
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Dua hari sudah berlalu namun Varel masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya akan sadar. Selama itu Vania tidak pernah lelah untuk mengajaknya berbicara bahkan setiap malam Vania menangis karena takut kehilangan pria yang terbaring dihadapannya ini
Setelah selesai di operasi dengan mengangkat peluru dari punggungnya, dokter Hendra mengatakan bahwa Varel tertembak di bagian punggung kanan bagian atas dan untung saja tidak mengenai paru-parunya
Setiap hari dokter Hendra tidak pernah absen untuk memarahi Varel yang seolah enggan sadarkan diri dan melihat mata sembab Vania yang setiap hari menangisinya
Lihatlah sekarang ini, setelah dokter Hendra memeriksanya ditemani oleh Vania, dokter Hendra pun memarahi Varel bahkan merutuki nya
"Kau ini mengapa tidak bangun-bangun huh? Membuat repot saja. Aku akan ambil alih perusahaan ya jika kau tidak bangun hingga besok"
ketus dokter Hendra yang membuat Vania terkekeh
"Ehm, Kakak ipar?"
"Ya, dokter ada apa?"
"Bagaimana jika Kakak ipar menikah saja?"
tanya dokter Hendra seraya menatap kearah Varel sedangkan Vania terkejut bukan main
Vania tidak menyadari bahwa Varel sudah sadarkan diri namun entah kenapa ia enggan membuka mata saat ada dokter Hendra sedangkan dokter Hendra pun sudah mengetahuinya tapi dirinya hanya menyembunyikan saja dan mengejek Varel yang seakan menahan marah namun dengan mata masih tertutup
"Hahaha...Santai saja Kakak ipar, jangan tegang seperti itu. Aku hanya menyarankan saja, Kakak ipar masih muda dan cantik pasti akan banyak pria diluar sana yang menyukai Kakak ipar dan akan menerima bayi kembar. Kakak ipar tidak lihat bahwa Daddy mereka saja tidak mau bangun? Lebih baik Kakak ipar menikah saja lagi"
"Hello anak-anak, bagaimana kabar kalian? Lihat, Daddy kalian sangat jahat, bukan?"
ucap dokter Hendra seraya mengelus pelan perut buncit Vania membuat Varel akhirnya kalah telak dan membuka mata menatap dokter Hendra tajam
"Va-Varel?"
lirih Vania pelan yang membuat dokter Hendra berhenti mengelus perutnya dan menatap Varel seakan ingin mengejek
"Oh apa Tuan Muda sudah ingin membuka mata?"
ejek dokter Hendra yang membuat Vania menatapnya heran
"Dokter, kenapa tidak memeriksa Varel?"
"Untuk apa Kakak ipar? Dia sudah sadar sejak ku periksa tadi tapi tidak mau membuka matanya"
jawab dokter Hendra santai yang membuat Vania menatap Varel penuh tanya sedangkan yang ditatap hanya nyengir tidak jelas
"Sayang, kemari lah"
pinta Varel dengan wajah memelasnya karena ia tau istrinya sedang kesal dengannya
"Ehm, Kakak ipar aku pergi dulu ya"
ucap dokter Hendra berpamitan tak lupa dengan menjulurkan lidahnya dihadapan Varel
"Sayang"
rengek Varel dengan lagi-lagi menampilkan wajah memelasnya membuat Vania menghela nafas berat lalu berjalan mendekatinya
Vania memeluk Varel dengan erat bahkan sebelum suaminya minta dipeluk membuat Varel sedikit heran dengan sikap istrinya karena biasanya Vania tidak ingin memeluk sebelum disuruh
Vania menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua kekhawatiran dan ketakutannya selama ini bahkan tangisan tersebut membuat hati Varel sakit
"Sayang, aku baik-baik saja"
ucap Varel pelan yang membuat Vania semakin mengeratkan pelukannya
"Ka-kau terluka karena ku"
"Tidak sayang, ini bukan karena mu"
"Andai saja kau tidak dat-"
Dengan cepat Varel menangkup wajah Vania membuat ucapan Vania terhenti karena Varel tiba-tiba mencium bibir istrinya dengan sangat lembut
__ADS_1
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ini tanggung jawabku untuk melindungi kalian, sayang"
ucap Varel pelan seraya menghapus jejak air mata di wajah istrinya
"Maaf"
lirih Vania pelan lalu menundukkan kepala karena dirinya benar-benar tidak siap menatap manik mata sang suami
Varel pun memegang dagu Vania agar istrinya bisa menatapnya lalu
Cup.
"Kau tidak salah berhentilah meminta maaf"
ucap Varel tersenyum tipis
"Bagaimana denganmu? Apa ada yang terluka?"
"Aku tidak apa-apa sayang"
ucap Vania tersenyum
"Aku akan membalaskan nya, berani sekali dia menculik istriku"
geram Varel mengepalkan tangannya kuat
"Sayang, dia sudah meninggal"
gumam Vania pelan yang sukses membuat Varel terkejut
"Siapa? Jashon?"
"Bunuh diri dengan menembakkan kepalanya"
"Sial, aku belum membalasnya tapi dia sudah mati konyol duluan"
ketus Varel dengan kesal
"Sayang, tenanglah kau baru saja sadarkan diri"
jawab Varel tersenyum yang membuat Vania melotot kearahnya
Bagaimana tidak? Tadi pagi Vania seperti anak kecil yang selalu merengek kepada Varel agar Varel bangun, bahkan dirinya selalu mencium dan memeluk Varel entah itu hormon kehamilan atau apa
Vania benar-benar malu akan apa yang dilakukannya tadi membuat tawa Varel pecah karena melihat wajah memerah istrinya
"Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu memerah?"
tanya Varel disela-sela gelak tawanya
"Tidak apa-apa"
jawab Vania pelan
"Kau tau? Tadi pagi ada wanita yang merengek padaku, memintaku agar segera bangun bahkan yang paling kuingat bahwa wanita itu mengatakan bahwa bayi kembar merindukan Daddy nya"
Tawa Varel kembali pecah karena ia ingat betul bagaimana Vania selalu melontarkan kata-kata yang berurusan di ranjang agar Varel segera bangun
"Sayang, berhentilah"
"Apa? Aku kan hanya bercerita bahwa ada wanita yang rindu bermain denganku"
"Varel"
"Hahaha baiklah...Sini peluk aku lagi"
"Tidak mau"
"Yakin? Bukankah tadi ada yang ingin memberikan jatah setiap hari?"
Refleks Vania memukul keras lengan Varel karena berhasil membuatnya malu setengah mati
Setelah membujuk dengan berbagai cara akhirnya Vania mendekati sang suami dan memeluknya bahkan Varel memintanya untuk berbaring disebelahnya
"Sayang, bisa ku tanyakan sesuatu?"
__ADS_1
tanya Varel pelan saat Vania memainkan kancing bajunya
"Tentang Kak Andri?"
tebak Vania yang membuat Varel mengangguk pelan
"Tapi sebelumnya bisa kau berjanji?"
"Apa?"
"Izinkan aku untuk mendengar penjelasannya, aku akan mengajakmu mengunjunginya di kantor polisi saat kau sembuh"
"Baiklah. Jadi sekarang kau bisa menceritakannya?"
"Dulu, saat pesta kelulusan aku dikunci di gudang kosong belakang sekolah oleh beberapa orang yang tidak ku kenal karena mereka memakai topeng"
ucap Vania menghela nafas berat
"Jangan dilanjutkan jika kau masih belum siap"
Varel pun mencium punggung tangan istrinya membuat Vania tersenyum
"Mereka mengurungku sendirian selama beberapa menit ditempat yang gelap yang hanya mendapat pencahayaan dari luar. Lalu masuk seorang pria yang tidak kulihat wajahnya mendekatiku dan, dan merobek pakaianku hingga menyisakan tank top seperti Clara yang di gudang saat itu. Dia, dia mendekatiku dengan-"
"Sayang, berhentilah"
ucap Varel yang khawatir karena merasakan tangan istrinya gemetaran
"Dia, dia mendekatiku dengan tatapan nafsu, seperti seekor buaya yang mendapatkan mangsa, dan saat dia hendak mencium ku, aku berhasil menendangnya hingga terjatuh lalu aku berusaha berlari keluar dari gedung namun tidak berhasil karena dia menarik ku lalu menampar wajahku. Saat itu aku sempat melihat jaket yang dikenakannya, jaket itu milik Kak Andri dan aku sangat yakin itu hingga kesadaran ku berkurang dan aku tiba-tiba pingsan. Saat aku sadar, aku melihat Kak Andri berusaha melepaskan ikatan di tanganku dan aku benar-benar takut terhadapnya. Sejak itulah aku membenci Kak Andri walau pun belum mendengar penjelasannya"
"Apa kau mengenal baik pria yang kau sebut Andri?"
"Sangat baik, aku mengenalnya dengan Kakak kelas yang mau berteman denganku walaupun dia tau aku anak yatim piatu. Kak Andri sangat baik hingga aku tidak menyangka bahwa dirinya ingin memperkosaku"
lirih Vania pelan
"Apa yang terjadi pada Andri setelah itu?"
"Kak Andri tidak sempat membantu melepaskan ikatan ku karena Kak El dan Vandi datang dan memukul Kak Andri, sejak itulah Kak El dan Vandi mengasingkan Kak Andri di desa yang jauh dari kota ini entah dengan bantuan kekuasaan siapa"
"Daniel dan Vandi mengetahui hal ini?"
tanya Varel terkejut yang membuat Vania mengangguk pelan
"Karena melihatku yang sangat trauma sejak kejadian itu, Kak El dan Vandi berjanji untuk menyimpan rahasia itu hingga sekarang bahkan mereka menghapus semua akses agar tidak ada orang yang mengetahui hal itu"
"Pantas saja aku tidak mendapat laporan apapun tentang trauma yang kau alami selama ini"
"Kak El memintaku menjelaskan semua padamu dan mengajakmu untuk mendengar penjelasan dari Kak Andri karena saat di gudang Kak Andri datang dan berusaha menolong kami namun Jashon terlebih dahulu memukulinya"
"Kau siap bertemu dengannya dan mendengar penjelasannya?"
tanya Varel pelan yang membuat Vania tersenyum
"Aku sudah siap sayang, aku tidak takut lagi karena ada suamiku yang selalu bersama ku"
"Besok kita pergi ke kantor polisi"
"Tidak, tunggu kau pulih saja. Aku sudah berbicara pada pengawal mu yang ada disana untuk mengatakan pada Kak Andri bahwa aku akan menemuinya bersamamu saat kau sudah pulih total"
"Aku sudah sembuh, sayang"
"Setidaknya dengar saran dari dokter Hendra nanti, jika dia mengizinkan kita akan pergi namun jika dia tidak mengizinkan maka tunggu hingga kau sembuh baru kita mendatanginya"
"Hendra akan mengizinkannya"
"Tentu saja dokter Hendra akan mengizinkannya jika kau selalu mengancamnya"
ketus Vania yang membuat Varel terkekeh pelan.
*
*
*
__ADS_1