
Jangan lupa untuk VOTE ya๐ฅฐ๐...
Happy Reading Guys๐ฅฐ๐!!!!
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 02:00 WIB namun baik Varel, sekretaris Dim, Pak San, Vandi, bahkan Sebastian pun tidak beranjak dari tempat duduk mereka dengan perasaan khawatir
"Kak sebaiknya kak Varel beristirahat, sejak kembali dari luar kota kak Varel belum beristirahat sama sekali"
ucap sekretaris Dim untuk kesekian kalinya
"Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang Dim? Sedangkan keberadaan istriku saja aku tidak tau dimana"
lagi-lagi Varel berbicara dengan suara meninggi
Ya semenjak mendengar kabar bahwa istrinya menghilang, setiap siapa pun yang berbicara kepadanya Varel akan membentaknya, melampiaskan semua emosinya terhadap orang tersebut
Setiap beberapa menit sekali Varel akan selalu mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya namun nihil, ponsel Vania mati terlebih saat ini hujan deras disertai petir membuat Varel semakin gusar dibuatnya
"Sayang kau dimana? Jangan membuatku gila seperti ini"
gumam-gumam kecil Varel yang masih terdengar jelas di telinga setiap orang yang sedang menunggu di ruang tamu
Ya Tuhan bahkan saat kak Vania menghilang pun kak Varel menangis, semoga saja kak Varel mulai menyadari perasaannya terhadap kak Vania. Kak Vania kau dimana? Apa kau tidak tau kami disini hampir gila mencari mu? Lihat suamimu yang sudah berantakan sekali karena mengkhawatirkan mu.-Vandi
*
Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak becus mencari kak Vania. Maafkan aku kak Varel.-Sekretaris Dim
*
Tuhan aku memohon kepada-Mu kembalikanlah istriku, aku benar-benar mengkhawatirkannya dan sangat ingin melihat bahkan memeluknya. Jika Engkau masih memberikanku kesempatan, aku berjanji dengan sepenuh hatiku aku tidak akan pernah menyakitinya lagi, aku akan menghargainya sebagai istri dan wanita ku lagi. Aku benar-benar memohon kepada-Mu, aku tidak tau seperti apa hidupku dan hidup anak-anakku kedepannya tanpa sosoknya.-Varel
Suasana di ruang tamu sangat hening bahkan seperti tidak ada orang karena semua hanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hanya suara rintik hujan disertai petir menggelegar yang terdengar hingga tiba-tiba ponsel sekretaris Dim berbunyi menandakan ada sebuah panggilan masuk disertai dengan harapan setiap orang yang ada, harapan bahwa itu kabar baik tentang keberadaan Vania
"Bagaimana?"
"............."
"Apa? Dimana dia sekarang?"
"..............."
"Baiklah aku berangkat sekarang. Jaga ketat semuanya"
Sekretaris Dim pun memutuskan panggilan
"Ada apa Dim?"
Bas yang terlebih dahulu menanyakannya karena ia sangat penasaran melihat raut wajah sekretaris Dim yang terlihat sangat khawatir
"Kak Varel, pengawal sudah menemukan pelaku penusukan terhadapmu"
ucap sekretaris Dim yang membuat semuanya terkejut
"Dimana dia sekarang?"
tanya Varel dingin
"Dia menyerahkan dirinya ke polisi kak. Pengawal sudah menjaga ketat daerah kepolisian tersebut"
"Aku ingin menemuinya sekarang"
ucap Varel berdiri dan hendak melangkah namun ucapan sekretaris Dim menghentikan langkahnya
"Tapi kak, kau belum beristirahat sama sekali"
"Aku tidak membutuhkan istirahat, jika kau tidak ingin menemaniku aku bisa pergi sendiri"
"Baiklah kak ayo kita pergi"
ucap sekretaris Dim mengalah
"Aku ikut. Vandi kau bersama Pak San menunggu kabar dari rumah saja"
Setelah berpamitan akhirnya Varel, sekretaris Dim dan Sebastian pergi menuju kepolisian tempat dimana pelaku penusukan terhadap Varel menyerahkan diri.
*****
Sekitar dua puluh menit kemudian sampailah Varel di kantor polisi membutuhkan waktu yang lumayan lama karena jarak dari rumahnya menuju kantor polisi lumayan jauh
__ADS_1
Kepala Kepolisian dan juga beberapa pengawal langsung menyambut kedatangan Varel lalu mengantarnya menuju sebuah ruangan interogasi
"Jashon?"
ucap Varel yang tidak mempercayai siapa yang ia lihat sekarang
Jashon sahabat dekatnya dahulu yang pernah merebut kekasihnya kini sedang terduduk lemas di sebuah kursi dengan tangan diikat dan wajah penuh luka memar
"Apa kabar Tuan Muda?"
tanya Jashon tersenyum licik
Tanpa menjawab Varel pun berjalan mendekatinya dengan tatapan penuh kemarahan lalu
Bughhhh....
"Brengsek"
teriak Varel
"Kak hentikan"
ucap sekretaris Dim lalu menarik Varel agar menjauh
"Jangan tahan aku Dim"
bentak Varel penuh kemarahan
"Kak kita harus mendengar alasannya"
"Jangan menyentuhku atau aku akan-"
"Aku tidak akan melepaskan kakak walaupun kak Varel akan memecat ku"
jawab sekretaris Dim dingin yang membuat Varel terdiam
"Jashon, apa alasanmu melakukannya?"
tanya Sebastian lalu berjalan mendekati Jashon
"Kau pasti sudah bisa menebaknya Bas"
ucap Jashon pelan karena rasa perih di bibirnya akibat tamparan keras dari Varel
tanya Sebastian to the point yang membuat Jashon mengangguk pelan
"Brengsek. Aku tidak menginginkan Dinda kembali kepadaku"
teriak Varel penuh kemarahan
"Jangan munafik Rel, aku tau kau masih mencintainya"
ucap Jashon tertawa kecil
"Kau yang munafik, mengapa saat kau merebut Dinda dariku lalu kau juga meninggalkannya?"
tanya Varel menatap Jashon dengan jijik
"Aku tidak meninggalkannya. Dia yang pergi dariku"
teriak Jashon marah
"Dia kabur dariku bersama pengusaha-pengusaha muda di Jepang. Saat aku sudah menemukannya dia mengatakan bahwa dia masih mencintaimu"
"Percuma saja semua perjuanganku selama ini"
lirih Jashon pelan
"Ini semua gara-gara kau Rel, andai saja kau tidak hidup, Dinda pasti akan menjadi milikku"
teriak Jashon yang menatap Varel dengan tajam
Pranggggg...
Semua orang di ruang interogasi sangat terkejut mendengar suara pecahan terlebih lagi melihat darah segar yang menetes dari tangan Varel ternyata Varel melampiaskan kemarahannya kepada jendela kaca yang tepat dibelakangnya
"Kak Varel"
teriak sekretaris Dim terkejut
"Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku tidak pernah menginginkan Dinda kembali"
__ADS_1
ucap Varel penuh penekanan
"Kau masih tidak ingin jujur ternyata, aku tau Rel bagaimana besarnya cintamu terhadap Dinda. Kau tidak mungkin melupakannya begitu saja"
ucap Jashon terkekeh pelan
"Membusuk lah di penjara"
ucap Varel lalu keluar dari ruang interogasi
"Brengsek kau Varel. Aku akan menghancurkan hidupmu"
teriak Jashon menjadi-jadi.
*****
"Kak Varel mari ke rumah sakit obati luka di tanganmu"
ucap sekretaris Dim saat ia dan Sebastian baru saja sampai di parkiran ditempat Varel berada saat ini
"Tidak"
"Rel kau butuh pengobatan"
ucap Sebastian yang mencoba untuk membujuk
"Aku tidak membutuhkan pengobatan karena yang aku butuhkan saat ini adalah kehadiran istriku"
lirih Varel pelan
Baru pertama kali aku melihat kak Varel sesedih ini. Bahkan saat kepergian Dinda, kak Varel tidak pernah menunjukkan kesedihannya.-Sekretaris Dim
*
Sayang kembalilah kumohon, aku terluka sekarang dan aku membutuhkanmu untuk mengobati luka ku, memelukku dan menidurkan ku malam ini.-Varel
"Apa masih tidak ada kabar?"
tanya Sebastian hati-hati
"Belum kak"
ucap sekretaris Dim pelan
"Kau kemana Vania? Kembalilah dan perbaiki semuanya aku sangat yakin kau salah paham"
gumam Varel pelan yang masih terdengar jelas oleh sekretaris Dim dan Sebastian yang menatapnya sendu
"Sabarlah Rel, aku yakin Vania akan kembali"
"Tapi kapan?"
lirih Varel pelan
"Besok dia pasti kembali Rel, percayalah"
"Kak Varel sebaiknya kakak tidur dan beristirahatlah"
"Aku tidak lelah Dim"
ucap Varel menolak
"Tap-"
"Biarkan saja Dim"
ucap Sebastian memotong pembicaraan sekretaris Dim
"Baiklah kak"
jawab sekretaris Dim mengalah.
*
*
*
Maaf ya baru up soalnya author sedang sibuk ngurus daftar ulang kuliah๐๐๐..
*
__ADS_1
*