Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Pecat Mereka


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Ruangan Presdir


"Mengapa kau lama sekali hah?"


ketus Varel saat melihat Lucky baru saja masuk kedalam ruangannya bersama sekretaris Dim


"Hei mengapa kau memarahiku? Salahkan jalanan sana yang macet parah"


ucap Lucky tak kalah ketusnya


"Aku bahkan tidak jadi menjemput istriku"


"Wah aku sangat ingin bertemu istrimu"


"Tidak baik bertemu istri orang"


ketus Varel dengan kesalnya


"Hei aku hanya ingin bertemu dan berkenalan dengan istri sahabatku. Apakah salah?"


"Tentu saja salah bagiku"


"Apa kau takut istrimu tergoda melihat ketampanan ku?"


"Cih sepertinya hanya mbak Monny yang menyukaimu"


"Berhentilah membicarakan perempuan jadi-jadian itu"


ketus Lucky kesal


Mbak Monny adalah pemilik butik terkenal milik keluarga Fernandez, seorang pria yang mengubah dirinya menjadi perempuan tersebut selalu menggoda teman-teman Varel termasuk Lucky yang selalu di godanya saat pertama kali Lucky mencari pakaian formal untuk acara pelantikan Presdir Fernandez Group di butiknya


"Coba kau jodohkan saja mbak Monny dengan Dimas"


"Kau sudah gila? Dimas sudah memiliki kekasih, memangnya dia sepertimu bule yang semakin tua dan tidak memiliki kekasih?"


"Rel kau menyakiti lubuk hatiku yang paling dalam"


ucap Lucky dengan ekspresi sedih yang dibuat-buatnya


"Dasar bodoh"


ketus Varel yang membuat Lucky tak bisa menahan tawa hingga ruangan presdir tersebut penuh dengan gelak tawa.


*****


"Kak El maaf jika menunggu lama"


"Tidak masalah sayang. Apa kau sudah siap?"


"Sudah"


ucap Vania tersenyum seraya menenteng bekal makanan untuk suaminya


"Varel benar-benar terlihat seperti ibu hamil yang sedang mengidam"


ucap Daniel yang membuat Vania terkekeh pelan


"Mungkin memang benar dia sedang hamil kak"


"Hei bagaimana bisa seorang pria hamil?"


"Tidak ada yang tidak mungkin"


jawab Vania santai lalu tiba-tiba keduanya saling tatap dan beberapa detik kemudian terdengarlah gelak tawa memenuhi dapur.


*****


Gedung Fernandez Group

__ADS_1


"Kak, aku takut keluar"


"Apa yang kau takutkan Vania?"


"Aku tidak ingin ada berita simpang siur nanti yang akan membuat nama Varel tercoreng"


"Maksudmu bagaimana?"


"Kak El, kau lihat kan berita tentang putri Airlangga dan berita Varel yang sudah menikah masih menjadi trending, lalu bagaimana jika wartawan melihatku bertemu dengan Varel? Seperti yang dikatakan Kasih, orang-orang akan mengira ku sebagai orang ketiga antara Varel dan istrinya karena selama ini Varel tak pernah memberitahukan siapa istrinya"


lirih Vania pelan yang membuat Daniel terkekeh mendengarnya


"Jadi adik perempuanku ini terpengaruh mendengar ucapan Nona Kasih? Hei dengarkan kak El, semuanya akan baik-baik saja. Jika ada berita seperti itu dan Varel tidak meng klarifikasikan nya, kak El yang akan meng klarifikasikan nya dan akan kakak pastikan tidak akan ada berita yang simpang siur dengan membuat namamu bahkan nama Varel tercoreng"


"Ta-tapi kak, aku benar-benar takut"


"Percayalah kepada kak El. Kakak pastikan kau tidak akan terluka"


"Ba-baiklah"


jawab Vania pelan lalu keluar dari mobil diikuti Daniel yang berjalan disebelahnya


Baru saja mereka masuk kedalam gedung tiba-tiba Daniel merasakan bahwa ponselnya tertinggal di mobil dan mau tidak mau ia harus kembali untuk mengambilnya karena tidak ada asisten pribadinya yang bisa ia suruh


"Pergi ke bagian resepsionis dan minta petunjuk ke ruangan presdir. Kakak tidak akan lama"


"Kak El, sebaiknya aku menunggu kakak saja"


"Kau ingin suamimu mati kelaparan?"


"Astaga kak El"


ucap Vania mengerucutkan bibirnya lalu berjalan menuju bagian resepsionis dengan menenteng bekal makanan


"Permisi. Bisakah saya meminta tolong tunjukkan dimana ruangan Presdir?"


tanya Vania kepada dua orang resepsionis yang menatapnya dari atas hingga bawah


"Anda perlu apa dengan Tuan Muda?"


"Saya ada janji dengannya"


"Maaf Tuan Muda kami sedang sibuk dan tidak bisa diganggu terlebih oleh wanita tidak jelas seperti anda"


"Tapi saya harus bertemu dengannya sekarang. Bisakah ditunjukkan dimana ruangannya?"


"Anda tidak punya telinga? Saya bilang Tuan Muda kami sedang sibuk"


"Ehm bisakah saya menitipkan ini untuknya?"


"Tidak"


ucap salah satu resepsionis lalu merebut paksa bekal tersebut hingga jatuh ke lantai


"Astaga"


ucap Vania lalu menunduk untuk mengambil bekal yang berserakan dilantai


"APA YANG KALIAN LAKUKAN??!"


Tiba-tiba suara berat Varel terdengar di lobby


"Brengsek!!! Bagaimana bisa kalian membiarkan istriku menunduk membersihkan lantai hah??"


teriak Varel lalu menarik lembut tangan Vania agar berdiri disebelahnya


"I-istri??!!"


ucap kedua perempuan resepsionis tersebut gugup


"Ya. Perlu kalian ketahui bahwa yang berhadapan dengan kalian ini adalah istriku, Nona Muda kalian, Nyonya Fernandez"


ucap Varel penuh penekanan


Plakkk...Plakkk...

__ADS_1


Sekretaris Dim pun maju dan menampar wajah mulus kedua perempuan tersebut dan mendorongnya agar mereka berlutut dan memohon dihadapan Varel dan Vania


"Astaga"


ucap Vania pelan seraya menutup mata dan bersembunyi dibelakang tubuh Varel saat melihat sekretaris Dim menampar wajah mereka tanpa ampun


"Sayang berhentilah"


bisik Vania pelan yang membuat Varel merangkul pinggangnya


"Ampuni kami Nona Muda, kami benar-benar tidak mengetahui bahwa anda adalah istri dari Tuan Muda kami.. Tolong maafkan kami Nona Muda.. Kami benar-benar menyesal"


ucap kedua perempuan malang tersebut


"Pecat mereka"


Hanya dua kata yang keluar dari mulut si Tuan Muda Varel bisa membuat kedua perempuan malang tersebut tidak memiliki pekerjaan di mana pun


"Tuan Muda tolong ampuni kami. Kami benar-benar menyesal"


"Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti istriku hidup dengan tenang. Itu juga berlaku untuk semua karyawan disini. Ini Nona Muda kalian, Evivania Amanda Airlangga Fernandez"


ucap Varel dengan tegas sedangkan Vania hanya menunduk karena tak tau apa yang harus ia lakukan


Ini benar-benar gila. Aku tidak dendam dengan mereka dan aku paham jika mereka tidak mengenalku. Tapi Varel? Benar-benar gila bahkan memecat mereka tanpa ampun.-Vania


"Pergilah dan jangan pernah menampakkan diri kalian lagi dihadapan Tuan Muda dan Nona Muda"


ucap sekretaris Dim dengan tegasnya membuat kedua perempuan tersebut hanya bisa menerima nasib untuk kembali ke rumah dan memulai hidup tanpa bisa menemukan pekerjaan di mana pun


"Sayang bisakah kau tarik ucapan mu? Kasihan sekali mereka"


ucap Vania seraya mengelus pelan lengan Varel


"Untuk apa kutarik ucapan ku? Salah mereka jika mereka berani mengusik milikku"


"Aku tidak marah dan sakit hati, maklum saja karena mereka tidak mengenalku"


ucap Vania yang berusaha memberikan pengertian kepada sang suami


"Bahkan jika itu orang lain pun mereka harus bersikap sopan sayang"


ucap Varel yang juga berusaha memberikan pengertian kepada Vania bahwa yang dilakukannya tadi tidak salah


"Kasihan sekali mereka sayang aku tau kau pasti nanti mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan"


"Jika kau mengkhawatirkan keuangan mereka, aku bisa saja memberikan gaji mereka lima kali lipat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi aku tidak bisa memberikan mereka pekerjaan lagi"


"Astaga, berhentilah untuk dendam sayang"


"Aku tidak dendam, hanya saja aku kesal"


"Huh terserah kau saja, benar-benar keras kepala. Bagaimana dengan bekalmu? Maafkan aku yang tidak sengaja menumpahkannya"


"Tidak masalah. Ayo keruangan ku"


"Dan kau ingin meninggalkanku sendirian disini Tuan Muda?"


Tiba-tiba Lucky berjalan mendekat


"Astaga aku bahkan melupakan bule tua ini"


ketus Varel menatap Lucky dengan tajam


"Hahaha...Aku pulang saja karena tidak mungkin aku mengganggu sepasang suami istri"


"Baik pulanglah dan jangan kembali"


ketus Varel dengan kesal lalu mengajak Vania untuk berjalan menuju lift khusus ke lantai atas ruangan Presdir.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2