
"Aku anakmu Ayah." Pelan Habibah mendekati Rudy yang semakin bingung.
"Kau harus percaya." ucap Frans juga meyakinkan Rudy Utama.
"Tidak, dia adalah wanita yang sedang merusak kebahagiaan putrimu Rudy. Mereka sengaja membuatnya menjadi putrimu. Padahal sebenarnya dia adalah anak Hiko."
"Tidak Marisa, aku yakin dia putriku." Rudy menoleh Habibah yang ada di sampingnya menatap penuh harap.
"Dia tidak perlu surat kuasa bekerja di perusahaan ini jika dia benar-benar putrimu. Tapi ayahmu memberikan surat kuasa yang sama dengan mereka." Marisa menunjuk dua asisten yang sudah tua tersebut.
"Kau licik." kesal Habibah sudah tidak sabar melihat Marisa terus bicara.
"Kau yang licik, merebut kekasih putriku, dan sekarang ingin mengambil suamiku? Jangan bermimpi! Gadis kampung sepertimu harusnya kembali ke tempat asal mu, bukan disini. Berhentilah bermimpi untuk menjadi tuan putri." Marisa menunjuk wajah Habibah.
"Dia tidak merebut, aku yang menikahkannya dengan Bram." Frans membela Habibah.
"Tentu saja, kalian mengikatnya agar bisa bersama-sama menipu suamiku. Aku tidak akan tinggal diam." jawab Marisa tersenyum sinis.
"Aku tidak merebut apapun. Aku hanya ingin mengambil hak ku. Aku bukan anak haram yang harus kau benci, tapi sebaliknya kau yang merebut kebahagiaan ibuku, sama seperti putrimu yang ingin merebut suamiku." balas Habibah menatap tajam Marisa.
"Ibumu?" tanya Marisa menatap sinis. "Ibumu yang mana, hah!" Marisa tertawa mengejek.
"Ibumu adalah wanita pengecut, meninggalkan suami dan anaknya yang masih bayi, pergi dengan laki-laki lain."
"Berhenti mengatakan hal bodoh itu Marisa!" Hiko sangat marah mendengar kisah istrinya diungkit.
"Mengapa? Apakah rasanya sangat menyakiti dirimu? Ah, itu memalukan." dia tertawa lagi.
"Habibah, sebaiknya kita pulang. Ini tidak akan berakhir baik." Bram menarik tangan Habibah.
"Tidak Mas, aku harus tahu semuanya." tolaknya.
"Percuma." pelan Bram kembali meraih tangan Habibah.
"Kau benar, ini percuma. Kalian hanya membuang waktu." Marisa mengibaskan tangannya mengusir Habibah.
"Aku tidak percaya pada wanita licik seperti dirimu." Habibah malah mendekat.
"Apa yang bisa kau buktikan?" tanya Marisa menatap sinis.
"Dan apa buktimu mendustakan kenyataan?" Habibah tak mungkin menyerah.
"Kita lakukan saja tes DNA." Rudy menarik tangan Habibah agar segera pergi, sepertinya dia lebih percaya bahwa dia putrinya.
"Tunggu, aku menolak bukan tanpa bukti bersamaku. Aku bahkan sudah melakukan DNA untukmu." dia berbicara sambil menahan Rudy.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Rudy lagi.
Marisa membuka laptop di ruangan Rudy tersebut, lalu memperlihatkan sebuah email yang berisikan hasil ter DNA.
Rudy mendekati laptop tersebut, dan membuat matanya terbuka sempurna.
"Putramu laki-laki." jelas Marisa kepada Rudy Utama.
Pria itu tercengang masih tak percaya, namun untuk menyangkal dia tak tahu apa-apa selain cerita.
"Dia menipumu." Marisa menunjuk Habibah. "Dan mereka semua." Marisa semakin senang menyalahkan dua asisten ayah mertuanya tersebut.
"Aku tidak berbohong Marisa. Kau yang berbohong, licik dan memutar balik fakta. Apa maksudmu malah membuat putraku menjadi anak Rudy Utama?" teriak Hiko semakin marah.
"Itu kenyataannya Hiko! Kau membuat putrimu menjadi pewaris perusahaan ini, dan anak suamiku kau buat tenggelam tanpa kejelasan. Bahkan kau tidak membuatnya memilikinya pekerjaan." bentak Marisa semakin berani.
"Tidak, itu semua bohong!"
Hiko benar-benar emosi sehingga memaksa berdiri dengan satu kaki.
Marisa mengangkat gagang telepon di meja tersebut, memanggil seseorang agar segera masuk.
"Nyonya Marisa, aku tidak tahu apa permasalahan sebenarnya. Tapi bagiku ini hanya salah paham dan Habibah tidak bersalah dalam hal ini." Bram angkat bicara mencoba meredam suasana.
"Kau pikir bisa mengelak?" Marisa tersenyum penuh arti.
"Bawa dan penjarakan mereka." perintah Marisa menunjuk Frans, Hiko dan Habibah.
"Apa maksudmu?" Bram merasa kesal dengan drama di pagi buta itu.
"Sudah sangat jelas jika kalian adalah sekelompok penipu." jelas Marisa terlihat sangat senang.
"Tapi tidak dengan memenjarakan mereka!" bentak Bram pada wanita itu.
"Dan jangan lupa, ibumu juga menikmati kebohongan ini. Harta ayah mertuaku mengalir di rekening kalian semua para penjilat. Pastikan ibumu juga ikut meringkuk di jeruji yang dingin." geram Marisa kepada Bram.
"Aku tidak mau." Habibah memberontak saat tangannya di pegang begitu kuat oleh orang-orang tersebut.
"Jangan bawa ayahku." Lee juga sibuk mempertahankan ayahnya.
"Ini perintah Nyonya." jawab laki-laki bertubuh besar itu.
"Dia ayahku!" bentak Lee melayangkan pukulan keras di wajah pria tersebut.
Dan tak tinggal diam akhirnya terjadi pukul-pukulan di ruangan direktur tersebut.
__ADS_1
"Sudah! Berhenti!"
Rudy berteriak meminta semuanya berhenti saling menyerang.
Namun tak juga berhenti, sudah pasti Bram dan Lee melawan jika ayah mereka akan di bawa ke penjara.
"Kalian, berhenti dan segera keluar." Rudy menengahi salah satunya dan berhasil membuat semuanya diam.
"Kalian_"
"Stop Marisa." Rudy juga membentak istrinya.
"Ayah." panggil Habibah pelan, dalam tangisnya ia hanya bisa berdiri terpaku dengan sejuta kesedihan.
Rudy hanya menoleh, lalu menatap Lee yang masih dipenuhi amarah, wajahnya benar-benar terlihat menakutkan.
"Hiko, siapa sebenarnya anakku?" tanya Rudy terdengar di memohon.
"Tentu saja Dia." Hiko menunjuk Habibah yang lemas dengan tangannya di bekuk ke belakang oleh orang-orang Marisa.
"DNA lebih membuktikan Rudy, kau jangan menjadi bodoh hanya karena mulut mereka yang sudah jelas hanya mengeruk uang ayahmu." Marisa juga terlihat emosi.
"Aku tidak menginginkan uang ayahmu." jawab Hiko juga tak menyerah.
"Aku saksinya, bayi yang ada di rumah sakit saat itu adalah laki-laki." Marisa benar-benar meyakinkan Rudy Utama.
Setelah hening sejenak.
"Bawa mereka." ucap Rudy memerintahkan untuk membawa ketiga orang itu untuk di tahan.
"Ayah, aku anakmu." Habibah memanggil Rudy dengan mata mengabur, air mata yang membanjir itu tak dapat di usap lantaran kedua tangannya di ikat.
Terdengar memilukan namun sepertinya sia-sia. Rudy tak mau mendengarkannya.
"Ayah..." tangisnya lagi.
Tak kalah menyedihkan pula pria yang sudah cacat itu di dorong paksa, tak bisa menolak apalagi menghindar. Hanya Lee putranya yang semakin mengamuk namun percuma, dia hanya bisa mengikuti tanpa bisa merebut ayahnya yang saat ini dipegangi dua orang.
Berkali-kali menoleh, Habibah berharap ada sedikit rasa peduli dari Rudy Utama namun tidak terjadi.
Semua mata menatap kepadanya dengan tajam dan berbisik tak terdengar.
Entah mengapa tawa mereka pun terasa sedang menertawai malang hidupnya.
"Sudah kubilang, berhenti berusaha mendapatkan ayahmu. Itu semua hanya akan membuatmu hancur dan kecewa. Dan begini akhirnya." ucap Bram kepada Habibah.
__ADS_1
Pelan memang, tapi terdengar semakin mengiris-iris jika di lontarkan di saat-saat seperti ini.
"Mungkin sudah takdir hidupku Mas, tidak pernah melihat ibuku, lalu ayah yang tak akan pernah mengakui, dan... suami yang akhirnya juga akan pergi."