
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Jam menunjukkan pukul 05:09 WIB dimana Vania terbangun karena merasakan pelukan sang suami mengerat.
Vania terdiam menatap wajah yang ada dihadapannya. Pria yang kini menjadi suami dan ayah untuk anak-anaknya. Pria yang sangat ia cintai selama ini. Dan pria yang selalu mengutamakan kebahagiaan keluarganya dari pada kebahagiaannya sendiri.
Perlahan, Vania mengelus wajah suaminya seraya tersenyum tipis. Ia tak pernah berhenti untuk terus mengucap syukur atas segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Rumah tangga nya sudah sangat bahagia dengan suami nya yang selalu mencintainya.
Cerita panjang sebelum tidur malam kemarin membuat Vania sebenarnya sangat takut namun ucapan suaminya benar-benar membuatnya tenang.
Flashback on
"Sayang, ayo bercerita" ucap Varel ketika Vania baru saja selesai menyusui baby Al.
Vania terkekeh pelan. "Tumben sekali" ucapnya lalu duduk disebelah sang suami.
"Hei, sini. Aku kan ingin memeluk mu" gerutu Varel dengan kesalnya karena ia sudah menyediakan tempat untuk sang istri namun Vania malah duduk sedikit menjauh darinya.
Vania tertawa. "Ada apa dengan mu? Aneh sekali."
"Sayang, tidak baik menyebut suami aneh."
Oke, dari pada mendapat ceramah yang sangat panjang akhirnya Vania mengalah.
"Astaga, baiklah."
Vania pun mendekatkan dirinya pada sang suami sehingga Varel segera memeluknya dan mengelus pucuk kepalanya dengan lembut sedangkan Vania diam dengan tangannya yang bermain-main pada kancing piyama sang suami.
"Sayang, kau pasti tau apa yang akan ku ceritakan" ucap Varel pelan yang membuat Vania mengangguk.
"Seseorang yang mirip dengan Nona Dinda?" tebak Vania langsung.
Varel mengangguk pelan. "Aurora, saudara kembarnya."
Tentu saja hal itu membuat Vania terkejut hingga ia sedikit menjauhkan dirinya dari sang suami agar bisa menatap mata Varel.
"Hei, Nona Dinda memiliki saudara kembar?! Bagaimana bisa?! Apa kau sudah mengetahuinya sejak dulu?! Lalu—"
__ADS_1
Karena merasa gemas dengan istrinya, Varel segera membungkam mulut Vania agar berhenti memberikan pertanyaan beruntun padanya.
"Kau ini kebiasaan sekali bertanya banyak" ucap Varel ketika ia sudah melepaskan ciumannya.
Plak
Vania memukul paha sang suami lalu menatapnya dengan kesal.
"Dan kau kebiasaan sekali mencium ku tanpa izin."
"Oh astaga, aku melupakannya. Harusnya aku bertanya dulu sebelum mencium mu" ucap Varel tertawa.
"Hei, ayo kembali ke topik pembicaraan" ucap Vania tidak sabaran.
Cup.
Karena masih merasa gemas, Varel kembali mencium istrinya.
"Kemari lah, aku tidak akan menceritakannya jika kau menjauh."
Dengan segera Vania mendekat bahkan langsung memeluk Varel agar suaminya juga segera menceritakan padanya karena tingkat kekepoan Vania sudah diujung batas.
"Aku baru mengetahuinya saat pertama kali bertemu dengannya. Saat pertama kali mengetahuinya, aku pun sama terkejutnya dengan mu ketika Dimas menceritakan bahwa ia sudah mengetahui fakta itu sejak lama. Saat Dimas menghukumnya, Dimas mencari semua hal yang berhubungan dengannya dan Dimas mengetahui bahwa ia memilik saudara kembar yang terpisah sejak lahir."
Varel menjelaskan tanpa ingin menyebut nama Dinda lagi karena memang sudah lama nama itu tak pernah ia sebutkan.
"Dimas bukannya ingin merahasiakannya, namun ia ingin mengawasi sendiri gerak gerik saudara kembarnya. Jika dia berani muncul di hadapan kita, Dimas tidak akan tinggal diam dan akan segera memberitahukan kepada ku."
"Apa saat di bandara kemarin, dia langsung mengenal mu?" tanya Vania pelan.
Varel mengangguk. "Sepertinya begitu. Dia pasti mempunyai alasan kembali ke kota ini."
"Untuk membalaskan dendam Nona Dinda?"
Pertanyaan Vania membuat Varel terdiam seketika. Bukan hanya Vania, baik Varel, Sekretaris Dim, maupun semua orang yang mengetahuinya pun pasti akan berpikiran yang sama.
Akhirnya Varel menghela nafas pelan sebelum kembali membuka suara. "Aku tidak akan membiarkan mu dan anak-anak kita menderita. Apapun akan ku lakukan untuk melindungi keluarga ku."
Vania tersenyum tipis seraya mengelus wajah suaminya. "Jangan terluka, aku tidak ingin jika harus melihatmu terbaring lemah dengan darah yang begitu banyak keluar. Aku tidak akan memaafkan diri ku sendiri jika sesuatu terjadi padamu" ucap Vania menatap Varel dengan tatapan sendu.
Cup.
"Aku janji tidak akan terluka demi kau dan anak-anak kita."
__ADS_1
*****
Pagi hari yang cerah namun tidak dengan raut wajah serius milik Sekretaris Dim yang menatap lekat layar iPad nya ketika pagi-pagi sekali notifikasinya menyala menandakan bahwa ia sudah menerima e-mail laporan yang ia inginkan dari Dion.
Dalam laporan itu ada banyak bukti-bukti kebusukan Aurora selama ia hidup. Dari awal ketika ia dan Dinda ternyata adalah anak yang lahir di luar nikah, saat di umurnya yang masih sangat muda Aurora memilih untuk bekerja di bar, hingga yang ia lakukan sekarang adalah menjual diri kepada lelaki-lelaki yang ia temui.
Ketika melihat laporan tersebut, Sekretaris Dim tidak terlalu terkejut karena ia sadar bahwa Dinda pun melakukan hal ini. Ah, bagaimana dengan kabar wanita itu?
Lagi, tangan Sekretaris Dim bergerak cepat di atas layar iPad yang menyala. Tatapannya masih terpaku pada laporan-laporan yang ia terima.
Cukup lama ia membaca, hingga tiba-tiba tangannya berhenti bergerak ketika melihat foto-foto atau bukti-bukti yang juga dilampirkan oleh Dion.
Itu adalah bukti ketika Varo mulai meneror Aurora. Dion memang melaporkannya namun tidak dengan pelakunya. Dion hanya mengatakan bahwa Aurora diteror oleh seseorang malam itu dan ia belum mengetahui siapa yang menerornya.
Memang, untuk berbohong kepada Tuan Muda sangat membuat Dion takut. Tapi, Dion lebih takut jika Tuan Muda mengetahui bahwa anak lelakinya akan tumbuh menjadi seperti dirinya.
Keputusan yang diambil oleh Dion membuatnya harus mempersiapkan diri untuk menerima semua resiko yang akan terjadi. Tidak semua orang bisa menyembunyikan kebohongan dengan baik selamanya. Pasti akan ada saja cara untuk mengungkapkan kebenaran, dan Dion akan siap dengan semuanya.
Sekretaris Dim segera melakukan panggilan suara dengan Varel.
"Apa Tuan Muda meneror Aurora?" tanya nya to the point.
Varel diseberang sana mengerutkan keningnya heran. "Dia diteror?" tanya Varel yang juga terkejut.
Dari situ saja Sekretaris Dim sudah bisa menyimpulkan bahwa bukan Varel pelakunya.
"Aneh, apa Bram diam-diam menerornya?"
"Bagaimana teror yang ia terima?" tanya Varel penasaran.
"Hampir seperti yang biasanya Bram lakukan. Saya mengira Tuan Muda memberikan perintah kepada Bram."
"Aku tidak memberikan perintah apapun. Dan bukannya Bram sedang sibuk mengurus pernikahannya?"
Baik Varel maupun Sekretaris Dim sama-sama mengerutkan kening ketika merasakan bahwa teror yang diterima oleh Aurora sangat familiar membuat mereka bertanya-tanya siapa yang juga sedang menargetkan wanita itu?
*
*
*
Maaf ya readers, akhir-akhir ini sibuk banget karena udah mulai masuk kuliah lagi. Tapi author sempetin waktu buat update.🤗
__ADS_1
*
*