Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Nasihat Dimas


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_ 😘


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Kamar


Setelah selesai menjelaskan semuanya kepada kedua orang tua mereka, Vania diminta untuk menempati kamar kosong yang ada di tepat sebelah kamar Daniel yang sudah dibersihkan oleh para pelayan


Bahkan ada begitu banyak pelayan yang bolak balik mengantar pakaian Vania dan Varo yang tentu saja sudah diperintahkan oleh Papa Lyno atau Daniel hingga di kamar tersebut sudah lengkap semua kebutuhan Vania dan Varo


Dan disini Vania berada bersama Varo didalam kamar yang akan ditempatinya selama berada di Amerika yang tak tau sampai kapan mereka disini


"Mom?"


panggil Varo pelan saat baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Mommy nya yang sedang duduk termenung di sofa yang menghadap ke balkon kamar


"Ya, sayang. Ada apa?"


tanya Vania menoleh


"Mommy masih sedih?"


tanya Varo pelan lalu berjalan mendekati Mommy nya


"Pasang baju dulu, sayang. Varo tidak mau kan jubah nya melorot?"


ucap Vania terkekeh yang membuat Varo langsung cengengesan lalu berjalan ke arah lemari pakaian


Tak lama kemudian Vania merasakan bahwa ada tangan kecil yang memeluknya dari belakang dan bisa dipastikan itu adalah Varo


Vania langsung terdiam tanpa merespon karena dirinya mengingat kebiasaan Varel yang tiba-tiba bisa memeluknya dengan erat


"Mom?"


"Eh-iya kenapa sayang? Sini duduk dekat Mommy"


Varo pun langsung menuruti keinginan Vania dan duduk disebelah Mommy nya


"Varo senang tinggal bersama Oma dan Opa?"


tanya Vania menatap Varo intens


"Senang sekali, suasana disini begitu sejuk dan menyenangkan. Tapi alasan pertama Varo adalah Varo senang jika Mommy juga senang"


ucap Varo tersenyum


"Varo tidak merindukan Indonesia?"


"Varo ingin belajar disini dan mencari hal baru agar Varo bisa menemukan hobby baru"


"Oh ya? Varo sekarang tertarik dengan apa disini?"


"Perpustakaan Papa sangat besar dan buku-bukunya sangat banyak, Varo ingin membacanya"


ucap Varo bersemangat


"Nanti setelah makan malam minta izin dengan Papa ya"


"Baik, Mom"


Hening, semua kembali terdiam untuk beberapa saat hingga Varo kembali membuka suara


"Mom?"


"Kenapa, sayang?"


"Varo ingin belajar bela diri disini"

__ADS_1


"APA??!!"


"Tapi jika Mommy tidak mengizinkannya Varo tidak akan melakukan hal itu"


ucap Varo menggeleng cepat


Dan Vania sempat melihat tatapan kecewa dari Varo saat mendengar tanggapan Vania yang terkejut jika anak seusianya ingin berlatih bela diri


"Sayang, Mommy tidak melarang mu melakukan apapun yang kau inginkan jika itu bersifat positif. Tapi bisakah Mommy bertanya mengapa kau tiba-tiba ingin berlatih bela diri?"


"Itu rahasia, Mom"


"Jadi, ada yang sudah berani main rahasia-rahasiaan ya sama Mommy?"


Vania langsung menggelitik sang anak membuat tawa Varo pecah karena merasa geli


"Mom, hentikan"


teriak Varo disela-sela gelak tawanya


Keduanya masih bercanda hingga tidak menyadari bahwa pintu kamar terbuka dan Daniel menatap mereka dari depan pintu


Tuhan, terima kasih Engkau sudah mengembalikan tawa Vania.-Daniel


"Apa Papa El tidak dihiraukan disini?"


ketus Daniel karena Vania dan Varo tidak menanggapi kehadirannya


"Oh, ada Papa ya?"


ucap Varo dengan nada mengejek


"Hei, jangan begitu dengan Papa. Ambil hatinya agar Papa El bisa menuruti keinginanmu"


bisik Vania yang membuat Varo tersenyum


"Varo lupa, Mom"


balas Varo pelan


tanya Daniel lalu berjalan mendekati keduanya


"Papa tidak lelah setelah perjalanan tadi? Mau Varo pijit?"


tawar Varo lalu duduk dipangkuan Daniel membuat pria itu mengerutkan kening


"Ada apa denganmu?"


tanya Daniel heran


"Mommy suka mengajarkan Varo untuk harus sopan dan menawarkan bantuan kepada orang yang lebih tua. Varo melihat wajah Papa kelelahan jadi Varo menawarkan diri untuk memijit Papa El"


"Pintar sekali berbicara pasti ada udang dibalik batu"


"Tidak ada segala udang dibalik batu, Pa. Yang ada kalau udang dibalik ya tumpah"


jawab Varo santai yang membuat Vania tergelak


"Varo mau apa? Tumben sekali menawarkan diri memijit Papa"


"Jangan suudzon dengan Varo, Pa"


"Baiklah, maafkan Papa"


"Tapi Varo beneran mau sesuatu"


gumam Varo pelan yang membuat Daniel melongo sedangkan Vania sudah tertawa sejak tadi


"Ingin apa?"


"Varo mau ke perpustakaan Papa"

__ADS_1


"Di sana hanya sedikit komik, Son. Sisanya semua buku tentang bisnis"


"Tidak apa-apa, Pa. Varo ingin membacanya"


"Varo tertarik dengan bisnis?"


"Tidak"


"Lalu?"


"Varo tertarik dengan perempuan, Pa"


"Astaga, anak siapa ini? Kenapa pintar sekali berbicara?"


ketus Daniel dengan kesalnya


"Pa, Varo juga ingin belajar bela diri"


"Di usia mu yang ke 6 tahun?"


"Ya, jika perlu besok Varo sudah bisa belajar"


"Mengapa begitu cepat? Kau tidak ingin berjalan-jalan di kota ini? Dan apa alasanmu ingin belajar bela diri? Kau harus punya alasan yang kuat Son agar Papa bisa menyediakan guru terbaik"


"Varo hanya tertarik dengan bela diri, Pa. Dan tentu Varo akan melindungi kekasih Varo nantinya"


"Varo, jangan seperti Papi Bas yang playboy ya"


tegur Vania saat mendengar penuturan Varo


"Varo tampan, Mom. Jadi tidak heran jika banyak yang mendekati Varo tapi sungguh Varo tidak menanggapi mereka, jadi Varo tidak bisa dijuluki playboy"


"Kau sudah membahas masalah kekasih, apa kau memiliki kekasih?"


"No. Varo tidak memiliki kekasih, Varo hanya ingin melindungi perempuan karena Mommy Varo perempuan dan Oma Varo juga perempuan"


*****


Gedung Fernandez Group


Ruangan Presdir


"Tuan Muda"


panggil sekretaris Dim pelan membuat Varel menoleh kearahnya dengan wajah datar dan tatapan tajam


"Tuan Alexandre menelpon"


"Aku tidak ingin diganggu oleh siapapun"


"Tuan, kita harus mendengar penjelasan Tuan Alexandre"


"APA YANG HARUS KU DENGAR LAGI?"


bentak Varel dengan wajah memerah menahan amarah


"Kak Varel"


Mode Adik on


"Kak Vania menderita karena kesalahpahaman bahkan kita tidak tau kemana Kak Daniel membawa Kak Vania pergi, bahkan untuk mempertemukan kalian sepertinya kemungkinan yang sangat kecil karena aku juga tau bagaimana perasaan sayang Kak Daniel terhadap adiknya. Jika Kak Varel tidak ingin mencari Kak Vania setidaknya dengar penjelasan Kak Bas agar Kak Varel bisa menyimpulkan siapa yang salah disini"


ucap sekretaris Dim yang membuat Varel terdiam tanpa menjawab apa-apa


"Kak Varel, kita semua sama seperti Kak Varel yang sedang pusing karena masalah perusahaan. Tapi aku mohon Kak, jangan lampiaskan kemarahan Kak Varel kepada orang yang tidak tau apa-apa. Jangan lupa juga jika Kak Vania sedang hamil besar"


Varel seakan tertampar dengan ucapan sekretaris Dim bahkan tak ada satu pun kalimat sekretaris Dim yang dibantah olehnya karena semua itu memang benar adanya


"Pikirkan dengan baik, Kak. Permisi"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2