
#Mengejar Cinta Suamiku part 11 (Amanah Ummi)
Lantunan merdu suara adzan Subuh mengalun dari Masjid yang terhalang enam rumah dari sini. Kulihat sebelahku, ternyata Annisa sudah tidak ada. Mungkin sedang ambil wudhu.
Tak lama dia datang dengan senyumnya yang selalu mengembang. Sepertinya dia baru selesai mandi, rambutnya basah, bajunya pun sudah dia ganti dengan gamis gombrang lagi.
“Sudah Nisa siapkan air panas untuk Mas mandi. Nanti keramas, ya.”
Aku mengernyitkan dahi, merasa heran mengapa kami harus mandi padahal semalam tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa Nisa keramas? Memangnya nggak dingin? Kita kan gak melakukan apa-apa, kenapa harus keramasan?” Kataku lagi masih keheranan.
“Kalau tidak keramas nanti ummi curiga. Mas mau di interogasi sama ummi kenapa kita gak mandi junub padahal ini malam pertama kita?” Ucap Nisa menjawab keherananku. Dia tersenyum genit dan bersegera menyuruhku untuk mandi.
Benar juga, rupanya Annisa tidak ingin aku dipandang negatif oleh umminya, terlebih ini malam pertama kami. Aku mengangguk pelan, mengiyakan apa yang di perintahnya.
“Ayo, Mas cepetan mandi. Nanti keburu iqamah, rugi lho nanti kalau Mas ketinggalan takbiratul ihram saat sholat berjamaah.”
Aku merasa malu, meski aku beberapa kali ketus padanya, tapi dia selalu ramah padaku. Bahkan, dia tidak ingin suaminya dipandang negatif oleh ibunya sendiri.
Aku segera bangkit dari kamar hendak menuruti apa yang Annisa suruh. Mandi junub, meski kenyataannya kita tidak dalam keadaan junub.
Aku meraih handuk warna merah yang sudah Annisa siapkan di atas nakas.
Dari dapur, ummi tersenyum, sepertinya dia sedang menyiapkan sarapan untuk kami.
“Duh, pengantin baru sampai lupa waktu. Jam segini baru bangun, sampai pada lupa tahajud. Padahal Annisa jarang ketinggalan shalat malam, lho.” Kata ummi menggodaku.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa.
“Hehe, iya Ummi. Capek juga kan karena resepsi kemarin. Iki kalau udah nempel di bantal, plus lampu sudah di matikan, sudah gak akan ingat apa-apa lagi. Apalagi sekarang ada yang melukin.” Jawabku sedikit berbohong. Kenyataannya aku dan Annisa tidur masing-masing melukin bantal guling.
“Lho, lampunya dimatikan? Annisa kan gak bisa tidur kalau gelap. Dia punya trauma dari kecil, dulu dia tidur sendiri, tiba-tiba mati lampu, ditambah cuaca di luar hujan lebat dan petir-petir besar saling menyambar. Tiba-tiba TV di kamar Annisa tersambar petir dan meledak karena antenanya lupa di matikan. Annisa nangis teriak-teriak karena ketakutan. Semenjak itu, dia gak pernah bisa tidur kalau gelap.” Ummi menjelaskan panjang lebar sambil menata nasi goreng di piring.
Pantas saja, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sepertinya semalaman Annisa kesulitan tidur, apa iya? Bukannya semalam dia tidur sangat pulas di sofa kamar?
__ADS_1
Sebenarnya aku tahu dia phobia gelap dari cerita Annisa semalam. Tapi aku sama sekali tidak peduli, kulihat semalam dia tidur pulas di sofa.
Mungkinkah Annisa pura-pura tidur? Ah, masa bodoh dengan kejadian tadi malam. Kepalaku sudah lelah dengan banyak kejadian yang tidak kuharapkan, mengapa harus memikirkan hal sepele seperti ini.
“Iki gak tahu, Ummi. Semalam Annisa sendiri yang mematikan lampunya. Kalau Iki tahu, Annisa punya trauma gelap, pasti Iki nyalain lagi lampunya. Tapi semalam Iki lihat, Nisa tidurnya nyenyak kok.”
“Iya, sudah ngga apa-apa. Toh semalam dia tidur nyenyak di pelukan kamu, kan? Mungkin sekarang kondisinya sudah beda karena sudah ada yang menemani tidurnya. Sudah gih, mandi. Nanti kesiangan kalau ngobrol terus.”
Aku mengangguk mengiyakan, kemudian pamit ke kamar mandi.
***
Kami sedang sarapan bersama. Masih jam 06.00 pagi sebenarnya. Tapi kata Annisa, mereka terbiasa sarapan jam pagi hari.
Biasanya selepas sarapan, ummi langsung pergi ke pasar. Untuk menjaga toko grosirnya. Sebenarnya, ummi memiliki beberapa karyawan di sana. Tapi, seluruh keuangan diatur sepenuhnya oleh ummi.
Toko itu menjadi sumber penghasilan Ummi. Annisa sesekali membantu jika tidak sibuk dengan pekerjaannya.
Annisa wanita yang pandai menjahit, dia juga pandai membuat desain pakaian lengkap dengan pola bajunya.
Katanya, penghasilan yang didapatkan lumayan. Apalagi kalau sudah mendekati hari raya, atau hari-hari besar lainnya. Saat ramai seperti ini, biasanya Annisa mencari pegawai tambahan untuk membantu pekerjaannya.
Ummi bercerita panjang lebar sambil menyantap nasi goreng buatannya.
“Sebenarnya, Ummi gak mau jauh-jauh dari Annisa. InsyaAllah rezeki di sini sudah lebih dari cukup. Dari toko Ummi, juga dari hasil usaha Annisa. Kamu bisa mengambil alih pekerjaan Ummi, atau kalau kamu mau mencari pekerjaan lain di sini, tidak masalah. Tapi Ummi gak bisa melarang kalau nanti kamu memboyong Annisa ke Jakarta, asal sering-seringlah pulang menengok Ummi di sini. Karena Ummi tidak punya siapa-siapa lagi selain Annisa. Anak Ummi satu-satunya. Tapi, sekarang Annisa sudah sepenuhnya menjadi hak kamu. Ummi titip, perbaiki dia dengan lemah lembut. Terutama dalam masalah agama. Tuntutlah ilmu bersama, hijrahlah bersama. Agar kalian mempunyai bekal untuk kemudian kalian bawa di kehidupan selanjutnya.”
Ucap ummi, perkataannya terhenti sejenak. Ummi menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
“Ummi titip Annisa. Tolong jangan menyakitinya. Dulu, Abi sangat memanjakan Annisa. Jadi kalau ada perilaku manja dari Nisa yang tidak kamu suka, tegurlah dengan baik-baik. Annisa adalah orang yang paling berharga untuk Ummi. Jika nanti, keadaan buruk terjadi dan membuat kamu tidak mencintai Annisa lagi, kembalikan dia kepada Ummi dengan cara yang baik. Jangan menghardiknya, jangan menyakitinya. Ummi sama sekali tidak mengkhwatirkan soal dunia. Hanya itu yang Ummi minta.”
Aku menatap ummi dalam. Kata-katanya membuatku terharu. Aku merenungkan setiap ucapan ummi barusan. Annisa sudah menangis sedari tadi, bahkan dia langsung memeluk ummi.
Ada tanggung jawab besar di pundakku. Ada wanita baik, yang sangat di sayangi orang tuanya di sisiku. Aku malu, ke egoisanku bisa saja menyakiti Annisa tempo hari kalau dia tahu dari orang lain alasan aku menikahinya.
“InsyaAllah Ummi, Iki akan berusaha semampunya untuk membahagiakan Annisa. Masalah pekerjaan, sepertinya Iki masih belum bisa untuk langsung pindah ke sini. Masih ada tanggung jawab Iki di sana. Kontrak kerja baru di perpanjang, kalau mengundurkan diri, Iki gak akan dapat pesangon dari hasil kerja Iki selama ini. Sementara Iki kerja di sana sudah cukup lama. Semoga Ummi dan Annisa mengerti.” Jawabku kepada ummi.
__ADS_1
Penghasilanku perbulan dan bonusnya rata-rata mencapai dua digit. Kurasa cukup untuk menyewa sebuah rumah yang nyaman di sana untuk di tinggali dengan Annisa.
Selain itu, dia bisa meneruskan usahanya di sana. Aku akan memfasilitasi semua yang dibutuhkan Annisa. Meskipun tidak memiliki rasa kepada Annisa, tapi aku berjanji akan memperlakukannya sebaik mungkin.
Karena ada amanah ummi yang dititipkan kepadaku. Mana mungkin aku bisa menyakiti hati seseorang yang sangat berharga bagi ibunya.
Aku berniat akan menceritakan semuanya kepada Annisa. Tentang Sheila, tentang apa yang terjadi antara aku dengan dia sampai akhirnya aku memutuskan untuk menikahi Annisa. Aku tahu Annisa akan kecewa. Aku akan terima apa pun konsekuensinya.
Ini akan lebih menyakitkan bagi Annisa jika dia mengetahui cerita sebenarnya dari orang lain. Lebih baik aku jujur kepadanya, dari pada harus terbebani rasa bersalah terus menerus.
Ummi sudah pergi, pamit ke toko di pasar. Sedangkan Annisa sedang membereskan piring-piring bekas kami sarapan.
“Maaf, Mas gak tahu kalau kamu phobia gelap. Tadi ummi cerita kalau kamu tidak bisa tidur dalam keadaan gelap.”
Tidak dipungkiri, aku merasa bersalah semalam tidur nyenyak di kasur empuk, sedangkan gadis ini tidur di sofa. Aku mencoba menebus rasa bersalah itu dengan meminta maaf kepadanya.
“Semalam masih ada cahaya dari lampu tidur kok, Mas. Jadi gak masalah. Nisa masih bisa tidur.” Jawabnya yang masih sibuk membersihkan piring di bak pencuci piring.
Sepertinya dia berbohong. Lingkaran hitam di matanya tidak bisa menyembunyikan bahwa semalaman dia kesulitan tidur.
“Tapi, mata panda kamu gak bisa bohong, Nis.”
Dia menoleh dan tersenyum kepadaku.
“Oh, ternyata diam-diam Mas memperhatikan Nisa, ya. Sampai tahu begitu haha” Jawabnya menggodaku.
“Ini bekas maskara dari makeup pengantin kemarin, Mas. Sudah Nisa coba hapus pakai makeup remover dan mencucinya dengan facial wash, tapi tetap tidak hilang.” Tambahnya lagi menyangkal tuduhanku.
‘Dia pikir aku gak bisa membedakan mana warna maskara dan mata panda? Dasar bocah, sudah ketahuan masih saja berbohong’ omelku dalam hati.
Aku tidak lagi mempermasalahkan mata pandanya lagi. Biar saja, toh dia sendiri tidak mengakuinya.
Bersambung...
__ADS_1