
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Setelah membuka pintu dan mempersilahkan kakak iparnya untuk masuk ke dalam mobil, Vandi pun berjalan menuju kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya menuju kampus Vania
Disepanjang jalan tidak ada yang berbicara, semuanya sedang larut didalam pikiran masing-masing entah apa yang dipikirkan oleh Vandi dan Vania, hanya mereka yang tau
Hingga tiba-tiba Vania membuka suara
"Vandi?" panggilnya
"Iya kenapa kak? Ada apa?"
tanya Vandi seraya menatap sang kakak ipar sesekali
"Ehm untuk masalah tadi jangan katakan kepada siapa pun, kak Vania tidak menangis hanya kelilipan saja"
ucap Vania pelan namun tidak berani menatap ke arah Vandi
Hahaha...Astaga apa kak Vania benar-benar menganggap ku bodoh? Apa dia tidak tau bahwa aku bisa membedakan antara menangis dan kelilipan? Lucu sekali kakak ipar ku ini. Hem bagaimana jika aku mengerjai nya saja?-Vandi
"Vandi tidak pernah menanyakan hal itu"
ucap Vandi dingin yang membuat Vania menatapnya heran
"Astaga kau benar-benar sudah dewasa"
gumam Vania pelan seraya mengelus dada nya membuat Vandi sudah tak bisa menahan tawa hingga gelak tawa nya pecah memenuhi mobil.
*****
Kampus Vania
"Clara"
panggil Tesa saat melihat Clara, Daffa, dan Bimo sedang duduk di kantin
"Kenapa Tes?"
"Lo dicari orang, laki-laki"
"Laki-laki? Siapa?"
"Katanya lo, Daffa, dan Bimo ke parkiran dia nungguin"
"Cowok lo Ra?"
tanya Daffa menatap Clara
"Eh jangan ngadi-ngadi lo bambank"
ketus Clara kesal
"Dan lo tau itu siapa? Tuan Dimas Ra, sekretaris sekaligus asisten pribadi Tuan Muda Varel"
ucap Tesa bersemangat
"APA??!!"
ucap Clara, Daffa, dan Bimo bersamaan
"Ada hubungannya dengan Vania pasti"
bisik Bimo pelan
"Ada hal apa ya sampai Tuan Dimas kesini?"
"Kalo mau tau ya udah kita ke parkiran sekarang"
ucap Daffa yang hendak berjalan namun ucapan Clara menghentikan langkahnya
"Lo berdua gak takut? Tuan Dimas kan dingin mana muka nya nakutin lagi"
"Gue gak berani ngomong sama dia"
gumam Bimo pelan
"Eh iya juga ya apa lagi kalo kita ada salah kata, duh gue gak bisa bayangin"
ucap Daffa yang juga bergidik ngeri
"Tapi gue lebih takut kalo Tuan Dimas lama nungguin kita. Ayo ke parkiran sekarang"
ucap Clara yang hendak berdiri namun Daffa dan Bimo sama-sama sedang menatap nya
"Emang lo berani?"
tanya Bimo pelan
"Yang bilang gue berani siapa? Ya gue takut lah"
ketus Clara dengan wajah kesalnya membuat Daffa dan Bimo tak bisa menahan tawa
"Gemes banget sama Mak Lampir"
ucap Daffa disela-sela gelak tawa nya seraya mengacak rambut Clara.
*****
Parkiran Kampus
"Nona Clara?"
panggil seorang pria bertubuh tinggi yang berjalan mendekati Clara, Daffa, dan Bimo
__ADS_1
"Ada apa ya Tuan Dimas mencari kami?"
tanya Clara to the point membuat Daffa dan Bimo menatapnya tajam
"Tuan Muda ingin berbicara kepada kalian semua"
ucap sekretaris Dim sopan
"APA??!!"
ucap mereka bersamaan lalu beberapa detik kemudian baik Clara, Daffa dan Bimo pun menutup mulut karena sadar sudah keceplosan berbicara
"Mari ikuti saya".
*****
Saat ini Clara sedang berada di satu mobil dengan Tuan Muda sedangkan Daffa dan Bimo berada di depan mobil dengan sekretaris Dim yang berbicara dengan mereka
"Kau pasti mengenal istriku bukan?"
"I-istri?"
"Vania sahabat kalian adalah istri ku"
"A-apa? Astaga maafkan saya Tuan Muda"
ucap Clara menunduk sopan karena sadar bahwa dirinya lagi-lagi keceplosan
"Tidak masalah Nona Clara jangan terlalu takut aku tidak memakan daging manusia"
ucap Varel terkekeh pelan
Astaga begini kah pandangan yang dilihat Vania setiap hari? Bagaimana rasanya punya suami setampan Tuan Muda? Apa kondisi jantung Vania baik-baik saja?-Clara
"Aku ingin meminta bantuan mu Nona. Kau pasti tau bahwa istri ku hari ini sedang berulang tahun?"
"I-iya Tuan Muda"
jawab Clara menunduk sopan
"Hei santai saja Nona Clara aku serius tidak memakan daging manusia"
ucap Varel yang lagi-lagi menampilkan senyum manisnya membuat Clara seakan membeku melihatnya
"Nona Clara boleh kah aku meminta bantuan mu dan teman-teman mu?"
"Tentu Tuan Muda"
"Aku sudah menyiapkan kejutan untuk istri ku malam ini beberapa hari ini kami bertengkar karena masalah berita yang sedang trending, itu semua sebagian dari rencana ku. Aku hanya ingin agar kalian menjaga dan menghibur nya saja terlebih istri ku sedang hamil muda sekarang"
"A-apa? Va-vania hamil?"
"Ya istri ku sedang hamil sekarang. Mohon kerja sama nya Nona Clara, kalian pasti tau harus melakukan apa"
"Tentu Tuan Muda, sungguh kehormatan bagi kami"
"Terima kasih Tuan Muda"
ucap Clara berpamitan seraya keluar dari mobil lalu mendatangi Daffa dan Bimo yang sudah menunggu nya
"Astaga tampar gue Bim, tampar gue"
ucap Clara dengan suara meninggi seraya menepuk wajahnya
Pletakkk....
Dengan santai nya Bimo menjitak kepala Clara
"Eh bego lo ngapain malah jitak kepala gue?"
ketus Clara seraya memukul lengan Bimo
"Heh Mak Lampir, masih mending gue jitak lo dari pada gue nampar lo"
"Tapi sakit ******"
"Kan lo yang nyuruh"
"Ngapain lo turutin Bimo?!"
ketus Clara dengan kesalnya
"Tau ah ribet sama cewek disalahin mulu"
gumam Bimo pelan yang membuat Daffa terkekeh mendengarnya
"Udah ah yuk ke kelas"
ajak Daffa lalu mereka pun berjalan menuju kelas.
*****
Kelas
"Vania? Are you okay?"
tanya Clara saat melihat Vania sudah ada di kelas
"Hei gue gak kenapa-kenapa Clara sayang"
"Kita takut lo gantung diri di pohon cabe Van"
"Udah Van jangan di dengerin Bimo lagi sedeng"
"Lo serius gak kenapa-kenapa Van?"
tanya Daffa memastikan
__ADS_1
"Kalian liat kan? Gue masih hidup berarti gue gak gantung diri di pohon cabe atau pohon tomat"
ucap Vania terkekeh pelan
"Astaga"
gumam Daffa menepuk keningnya.
*****
Kelas pagi pun selesai, sekarang Vania dan teman-teman nya sedang bersiap-siap untuk pulang karena mereka hanya memiliki satu kelas hari ini
Daffa dan Bimo tidak bisa bersama-sama ke parkiran karena baru saja dipanggil untuk mengikuti rapat
"Kita duluan ya"
ucap Daffa dan Bimo pamit
"Lo berdua hati-hati dijalan"
"Iya Pak Bimo yang terhormat"
cibir Clara mendengus kesal
"Udah ah jangan kesal mulu sama Bimo, yuk ke parkiran"
ajak Vania lalu menggandeng lengan Clara.
*****
Parkiran Kampus
"Van, lo gak bawa mobil?"
"Eh iya tadi gak tau kenapa pengen aja di antar adik laki-laki gue"
"Oh ya? Ya udah gue temenin lo ya nungguin adik lo"
"Lo gak ada kerjaan lain Ra? Gue gak enak ngerepotin lo"
"Udah lah tenang aja"
ucap Clara tersenyum
"Ya udah gue mau kabarin adik gue dulu ya"
Saat hendak menelfon Vandi, tiba-tiba datang lah seorang pria bertubuh tinggi dengan pakaian yang Vania pastikan adalah seorang pengawal berjalan mendekati mereka
"Dengan Nona Clara?"
"Eh iya maaf Tuan siapa ya?"
"Nona, majikan kami ingin bertemu Nona. Bisa kah Nona ikut saya?"
"Majikan?"
"Nyonya Septia"
Apa? Itu kan nama Mama nya kak Reza. Kenapa dia nyari gue?-Clara
"Lo kenal sama Nyonya Septia Ra?"
tanya Vania pelan dan Clara pun mengangguk
"Ya udah lo ikut aja, gue juga udah mau balik kok"
"Van, lo gak kenapa-kenapa kalo gue tinggal?"
"Gak kok tenang aja"
"Ya udah gue duluan ya Van"
Setelah Clara pamit, Vania pun lupa untuk mengabari Vandi karena tatapannya terpaku dengan pedagang kaki lima di pinggir jalan yang berjualan rujak
Entah mengapa saat melihat rujak itu Vania sangat ingin sekali memakannya hingga ia pun berjalan mendekati penjual rujak
"Tidak ada kendaraan yang lewat bukan? Sebentar, mobil hitam itu kenapa ya? Kok mencurigakan? Entahlah"
gumam Vania pelan seraya menyeberang jalan
Namun mobil hitam yang sempat ia curigai melaju ke arahnya. Seakan terhipnotis, Vania pun tidak bisa menggerakkan kaki nya atau pun berlari menghindar, ia pun hanya bisa menutup mata hingga tiba-tiba ia merasakan bahwa tubuhnya ditarik oleh seseorang untuk menghindari mobil hitam yang seakan sengaja ingin menabraknya
Ya, orang itu adalah Vandi yang baru saja keluar dari mobil dan melihat Vania yang hendak tertabrak
Karena kehilangan keseimbangan, Vandi pun terjatuh dengan Vania yang berada di atasnya dan untung saja posisi Vania membelakangi Vandi sehingga saat terjatuh tidak mengenai perutnya
Namun tiba-tiba Vania tak sadarkan diri dengan darah yang yang mengalir dari kaki nya hingga membuat Vandi tersadar bahwa kandungan kakak iparnya sedang tidak baik-baik saja
Vandi pun berteriak meminta bantuan kepada orang-orang untuk membawa Vania menuju rumah sakit dan untung lah banyak orang yang menolongnya bahkan menelfon ambulance.
*****
"Bisakah kalian mengemudi dengan cepat? Nyawa Nona Muda sedang dipertaruhkan"
teriak Vandi kalap
"Kak Vania, kak sadarlah bertahanlah demi keponakan Vandi"
ucap Vandi seraya memegang tangan kakak iparnya
Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika ada sesuatu yang buruk terjadi kepada kak Vania dan keponakan ku.-Vandi
*
*
*
__ADS_1