
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Varo berlari setelah mendengar kabar bahwa Papa Lyno pingsan di kamar mandi. Lelaki itu baru saja menyelesaikan perkuliahannya dan segera bergegas menuju ke rumah sakit dimana Opa nya dirawat.
"Aku akan segera kesana" ucap Varo saat sekretaris Papa Lyno meneleponnya.
"Hati-hati, Tuan Muda."
Panggilan pun terputus.
*****
Varo segera berlari menyusuri koridor rumah sakit hingga dirinya sampai di ruang IGD dan ternyata disana sudah ada Mama Kusuma, sekretaris Papa Lyno, dan Tian yang sedang menunggu dirinya.
Sebelum itu, perlu diketahui bahwa Tian dan Varo memang satu kampus. Namun, saat itu Tian berhalangan hadir karena demam tinggi setelah mereka pulang dari jalan-jalan bersama teman-temannya.
"Oma, bagaimana keadaan Opa?" tanya Varo setelah merangkul Mama Kusuma dengan erat hingga membuat air mata wanita paruh baya tersebut keluar tanpa sadar.
Mama Kusuma hanya bisa menangis karena ia sendiri tidak tau apa yang terjadi dengan suaminya. Bahkan, dokter yang memeriksa suami nya pun belum keluar sejak tadi membuat para keluarga memikirkan hal buruk yang akan terjadi.
Setelah Mama Kusuma menjelaskan kejadian tersebut, Varo segera menghiburnya agar tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi. Varo meminta mereka berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
"Koko akan menelepon Daddy sebentar" ucap Varo setelah ia melihat Mama Kusuma sudah lumayan tenang.
Setelah meminta izin, Varo segera menelepon Varel yang ada di Indonesia untuk mengabari berita tersebut.
"Halo, Daddy? Maaf mengganggu tengah malam seperti ini" ucap Varo saat panggilan sedang berlangsung.
Varel yang berada di seberang sana cukup terkejut melihat panggilan dari anaknya karena di Indonesia memang sudah malam.
"Ada apa, Son? Koko tidak akan menelepon tengah malam seperti ini jika bukan hal yang penting.
"Opa tidak sadarkan diri di kamar mandi dan dibawa ke rumah sakit."
"Apa?!"
"Semua sudah di urus disini jadi Daddy dan Mommy tidak perlu khawatir. Koko akan mengabari jika sudah berbicara dengan dokternya."
Varel cukup lega mendengar hal itu namun tetap saja istrinya tidak akan tenang malam ini.
__ADS_1
"Sudah mengabari Papa?"
"Belum. Setelah ini Koko akan menelepon Papa."
"Tidak, biarkan Daddy saja yang menelepon Papa. Koko urus semuanya di sana dan jangan lupa kabari Daddy jika terjadi sesuatu."
Setelah mengatakan hal itu, Varel segera memutuskan panggilan agar ia segera memberitahukan kabar tersebut kepada Daniel.
Tak butuh waktu lama bagi Varel menelpon iparnya tersebut.
"Ada apa?"
"Varo baru saja menghubungi ku dan mengatakan bahwa Papa sedang berada di rumah sakit. Jangan khawatir, semuanya pasti baik-baik saja. Varo akan menghubungi kembali jika sudah berbicara dengan dokternya."
Daniel cukup terkejut mendengarnya mengingat baru saja kemarin rasanya Papa Lyno berbicara dengan Xavier di telepon dan meminta cucunya tersebut untuk berkunjung ke Amerika.
"Apa yang terjadi?"
"Varo tidak menjelaskan lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Papa tidak sadarkan diri di kamar mandi."
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Pasti."
*****
Varel tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala istrinya. Ia tau jika Vania tidak akan bisa tenang setelah mendengar kabar ini, jadi sebagai suami yang baik walaupun menyebalkan, Varel ingin menenangkan istrinya.
"Sayang, jangan panik dan berdoa saja karena Papa pasti akan baik-baik saja" ucap Varel memberi ketenangan kepada sang istri.
"A-apa yang terjadi pada Papa? Astaga, bukankah Papa kemarin baik-baik saja? Papa bahkan menghubungi ku dan mengirimkan foto Koko yang sedang lahap memakan kue buatannya."
Vania tak tahan lagi, air matanya bahkan tanpa ia sadari sudah keluar membasahi wajahnya. Rasanya ia benar-benar takut jika harus kehilangan untuk yang kesekian kalinya.
"Sayang, tenanglah. Papa pasti akan baik-baik saja. Bukankah Papa adalah Papa yang sangat hebat? Jangan khawatir dan tidurlah sekarang. Aku akan membangunkan mu jika terjadi sesuatu."
Akhirnya, setelah mendengar ucapan sang suami, Vania pun segera tidur dan berharap ketika ia bangun besoknya akan ada kabar baik yang menunggu.
*****
Suasana di rumah sakit benar-benar kacau, terlebih ketika dokter yang baru saja keluar mengatakan kalimat yang tidak pernah disangka sebelumnya.
Terdengar suara tangisan, teriakan, bahkan helaan nafas berat ketika semua hal yang tidak pernah dibayangkan benar-benar terjadi.
"Saya meminta maaf yang sebenar-benarnya, pasien atas nama Tuan Lyno tidak bisa diselamatkan. Pada pukul 14.39 waktu setempat, pasien dinyatakan meninggal dunia."
__ADS_1
Deg.
Seakan seluruh dunia nya hancur, semua orang yang mendengar ucapan dokter pun tidak tau harus bereaksi apa. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa siang ini, mereka akan kehilangan satu sosok yang begitu berarti.
"A-apa..? Suami ku..? Tidak, tolong katakan bahwa itu semua bohong!"
Varo segera menahan tubuh Mama Kusuma yang memberontak ketika mendengar kabar buruk yang terjadi pada suaminya.
"Oma.. tolong tenanglah.."
"Tidak.. suami ku.. tolong katakan bahwa semua itu adalah bohong.. tidak.. tolong suami ku.."
Air mata mulai jatuh membasahi wajah tampan Varo. Hatinya benar-benar sakit ketika mendengar kabar bahwa Opa yang selama ini sangat menyayanginya sudah tidak ada lagi. Terlebih ketika mendengar teriakan Mama Kusuma yang tidak menerima berita tersebut membuat hati Varo semakin sakit.
"Tolong kabarkan kepada seluruh keluarga yang ada di Indonesia. Setelah ini, kita akan terbang ke Indonesia" ucap Varo meminta bantuan kepada sekretaris Papa Lyno dan Tian.
"Biarkan aku saja yang mengurusnya, kau harus menemani Oma" ucap Tian ketika Varo hendak menyelesaikan semuanya sendiri.
Varo menggeleng pelan. "Oma, izinkan aku untuk membantu bersiap-siap mengantarkan Opa. Pak Hugo, tolong kirimkan orang yang akan menemani Oma sementara aku mengurus Opa."
Tak perlu diberi perintah dua kali, Pak Hugo selaku sekretaris pribadi Papa Lyno pun segera memerintahkan orang agar menemani Mama Kusuma selama Varo dan Tian mengurus semuanya.
*****
Indonesia, 01.31 waktu setempat
Varel terkejut ketika mendengar ponselnya berdering menandakan panggilan masuk dari Tian, sahabat Varo yang juga sedang menempuh pendidikan di Amerika.
Jantung Varel berpacu lebih cepat dari biasanya mengingat sekarang sudah larut malam dan Tian menghubunginya tiba-tiba membuatnya berpikir bahwa sesuatu telah terjadi.
"Selamat malam, Om. Maaf jika menelepon malam-malam begini, aku membawakan berita buruk. Maaf, Opa Lyno sudah tidak ada.."
Deg.
Hampir saja Varel kehilangan keseimbangan ketika mendengar kabar buruk yang dibawakan oleh Tian.
"Apa yang terjadi?"
"Opa Lyno menderita penyakit jantung dan sudah ia sembunyikan selama kurang lebih lima tahun."
Deg.
Lagi-lagi, Varel baru mengetahui fakta itu.
*
__ADS_1
*
*