basa basi..
"Saya tidak tahu tuan, nyonya dinda sudah lebih dari satu minggu tidak ada di rumah. Saya tidak melihat kemana nyonya pergi. Tapi sudah lebih dari satu minggu juga kedua orang tua nyonya terus datang kesini dan mencari nyonya..."
Deg!!
Bima memejamkan kedua matanya. Dia ingat ketika ada panggilan masuk dari ayah sewaktu dia masih berada di Jerman, dia tidak mau menjawab nya. Dan mengatakan pada david, jika ada panggilan yang tidak ada hubungan nya dengan pekerjaan jangan di angkat..
Bima lalu berlari ke kamarnya..
Dia membuka lemari baju sang istri..
Deg!!
Sebagian baju dinda sudah tidak ada di lemari itu..
__ADS_1
Dengan panik bima langsung menghubungi david untuk segera datang ke rumah nya..