
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Setelah pulang dari pesta Varel, Sebastian tidak sengaja bertemu dengan Tika, seorang karyawan di toko roti Vania
Terlihat Tika sedang berjalan di pinggir jalan sambil sesekali menatap kearah jalan raya. Bisa dipastikan ia sedang menunggu taksi online
Tanpa pikir panjang, Sebastian pun melajukan mobilnya dan berhenti tepat didepan Tika hingga membuat gadis itu terkejut bukan main
"Eh masa iya sih supir taksi ugal-ugalan begitu?"
gumam Tika karena ia mengira Sebastian adalah supir taksi online yang sedang ditunggunya
"Tika?"
panggil Sebastian saat ia sudah keluar dari mobil
"Eh-kenapa ya Pak?"
tanya Tika dengan polosnya
Astaga, apa wajahku benar-benar sudah tua?-Sebastian
"Kau karyawan Vania kan?"
"Loh kok Bapak tau mba Vania? Bapak kenal ya?"
"Apa kau tidak mengenal saya?"
tanya Sebastian mengerutkan kening sedangkan Tika hanya menunduk seraya menggeleng pelan
"Saya Sebastian, sahabatnya Varel. Kita pernah bertemu saat kau mendatangi Vania di ruangan Varel di rumah sakit"
ucap Sebastian panjang lebar
"Oh iya Pak"
jawab Tika singkat yang membuat Sebastian mengerutkan kening
"Kau sedang menunggu taksi online ya?"
"Iya Pak"
"Masuklah Tik. Saya akan mengantarmu, tidak baik terlalu lama diluar"
"Tapi bagaimana dengan taksinya Pak?"
tanya Tika yang menatap Sebastian intens
Tatapan Tika membuat Sebastian terdiam seketika. Ini pertama kalinya Sebastian mematung saat menatap mata Tika yang berbinar
"Pak?"
"Bapak?"
"Astaga jangan melamun Pak, nanti Bapak kesurupan"
"Eh-apa?"
ucap Sebastian yang baru sadar dari lamunannya
"Cancel saja"
"Orang kaya emang sesuka hati ya kasih perintah"
ketus Tika dengan kesalnya membuat Sebastian benar-benar terkejut
"Eh bukan maksud saya ingin sesuka hati Tika. Tapi kau lihat bukan? Sudah lama kau menunggu tapi taksi itu belum datang-datang juga"
"Tapi ya kasihan juga Pak kalau di cancel. Mungkin saja supir taksinya sedang berada ditempat jauh sehingga butuh waktu lama untuk sampai kemari"
"Ya sudah saya menemani kamu disini menunggu taksinya"
"Tidak perlu Pak"
tolak Tika halus
"Saya tidak suka melihat perempuan sendiri di pinggir jalan. Bagaimana jika ada yang berani macam-macam denganmu?"
"Tenang Pak, saya bisa bela diri. Tapi kalau saya kalah, sepatu saya masih ada untuk melempar wajah penjahat"
__ADS_1
ucap Tika terkekeh pelan membuat Sebastian sontak tertawa mendengarnya
Ya Tuhan, Bapak ini tampan sekali apalagi kalau tertawa. Astaga, sadarlah Tika kau tidak pantas mengaguminya.-Tika
Tika pun refleks memukul kepalanya keras karena memikirkan yang tidak-tidak tentang Sebastian sedangkan Sebastian yang melihatnya langsung menahan tangan Tika sehingga sang pemilik tangan mengangkat kepala dan tatapan mereka bertemu
Astaga, ini hati Tika kenapa?-Tika
*
Ada apa denganku?-Sebastian
Saat sedang larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba taksi online yang dipesan Tika baru saja sampai dan membuat Sebastian langsung melepaskan tangannya yang masih memegang tangan Tika
"Dengan Nona Tika?"
ucap sang supir sopan
"Eh-iya Pak"
"Nona, sebelumnya saya minta maaf karena membuat Nona menunggu lama. Saya tadi berhenti sebentar di rumah sakit untuk menjenguk anak saya. Saya benar-benar minta maaf Nona"
ucap sang supir dengan raut wajah sedih
Entah sedih karena takut Tika membatalkan pesanannya atau sedih karena anaknya sedang berada di rumah sakit
"Pak, saya juga minta maaf sebelumnya. Apa boleh saya cancel saja pesanannya? Soalnya saya sudah menjemput kekasih saya"
ucap Sebastian yang membuat Tika dan supir taksi menatapnya lekat
Tanpa mengubris tatapan mereka, Sebastian pun mengambil beberapa lembar uang ratusan dan memberikannya kepada sang supir
"Ini mohon diterima Pak untuk kerugian atas pembatalan pesanan dan juga untuk membantu Bapak membayar biaya rumah sakit"
ucap Sebastian seraya memberikan uang tersebut kepada si supir taksi
"Astaga ini banyak sekali Tuan"
"Mohon diterima Pak"
"Terima kasih banyak Tuan. Semoga anda selalu diberikan berkat dan saya doakan semoga anda dan Nona akan segera menuju jenjang serius"
ucap si supir taksi dengan tulus membuat Sebastian tersenyum tipis sedangkan Tika hanya diam tanpa mengatakan apa-apa
ucap supir taksi sopan
"Terima kasih Pak"
ucap Sebastian tersenyum tipis
"Sayang"
tegur Sebastian yang membuat Tika sadar dari lamunannya
"Eh-apa?"
"Pak supir mau pergi"
"Eh-maaf Pak saya melamun. Minta maaf juga ya Pak sudah dicancel"
ucap Tika menunduk sopan
"Tidak apa-apa Nona. Saya bahkan berterima kasih kepada kekasih anda karena memberikan saya banyak uang. Saya benar-benar tulus berdoa semoga Tuan dan anda segera ke jenjang serius"
ucap supir taksi tersebut sedangkan Tika hanya menanggapinya dengan senyum canggung dan itu membuat Sebastian menatapnya gemas
Setelah berpamitan, supir taksi pun pergi meninggalkan Tika yang semakin canggung dengan Sebastian terlebih saat Sebastian mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih bahkan Sebastian tak malu menyebutnya sayang didepan supir tersebut
"Saya antar pulang ya?"
pinta Sebastian yang terus menerus menatap Tika
"Saya tidak enak Pak, jadi merepotkan Bapak"
"Tidak merepotkan Tika. Ya sudah ayo masuk ke mobil"
ucap Sebastian tanpa sadar menarik tangan Tika dan mengajaknya menuju mobil.
*****
Didalam Mobil
"Pak?"
__ADS_1
panggil Tika pelan
"Iya? Kenapa Tik?"
"Makasih ya Pak"
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Bapak kasih uang ganti rugi ke supir taksi dan mengantarkan saya pulang"
Sebastian hanya tersenyum tipis mendengarnya
"Ehm, tapi Pak saya tidak punya uang untuk membayar hutang saya ke Bapak"
Seketika Sebastian tertawa melihat kepolosan Tika
"Tidak perlu dipikirkan Tika. Saya tidak mengatakan bahwa kau ada hutang pada saya"
ucap Sebastian disela-sela gelak tawanya
"Bapak kenap-"
"Jangan panggil saya Bapak"
"Terus saya panggil apa dong Pak?"
"Panggil saja Bas saja"
"Itu tidak sopan Pak"
"Astaga Tika saya ini bukan Bapak kamu"
"Saya juga tidak pernah bilang kalau Bapak itu Bapak saya"
ucap Tika pelan yang membuat Sebastian melongo karenanya
"Atau saya panggil Bapak dengan panggilan Mas Bas aja ya Pak?"
pinta Tika yang membuat Sebastian tersenyum tipis
"Mas Bas?"
ulang Sebastian pelan
"Iya Mas Bas"
"Sekali lagi Tik"
"Mas Bas"
"Sekali lagi"
"Mas Bas"
"Sekali lagi"
"Ish kenapa Mas Bas jadi aneh minta dipanggil terus?"
ketus Tika yang membuat Sebastian terkekeh
"Oh iya Tik, kamu sudah lama kerja di toko roti Vania?"
"Setahun lebih Mas, memangnya kenapa?"
"Sudah lumayan lama ya"
"Dari pertama dibuka Tika sudah melamar kerja disana Mas"
"Alasannya?"
"Karena Tika mengidolakan Mba Vania yang cantik dan imut"
ucap Tika terkekeh pelan karena mengingat alasan utamanya melamar kerja di toko roti Vania
"Astaga, bagaimana bisa ada orang yang melamar kerja hanya karena mengidolakan bos nya?"
"Ada Mas, Tika contohnya"
*
*
*
__ADS_1