
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Pagi hari yang cerah dengan cahaya matahari yang masuk ke ruangan membuat Vania mengerjap kan mata berkali-kali sebelum sepenuhnya sadar dari alam mimpi
"Morning"
ucap Varel menatap sang istri
Saat baru saja bangun tidur kau tetap terlihat cantik.-Varel
"Sayang"
ucap Vania terkejut saat melihat suaminya sudah bangun terlebih dahulu
Sial, mengapa dia selalu melihatku saat aku belum bangun?-Vania
"Kau sudah bangun?"
tanya Vania
"Kau tidak punya mata?"
tanya Varel menatapnya sinis
Huh aku hanya mencari topik pagi-pagi.-Vania
*
Mencari topik pembicaraan saja kau tidak bisa, sudah tau aku sudah bangun masih saja bertanya. Dasar istri aneh.-Varel
"Apa kau ingin membasuh tubuh?"
tanya Vania lalu duduk
"Hem"
"Aku siapkan dulu"
baru saja ia hendak turun namun Varel menarik tangannya hingga wajah mereka berdekatan dan dengan cepat Varel mencium bibir sang istri membuat Vania terkejut
Setelah beberapa menit, akhirnya Varel melepaskan ciuman tersebut
"Sayang kau membuatku terkejut"
ucap Vania cemberut
"Kenapa?"
tanya Varel terkekeh
"Kau selalu saja mencium ku tiba-tiba, bisa tidak jika sebelum mencium kau bertanya dulu?"
tanya Vania dengan polosnya
Apa-apaan dia? Masa aku harus mengatakan hei aku mau mencium mu apa boleh tidak?
Huh resiko ya punya istri polos-polos tapi ganas di ranjang hahaha...-Varel
"Apa aku boleh mencium mu?"
Varel pun bertanya dengan polosnya
"Ti-"
Cup.
Cup.
Cup.
Berkali-kali Varel mencium bibir Vania sebelum istrinya menjawab pertanyaannya
"Kau curang"
ucap Vania mendengus kesal
"Apa? Aku hanya mencium istriku, aku tadi sudah bertanya kan?"
jawab Varel dengan santainya
"Tapi aku belum menjawab sayang"
ucap Vania kesal
"Itu salahmu menjawab saja lama sekali"
ucap Varel tidak mau kalah
Apa? Lama katanya? Padahal setelah dia bertanya aku hendak menjawab, tapi dia saja yang lebih dulu bertindak cepat.-Vania
"Iya-iya, aku siapkan air dulu sayang"
Vania hendak turun namun lagi-lagi Varel menahan tangannya
"Berikan aku morning kiss"
ucap Varel memanyunkan bibirnya
Apa? Tadi dia bahkan berkali-kali mencium ku lalu sekarang minta morning kiss? Sepertinya aku harus mengantarkannya ke psikiater, dia mengalami gangguan jiwa.-Vania
"Tadi kan-"
"Itu aku yang mencium mu bukan kau"
dan lagi-lagi Varel memotong pembicaraan sebelum Vania selesai berbicara
Daripada aku berdebat dengannya lebih baik menurut saja agar dia tidak menahan ku terus.-Vania
Lalu Vania pun mencium singkat bibir Varel, namun Varel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menahan tengkuk sang istri agar Vania tidak bisa melepaskan ciuman itu
Karena saking kesalnya akhirnya Vania memberanikan diri untuk menggigit bibir bawah sang suami untuk kedua kalinya
"Mengapa kau selalu menggigitku?"
bentak Varel menatap Vania tajam
"Selalu? Rasanya baru dua kali"
gumam Vania pelan namun masih terdengar jelas di pendengaran Varel
"Kau-"
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dokter Hendra
__ADS_1
Terima kasih dok, kau menyelamatkan ku dari ceramah Tuan Muda.-Vania
"Kau selamat sekarang"
bisik Varel pelan penuh penekanan membuat Vania tersenyum kecil
"Apa aku tidak mengganggu?"
tanya dokter Hendra yang berjalan mendekati Varel
"Kau mengganggu saja, aku belum mendapat morning kiss"
ketus Varel kesal yang membuat Vania menunduk malu
Apa-apaan dia? Bicara dengan dokter saja begitu, ya walaupun aku tau bahwa mereka bersahabat tapi tidak perlu juga mengatakannya. Dasar Tuan mesum.-Vania
"Kau bisa lanjutkan nanti, aku akan memeriksa mu dahulu"
jawan dokter Hendra santai
Beberapa menit kemudian
"Kapan aku boleh pulang?"
tanya Varel mendengus kesal
"Hei kau belum boleh pulang, tunggu sampai tiga hari lagi"
"APA??!! Tidak-tidak, aku mau pulang sekarang"
"Tapi kau harus dirawat Varel"
"Kau ingin aku melemparkan mu ke desa terpencil?"
ancam Varel yang membuat dokter Hendra bergidik ngeri
"Tidak"
jawab dokter Hendra menggeleng cepat membuat Vania mengerutkan kening
Kenapa dia tidak mau? Di desa terpencil kan banyak sekali yang membutuhkan perawatan dan tim medis.-Vania
Seakan mengerti perubahan raut wajah Vania, dokter Hendra kembali berbicara
"Kakak ipar bukan maksudku menolak untuk bekerja di desa terpencil, namun jika suamimu yang menyuruhku ke sana, percayalah bahwa aku tidak akan pernah bisa kembali ke kota ini.
Suamimu benar-benar jahat"
ucap dokter Hendra dengan wajah memelas
"Hei mengapa kau mengadu ke istriku hah?"
ketus Varel menatapnya tajam
"Kau tau kakak ipar, dulu dia juga pernah melempar ku ke India karena aku menahannya selama seminggu di rumah sakit. Di sana aku bekerja keras untuk pasienku, aku merasa seperti artis Song Hye-kyo di Descendants of the Sun itu loh kakak ipar.
Baru satu bulan rasanya aku di sana suamimu kembali menarik ku dan memberikanku jabatan tinggi di rumah sakitnya ini"
ucap dokter Hendra menjelaskan
"Dasar pengadu"
gerutu Varel
"Sayang"
"Jadi bagaimana dok?"
tanya Vania menatap dokter Hendra
"Aku tidak bisa memberikannya izin pulang"
jawab dokter Hendra santai
"Baiklah, kau berangkat besok"
ucap Varel lalu mengambil ponselnya dan hendak menelfon seseorang
Huh dasar keras kepala sekali.-Vania
"Dokter bisa tidak jika Varel pulang hari ini tapi masih dalam perawatan?"
pertanyaan yang keluar dari mulut Vania menghentikan gerakan Varel yang hendak menelfon
"Kalau begitu bisa saja, setiap hari aku akan memantau nya"
ucap dokter Hendra ramah
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
bentak Varel kesal
"Karena kau tidak bertanya"
jawab dokter Hendra dengan santainya membuat Varel menahan amarah
"Sayang sudah"
ucap Vania mengelus lengan Varel
"Kalau begitu aku kembali dulu untuk mengurus kepulangan mu"
"Sayang bagaimana? Aku harus bertemu pelanggan pagi ini"
ucap Vania mengingatkan
"Oh iya nanti saja Hen, tunggu istriku kembali"
ucap Varel kepada dokter Hendra
"Baiklah"
ucap dokter Hendra lalu pamit pergi
Setelah kepergian dokter Hendra, Vania pun menuju kamar mandi menyiapkan air dan mulai membasuh tubuh suaminya sedangkan Varel terus-menerus menatap Vania
Sial, dia membuatku malu saja. Mengapa kau selalu menatapku?-Vania
*
Hahaha lihatlah wajahnya merona.-Varel
"Mengapa wajahmu merah?"
tanya Varel seraya mengelus pipi Vania
"Sayang diam lah sebentar, aku sedang membasuh tubuhmu"
__ADS_1
ucap Vania mendengus kesal saat tangan Varel menyentuh bibirnya
"Apa? Aku tidak melakukan apapun"
ucap Varel tak mau kalah
Beberapa menit kemudian, Vania juga telah selesai mandi dan hendak berpamitan kepada sang suami karena Tika, Rudi, dan Seto sudah menunggunya di cafe depan
"Awas saja jika kau terpesona dengannya"
ketus Varel kesal karena pelanggan yang akan Vania datangi adalah seorang pria
"Sayang, untuk apa aku terpesona dengannya jika suamiku saja adalah pria yang paling tampan"
ucap Vania tersenyum
"Jika dia menggoda mu katakan saja kau sedang hamil anak ke sebelas"
lagi-lagi Varel berbicara ketus
"Astaga sayang, aku tidak akan tergoda dengannya, aku hanya bekerja"
Apa-apaan dia? Aku saja belum bertemu dengan pelanggan itu dia sudah memarahiku habis-habisan.-Vania
"Aku pergi sekarang ya suami tampanku"
ucap Vania tersenyum lalu mencium tangan Varel
Setelah berpamitan, Vania pun keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Varel yang tersenyum sendiri.
*****
"Selamat pagi Tuan"
ucap Vania saat ia sedang mendatangi meja pelanggannya
"Tuan"
panggil Vania sedangkan pria itu hanya diam menatap Vania intens
"Tuan Revan"
panggil Rudi yang membuatnya terkejut
"Astaga maafkan saya, saya kira saya sudah meninggal"
ucap pria itu menunduk
"Meninggal?"
ulang Vania mengerutkan kening
"Karena saya melihat malaikat didepan saya"
ucap pria itu sedangkan Vania hanya tersenyum kecil menanggapinya
Apa? Berani sekali dia menggoda mba Vania, tidak tau saja bahwa mba Vania sudah menikah bahkan sudah memiliki anak. Ya tidak heran saja jika mba Vania sering digoda banyak pria namun mereka pasti akan berurusan dengan Tuan Muda.-Rudi
*
Pertama kali bertemu saja sudah berani menggoda. Dasar buaya darat.-Tika
"Apa anda Evivania putri dari pemilik Knipshon Group dan Airlangga Group?"
tanya pria itu membuat Vania mengangguk pelan
"Ya Tuhan beruntung sekali saya bertemu anda langsung, perkenalkan Nona saya dokter Revan, lulusan Oxford University, bekerja di rumah sakit VA&F lebih tepatnya milik Tuan Muda Varel, setelah ini saya masuk kerja makanya saya juga setuju jika bertemu disini, dan status saya jomblo tapi jika Nona membalas cinta saya status saja menjadi pacaran"
ucap dokter Revan menjelaskan panjang lebar
"Panggil saja Vania Tuan"
ucap Vania sopan
"Jadi begini Nona, saya ingin mengorder dekorasi pesta di toko anda"
"Maaf sebelumnya, manager saya sudah menjelaskan bahwa kami benar-benar tidak pernah menerima orderan dekorasi Tuan"
"Nona saya benar-benar ingin jika toko anda yang mendekorasi pesta ulang tahun keponakan saya, maka dari itu saya mohon dengan sangat agar Nona bisa menerima orderan ini"
"Maaf Tuan bagaimana jika dekorasi kami tidak memuaskan?"
"Saya percaya anda dan karyawan anda"
"Rudi, Seto bagaimana?"
"Kita ngikut mba aja"
"Tuan, kapan pesta tersebut berlangsung?"
"Minggu depan Nona"
"Anda ingin tema apa?"
"Saya tidak tau, yang pasti saya menyerahkan semua kepada Nona, keponakan saya perempuan berumur 6 tahun.
Pestanya akan diadakan di salah satu ruangan VIP di restoran bintang lima"
"Rudi, Seto apa kalian bisa membuat dekorasi untuk anak perempuan?"
"Kami tidak pernah mba, jika mba setuju kami bisa mencobanya dan untuk hasil kami masih meragukan"
"Tidak masalah, saya percaya kalian.
Jadi bagaimana Nona? Apa anda setuju?"
"Baiklah jika anda mempercayakan kami.
Jika tuan ingin memastikan lagi, bisa menghubungi nomor toko"
"Apa tidak bisa saya meminta nomor pribadi Nona?"
gumam dokter Revan pelan
"Maaf?"
"Eh tidak apa-apa Nona. Kalau begitu saya permisi dulu karena harus kembali bekerja.
Apa kita jalan bersama Nona? Kebetulan sekali kita kembali ke rumah sakit"
"Maaf Tuan saya harus mendiskusikan dengan karyawan saya"
"Baiklah semoga bertemu lagi".
*
*
__ADS_1
*