
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Pintu kamar hotel Varel terbuka dan masuklah Vania dengan raut wajah kecewa yang berusaha mungkin ia tutupi dengan senyumnya namun bukan Varel namanya jika tidak bisa menangkap raut kecewa di wajah sang istri
"Hei sayang"
panggil Varel pelan seraya menatap sang istri
"Aku akan mencuci kaki dahulu"
ucap Vania tersenyum tipis lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengurung diri
Aku tidak pernah memaksamu untuk hamil tapi kau merasa seakan aku sangat menuntut anak darimu.-Varel
Flashback On
Saat Vania yang sedang tidak sehat bersikeras ingin masuk ke kamar Ziva, Varel menaruh curiga terhadapnya sehingga Varel menyuruh Dika untuk melakukan panggilan suara terhadap Ziva selama Vania berada di kamarnya
Varel bahkan Dika terkejut mendengar permintaan Vania yang menyuruh Ziva untuk membeli test pack namun tidak ingin jujur terhadap Varel karena ia takut memberi harapan besar kepada suaminya
Hingga Ziva dengan terpaksa menuruti keinginannya dan tentu saja dengan persetujuan si Tuan Muda
Flashback Off
"Pergilah Dik dan kembalilah besok pagi, katakan juga kepada Ziva bahwa kita akan kembali ke Indonesia lusa karena hanya anak-anak yang bisa mengembalikan senyumnya"
ucap Varel pelan
"Baik Tuan Muda, selamat beristirahat"
ucap Dika lalu pergi setelah berpamitan meninggalkan Varel yang menatap sendu pintu kamar mandi
Beberapa menit kemudian keluarlah Vania dengan raut wajah kecewa yang lagi-lagi berusaha ia tutupi dihadapan sang suami
"Kemari lah"
ucap Varel seraya menepuk pelan sofa disebelahnya
Lalu Vania pun berjalan mendekatinya dan duduk tepat disebelahnya
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu"
Apa dia mengetahuinya?-Vania
"Sayang aku benar-benar minta maaf, apa kau tidak keberatan kita kembali ke Indonesia lusa? Karena ada pekerjaan yang sangat penting yang harus aku kerjakan dan tidak bisa diwakilkan"
ucap Vania memulai dramanya seraya menampilkan wajah sedihnya
"Apa? Kau serius? Kita akan kembali lusa? Kembali ke rumah? Bertemu anak-anak?"
tanya Vania dengan wajah berbinar
Lihatlah dia langsung ceria saat mendengar akan bertemu anak-anak. Sungguh menggemaskan.-Varel
"Maaf aku tidak sempat mengajakmu ke Jeju Island"
"Tidak masalah sayang, aku sangat merindukan anak-anak dan ingin cepat bertemu mereka"
ucap Vania bersemangat
"Apa kau tidak keberatan jika kita kembali lusa?"
tanya Varel berhati-hati
"Tentu saja tidak sayang. Astaga aku sangat merindukan putri cadel mu dan tukang adu itu"
ucap Vania senang seraya membayangkan wajah lucu kedua anaknya
"Apa kau sangat tidak sabar untuk pulang?"
tanya Varel mengerutkan kening
"Tentu saja, aku benar-benar merindukan Indonesia"
"Dan tidak rindu denganku?"
"Astaga sayang apa kau akan mulai berubah menjadi bayi besar?"
ejek Vania terkekeh pelan
"Oh iya bagaimana jika kita menelfon anak-anak?"
usul Vania yang membuat Varel tak bisa menahan tawa
"Lihatlah jam sayang, sekarang di Indonesia pukul sepuluh malam dan kau akan berpikir bahwa anak-anak mengangkat telfon kita?"
ucap Varel disela-sela gelak tawanya
"Huh padahal aku sangat merindukan mereka"
ucap Vania mengerucutkan bibirnya
"Kau ingin pulang dengan tangan kosong tanpa membeli oleh-oleh untuk mereka?"
"Astaga aku benar-benar melupakannya dan untunglah suamiku yang tampan ini mengingatnya"
ucap Vania menggoda Varel
"Jangan bangunkan singa yang sedang tidur"
ucap Varel pelan yang membuat Vania tak bisa menahan tawa hingga kamar tersebut penuh dengan gelak tawanya
"Apa kau tidak mengantuk?"
tanya Varel yang dibalas gelengan kepala Vania
"Kau ingin menonton bersama?"
"Menonton apa?"
tanya Vania mengerutkan kening
"Kau saja memilihnya, ingin menonton film atau drama kesukaanmu"
"Drama kesukaanku tayang satu minggu sekali sayang dan saat ini aku tidak memiliki stok drama"
ucap Vania mengerucutkan bibirnya
Cup.
__ADS_1
"Kita menonton film saja"
ucap Varel seraya mencubit hidung sang istri dengan gemasnya
"Genre horor"
ucap Vania senang yang membuat Varel refleks membulatkan matanya
"Bagaimana jika kita menonton Toy Story?"
"Astaga sayang kau serius menyukai cartoon itu?"
"Tentu saja"
"Kita menonton film horor saja"
pinta Vania dengan wajah memelasnya
"Baiklah"
jawab Varel malas
Cup.
Setelah mencium bibir sang suami dengan singkat, Vania pun berjalan untuk mengambil remote televisi yang ada di atas meja
"Kau serius?"
tanya Varel berhati-hati saat melihat Vania mulai mencari film horor yang akan ditonton
"Sangat serius. Karena kita sedang berada di Busan, ayo nonton Train to Busan"
ucap Vania bersemangat yang membuat Varel mendengus kesal.
*****
Beberapa jam kemudian setelah melewati banyak drama seperti Vania yang selalu ketakutan dan bersembunyi dibelakang punggung sang suami akhirnya ia pun tertidur dengan kepala yang bersandar di bahu Varel
"Lihatlah tadi saja sangat bersemangat menonton film horor tapi ternyata takut juga"
ucap Varel terkekeh pelan lalu membaringkan istrinya dengan sangat pelan
"Aku menyukai tawamu jadi tertawa lah hanya untukku. Selamat tidur"
bisik Varel pelan lalu mencium kening sang istri dengan lembut.
*****
Pagi hari, Vania terbangun lebih dahulu dan seperti biasanya ia menjalankan rutinitas dengan menatap lekat wajah sang suami yang tertidur dengan nyenyak disebelahnya ditambah suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya
"Lucu sekali"
ucap Vania terkekeh pelan lalu turun dari atas tempat tidur dan berjalan dengan pelan menuju kamar mandi
Hingga beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi dan melihat Varel sudah bangun dan duduk di sofa
"Tumben sekali"
ucap Vania saat Varel menatapnya
"Ada sedikit pekerjaan sayang"
jawab Varel terkekeh
"Jika kau masih sibuk, Ziva bisa mengantarku mencari oleh-oleh"
"Dan kau ingin mengurungku di kamar?"
tanya Varel yang membuat Vania menghentikan langkahnya
"Kau lupa pernah mengurungku selama tiga hari di kamar hotel?"
ketus Vania mengecurut kan bibirnya lalu berjalan menuju lemari pakaian.
*****
"Kau ingin pergi kemana?"
tanya Varel saat mereka sudah berada didalam mobil
"Cafe ayahnya member BTS?"
usul Vania bersemangat
"Memangnya kau tau alamatnya dimana?"
tanya Varel mengerutkan kening
"Tentu saja aku tau, cafe Magnate milik ayahnya Jimin member BTS, cafe yang buka sejak 2019 di 135 Jinnam-ro, Daeyeon-dong, Nam-gu"
jawab Vania bersemangat
"Astaga kau sangat tau tentang mereka"
ucap Varel menggeleng kepala tidak percaya sedangkan Vania hanya terkekeh pelan.
*****
Cafe Magnate
"Vania?"
"Kwon Hyuk?"
ucap mereka bersamaan
"Kau disini?"
"Ya, dan kau bersama siapa?"
"Apa kau mengenal istriku?"
tanya Varel yang tiba-tiba merangkul pinggang Vania
"Istri?"
ulang Kwon Hyuk mengerutkan kening
"Ya, kau siapa?"
tanya Varel dengan penuh penekanan
"Sayang, dia temanku"
__ADS_1
ucap Vania yang ingin menjelaskan kepada Varel
"Teman? Sejak kapan?"
tanya Varel mengerutkan kening
"Aku perkenalkan dahulu, Kwon Hyuk perkenalkan ini suami ku Varel dan Varel ini teman yang kutemui di pantai"
ucap Vania yang menatap Varel dan Kwon Hyuk secara bersamaan
"Jadi dia yang membuatmu menangis di pantai?"
tanya Kwon Hyuk yang membuat Varel menatapnya tajam
"Kwon Hyuk, semua sudah selesai. Ayo kita masuk dan makan bersama"
ajak Vania yang membuat Varel membulatkan matanya
"Sayang"
ucap Varel terkejut
"Dia temanku sayang"
ucap Vania tersenyum tipis
Lalu mereka pun masuk bersama kedalam cafe dengan Dika dan Ziva yang berjalan dibelakang.
*****
Saat sedang menunggu pesanan, tiba-tiba ponsel Vania berdering menandakan sebuah panggilan masuk
"Maaf, aku mengangkat panggilan sebentar"
ucap Vania lalu mengangkat panggilan dari Alea, sahabatnya
"Ada apa Ale?"
"Van, lo masih di Busan?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Van, beli buat gue album Dean dong dan kalau lo ketemu dia tolong minta tanda tangannya buat gue soalnya lima menit yang lalu dia posting foto lagi di Busan"
ucap Alea nyerocos
"Dean? Siapa dia?"
tanya Vania mengerutkan kening
"Astaga, lo gak tau? Dia penyanyi solo Seoul Van. Eh btw lo lagi dimana sih kok rame gitu?"
"Tolong perkecil suaramu Ale"
"Oke deh"
ucap Alea terkekeh pelan
"Aku sedang diluar tepatnya di cafe Magnate"
"Kau serius?"
teriak Alea terkejut
"Kecilkan suaramu Ale"
"Lo beruntung banget Vania bisa ke cafe ayahnya Jimin. Oh iya lo sama siapa aja?"
"Varel, Dika, Ziva, dan Kwon Hyuk"
"Oh-apa? Kau bilang tadi Kwon Hyuk?"
"Iya, apa kau mengenalnya?"
"Vania alihkan panggilan video sekarang, aku ingin melihatnya"
"Aku izin dengannya dahulu"
ucap Vania lalu menjauhkan ponsel dari telinganya
"Kwon, temanku ingin melihatmu bisakah kau berbicara dengannya sebentar? Karena tadi aku mengatakan bahwa sedang makan bersama dan aku menyebut namamu"
ucap Vania menatap Kwon Hyuk yang duduk tepat didepannya
"Tentu saja"
jawab Kwon Hyuk tersenyum lalu mengambil alih ponsel Vania
"Astaga, apa ini benar-benar mimpi?"
ucap Alea saat melihat wajah Kwon Hyuk
"Annyeonghaseyo"
"Kau benar Dean?"
tanya Alea yang tiba-tiba meneteskan air mata
"Namaku Kwon Hyuk, kau bisa memanggilku Dean saat di atas panggung"
jawab Kwon Hyuk ramah yang membuat Vania membulatkan matanya
"Apa aku benar-benar melakukan panggilan video denganmu?"
"Tentu saja. Hei mengapa kau menangis?"
"Aku mengidolakan mu sejak dulu dan aku bahagia bisa berbicara denganmu"
"Apa kau teman Vania?"
"Astaga, kau mengenal sahabatku?"
"Ya, aku berteman baik dengannya. Aku ada sesuatu untukmu, nanti ku titipkan dengan Vania ya"
"Jaga kesehatanmu Oppa"
"Tentu dan semoga kita bisa bertemu. Saranghaeyo"
"Jeongmal saranghae, Oppa"
Panggilan pun terputus.
*
__ADS_1
*
*