
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Astaga mengapa aku begitu bodoh? Aku harusnya sadar diri bahwa aku tak akan pernah bisa bersanding dengan seorang Tuan Muda Varel yang hampir sempurna. Aku terlalu terbawa suasana hingga tak menyadari bahwa diriku hanya gadis pelunas hutang.-Vania
Saat ini Vania berjalan menyusuri jalan di sore hari yang padat, banyaknya orang berlalu lalang, keluarga yang sedang bersantai di taman, pasangan muda mudi yang sedang berjalan sore, bahkan para pekerja kantoran yang baru saja pulang bekerja
Berjalan seorang diri tanpa tau kemana arah dan tujuan karena didalam pikirannya saat ini ia harus pergi menjauh dan kabur dari kehidupan Varel, kehidupan seorang pria yang tak pernah bisa ia gapai
Sampai dimana Vania berhenti dipinggir jalan untuk memesan taksi online agar membawanya kabur dari kenyataan. Selang berapa menit taksi online pun tiba dihadapannya dan ia pun mulai masuk kedalamnya
"Ke alamat mana Nona?"
"Jalan saja dulu Pak"
jawab Vania pelan
Vania terduduk diam didalam taksi, matanya selalu menatap ke luar jendela dengan air mata yang mengalir deras diwajahnya. Sebenarnya supir taksi ingin menanyakan kemana ia harus mengantar, namun ia tak ingin mengganggu Vania yang sedang termenung. Terlihat jelas dari wajahnya bahwa ia tidak baik-baik saja
Hingga hampir satu jam tanpa tau arah dan tujuan taksi terus melaju karena Vania pun tidak tau ia harus kemana, yang ia tau saat ini ia harus menjauh dari Varel. Akhirnya Vania menghentikan taksi disebuah taman yang kosong karena hari sudah hampir gelap
"Terima kasih Pak"
ucap Vania tersenyum lalu memberikan uang kepada supir taksi
Namun lagi-lagi senyum palsu yang ia berikan kepada si supir yang menatapnya sendu
"Nona, ini sangat banyak"
"Terima saja Pak"
"Tapi Nona ijinkan aku menemani Nona disini"
"Tidak perlu Pak, aku hanya ingin menenangkan diri sebentar"
jawab Vania lagi-lagi dengan senyum palsunya
"Nona, aku tidak bisa meninggalkan Nona sendirian disini"
"Duduklah Pak, apa aku boleh tau namamu?"
"Tentu Nona, namaku Tono Nona"
"Pak Tono terima kasih"
ucap Vania yang tanpa sadar air matanya mengalir deras diwajahnya
"Jika boleh tau mengapa sejak tadi kau menangis Nona?"
tanya Pak Tono hati-hati
"Hatiku sedang tidak baik Pak"
jawab Vania tersenyum kecil
"Nona kemana aku harus mengantarkan Nona?"
"Tidak Pak, aku saat ini tidak ingin pulang ke rumah. Pak Tono pulanglah istrimu mungkin sedang menunggu"
"Tidak Nona aku tidak akan meninggalkan Nona disini"
"Aku tidak apa-apa Pak aku baik-baik saja percayalah"
"Tapi hati Nona sedang tidak baik"
Vania hanya tersenyum kecil menanggapinya
"Nona jika boleh jujur aku tidak suka senyum palsu Nona, tersenyumlah saat Nona bahagia dan menangis lah saat Nona sedang tidak baik-baik saja"
ucap Pak Tono berusaha menenangkan
"Terima kasih Pak, aku bersyukur disaat aku membutuhkan kehadiran seseorang, Pak Tono hadir"
jawab Vania menghapus air matanya
"Apa Nona mau ikut bersamaku ke rumah? Istriku pasti sangat senang melihatmu"
"Apa boleh Pak?"
"Tentu saja Nona, dan aku pastikan istriku akan mengajakmu membuat kue malam ini"
jawab Pak Tono terkekeh pelan
"Benarkah? Wah aku sangat menginginkannya"
"Kalau begitu ayo kita ke rumahku Nona"
ajak Pak Tono bersemangat membuat Vania terkekeh pelan lalu mengikutinya dibelakang.
*****
"Mengapa Vania lama sekali?"
tanya Mama Melinda heran
"Biarkan Sandra menyusulnya Ma"
__ADS_1
Setelah berpamitan, Casandra pun berjalan menuju toilet wanita untuk mencari keberadaan sahabatnya
Tak berapa lama Casandra kembali seorang diri dengan wajah paniknya
"Astaga Vania tidak ada di toilet Ma, kemana dia?"
tanya Casandra dengan wajah khawatirnya
"Mungkin sedang menikmati pesta"
jawab Angeline santai
"Kau tenang saja sayang, Vania tidak akan mungkin menghilang karena tempat ini dijaga ketat oleh pengawal suaminya"
ucap Mama Melinda tersenyum
Tapi perasaanku tidak enak andai kalian mengetahuinya. Ini sudah lebih dua puluh menit namun kita bahkan tidak melihat keberadaan Vania. Ya Tuhan Vania kau dimana?-Casandra
*****
"Rumahmu sangat nyaman Pak"
"Hanya ini yang saya miliki setelah istri dan anak saya Nona"
Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekati Pak Tono tanpa menyadari adanya Vania
"Mengapa kau pulang terlambat? Aku mengkhawatirkan mu"
"Aku membawakan mu hadiah"
ucap Pak Tono lalu Vania pun berjalan mendekat
"Astaga, anak perempuan siapa yang kau culik Tono?"
tanya wanita paruh baya terkejut
"Apa wajahku terlihat seperti penculik sayang?"
tanya Pak Tono bergurau
"Kau jangan bercanda"
ketus wanita paruh baya memukul pelan lengan Pak Tono
"Nona apa suamiku menculik mu?"
"Tidak Nyonya, Pak Tono menawarkan ku untuk berkunjung kemari"
"Astaga benarkah? Kukira kau diculik"
ucap wanita paruh baya yang membuat Vania terkekeh pelan
"Apa aku boleh tau namamu?"
"Namaku Evivania Nyonya, kau bisa memanggilku Vania"
"Merry, panggil aku Bibi Merry saja dan Paman Tono"
"Baiklah Bibi Merry"
"Ayo masuk nak"
Vania pun masuk kedalam rumah bersama dengan Paman Tono dan Bibi Merry
"Duduklah nak aku akan menyiapkan makan malam untuk kita"
"Apa aku boleh membantu Bi?"
"Tentu saja jika tidak merepotkan mu"
Vania pun mulai membantu Bibi Merry untuk menyiapkan makan malam
Beberapa menit kemudian
"Apa kau mau tidur disini malam ini Nona?"
"Bi, aku terlalu merepotkan kalian"
"Tidak Nona itu sama sekali tidak merepotkan, anakku pasti senang melihatmu"
"Benarkah Bi?"
"Tentu saja aku akan memanggil Pamanmu dan Gara dahulu"
*****
Ruang Keluarga
"Apa? Vania menghilang? Bagaimana bisa kalian tidak becus menjaganya?"
teriak Varel saat mendapat kabar bahwa istrinya tidak ada di pesta Vandi
"Kak maafkan Vandi yang tidak menyadari keberadaan kak Vania"
"Dia pasti salah paham karena Dinda.
Cari di semua kota ini, jangan kembali jika kalian belum menemukan istriku"
teriak Varel kepada para pengawal yang sedang menunduk takut
__ADS_1
Tak butuh perintah kedua, seluruh pengawal pun mulai berpencar untuk mencari titik keberadaan istri dari majikan mereka.
*****
"Bu, kakak cantik ini siapa?"
"Panggil dia kak Vania ya"
"Hai ganteng"
"Hai juga kakak cantik"
"Apa kakak boleh tidur di rumah Gara?"
"Boleh kak, Gara senang kalau kakak cantik tidur di rumah Gara"
"Oh ya?"
"Iya kakak cantik"
jawab seorang anak remaja berumur sekitar tiga belas tahun dengan semangatnya
Lalu malam ini Vania menikmati makan malamnya bersama keluarga Paman Tono.
*****
"Bagaimana bisa kalian tidak menemukan satu wanita di kota ini?"
teriak Varel saat mendapatkan informasi bahwa para pengawalnya tidak berhasil menemukan titik keberadaan Vania, istrinya
"Tuan Muda, pelacak lokasi di ponsel Nona Muda hanya didapat saat Nona Muda masih berada di pesta. Sedangkan Nona Muda tidak membawa mobil ke pesta"
ucap sekretaris Dim menjelaskan
"SHIT!!!!"
teriak Varel dengan keadaan yang sangat kacau
Bagaimana tidak? Ia sudah berusaha secepatnya kembali ke kota, namun baru saja ia menginjakkan kakinya di rumah tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa istrinya menghilang bahkan saat tengah malam pun tidak ada titik keberadaan dimana istrinya berada
"Astaga sayang tolong aktifkan ponselmu"
ucap Varel gusar tanpa terasa air matanya menetes membasahi wajahnya
Ia benar-benar kacau saat ini. Ia benar-benar takut jika Vania pergi meninggalkannya. Entah perasaan apa yang sudah ia miliki untuk sang istri namun yang ia tau saat ini ia benar-benar ingin memeluk istrinya, mengatakan bahwa ucapan Dinda tidaklah benar, menjelaskan semua kesalahpahaman ini, bahkan jika istrinya marah terhadapnya ia tidak masalah yang pasti ia hanya ingin melihat istrinya baik-baik saja.
*****
"Nona apa kau tidak menghubungi orang tuamu?"
"Mereka sudah pergi Bi"
balas Vania tersenyum kecil
"Astaga maafkan saya Nona"
"Tidak masalah Bi"
"Hem bagaimana dengan orang terdekatmu? Kabari lah mereka bahwa kau tidak pulang untuk malam ini"
Sesaat terlintas dipikiran Vania bayangan wajah suaminya, suami yang ia cintai namun ucapan Dinda saat di pesta terngiang-ngiang di pendengaran nya
"Mereka tidak akan mencari ku Bi"
jawab Vania tersenyum walaupun air mata sudah membasahi wajahnya
"Tidurlah Nona, lupakan semua masalahmu hari ini"
jawab Bibi Merry tersenyum tulus
"Terima kasih Bi"
"Jangan sungkan, aku senang bertemu denganmu"
"Apa aku boleh berkunjung kemari lagi?"
tanya Vania ragu
"Tentu saja, aku sangat menginginkan hal itu"
jawab Bibi Merry bersemangat
"Kedepannya Bibi harus siap-siap bosan melihat wajahku"
ucap Vania terkekeh pelan
"Bagaimana bisa aku bosan denganmu Nona? Kau sangat sopan dan menyenangkan"
"Begitu juga dengan keluarga Bibi, Bibi Merry, Paman Tono, dan Gara sangat baik terhadapku"
"Tidurlah Nona kau terlalu banyak bicara, ingatlah kau harus beristirahat"
ucap Bibi Merry terkekeh
"Terima kasih dan selamat tidur Bi"
jawab Vania tersenyum lalu akhirnya tertidur dengan nyaman dan melupakan semua hal yang membuat hatinya tidak baik hari ini.
*
__ADS_1
*
*