Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Teror?


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Lista tidak berani berbicara langsung karena ia tau bahwa kau sangat marah padanya."


Varel menghela nafas berat sebelum membuka suara. "Aku tidak marah, Sayang. Hanya saja cukup kesal melihatnya yang tidak mengerti Mommy nya yang lelah."


"Aku tau, maka dari itu aku tidak ikut campur ketika kau menegurnya. Namun, ini sudah cukup lama dan kalian masih saling berdiam diri" ucap Vania pelan.


Varel terdiam sebentar lalu membuka suara. "Baiklah, malam ini aku akan mengajaknya berbicara" ucap Varel tersenyum tipis.


Vania yang mendengarnya sangat senang karena ia berhasil menyatukan kembali suami dan anak perempuannya yang sempat tidak saling bertegur sapa selama ini.


"Terima kasih, Sayang" ucap Vania tersenyum.


Cup.


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu karena kau kembali mengingatkan ku tentang hal itu" ucap Varel yang membuat Vania terkekeh pelan.


"Aku tidak menerima ucapan terima kasih kecuali diganti dengan bakso yang ada di taman depan" ucap Vania tertawa.


"Sayang, kau mengidam? Bagaimana bisa? Aku belum memberikan bibit ku" ucap Varel mengerutkan keningnya heran.


Plak


"Varel!" ketus Vania dengan kesalnya.


Bukannya meminta maaf, sang suami malah semakin tertawa kencang apalagi melihat raut wajah istrinya yang sudah marah.


"Astaga, bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang mesum?" gumam Vania heran.


*****


Ketika hendak masuk ke kantor, langkah Varel terhenti saat melihat wanita yang ia kenal berdiri di halaman kantor seolah sedang menunggunya.


Sekretaris Dim yang juga melihatnya pun langsung maju mendekat. "Maaf, apa yang sedang anda lakukan?" tanya Sekretaris Dim dengan wajah dinginnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Sekretaris Dim, wanita itu malah melangkah mendekati Varel.


"Hi babe, we meet again" ucapnya seraya menjulurkan tangan seolah ingin berkenalan.


Varel hanya menatapnya dengan tatapan penuh arti seolah tatapannya mengatakan bahwa "aku tidak mengenal mu, jadi apa yang sedang kau lakukan sekarang?" kira-kira begitulah tatapan Varel.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama, Varel segera masuk ke dalam kantor diikuti oleh Sekretaris Dim dibelakangnya tanpa memperdulikan wanita yang menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Let's see how long you pretend you don't know me" ucap wanita itu tersenyum tipis.


*****


Varel dan Sekretaris Dim yang sudah sampai di ruangan Presdir pun sama-sama saling diam dengan memikirkan hal yang sama. Apa yang dilakukan oleh saudara kembar Dinda di halaman kantor Varel? Untuk apa ia jauh-jauh kemari jika tidak menahan Varel pergi? Apa yang ia rencanakan?


"Kau memikirkan hal yang sama, Dim?" tanya Varel pelan.


Sekretaris Dim berdehem. "Saya akan mencari tau apa yang direncanakan olehnya, Tuan Muda" jawab Sekretaris Dim singkat.


Varel diam, ia bahkan tidak memikirkan apa yang terjadi padanya. Ia hanya takut jika saudara kembar Dinda malah berusaha untuk menghancurkan keluarganya, istri dan anak-anaknya.


"Apa yang ia inginkan sekarang?" gumam Varel pelan seraya berpikir keras.


Sekretaris Dim yang saat itu mengetahui bahwa majikannya sedang khawatir, segera menelepon Dion untuk memerintahkannya mencari tau gerak gerik saudara kembar Dinda.


Sebenarnya, Sekretaris Dim ingin menelepon Bram karena ia lah tangan kiri Varel atau yang bertanggung jawab pada geng mafia yang Varel kelola, namun karena Bram sedang mempersiapkan pernikahannya, Sekretaris Dim memilih untuk menelepon Dion yang juga menjadi kepercayaannya.


"Cari tau semua tentang saudara kembar Dinda" ucap Sekretaris Dim saat panggilan sedang berlangsung.


"Baik, Tuan. Laporan apa yang ingin Tuan Dimas minta secepatnya?"


"Terutama yang menyangkut kehidupan Tuan Muda."


Panggilan pun terputus.


Ketika menyadari istrinya yang ada di rumah, dengan segera Varel mengambil ponselnya dan menelepon sang istri.


"Ada apa, Sayang?" tanya Vania heran ketika Varel yang baru saja pamit ke kantor tiba-tiba meneleponnya.


"Kau dimana sekarang?"


"Aku sedang dirumah. Jika ingin keluar pun aku akan meminta izin" ucap Vania heran.


Varel akhirnya bisa bernafas lega. "Jangan kemana-mana sekarang. Jangan keluar dari halaman rumah."


"Apa ada masalah?" tanya Vania mengerutkan keningnya.


"Aku akan bercerita nanti, Sayang."


Varel pun segera memutuskan panggilan dan kembali meminta Sekretaris Dim untuk menelepon seseorang.


"Pak Alex, tolong awasi mobil Pak Adi selama beberapa hari ke depan."


Ah, ternyata Sekretaris Dim sedang menelepon Pak Alex yang diketahui sebagai kepala pengawal yang selalu turun tangan untuk mengawasi keluarga Varel.

__ADS_1


Tanpa diperintahkan dua kali, Pak Alex segera mengerahkan beberapa pengawal untuk langsung menuju ke sekolah Varo dan Lista agar bisa mengawasi mobil Pak Adi.


Sebenarnya, para pengawal bertanya-tanya tentang apa yang terjadi sekarang karena semenjak Vania kembali dari Amerika saat itu, rumah tangga Tuan Muda dan Nona Muda mereka baik-baik saja. Namun ternyata, sepertinya ada masalah yang serius sehingga mereka harus mengawasi anak-anak Tuan Muda tersebut.


*****


Saat ini Vania sedang berada di dapur membuatkan camilan untuk anak-anaknya sedangkan baby Al dan El sedang bersama Mama Melinda dan Nike yang saat itu sedang libur karena kelas 12 melaksanakan ujian kelulusan.


Baru saja rasanya ia memasukkan adonan camilan ke oven, tiba-tiba Clara meneleponnya.


"Van, bisakah kau kemari sebentar? Ada yang aneh dengan laporan penjualan kita" ucap Clara dengan suara yang khawatir saat panggilan sedang berlangsung.


"Baiklah aku akan kesana sekarang."


Dengan segera, Vania bersiap-siap untuk pergi ke restoran setelah memberitahukan kepada Mama mertuanya. Tak lupa juga untuk mengabari sang suami.


❤️


Sayang, aku akan pergi ke restoran sebentar untuk memeriksa laporan. Aku tidak akan lama.-Vania


*****


Beberapa saat kemudian, mobil Vania pun sudah terparkir rapi di halaman restoran dengan pemiliknya yang segera masuk dan bertemu dengan Clara.


"Apa ada masalah?" tanya Vania ketika ia sudah bertemu dengan sahabatnya itu.


Clara memberikan padanya beberapa berkas. "Ada yang aneh dengan laporan penjualan nya. Ini laporan yang aku pegang dan ini laporan yang sudah kau periksa. Lihat, benar-benar berbeda" ucap Clara heran.


Benar yang dikatakan Clara bahwa ada selisih yang sangat banyak dalam laporan tersebut padahal sebelumnya ketika mereka memeriksanya, tidak ada yang aneh.


"Apa yang terjadi? Apa ada yang masuk ke ruangan ku selama ini?" tanya Vania seraya tangannya membolak-balikkan berkas.


Clara menggeleng pelan. "Tidak ada orang lain selain aku."


"Sepertinya kita harus memeriksa cctv."


Lagi-lagi Clara menggeleng pelan. "Anehnya, cctv tidak merekam siapapun yang masuk. Aku benar-benar curiga jika ada yang mengganti laporan itu."


Vania tidak tau harus bagaimana karena ini pertama kalinya menghadapi situasi seperti ini.


"Sebentar, aku akan mengeluarkan beberapa berkas" ucap Vania yang langsung berjalan menuju lemari.


Saat sedang membuka lemari, Vania benar-benar terkejut melihat lemari berkasnya yang penuh dengan foto-foto kebersamaan Varel dan Dinda.


"Astaga!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2