Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Terluka


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Dorrrrr


Dooorrrrrrr


Dua kali suara tembakan terdengar nyaring bersamaan dengan ambruknya Varel dipelukan Vania


"Sayang, sayang bangunlah"


ujar Vania dengan raut wajah khawatir


"Varel"


teriak semuanya bersamaan lalu berlari mendekati Varel yang sudah tak sadarkan diri di pelukan Vania


"Sial"


teriak Sebastian karena Jashon berhasil menembak Varel lalu menembak kepalanya sendiri


"Sayang, sayang"


panggil Vania dengan air mata yang membasahi wajahnya


"Vania, tenanglah sayang, ambulance akan segera kemari"


ucap Papa Lyno yang berusaha untuk tidak khawatir


"Brengsek kau"


teriak Sebastian menjadi-jadi lalu berlari mendekati Jashon dan menendangnya keras hingga Daniel dan sekretaris Dim menahannya


"Kau gila Bas? Dia sudah mati"


bentak Daniel yang menyadarkan Sebastian


"Aku tidak akan membiarkan seluruh keluarganya hidup tenang jika terjadi apa-apa dengan Varel"


ucap Sebastian bersumpah seraya menatap Jashon yang sudah tak bernyawa


"Sayang sekali dia menghabiskan nyawanya sebelum Varel membalas perbuatannya"


ucap Daniel pelan


Semua pengawal sudah beraksi bersama dengan polisi dan tim kesehatan yang baru saja tiba


Tim kesehatan membawa Varel yang tak sadarkan diri dengan luka tembak di punggungnya bersama dengan Clara dan Vania yang mendapatkan luka memar diwajahnya akibat tamparan keras Jashon, sedangkan Raja yang masih sesak nafas dalam pelukan Reza membawa mereka menuju rumah sakit yang ada di kota


"Nak, temani lah Adikmu"

__ADS_1


ucap Papa Lyno menepuk pelan bahu Daniel


"Pa, El tidak bisa meninggalkan para bajingan disini"


"Papa akan mengurusnya, pergilah bersama Vandi dan temani Vania, Adikmu membutuhkan mu"


Mau tak mau Daniel pergi bersama Vandi untuk menyusul rombongan Varel yang sudah berjalan cukup jauh


"Dim"


ucap Papa Lyno dingin


"Iya Tuan?"


"Perintahkan pihak kepolisian untuk membawa pria ini, katakan agar tim kesehatan bisa menanganinya sebelum menjelaskan apa yang terjadi"


Sekretaris Dim pun langsung memerintahkan kepala kepolisian untuk membawa Andri yang tak sadarkan diri dengan luka memar diwajahnya


Sedangkan Papa Lyno mendekati Daffa dan tak lupa meminta Sebastian untuk membawa Bimo dihadapannya


Buuuggghhhhhh


"Mengapa kau bisa menculik anakku?"


bentak Papa Lyno kepada Daffa yang hanya diam


Astaga, mertua Varel benar-benar mengerikan saat marah.-Sebastian


"Apa kau tidak mempunyai perasaan? Kau menculik wanita yang sedang hamil besar. Aku tidak akan memaafkan mu jika terjadi apa-apa dengan anak perempuanku dan cucu kembar ku"


"Saya mencintainya, Tuan"


lirih Daffa pelan seraya menatap Papa Lyno dengan tatapan sendu membuat Papa Lyno menghela nafas berat


"Kau sudah dibutakan oleh cinta. Aku mengerti bagaimana rasanya cintamu yang tak terbalaskan sehingga kau kalap dan melakukan apapun untuk bersama putriku. Tapi penculikan tetapkan perbuatan yang jahat dan kau harus menerima hukuman mu"


ucap Papa Lyno pelan sedangkan Daffa hanya diam tanpa berani menjawab apapun lagi


"Bas, minta kepolisian untuk membawa mereka. Biarkan Varel yang akan memberikan mereka hukuman yang layak"


ucap Papa Lyno menatap Sebastian lalu pergi


Para pengawal yang diutus pun langsung membawa paksa Daffa dan Bimo lalu menyerahkannya kepada pihak kepolisian, tak lupa juga para pengawal mengiring mereka hingga ke kantor polisi di kota


Sedangkan Jashon diurus oleh Bram sesuai perintah sekretaris Dim.


*****


Didalam Ambulance


"Sayang, sayang bangunlah aku disini bersamamu"


ucap Vania sepanjang jalan saat mereka sedang berada didalam ambulance yang akan membawa mereka ke rumah sakit di kota

__ADS_1


"Nona Muda tenanglah, Tuan Muda adalah pria yang kuat"


ucap seorang perawat yang duduk bersama Vania seraya menenangkan istri dari majikannya tersebut


"Tidak-tidak, jangan seperti ini aku membutuhkanmu, aku sangat ketakutan"


lirih Vania pelan dengan air mata yang sudah mengucur deras


"Sayang, bangunlah mengapa kau tidak menjawab ucapan ku? Apa kau tidak merindukanku? Kau tau, aku begitu ketakutan, aku takut jika tak bisa melihat wajahmu lagi, aku takut jika harus meninggalkan Varo dan Lista tanpa salam perpisahan, aku takut akan pergi sebelum mempertemukan mu dengan bayi kembar"


"Sayang, sadarlah kau tak bisa seperti ini. Apa kau tidak melihatku yang berantakan? Mengapa kau tidak bangun dan mengejekku?"


Vania takut, benar-benar takut saat Jashon menculiknya terlebih melihat kedua sahabatnya yang mengkhianati mereka


Vania takut Jashon akan membunuhnya, Vania takut Jashon akan melukai anak kembarnya dan Vania takut jika tidak bisa lagi bertemu Varel


Melihat Varel yang tak sadarkan diri dengan luka tembak membuat ketakutan Vania bertambah, Vania tidak ingin terjadi apa-apa dengan Varel


Andai saja, andai saja Varel tidak datang untuk menyelamatkannya maka, maka Varel tidak akan terluka olehnya, maka Varel tidak akan kehilangan banyak darah karenanya arrrggghhhh Vania berteriak-teriak memanggil nama Varel, menatap wajah pria yang terbaring lemah dihadapannya


Kau selalu menyelamatkanku bahkan kau membuat dirimu terluka karena ku.-Vania


Vania menyalahkan dirinya sendiri saat menatap wajah suaminya yang tak sadarkan diri, andai saja saat itu ia tidak pergi ke toilet dan menolak ajakan Varel yang ingin menemaninya maka semuanya tidak terjadi dan Jashon tidak akan menculiknya


Vania memukul kepala dan dadanya berkali-kali, sakit dan benar-benar sakit yang ia rasakan saat menatap Varel, pria yang rela terluka olehnya


"Nona Muda, mohon tenanglah"


ucap seorang perawat yang memberanikan diri menyentuh Vania bahkan memeluknya


Vania menangis sejadi-jadinya di pelukan perawat tersebut, Vania menumpahkan semua kesedihannya melewati air mata membuat perawat tersebut hanya diam dengan air mata yang menetes diwajahnya seraya mengelus pelan punggung Vania


"Bagaimana? Bagaimana suamiku? Apa yang terjadi padanya hingga tidak mau bangun? Dia tidak akan meninggalkanku, bukan? Tidak, tidak mungkin, suamiku tidak akan meninggalkanku dan anak-anak"


Ucapan Vania yang menyayat hati semua yang mendengarnya, ketakutan yang terlihat jelas dari raut wajahnya dan tindakan menyakiti diri dan menyalahkan dirinya sendiri dapat dipastikan oleh semua orang bahwa Vania benar-benar takut kehilangan Varel dan takut jika Varel pergi meninggalkannya bahkan Vania tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu kepada Varel


"Nona Muda mohon tenanglah"


ucap perawat tersebut pelan


"Tidak, tidak mungkin suami ku meninggalkanku. Bagaimana ini? Lakukanlah sesuatu, tolong aku tolong selamatkan suamiku"


lirih Vania menatap perawat tersebut sendu


"Nona Muda, sebentar lagi kita akan sampai ke kota dan saat itu seluruh tim kesehatan akan berusaha menolong Tuan Muda"


"Mengapa lama sekali? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada suami ku?"


"Sayang, mengapa kau keras kepala? Aku sudah melarang mu untuk pergi ke sana untuk menolongku, lihatlah sekarang kau terluka karena ku, andai saja kau mendengarkan ku dan tidak kesana, Jashon pasti tidak akan menembak mu"


lirih Vania pelan seraya menggenggam erat tangan Varel.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2