
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Astaga!"
Bukan hanya Vania, Clara pun kaget melihatnya terlebih ketika tulisan besar yang terlihat jelas oleh siapapun.
Apa ini yang Varel khawatirkan?-Vania.
"Van, apa yang terjadi?" tanya Clara dengan raut wajah terkejutnya.
Vania yang saat itu masih shock hanya diam namun tiba-tiba tatapannya terpaku pada sebuah amplop putih yang ada diatas berkasnya. Dengan segera, ia mengambil dan membukanya.
Bagaimana? Apa menyenangkan merebut sesuatu yang bukan milik mu?
"Ya Tuhan! Apa kau sedang di teror?" tanya Clara khawatir.
Vania kembali menatap foto-foto kebersamaan Varel dan Dinda yang begitu banyak tertempel di lemarinya.
"Clara, bisakah aku meminta tolong untuk merahasiakan ini dari siapapun?" tanya Vania pelan.
"Hei, itu bisa mengancam nyawa mu" ucap Clara tidak setuju.
"Setidaknya Varel tau dan akan melindungi mu."
Vania menggeleng pelan. "Varel sedang punya masalah yang lebih serius. Jangan menganggap ini terlalu serius, mungkin saja hanya orang iseng" ucap Vania tersenyum tipis.
Setelah meyakinkan Clara untuk merahasiakan dari semua orang, akhirnya Vania keluar dari restoran menuju ke mobilnya.
"Astaga, Vania!" teriak Clara terkejut.
Bagaimana tidak? Mobil Vania sudah dilumuri dengan cat merah bertuliskan pelakor bahkan ada beberapa bangkai tikus yang disimpan di atas mobilnya.
"Brengsek! Siapa yang berani melakukan ini padamu?!"
Clara tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang berani mengusik milik seseorang yang berpengaruh di kota ini.
Salah satu pelayan restoran yang juga melihatnya pun ikut mendekat. "Apa yang terjadi, Mbak?"
"Juli, tolong periksa cctv sekitar dan cari tau siapa yang terlihat sangat mencurigakan" ucap Clara memerintah.
Melihat Vania yang hanya diam, Clara pun mendekat seraya menggenggam tangannya erat.
"Jangan terlalu dipikirkan, Varel pasti akan mencari tau siapa yang berani melakukan itu padamu" ucap Clara pelan.
__ADS_1
Tiba-tiba beberapa karyawan dari restoran maupun toko kue pun mulai mendekat.
"Astaghfirullahaladzim, Mbak. Apa yang terjadi?!" tanya Iwan, karyawan dari toko roti Vania.
"Mbak?! Mbak Vania?!"
Tika yang berkali-kali meneriaki nama Vania pun akhirnya membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Eh—iya?"
Tika mendekati Vania lalu menggenggam tangannya. "Mbak, ayo telpon Tuan Muda sekarang. Jangan berusaha untuk menyembunyikan apapun darinya. Tika tau bagaimana sifat Mbak Vania."
Clara mengangguk setuju. "Dia bahkan mendapat teror dua kali dalam waktu yang singkat. Ini bisa saja menyangkut nyawa."
"Dua kali? Dimana, Mbak Clara?"
"Dalam lemari di ruangannya, Tik. Bertebaran foto kebersamaan Varel dan mantan kekasihnya dulu, juga ada surat yang seolah mengatakan hal yang sama pada tulisan di mobil" ucap Clara menjelaskan.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi?!"
Saat Vania hendak menelepon sang suami, tiba-tiba layar ponselnya menyala menandakan ada panggilan masuk dari Varel.
Vania pun segera mengangkat panggilan tersebut tanpa berbicara.
"Sayang? Kau tidak apa-apa?!" tanya Varel diseberang sana.
Vania yang mendengarnya sedikit terkejut seolah bertanya bagaimana bisa Varel mengetahuinya. "Aku baik-baik saja, Sayang. Ada apa?" tanya Vania pelan.
Vania menggeleng pelan namun tidak terlihat oleh Varel. "A-aku takut.." lirih Vania pelan tanpa sadar air matanya sukses mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Tunggulah sebentar, Sayang, aku segera kesana. Tolong tetap dalam ruangan bersama Clara dan Tika. Jangan meminta siapapun untuk mendekati mobil karena itu akan menjadi barang bukti untukku mencari siapa yang berani meneror istriku."
Setelah mengatakan itu, Varel segera memutuskan panggilan dan bersiap untuk mendatangi sang istri.
"Van, ayo kita masuk dulu. Dan semuanya jangan mendekati mobil."
Clara mengambil alih perintah untuk memerintahkan semua orang agar tidak mendekati mobil. Akhirnya, ia dan Tika membawa Vania kembali masuk ke restoran.
*****
Saat itu, Varel sedang mengadakan rapat dadakan dengan para direktur perusahaan sehingga ia tidak memeriksa ponselnya dimana sang istri mengirimkannya pesan.
Beberapa menit berlalu hingga rapat telah selesai dan tiba-tiba ponsel Varel berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
Unknown Number
"Lihatlah apa yang terjadi pada istri tercinta mu."
Setelah mengatakan itu dengan pengubah suara hingga Varel tidak tau pria atau wanita yang meneleponnya. Ponselnya pun kembali berdering.
__ADS_1
Unknown Number
Unknown Number mengirimkan foto.
Betapa terkejutnya Varel ketika melihat mobil yang sangat ia kenal tiba-tiba berubah warna menjadi warna merah dengan berbagai macam tulisan terutama tulisan besar yang bertuliskan pelakor membuat Varel seketika naik darah melihatnya.
"Brengsek! Siapa yang berani melakukan ini pada istri ku?!" teriak Varel menjadi-jadi membuat Sekretaris Dim segera masuk ke ruangannya.
"Ada apa, Tuan Muda?!" tanya Sekretaris Dim khawatir.
Tanpa mengatakan apapun, Varel melempar ponselnya ke atas meja dan disambut segera oleh Sekretaris Dim.
Tanpa menunggu waktu lama, Sekretaris Dim segera memerintahkan semua pengawal untuk mencari tau siapa dalang dari teror pada Nona Muda hari ini.
"Sebaiknya Tuan Muda segera bertanya kabar Nona Muda sekarang. Saya akan mencari tau semuanya."
Dengan segera Varel menelepon sang istri untuk mengetahui kabar tentangnya. Dan Sekretaris Dim pun juga segera menelepon Pak Alex untuk mengabari hal yang telah terjadi.
*****
"Van, apa ada masalah?" tanya Clara pelan setelah memberikan segelas air untuk Vania.
Vania menggeleng pelan. "Aku tidak tau. Selama ini rumah tangga ku baik-baik saja" ucap Vania yang membuat Clara dan Tika benar-benar tidak habis pikir.
"Aku akan meminta Reza untuk membantu mencari tau yang terjadi."
Clara segera menelepon suaminya untuk mengabari kejadian hari ini.
"Mbak, Tika minta izin untuk menceritakannya pada Mas Bas" ucap Tika yang juga segera menelepon sang suami.
Vania hanya diam walaupun dalam hatinya ia sangat takut tentang apa yang terjadi sekarang. Ini pertama kalinya ia mendapatkan teror ditengah-tengah kota dan bahkan di siang hari. Namun, tak ada jejak apapun yang tertinggal dari si pelaku terutama cctv yang tidak merekam siapapun yang mencurigakan.
"Sepertinya dia orang yang cukup ahli" ucap Clara ketika ia telah selesai menghubungi sang suami.
Tika mengangguk setuju. "Tidak ada jejak apapun dan anehnya cctv tidak merekam apapun."
"Keanehan lainnya adalah ketika dia bisa masuk ke restoran bahkan masuk ke ruangan Vania namun tidak meninggalkan jejak apapun seperti pintu yang dicongkel paksa atau sebagainya."
Saat sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, ponsel Vania kembali berdering menandakan notifikasi sebuah pesan masuk.
Unknown Number
Bagaimana? Apa menyenangkan mendapat hadiah dari ku? Kapan-kapan aku akan mengirimkannya lagi padamu.
Vania benar-benar terkejut ketika membaca pesan dari seseorang yang menerornya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa pelaku mendapat nomornya bahkan nomor Varel.
*
*
__ADS_1
*