Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Surat Perjanjian


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Kamar Utama


"Sayang, kau sudah pulang?"


"Untuk apa aku di rumah jika tidak pulang"


ketus Varel kesal


Huh selalu saja salah.-Vania


"Aku akan menyiapkan air mandi"


Vania hendak berjalan menuju kamar mandi namun Varel menahan langkahnya


"Ayo mandi bersama"


"Tap-"


"Selama di rumah sakit aku selalu berpuasa"


ucap Varel penuh penekanan membuat Vania malu


"Apa yang membuatmu malu?"


bisik Varel tepat di telinganya


"Sayang, aku akan memandikan Yeontan dahulu"


"Tidak, kau harus memandikan bayi besar mu ini"


ucap Varel tersenyum penuh arti lalu menarik Vania menuju kamar mandi.


*****


Astaga dia seperti singa yang selalu siap menerkam mangsanya. Aku bahkan tidak bisa berjalan karenanya.-Vania


"Sa-sayang kau mau apa?"


tanya Vania saat Varel mendekatinya


"Aku akan membantumu memasang pakaian"


"A-aku bisa sendiri sayang"


"Jangan membantahku"


Lalu dengan telaten Varel membantu Vania memasang pakaian membuat Vania tersenyum kecil melihatnya


Ya Tuhan aku sangat bersyukur hidupku ditemani seorang suami sepertinya. Walaupun dia sering tidak bisa mengontrol emosi, tapi dia sangat baik terhadapku.-Vania


"Apa masih sakit?"


tanya Varel yang berjongkok dihadapan sang istri


"Aku baik-baik saja"


ucap Vania tersenyum kecil


"Semoga cepat tumbuh kehidupan baru ya"


ucap Varel mengelus pelan perut rata Vania lalu memeluknya erat


Vania pun mengelus pucuk kepala sang suami dengan lembut tanpa menyadari air mata mengalir diwajahnya


"Hei kau kenapa?"


tanya Varel khawatir saat melihat Vania terisak


"A-aku tidak apa-apa hanya saja aku sangat bersyukur bisa hidup bersamamu, kau sangat baik terhadapku"


lirih Vania menunduk


"Kau sangat bersyukur lalu mengapa menangis?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Ini air mata bahagia sayang"


ucap Vania tersenyum kecil


"Huh aku tidak bisa membedakannya.


Oh ya kau tunggu disini sebentar dan jangan kemana-mana"


ucap Varel lalu melangkah pergi keluar kamar meninggalkan Vania yang menatapnya heran


Apalagi yang direncanakannya? Mau kemana dia? Huh terserah saja.-Vania


Tak berapa lama Varel pun kembali membawa sebuah amplop berwarna cokelat


"Bukalah"


"I-ini apa sayang?"


"Bacalah"


Apa? Ini surat perjanjian? Untuk apa dia memberitahukannya kepadaku? Apa dia mengingatkanku bahwa aku harus sadar diri?-Vania


Setelah Vania selesai membaca, Varel pun kembali mengambil surat tersebut lalu merobeknya membuat Vania sangat terkejut


"Me-mengapa kau merobeknya sayang?"


tanya Vania masih dengan raut wajah terkejut


"Aku tidak lagi mengikatmu dengan surat perjanjian karena mulai hari ini aku mengikatmu dengan perasaan"


Apa? Aku tidak mengerti maksudnya.-Vania


"A-aku tidak mengerti"


"Dasar bodoh begitu saja tidak mengerti"

__ADS_1


Makanya jelaskan Tuan Muda!!!-Vania


"Mulai hari ini bukan-bukan, mulai detik ini aku tidak lagi mengikatmu dengan perjanjian sialan itu dan kau jangan pernah pikirkan tentang perjanjian ini lagi.


Anggap saja tidak pernah ada"


"Ja-jadi apa aku boleh membantah mu mulai sekarang?"


tanya Vania menatapnya intens


"Coba saja jika berani"


jawab Varel santai


"Ayo"


"Kemana?"


"Mama dan yang lain sudah berada di meja makan"


"Tidak"


ucap Vania menggeleng cepat


"Hei kenapa? Apa kau ingin makan disini?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Tidak, aku kan sedang belajar membantah mu"


"Cepat sebelum aku memakan mu"


bentak Varel kesal


"Iya-iya"


jawab Vania malas


"Huh baru saja aku mencoba untuk membantahnya"


gumam Vania pelan yang membuat Varel tersenyum.


*****


Meja Makan


"Jadi ini yang namanya Nike?"


"I-iya Tuan Muda"


"Selamat datang di keluarga Fernandez ya, mulai hari ini kami adalah wali dan keluargamu"


ucap Varel tersenyum kecil


Astaga!! Apa aku tidak salah lihat? Tuan Muda Varel tersenyum kepadaku?-Nike


"I-iya Tuan Muda terima kasih"


"Namanya siapa?"


Om? Astaga apa wajahku terlalu tua hingga ia memanggilku om? Huh terserah kau saja anak kecil-Varel


"Kenalkan om Daddy nya Lista"


"Wah Daddy Lista ganteng ya"


ucap Echy yang membuat Varel tertawa


Pertama kali melihat Tuan Muda secara langsung aku sudah bisa melihat bahwa ia sangat lembut terhadap keluarganya tidak seperti yang dibicarakan oleh media.-Nike


Setelah selesai makan malam, tiba-tiba Nike mengumpul semua piring kotor dan hendak mencucinya namun suara Mama Melinda menghentikan aktivitasnya


"Nike apa yang kau lakukan?"


"Sa-saya akan mencucinya Nyonya"


"Tidak perlu sayang, kau kembalilah ke kamarmu untuk belajar dan aku ingatkan sekali lagi panggil aku Oma, kau sudah ku anggap seperti cucuku sendiri"


"Ra-rasanya saya tidak pantas memanggil Nyonya dengan sebutan seperti itu"


"Hei kenapa? Kami sekarang keluargamu dan aku tidak ingin kau membantah ucapan ku. Jadi mulai sekarang aku adalah Oma mu dan Oma Echy"


ucap Mama Melinda yang membuat Nike menunduk terisak


Vania pun berjalan mendekatinya lalu mengelus pucuk kepalanya dengan lembut


"Kami disini semuanya menyayangimu jadi jangan anggap bahwa kau tidak pantas karena kita adalah keluarga"


ucap Vania tersenyum


"Te-terima kasih"


lirih Nike disela-sela isak tangisnya


"Sayang aku akan ke ruang kerja sebentar dan untuk Nike kau pantas menerima semuanya, beradaptasi lah dengan keluarga barumu"


Setelah berpamitan Varel pun berjalan menuju ruang kerjanya


"Kembalilah ke kamar dan belajarlah, jangan memikirkan masalah pekerjaan disini karena perkerjaan mu hanya belajar"


ucap Mama Melinda tersenyum yang membuat Nike mau tidak mau mengangguk dan menurutinya


"Mom apa Lista boleh melihat-lihat kamar Echy?"


"Boleh tapi jangan ganggu kak Nike yang sedang belajar ya"


"Hore"


teriak Lista senang lalu Echy pun mengajaknya menuju ke kamar tamu, kamar yang akan ditempati oleh Echy dan kakaknya


"Vania apa kau sibuk?"


"Tidak Ma, Vania tidak melakukan apa-apa setelah ini"


"Ayo temani Mama menonton di ruang keluarga"


Vania dan Mama Melinda pun berjalan menuju ruang keluarga.

__ADS_1


*****


Ruang Keluarga


"Kau tau Mama sangat bosan di rumah apalagi kau kuliah dan Vandi jarang kembali"


"Maafkan Vania Ma"


"Hei tidak perlu minta maaf, Mama hanya merasa sepi saja saat anak dan menantu Mama jarang di rumah.


Apa kau tau dulu saat masih ada Papa mu, dia selalu membawa Mama berkunjung ke kantor cabang maupun kantor utama.


Di sana Mama tidak pernah bosan"


"Jika boleh tau mengapa Mama tidak berkunjung saja disaat Mama bosan?"


"Huh suamimu melarang Mama, untuk bekerja pun Varel tidak pernah setuju padahal Mama ingin sekali membantu para karyawan"


"Bagaimana jika Mama berkunjung saja ke salon Elin atau Mama juga bisa melihat-lihat butik Alea"


usul Vania yang membuat Mama Melinda senang


"Astaga Mama sampai melupakan kedua anak Mama itu, kau benar sayang Mama bisa mengunjungi mereka saat Mama bosan"


ucap Mama Melinda bersemangat


"Andai saja jika ada Bryan pasti rumah tidak akan pernah sepi"


"Bryan? Dia siapa Ma?"


"Bryan adik sepupu suamimu anak dari adik Mama yang menetap di Jerman, sekarang sepertinya sudah seumuran Nike, dia anak yang cerewet dan tidak bisa diam apalagi dia suka sekali membuat Varel marah.


Jika dia ada, Mama yakin rumah pasti akan ramai karena keributannya dan Varel"


ucap Mama Melinda terkekeh


"Apa Bryan tidak akur juga dengan Vandi Ma?"


"Tidak, bahkan ia dan Vandi selalu kompak untuk membuat Varel marah.


Mama masih ingat dulu saat baru saja selesai pesta Varel dilantik menjadi seorang Presdir Fernandez Group mereka mendorong Varel ke kolam berenang saat tengah malam membuat Varel marah besar, namun mereka tidak takut atau pun merasa bersalah malah mereka mentertawakan suamimu dan membuat Varel semakin marah.


Dan apa kau tau bagaimana akhirnya? Mereka bertiga mandi di kolam berenang tengah malam"


ucap Mama Melinda yang membuat Vania tertawa


"Astaga, Vania tidak bisa membayangkannya Ma, baru saja menjabat jadi Presdir tiba-tiba tengah malam harus mandi di kolam berenang"


ucap Vania disela-sela gelak tawanya


Tiba-tiba


"Apa yang lucu?"


tanya Varel yang baru saja keluar dari ruang kerja dan duduk tepat di sebelah istrinya


"Mama hanya bercerita tentang Bryan kepada istrimu"


jawab Mama Melinda tersenyum


"Astaga kenapa Mama menceritakan bocah tengik itu? Mendengar namanya saja membuatku naik darah"


ucap Varel kesal


"Hei jangan begitu, dia adalah adikmu"


"Adik terpaksa Ma"


jawab Varel malas


"Bagaimana jika dia tinggal bersama kita saja?"


"APA??!! Tidak, aku tidak mau Ma"


jawab Varel menggeleng cepat


"Kenapa sayang?"


tanya Vania menahan senyum


"Astaga kau tidak tau saja kelakuannya"


"Apa dia akan mendorongmu lagi ke kolam berenang?"


tanya Vania terkekeh


"Mama mengapa menceritakan hal itu?"


tanya Varel cemberut


"Saat Mama mengingat Bryan, Mama selalu mengingat kejadian itu"


jawab Mama Melinda terkekeh.


*****


Sedangkan disebuah tempat yang jauh di sana


"Astaga ada apa denganku? Mengapa aku menggigit lidahku sendiri?"


gumam seorang anak muda


"Ada apa Bry?"


"Aku tidak sengaja menggigit lidahku Mom, rasanya sakit sekali"


"Kata Grandma mu dulu jika kau tidak sengaja menggigit lidahmu, berarti sedang ada orang yang membicarakan mu"


"Siapa yang sedang membicarakan ku?"


gumam seorang anak muda tersebut seraya berpikir keras.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2