
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađ„°đ...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guysđ„°đ!!!!
*****
Setelah semua pesta selesai, Vania kembali ke kamarnya dengan kedua bayi kembar yang sudah sejak tadi pulas tertidur di box bayi dengan Nike dan Bi Ijah yang menemani mereka.
âTerima kasih banyak Bi Ijah dan Nikeâ ucap Vania ketika Bi Ijah dan Nike pamit untuk kembali ke kamar mereka setelah menidurkan baby Al dan baby El.
Vania mendorong kursi rodanya mendekati box bayi dan menatap kagum kedua anaknya yang sedang tertidur pulas.
âTerima kasih, Sayang. Terima kasih sudah hadir di hidup Mommy dan Daddy.â
Tiba-tiba Vania merasakan ada tangan kekar memeluknya dan hanya dengan mencium wanginya saja Vania sadar jika itu suaminya.
âApa Mommy sedang bergosip dengan anak-anak?â bisik Varel pelan karena ia takut baby El menangis karena bayi itu sangat sensitive dengan suara.
Vania tersenyum tipis seraya tangannya mengelus pelan tangan suaminya. âIni benar-benar tidak adil. Mereka mewarisimu semuanya padahal kan aku yang membawa mereka selama 9 bulanâ ucap Vania mengerucutkan bibirnya membuat Varel terkekeh pelan.
âApa jika mereka mirip aku akan terlihat lebih buruk?â
âTentu saja. Apalagi jika dingin dan acuh. Astaga, aku benar-benar tidak tahanâ
âHei, aku tidak dinginâ ucap Varel tidak terima.
âDasar tidak mengaku. Kau bahkan dulu melempar surat perjanjian di wajahkuâ
âSayang, jangan ingat itu lagiâ. Segera, Varel memeluk sang istri agar Vania tidak mengingat semua hal jahat yang pernah ia lakukan.
âAku ingat sekali saat aku dituduh mendekati Vandi hanya untuk kekayaan.â
âSayang, jaââ
âApalagi ketika aku dibentak hanya karena membuat kopi hitam sendiri.â
âSayang.. ayââ
âDan ketika kepala ku terbentur kaca mobil saat pesta Nona Dinda. Juga ketika di aparââ
Ucapan Vania terpotong ketika bibirnya menyentuh sesuatu yang kenyal. Ya, Varel langsung membungkam mulut istrinya dengan ciuman tak lupa dengan menutup mata kedua anaknya dengan tangannya walaupun kedua bayi kembar tersebut sedang tidur.
Setelah ciuman tersebut berlangsung lumayan lama, Varel melepaskan ciumannya lalu mengelap bibir sang istri.
âHei, kau membuat anak-anak melihatnyaâ gerutu Vania kesal karena suaminya menciumnya dihadapan kedua bayi kembarnya.
âAku sudah menutup mata mereka. Kau berbicara seperti itu, jadi aku tidak tahanâ
âKan memang seperti itu faktanya. Akââ
âSayang..â
âHei, aku hanya bercandaâ ucap Vania terkekeh pelan membuat Varel memeluknya erat.
âTerima kasih sudah menjadi wanita yang sangat kuat. Terima kasih sudah bertahan denganku. Dan terima kasih untuk hadiah yang kau berikan..â
__ADS_1
âHemâ
Seketika, Varel melepaskan pelukannya dan menatap istrinya dengan penuh tanda tanya seolah bertanya mengapa.
âAku hanya ingin belajar cuek.â
âHehâ
âHahahaâ
*****
Setelah membantu istrinya membasuh diri, Varel dengan sigap menggendong Vania dan mendudukkannya di atas tempat tidur seraya dirinya berlari ke walk in closet untuk mencari piyama tidur istrinya.
Vania menatap suaminya haru, ia benar-benar menjadi sosok suami yang siap siaga dengan membantu apapun yang Vania butuhkan selama ini.
Tuhan, terima kasih atas semuanya. Aku sungguh bersyukur.-Vania.
Ternyata, perpisahan itu mengajarkan mereka untuk lebih menghargai satu sama lain dan belajar untuk tidak egois karena mereka sudah memiliki empat orang anak bahkan anak yang benar-benar keluar dari rahimnya pun sudah ada. Vania bersyukur karena jarak yang memisahkan mereka selama kurang lebih empat bulan membuat mereka bertemu dengan sosok yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Karena terlalu larut dengan pikirannya, Vania tidak menyadari bahwa suaminya sudah kembali.
âApa yang sedang kau pikirkan?â tanya Varel setelah mencium pucuk kepala istrinya.
Vania terkekeh melihat suaminya kembali menjadi bucin setelah sekian lama. âHanya memikirkan mengapa Tuan Muda ini sangat bucin.â
âHei, mengapa kau baru menyadarinya?â
âAstaga, bagaimana jika anak-anakku menjadi seperti Daddy mereka?â
âAnak kita, Sayang. Anak kitaâ tegur Varel yang membuat Vania seketika tertawa.
âYa, maksudku anak kitaâ
âMereka akan menjadi sepertikuâ ucap Varel membanggakan diri.
Vania mengerutkan kening. âMenjadi pria arogan dan tidak pernah senyum?â
âHei, bukan itu astaga. Kau hanya memikirkan keburukanku sajaâ
Vania tertawa mendengar suaminya kembali protes. âBukannya memang seperti itu Tuan Muda?â
âSayang, kau tidak ingin kan aku memakan mu sekarang?â
Plak
Refleks Vania memukul lengan suaminya dengan raut wajah yang kesal.
âKau ingin membunuhku lalu kau akan menjadi duda keren?â gerutu Vania dengan kesal.
Varel benar-benar merindukan momen itu, momen dimana ia menikmati wajah kesal istrinya. âTentu saja tidak. Bagaimana aku hidup jika bidadari ku saja tidak ada?â
âCeh, berhenti bertingkah. Bidadari apanya? Tubuhku akan melebar setelah melahirkanâ
âAku tidak peduli. Kau tetap yang tercantikâ
âTidak, aku tidak akan cantik lagi. Tubuhku akan semakin gemuk dan lemak tidak akan berpindah dari tubuhkuâ ucap Vania seraya menghela nafas berat.
__ADS_1
Varel terkekeh melihat istrinya yang khawatir akan tubuhnya, namun Vania mengira sang suami tertawa karena membenarkan ucapannya.
Plak
âSana, kau tidur saja di luarâ ucap Vania lalu membaringkan dirinya membelakangi Varel yang sedang mengutuk dirinya yang tanpa sadar tertawa.
Mati aku.-Varel.
âSayang?â. Hening.
âHei, Sayang. Bukan begitu maksudkuâ. Hening.
Varel menghela nafas karena istrinya benar-benar mendiaminya.
Saat mendengar helaan nafas sang suami, Vania seketika berbalik dengan tatapan yang mematikan membuat Varel refleks menelan ludah karenanya.
âKau sudah tidak mencintaiku lagi, ya?â
âHei, tiba-tiba sekali. Siapa yang bilang begitu?â
âItu buktinya. Jika memang kau mencintaiku, kau akan menjawab âaku mencintaimuâ tapi ternyata kau menjawab lain. Sudahlah, kau tidur saja diluarâ
Jika kalian melihat wajah lucu Vania ketika marah, kalian semua tak akan bisa sesabar Varel yang sedang menahan tawa karena takut anak-anaknya terbangun dari tidur.
Varel segera memeluk tubuh wanita yang sedang kesal kepadanya seraya terkekeh pelan. âKau sengaja agar aku tidak melepaskanmu hem?â
âAku seriusâ ketus Vania dengan kesalnya.
Varel melonggarkan pelukannya seraya mengelus pelan pucuk kepala sang istri. âAda apa dengan istriku? Kenapa tiba-tiba memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan?â
âKau sudah tidak mencintaiku?â tanya Vania menatap lekat mata elang yang juga sedang menatapnya membuat Varel terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan istrinya.
Cup.
âApa yang harus aku lakukan agar pertanyaan itu tidak keluar lagi dan agar kau tidak meragukan perasaanku?â
Vania tiba-tiba membenamkan wajahnya pada dada bidang milik sang suami. âEntahlahâ
âHei mengapa seperti itu?â
âBagaimana jika tubuhku melebar? Apa kau akan meninggalkanku? Apa kau akan mencari wanita lain yang sangat seksi? Apa kau akan menikah lagi? Atauââ
âSayang..â
âApa?â
âUntuk apa aku mencari wanita lain? Dengan istriku saja aku benar-benar bahagia.â
âCeh, jangan menggombalâ ucap Vania tersenyum tipis.
âBerhentilah memikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkanâ
âJika begitu, otakku akan menjadi pengangguranâ
âAstaga.â
*
__ADS_1
*
*