
#Mengejar Cinta Suamiku part 9 (Janji Suci)
Setelah sebulan lebih pemulihan, kini kondisi Rizki sudah seperti sedia kala.
Dia mulai beraktifitas normal dan kembali bekerja. Pihak keluarga pun sudah menata ulang rencana pernikahan yang sempat tertunda.
Rencananya, minggu ini pernikahan akan dilangsungkan di sebuah hotel ternama di Kota Cirebon.
“Gua benar-benar bersyukur lu udah pulih, Ki. Mulai sekarang, jaga diri lu baik-baik, seminggu lagi hari pernikahan lu, jangan sampai terjadi apa-apa lagi.” Ucap Ajis pada Rizki.
Dia terlihat sangat khawatir saat Rizki tidak kunjung bangun dari koma.
Sepulangnya bekerja, Ajis hampir menghabiskan seluruh waktunya menemani Rizki di rumah sakit.
“Selama gua nemenin lu di sana, Annisa gak pernah berhenti berdoa, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an di samping lu. Dia juga yang mengurusi segala administrasi di rumah sakit. Sebaik itu calon istri lu.”
“Iya, ibu juga membicarakan hal yang sama. Padahal bapak memutuskan ikatan khitbah saat gua koma. Bapak menyerahkan keputusan kepada Annisa kalau dia mau menerima pinangan dari pria lain. Tapi, kata bapak dia tetap menunggu gua.”
“Makanya, harusnya lu bersyukur. Gua yakin lu akan lebih bahagia sama Annisa ketimbang waktu lu sama Sheila. Annisa lebih unggul dalam segala hal di banding Sheila.”
“Semoga ya, Jis. Suatu saat, semoga gua bisa mencintai Annisa seperti gua mencintai Sheila.”
Drrrrttt...drrttt...ddrrrrtttt
Perbincangan kedua sahabat itu terhenti dengan suara panggilan masuk dari ponsel Rizki.
“Assalamualaikum, Bu” Sapa Rizki kepada orang di seberang telepon sana yang ternyata ibunya.
“Waalaikumsalam, Ki. Ibu dan Bapak sudah sebar undangan. Untuk teman-teman kamu di sana, nanti Ibu kirim lewat ekspedisi, ya.”
“Baik, Bu. Terimakasih. Dan maaf, Iki gak bisa bantu persiapan di sana. Karena Iki belum dapat cuti. Dua hari lagi Iki baru dapat cutinya, Bu”
“Iya, gak apa-apa nak, yang penting kamu sehat-sehat, ya.”
Setelah berpamitan, sambungan telepon pun terputus.
Rizki merenungi dirinya yang sebentar lagi akan menikah.
Menikah dengan seorang gadis yang sama sekali tidak dicintai olehnya. Suara hujan di luar seolah menyoraki isi hatinya yang semakin berisik.
Ragu dengan dirinya sendiri, ragu dengan keputusan yang diambilnya. Apakah pernikahan ini akan berjalan dengan baik?
Apakah Annisa akan memaafkan dia jika kelak tahu alasan Rizki menikahinya?
Segala pertanyaan itu menumpuk di dalam otaknya. Menambah keraguan atas segala keputusan yang dibuatnya.
Menikahi wanita lain untuk menyelamatkan pernikahan mantan, tapi tidak yakin akan nasib pernikahannya sendiri. Begitu yang dipikirkan oleh Rizki.
***
Hari ini adalah pernikahan Rizki dan Annisa. Pukul 08.30 tadi pagi, Rizki sudah sah memperistri Annisa dengan akad satu tarikan nafas saja.
Ada debar di dada Annisa yang tidak biasa saat menatap mata suaminya.
Awal Rizki datang mengkhitbah, hatinya sudah dibuat tidak percaya.
Setelah Rizki mengucap janji suci, setelah tangan Annisa menjabat tangannya, setelah mata mereka sudah halal saling beradu, setelah Rizki mengecup kening Annisa selesai akad saat itu, jantung Annisa seperti menari ke sana kemari tiada henti.
Dialah Rizki, laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya, cinta pertamanya.
__ADS_1
Annisa masih ingat saat pertama kali bertemu Rizki. Saat itu, sepulang dari perpustakaan umum, motor yang di kendarai Annisa mogok tepat berada di jalanan sepi yang sepanjang jalannya di kelilingi sawah dan perkebunan kopi.
Tempat tersebut jauh dari kota dan pemukiman warga.
Saat itu sudah jam sepuluh malam. Annisa tidak bisa mengabari ummi karena ponselnya kehabisan baterai.
Biasanya dia tidak pulang selarut ini, namun karena temannya yang bekerja di perpustakaan itu meminta Annisa membantunya menyortir buku-buku yang sudah tidak layak, sehingga membuat Annisa pulang selarut ini.
Hujan lebat turun menambah ketakutan dalam diri Annisa, dia mencoba berteduh di bawah sebuah gubuk kecil pinggir jalan.
Mungkin gubuk itu adalah tempat istirahat para petani saat mereka di sawah dan di kebun.
Beberapa kali Annisa meminta tolong kepada orang lewat, namun sama sekali tidak ada yang mau berhenti membantunya.
Ditengah kepanikan, Nisa mencoba menenangkan diri dan berdoa kepada Allah agar memberikan bantuan kepadanya.
Tidak lama kemudian, seorang laki-laki menepi. Dia bertanya apa yang terjadi. Annisa memberi tahu motornya mogok, tapi bensinnya masih full.
Segera laki-laki itu membantu Annisa mengecek motornya, memeriksa dengan detail kerusakan apa yang menjadi penyebab motor mogok.
Dia mengeluarkan beberapa alat dari bagasi motor yang dibawanya, dan dengan teliti memperbaiki motor Annisa.
Annisa merasa lega, di tengah malam dan hujan lebat seperti ini masih ada orang baik yang mau menolongnya.
“Sudah selesai motornya.” Sahut laki-laki tersebut sambil membereskan peralatannya.
“Alhamdulillah, Mas ini untuk uang rokok sekaligus rasa terimakasih saya karena Mas sudah mau membantu. Kalau gak ada Mas, saya gak tau sampai kapan berada di sini.” Annisa menyodorkan dua lembar uang merah kepadanya.
“Maaf Dek, Mas tidak merokok. Simpan saja uangnya, Mas ikhlas membantu.” Jawabnya menolak pemberian Annisa.
Annisa dan laki-laki itu berteduh menunggu hujan sedikit reda. Tidak ada perbincangan apa pun selain rasa terimakasih tadi.
Sebuah mobil melintas di depan mereka. Dari cahaya mobil tersebut, sekilas Annisa dapat melihat orang di sebelahnya itu memiliki wajah yang manis dan hidung yang mancung, namun dengan segera, dia langsung memalingkan pandangannya.
Tak lama, hujan pun reda. Annisa pamit untuk pergi lebih dulu.
“Kamu ke arah sana kan?” Tanya lelaki itu kepada Nisa sambil menunjuk arah.
Annisa mengangguk.
“Kebetulan Mas juga mau ke arah sana. Nanti Mas kawal kamu dari belakang ya, sampai persimpangan kota. Ini udah malam, gak baik perempuan berkendara sendirian di tengah malam.”
Peristiwa itu terjadi setahun yang lalu. Namun masih lekat dalam ingatan Annisa.
Peristiwa yang membuat dia pertama kalinya mengagumi sosok pria.
Semenjak itu, Annisa selalu menitipkan rasanya di dalam doa.
Keajaiban terjadi saat ummi memberi tahu Annisa bahwa anak dari temannya sedang mencari calon istri. Yang lebih mengagetkan, saat ibu, bapak dan Rizki datang mengkhitbahnya.
Sosok laki-laki yang malam itu menolongnya, dan sejak saat itu pula menganggu pikirannya, kini datang ke rumah untuk mengkhitbah dirinya.
Rasa syukur tidak henti-henti di ucapkan Annisa di dalam hati. Sungguh ini benar-benar keajaiban doa yang selalu dia panjatkan ketika menghadap Rabb-NYA.
“Nisa lelah, ya?” Rizki masuk ke kamar, dia baru saja pulang Shalat Ashar di masjid.
Annisa menjawab dengan senyuman kecil, tenggorokannya seperti tercekat.
Malu sekali rasanya berada dalam satu ruangan dengan lelaki meskipun mereka sudah halal.
__ADS_1
Annisa terlihat sangat gugup, tapi tidak dengan Rizki yang terlihat biasa saja.
“Sudah Shalat?” tanyanya lagi sambil meletakan sajadah dan sarung yang telah dilipat di nakas sebelah meja rias.
“Sudah, Mas” jawabnya masih dengan malu-malu.
Annisa sudah mandi dan menanggalkan gaun pengantin juga makeup-nya, tapi masih mengenakan hijab.
Dia belum berani membuka hijab di hadapan Rizki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Wajar saja, ini pertama kalinya Annisa berinteraksi langsung dengan laki-laki. Rizki juga sepertinya tidak tertarik melihat penampilan Nisa yang tanpa hijab.
‘Mungkin dia kelelahan karena resepsi pernikahan tadi pagi,’ ujar Annisa dalam hatinya.
Resepsi pernikahan mereka tidak lama. Dimulai jam 08.30 pagi, sampai masuk waktu Dzuhur saja.
Tamu undangannya pun hanya keluarga dan teman-teman terdekat. Selain itu, tamu laki-laki dan tamu perempuan juga tempatnya terpisah, sengaja di konsep seperti itu, agar tidak terjadi khalwat bagi mereka.
Ada satu kejadian yang cukup membuat Annisa kesal di resepsi tadi pagi.
Seorang wanita cantik berambut panjang dengan gaun selutut warna merah muda datang menghampiri Rizki.
Ya, wanita itu adalah Sheila. Tatapannya beda sekali, seperti menyiratkan penyesalan. Air matanya mengalir deras. Dia hendak memeluk Rizki, namun dengan sigap, Rizki berhasil menolaknya.
Hati Annisa seolah teriris, dadanya sesak menahan cemburu, matanya memerah seolah menahan tangis.
Ingin rasanya Annisa memberi tahu Sheila bahwa kini dia sudah berhak sepenuhnya atas diri Rizki.
Dan dia berhak menyuruh Sheila untuk tidak mengganggu suaminya lagi.
Tapi hal itu urung Nisa lakukan karena takut akan menimbulkan masalah di acara pernikahannya.
“Tadi ummi menyuruh Mas mengajak kamu makan kalau kamu sudah selesai Shalat. Ummi sudah siapkan makanannya buat kita, khawatir kamu kecapean katanya.”
Annisa memang terlihat sedikit lelah. Lelah dengan resepsi, juga hati yang cemburu akibat kejadian pagi tadi.
“Nis, kok malah melamun?” Suara Rizki membuyarkan lamunan Annisa.
“Nggak kok Mas. Ya sudah, yuk kita ke meja makan. Ummi pasti udah nunggu.” Ajak Nisa.
Kemudian mereka berlalu bersama menuju ruang makan. Melihat wajah Rizki, membuat hatinya semakin teduh. Sungguh Annisa telah jatuh cinta, meski baru beberapa jam saja menjadi istrinya.
Di ruang makan, ummi sudah menunggu dengan masakannya yang selalu memanjakan lidah.
Senyumnya mengembang melihat anak gadisnya yang sudah dipinang. Matanya berkaca-kaca.
Ummi terharu melihat anaknya datang dengan suami yang menggenggam erat tangannya.
Dalam benaknya pasti tersirat anak semata wayang kesayangannya kini sudah menjadi milik orang lain. Ummi, wanita hebat yang selalu menginspirasi dan menjadi penyemangat Annisa.
“Duh, pengantin baru lengket sekali Masyaa Allah. Tidak salah kan nak, pilihan Ummi ini?”
Pipi Annisa memerah saat digoda ummi. Rizki hanya tersenyum tipis menanggapi godaan ummi.
Mereka kemudian larut dalam rezeki makanan yang terhidang di atas meja. Hari ini sungguh menjadi hari yang paling indah bagi Annisa.
‘Meski tanpa Abi, tapi Abipun pasti akan bahagia apabila di sana mengetahui hari spesial ini’ Ucap Annisa dalam batinnya.
Bersambung...
__ADS_1