
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Setelah selesai dengan drama ice cream, Varel dan Vania pun sudah keluar dari kamar hotel dan hendak menuju ruang manajer yang ada di lantai 15
Saat masih di kamar, Vania selalu bertanya mengapa mereka harus kesana namun Varel benar-benar tidak ingin memberitahukan Vania dengan alasan sebagai kejutan
Memangnya ada apa di ruang manajer? Apa manajer hotel adalah orang yang mengenal Vania? Berbagai macam pertanyaan yang muncul di benak Vania tentang ruangan manajer hotel
Tak lama kemudian Varel dan Vania sudah berada di dalam ruangan manajer hotel yang menyambut mereka dengan sopan
"Selamat pagi Tuan dan Nona Muda"
Apa ini? Aku tidak mengenalnya. Lalu apa yang dikatakan Varel bahwa ada kejutan?-Vania
"Apa berkasnya sudah kau siapkan Pak?"
"Tentu Tuan Muda"
ucap manajer hotel lalu mengambil sebuah map dari dalam laci kerjanya
"Silahkan dilihat dulu Tuan"
Varel pun mulai membuka berkas tersebut sedangkan Vania hanya diam tanpa tau harus melakukan apa
Apa ini yang tidak ingin diberitahu olehnya? Hanya melihatnya memeriksa berkas?-Vania
"Sudah benar. Terima kasih Pak"
"Saya yang harusnya berterima kasih Tuan Muda"
"Oh iya sayang, ini manajer hotel namanya Pak Anang yang akan mengurus laporan hotel dan melaporkannya padamu"
ucap Varel yang membuat Vania benar-benar terkejut
"Apa maksudmu sayang?"
tanya Vania mengerutkan kening
"Hotel ini dibangun atas namamu. Hotel VA, Vania Andreas"
ucap Varel tersenyum lalu meminta sang istri untuk membaca berkas yang ada dihadapannya
"Astaga, kenapa bisa jadi namaku?"
"Hadiah ulang tahun"
jawab Varel singkat
"Sayang, aku tidak membutuhkannya. Lagian aku tidak mengerti tentang itu"
tolak Vania halus yang membuat Pak Anang benar-benar terkejut
Hadiah nyata yang sudah berwujud ditolak oleh seorang wanita, benar-benar kejadian yang langka. Mungkin itu yang ada di pikiran Pak Anang sekarang
"Ini sudah menjadi milikmu"
ucap Varel lembut yang membuat Vania mau tidak mau harus menerimanya
"Kami pamit pulang Pak"
"Baiklah Tuan Muda. Hati-hati di jalan"
ucap Pak Anang sopan
__ADS_1
Lalu Varel dan Vania pun keluar dari ruangan manajer hotel dengan membawa berkas penting ditangan Varel, berkas tentang pembangunan hotel atas nama Vania tersebut.
*****
Didalam Mobil
"Tumben sekali tidak membawa sekretaris Dim"
ucap Vania saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil
"Dimas sedang mengurus proyek sayang. Lagi pula aku sedang ingin berduaan dengan istriku"
ucap Varel mengedipkan sebelah matanya sedangkan Vania hanya tersenyum tipis
"Sayang, kita langsung pulang kan?"
tanya Vania lalu menatap suaminya
"Kita berhenti di suatu tempat dulu. Apa kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak ada"
jawab Vania pelan
"Ngomong-ngomong, kita belum melihat perkembangan si kembar bukan?"
"Bukankah kau malam tadi mengunjungi mereka?"
sindir Vania sinis yang membuat Varel seketika tertawa
Varel selalu memberikan alasan bahwa dirinya mengidam dan ingin mengunjungi bayi kembar membuat Vania menggeleng kepala mendengar alasan sang suami yang benar-benar tidak masuk akal
Bagaimana bisa melakukan hubungan suami istri disebut mengidam? Mungkin itu hanya versi Varel saja.
*****
Halaman Bakery E&A
"Kita tidak ke toko roti"
"Lalu?"
tanya Vania mengerutkan kening seraya tatapannya menatap sekitar dan terhenti saat ia melihat restoran yang belum dibuka
Restoran yang berada tepat di sebelah toko roti yang awalnya tempat yang ingin Vania bangun untuk dijadikan restoran
Namun sekarang hanya tinggal rencana yang tidak terselesaikan, ternyata ada orang lain yang lebih dahulu membangun restoran tersebut
Hal itu tentu saja membuat ibu hamil kembali bersedih, entah kenapa dirinya benar-benar kecewa melihat restoran yang belum dibuka tersebut
"Hei ada apa sayang?"
tanya Varel yang lagi-lagi berusaha menahan tawa karena melihat wajah sedih istrinya
"Siapa ya kira-kira pemilik restoran yang belum dibuka itu?"
tanya Vania pelan namun masih menatap menatap restoran
"Entahlah. Memangnya ada apa?"
"Hem tidak apa-apa"
jawab Vania tersenyum canggung
Kau bahkan tidak ingin mengatakan bahwa kau sedih karena ada orang yang lebih dahulu membangun restoran disana.-Varel
Varel pun keluar dari mobil dan membuka pintu untuk istrinya mempersilahkan istrinya untuk keluar seperti pengawal yang memperlakukan majikannya
__ADS_1
"Ceh, kau benar-benar seperti pengawal"
ujar Vania terkekeh pelan
Vania pun keluar dari mobil dan berjalan menuju toko roti namun langkahnya terhenti karena Varel menahan tangannya
"Ada apa sayang?"
"Kita tidak ke toko roti"
"Loh? Lalu kemana?"
tanya Vania heran
Varel pun mengajak Vania menuju halaman restoran yang belum dibuka membuat Vania mengerutkan kening
"Sayang, untuk apa kita disini? Restorannya belum buka"
"Bagaimana bisa buka? Kau saja belum meresmikannya"
"Apa maksudmu?"
"Restoran ini milikmu sayang"
ucap Varel tersenyum tipis sedangkan Vania sangat terkejut mendengarnya
"Sayang jangan bercanda. Ayo kita pergi dari sini"
"Hei aku serius. Ini ku bangun khusus untukmu"
Varel pun mengambil kunci dari saku celana nya dan mulai membuka restoran lalu ia mengajak sang istri untuk masuk ke dalam restoran yang di desain sedemikian rupa
"Astaga kau serius?"
"Ceh kau benar-benar meragukan kekayaan ku ya?"
"Tidak, bukan begitu sayang. Ini berlebihan, aku sungguh tidak membutuhkannya"
"Berhenti menolak semuanya. Kau istriku, Ibu dari anak-anakku, jadi aku berhak memberikan semuanya padamu"
"Astaga sayang. Sungguh ini terlalu berlebihan. Kau sudah memberikan hotel dan sekarang restoran? Aku benar-benar tidak menginginkannya"
"Tapi aku benar-benar memberikannya padamu. Ku izinkan kau bekerja di toko roti, hotel, dan restoran tapi tidak untuk pekerjaan yang berlebihan. Seperti di toko roti, di restoran dan hotel pun kau hanya mengecek laporan-laporan saja. Jangan khawatirkan karyawan, semua sudah ku urus. Clara akan menjadi manajer dan tangan kedua mu di restoran ini"
"Clara?"
"Ya, Clara teman kuliahmu. Dia bekerja paruh waktu untuk memenuhi kehidupan mereka jadi ku tawarkan untuk menjadi manajer di restoran mu dan dia menerimanya dengan senang hati"
"Tapi sayang-"
"Kau tidak ingin membuat Clara sedih bukan? Ia sudah sangat bahagia karena kehidupan mereka terjamin dengan dirinya yang bekerja di restoran mu"
Lagi-lagi Vania tak bisa menolak karena Varel benar-benar berusaha untuk memberikannya pengertian, tentu saja dengan bahasa yang membuat Vania harus menerimanya
Tanpa menjawab apa-apa, Vania pun langsung menatap sang suami lekat dan memeluknya erat
"Terima kasih"
lirih Vania pelan dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya
Ini baru kejutan kedua. Kau akan mendapatkan mimpi-mimpi mu.-Varel
Varel tidak menjawab ucapan terima kasih sang istri sehingga dirinya hanya membalas pelukan Vania dan mengelus pucuk kepalanya sesekali menciumnya
Terima kasih sayang. Terima kasih. Kau benar-benar membuatku tambah bersyukur memiliki mu dalam hidupku.-Vania
*
__ADS_1
*
*