Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Bagaimana Dengan Varel?


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Didalam Mobil Daniel


"Kak, bagaimana keadaan Kak Varel?"


"Semoga baik-baik saja. Bagaimana bisa si brengsek itu kembali?"


tanya Daniel menahan geram


"Entahlah Kak, Vandi juga tidak mengerti mengapa pria itu kembali lagi di kehidupan Kak Vania. Apa Kak Varel mengetahuinya?"


"Sepertinya tidak Van, lihat kan Varel bahkan tidak menghiraukan kehadirannya. Varel tidak akan mengetahuinya jika aku, kau dan Vania tidak menceritakan padanya"


"Apa dia ada hubungannya dengan Jashon, Kak?"


"Mungkin saja Van, kau lihat bukan untuk apa dia disana jika tidak terlibat penculikan Vania. Tenanglah aku akan mencari tau setelah ini"


ucap Daniel lalu kembali fokus menyetir.


*****


Rumah Sakit VA&F


"Nona Muda, tunggulah disini dokter akan mengeluarkan peluru dari punggung Tuan Muda"


ucap Ziva yang menahan Vania agar tidak ikut masuk ke ruangan operasi


"Dokter, tolong selamatkan suamiku"


lirih Vania menggenggam erat tangan dokter Hendra


"Kaka ipar, jangan seperti ini. Berdoalah agar Varel tidak kenapa-kenapa dan kami akan berusaha sekuat mungkin"


ucap dokter Hendra dengan raut wajah khawatir seraya menepuk pelan bahu Vania


Dokter Hendra pun masuk ke ruangan operasi untuk menjalankan operasi di punggung Varel sedangkan Vania menunggu di luar bersama dengan Ziva dan Dika yang setia bersamanya.


Mama Kusuma dan Mama Melinda yang mendengar berita bahwa anak mereka sedang berada di rumah sakit pun heboh namun Daniel melarang mereka untuk pergi dengan alasan mereka harus menjaga rumah dan menjaga Lista juga Varo agar musuh Varel tidak menyakiti mereka


Karena demi keamanan bersama, akhirnya Mama Melinda dan Mama Kusuma hanya bisa berdiam dirumah seraya sesekali mencari tau keadaan anak mereka melewati pengawal Varel yang berjaga di rumah sakit


"Varel, Varel"


racau Vania karena melihat pintu ruangan tidak terbuka dan dokter Hendra masih belum keluar padahal waktu sudah berjalan sekitar dua jam


"Nona Muda, kita berdoa sama-sama untuk kesembuhan Tuan Muda"


ucap Ziva yang tak pernah lelah untuk menenangkan Vania


"Ba-bagaimana ji-jika Varel-"


"Tidak Nona Muda, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, kita percaya Tuan Muda pria yang kuat, bukan?"


"Sudah ku katakan padanya untuk tidak mengikuti ku, ta-tapi di-dia sangat keras kepala dan lihatlah sekarang dia terluka karena ku"


lirih Vania dengan air mata yang bahkan sudah mengering akibat sering menangis.


*****


Setelah sampai di rumah sakit, Daniel dan Vandi pun berlari menuju ruang UGD dimana sudah terlihat Vania yang duduk di kursi tunggu bersama dengan Ziva dan Dika yang menemaninya


"Kak El, ba-bagaimana dengan suami Vania?"


lirih Vania menatap Daniel yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan sendu


"Kemari lah sayang"

__ADS_1


ucap Daniel pelan seraya merentangkan tangannya dan berdiri tepat dihadapan Vania hingga Vania bisa memeluknya dengan posisi dirinya yang duduk dan Daniel yang berdiri


"Mengapa kau selalu menangis hem?"


tanya Daniel pelan seraya mencium pucuk kepala Vania berkali-kali


"Kak El, bagaimana dengan Varel? Mengapa dia sangat keras kepala dan tidak mendengarkan ucapan Vania? Lihat sekarang, dia terluka gara-gara Vania. Vania benar-benar takut jika terjadi sesuatu padanya"


"Van, bawa sesuatu untuk mengompres wajah Vania"


ucap Daniel kepada Vandi yang berdiri tak jauh dari tempatnya


"Vandi cari sebentar Kak"


ucap Vandi lalu pamit pergi


"Kak, Vania tidak apa-apa, Vania hanya mengkhawatirkan suami Vania"


"Sayang, Varel akan sedih jika saat membuka mata nanti melihat wajah mu yang memar, setidaknya kau harus mengompres nya agar Varel tidak khawatir padamu"


"Tapi Kak El, Vania sungguh tidak apa-apa"


"Lakukan itu demi Varel, sayang"


ucap Daniel tersenyum tipis membuat Vania hanya menghela nafas berat


Semuanya terdiam dengan tatapan yang tak lepas dari pintu ruangan UGD dimana dokter Hendra yang masih belum keluar


Setelah Vandi datang bersama alat kompres untuk Vania, Daniel dengan penuh kasih sayang mengompres wajah memar Adiknya dengan dibantu oleh Vandi hingga selesai


Setelah selesai mengompres sang Adik, Daniel pun meminta Vania bersandar di bahunya untuk beristirahat sejenak


"Bersandar lah pada Kak El"


ucap Daniel pelan yang membuat Vania menyandarkan kepalanya di bahu sang Kakak


"Apa ada bagian tubuh mu yang sakit gara-gara Jashon?"


"Jika ada yang sakit, katakan kepada Kak El. Kau tidak ingin beristirahat di ruang keluarga?"


"Tidak, Kak"


"Ya sudah tidur saja, nanti Kak El bangunkan jika Varel sudah bisa dijenguk"


"Tidak Kak, Vania akan terjaga hingga mengetahui kabar Varel"


gumam Vania pelan seraya menggenggam tangan Daniel


"Baiklah"


jawab Daniel mengalah


"Ehm, Kak bolehkah Vania bertanya?"


"Jangan tanyakan tentang pria brengsek itu"


"Kak El, kapan kita bisa mendengar penjelasan Kak Andri? Sepertinya Kak Andri tidak terlibat dalam kasus ini Kak"


"Jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak pasti sayang"


"Tap-tapi serius Kak, Kak Andri bahkan hendak melepaskan Vania dan Clara juga berteriak meminta Jashon menghentikan semuanya bahkan Kak Andri memanggil Jashon dengan panggilan Kak"


"Kak? Maksudmu pria brengsek itu Adik Jashon?"


"Entahlah mungkin saja"


jawab Vania pelan


"Lalu? Kau kira dia tidak terlibat saat Kakak nya menculik mu?"


"Dan Kak El tidak mendengar bahwa Kak Andri memang berniat melepaskan Vania dan Clara tapi Jashon memukulnya hingga pingsan?"

__ADS_1


"Ehm, apa Varel sudah mengetahui tentang itu?"


tanya Daniel ragu yang membuat Vania menggeleng pelan


"Setelah Varel pulih, ajaklah dia minta penjelasan kepada pria itu"


ucap Daniel sedangkan Vania hanya diam tanpa berani menjawab


"Varel berhak tau sayang, terlebih jika suatu saat Andri ingin membalaskan dendam karena Jashon bunuh diri. Setidaknya Varel tau tentang semua teka teki ini"


"Ehm, baiklah Kak"


jawab Vania pelan


"Vandi"


panggil Vania lalu menatap Vandi yang duduk tak jauh darinya


"Iya Kak ada apa?"


"Ehm, bisakah Kakak meminta tolong?"


"Katakan saja"


"Kak Vania ingin makan ice cream"


"Apa kau belum makan sayang?"


tanya Daniel yang membuat Vania menggeleng pelan


"Makanlah di cafe, ayo ikut Kakak"


"Tidak, Kak. Vania tidak ingin meninggalkan Varel"


ucap Vania pelan


"Baiklah, kau ingin makan apa? Nanti Kak El yang mencarikannya untukmu"


"Nasi goreng saja Kak dan ice cream strawberry toping kacang. Maaf merepotkan Kak El"


"Nasi goreng cumi?"


tawar Daniel yang membuat mata Vania berbinar


"Hahaha...Baiklah tunggu sebentar Kak El carikan untukmu"


"Terima kasih banyak Kak El"


ucap Vania tersenyum tipis.


*****


Di Rumah Sakit Kantor Polisi


Andri segera ditangani oleh tim kesehatan yang bertugas di rumah sakit kantor polisi bersama dengan beberapa pengawal yang ditugaskan sekretaris Dim untuk mengantar dan mengawasi sekitar kantor polisi


"Apa ada luka parah?"


tanya Dion, pengawal kepercayaan Varel yang ikut masuk ke dalam ruangan dimana tim kesehatan sedang menangani Andri


"Tidak ada, hanya saja pasien mendapat dua jahitan di pelipisnya akibat pukulan keras"


"Baiklah, tangani sekarang dan ingat jangan lupa selalu memantaunya karena urusannya dengan Tuan Muda belum selesai"


"Baiklah".


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2