Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Honeymoon 6# (Varel Jahat)


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Setelah cukup lama berbincang dengan Ziva di balkon kamar, akhirnya Vania memutuskan untuk kembali ke kamar mereka dimana Varel yang sejak tadi tidak tidur karena menunggunya


"Apa yang kau lakukan?"


tanya Vania mengerutkan kening saat melihat sang suami mondar-mandir tidak jelas


"Sayang"


panggil Varel terkejut


"Kau sedang apa?"


"Tidak ada, aku sedang menunggumu mengapa kau lama sekali?"


tanya Varel berjalan mendekati Vania seraya merentangkan tangannya


"STOPP!!!"


Entah mengapa Varel bisa refleks mengikuti ucapan sang istri


"Kenapa?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Aku yang harusnya bertanya ada apa denganmu? Apa kau sedang sakit?"


Vania berjalan mendekati Varel lalu menaruh tangannya tepat di kening sang suami


"Tidak panas, tapi mengapa kau aneh sekali? Apa kau sakit jiwa?"


Dengan polosnya Vania menanyakan itu membuat Varel cengengesan


Flashback On


Setelah Vania dan Ziva pergi ke kamar Ziva, Varel memanggil Dika ke kamarnya


"Selamat malam Tuan Muda"


ucap Dika menunduk sopan


"Dik apa yang biasanya kau lakukan saat Ziva marah kepadamu?"


tanya Varel to the point membuat Dika sedikit terkejut


"Biasanya saya akan mengikuti dan menuruti semua ucapan Ziva, tidak memarahi ataupun kesal didepannya, dan saya akan terus membujuknya Tuan Muda"


ucap Dika sopan


"Astaga mengapa wanita sangat rumit?"


ketus Varel dengan wajah kesalnya


"Wanita adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna Tuan Muda, mereka memiliki kelebihan peka terhadap sekitar, mempunyai perasaan yang lembut dan hati yang tulus"


"Dik mengapa kau tidak bekerja sebagai penulis saja?"


ketus Varel menatap Dika dengan tajam


"Maafkan saya Tuan Muda"


ucap Dika menunduk


"Huh sudahlah kau boleh pergi sekarang"


Dika pun pergi dari kamar si Tuan Muda Varel.


Flashback Off


"Tidak, aku hanya sedang merindukanmu"


ucap Varel lalu dengan cepat memeluk sang istrinya erat


"Astaga mengapa kau memelukku erat sekali?"


ketus Vania dengan kesalnya sedangkan Varel hanya tersenyum kecil


Nyaman, satu kata yang selalu Vania rasakan saat berada di pelukan sang suami, pelukan yang sering membuatnya terbuai hingga melupakan statusnya yang hanya sekedar gadis pelunas hutang


"Sudahlah jangan memelukku erat sekali aku sesak nafas"


ketus Vania namun Varel tetap enggan melepaskan pelukannya


"Sayang aku ingin tidur"


Lagi-lagi Vania memarahi sang suami seraya tangannya mencubit pelan perut Varel


"Aww"


ringis Varel pelan namun Vania tidak menghiraukannya dan berjalan menuju tempat tidur


"Jangan tidur dulu kau harus bertanggung jawab"


bisik Varel yang duduk tepat disebelah sang istri seraya tangannya menuntun tangan Vania untuk memegang benda pusaka nya

__ADS_1


"Varellll"


teriak Vania lalu mencubit perut Varel dengan keras


"Kenapa sayang?"


tanya Varel dengan wajah polosnya


"Astaga ingin sekali aku mencakar wajah polos mu itu"


ketus Vania dengan kesalnya lalu berbaring diikuti Varel yang lagi-lagi mendekatinya


"Kau mau apa?"


ketus Vania kesal


"Mommy ayolah, apa Mom tidak merindukan Daddy?"


tanya Varel seraya mengelus perut Vania dari belakang karena sang istri yang dengan sengaja membelakanginya


"Tidak"


jawab Vania malas


"Huh yasudah jadi kau menolak? Aku akan jajan saja diluar"


ancam Varel yang membuat raut wajah Vania berubah seketika namun Varel tidak melihatnya karena Vania memunggunginya


"Silahkan, aku tidak pernah melarang mu"


jawab Vania pelan yang berusaha menahan air matanya yang memaksa keluar


"Kau serius sayang? Aku lama loh sekitar tiga sampai empat jam diluar, apa kau tidak takut aku meninggalkanmu sendirian dikamar?"


Lagi-lagi Varel menggodanya membuat Vania pun duduk dan menatapnya tanpa ekspresi


"Bagaimana? Apa kau masih tetap mengijinkan ku jajan diluar?"


tanya Varel tersenyum menggoda


"Aku tidak pernah melarang mu"


jawab Vania yang berusaha keras menahan air matanya


"Baiklah"


jawab Varel singkat lalu berjalan mengambil jaket dan hendak membuka pintu kamar


"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi kepadaku"


lirih Vania pelan dan tentu saja air matanya sudah lolos keluar membasahi wajah cantiknya


Varel yang sedang berpura-pura hendak membuka pintu tidak mendengar ucapan Vania, karena merasakan tidak ada respon dari sang istri akhirnya Varel membalikkan badan dan terkejut melihat sang istri sudah terisak dan menunduk


"Sayang"


Pelukan hangat yang membuat air mata Vania mengalir lebih deras


"Pergilah, kau mencari wanita yang bisa memuaskan mu kan? Sepertinya Nona Kim bisa memuaskan mu"


lirih Vania pelan yang masih terisak di pelukan sang suami


"Sayang hei mengapa kau menangis? Aku hanya bercanda, sudahlah jangan menangis"


ucap Varel yang berusaha menenangkan Vania


"Kau jahat Varel, kau selalu menyakitiku"


"Sayang maafkan aku"


ucap Varel pelan seraya mencium pucuk kepala Vania berkali-kali


"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi"


"Hei mengapa kau mengatakan itu?"


bentak Varel dengan kesalnya


"Kau mencari kepuasan kan? Kau mencari hiburan? Silahkan saja, aku tidak pernah dan tidak pantas melarang mu"


"Sayang ayolah maafkan aku, aku benar-"


Ucapan Varel terhenti saat mendengar ponsel Vania berbunyi menandakan ada sebuah panggilan masuk


"Awas, aku mau mengangkat telfon"


ketus Vania mendorong Varel pelan


"Lista?"


gumamnya lalu mengangkat telfon dari sang putri


"Mommy"


teriak Lista diseberang


"Hei sayang jangan berteriak"


jawab Vania terkekeh pelan

__ADS_1


Astaga tadi saja menangis dan sekarang tersenyum bahagia. Apakah wanita memang seperti itu?-Varel


"Mom, i really miss you"


rengek Lista dengan manjanya


"Hei kau tidak merindukan Daddy?"


Tiba-tiba Varel sudah berada disebelah Vania bahkan wajah mereka berdekatan membuat Vania menatapnya tajam namun tidak bisa mengusirnya karena pasti Lista akan bertanya banyak hal


"Tidak, Lista hanya merindukan Mommy"


jawab Lista menjulurkan lidah membuat Varel dan Vania tersenyum melihatnya


"Oh ya? Baiklah Daddy tidak akan membelikan mu merchandise BTS official"


"Oh no, Daddy suka mengancam"


ketus Lista dengan kesalnya


"Sebentar, sepertinya Mommy tidak tau hal ini. Apa Lista merahasiakannya kepada Mommy?"


tanya Vania menatap layar ponsel


"I'm sorry Mom"


jawab Lista menunduk


"Sekarang Mommy minta Lista dan Daddy ceritakan kepada Mommy"


pinta Vania menatap Lista dan Varel secara bergantian


"Lista meminta Daddy membelikan barang BTS Mom"


"Lalu?"


"Dan aku menyetujuinya"


"Apa Mommy marah?"


"No, Mommy tidak marah sayang. Tapi Mommy akan marah jika Daddy membelikan barang yang tidak berguna"


"Yes Mom, Lista hanya minta dibelikan barang-barang yang bisa dipakai oleh Lista dan Echy"


"Dan Daddy mau membelikannya?"


"Tentu saja Daddy kan sayang Lista"


"Tapi Lista tidak merindukan Daddy"


ucap Varel seraya berbaring dipangkuan Vania yang membuat Vania terkejut dan menatapnya tajam


"Daddy manja sekali"


cibir Lista mendengus kesal


"Oh ya Varo dimana sayang?"


"Abang main game bersama Ayah"


"Lista sudah belajar?"


"Sudah dong Mommy, Lista tadi belajar bersama Echy dan kak Nike"


"Wah anak pintar kesayangan Mommy nih"


ucap Vania tersenyum


"Lista, Daddy tutup ya sayang Mommy dan Daddy ingin tidur"


ucap Varel tiba-tiba yang membuat Vania lagi-lagi menatapnya tajam karena ia tau apa yang akan dilakukan sang suami


"Baiklah Daddy, good night"


Panggilan pun terputus


"Ayo sekarang tidur"


ucap Vania berbaring cepat sebelum Varel membuka suara


Astaga menggemaskan sekali.-Varel


"Tidurkan aku ya"


pinta Varel memperlihatkan puppy eyes nya


"Hem"


Vania pun mulai mengelus pucuk kepala Varel yang membenamkan wajahnya di dada sang istri


"Kau tau apa yang membuatku berani menolak mu, memarahi mu, bahkan kesal di depanmu? Aku hanya ingin belajar menjaga hatiku agar tidak terbawa perasaan.


Selamat tidur Tuan Tampan"


ucap Vania saat mendengar dengkuran halus sang suami seraya mencium kening Varel dengan lembut


Jadi itu alasan perubahan sikapnya selama ini? Baiklah aku akan mengikuti permainanmu dan kita lihat sampai mana batas mu menjaga hati.-Varel


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2