Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Overthinking


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


Setelah semua pesta selesai, Vania kembali ke kamarnya dengan kedua bayi kembar yang sudah sejak tadi pulas tertidur di box bayi dengan Nike dan Bi Ijah yang menemani mereka.


“Terima kasih banyak Bi Ijah dan Nike” ucap Vania ketika Bi Ijah dan Nike pamit untuk kembali ke kamar mereka setelah menidurkan baby Al dan baby El.


Vania mendorong kursi rodanya mendekati box bayi dan menatap kagum kedua anaknya yang sedang tertidur pulas.


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah hadir di hidup Mommy dan Daddy.”


Tiba-tiba Vania merasakan ada tangan kekar memeluknya dan hanya dengan mencium wanginya saja Vania sadar jika itu suaminya.


“Apa Mommy sedang bergosip dengan anak-anak?” bisik Varel pelan karena ia takut baby El menangis karena bayi itu sangat sensitive dengan suara.


Vania tersenyum tipis seraya tangannya mengelus pelan tangan suaminya. “Ini benar-benar tidak adil. Mereka mewarisimu semuanya padahal kan aku yang membawa mereka selama 9 bulan” ucap Vania mengerucutkan bibirnya membuat Varel terkekeh pelan.


“Apa jika mereka mirip aku akan terlihat lebih buruk?”


“Tentu saja. Apalagi jika dingin dan acuh. Astaga, aku benar-benar tidak tahan”


“Hei, aku tidak dingin” ucap Varel tidak terima.


“Dasar tidak mengaku. Kau bahkan dulu melempar surat perjanjian di wajahku”


“Sayang, jangan ingat itu lagi”. Segera, Varel memeluk sang istri agar Vania tidak mengingat semua hal jahat yang pernah ia lakukan.


“Aku ingat sekali saat aku dituduh mendekati Vandi hanya untuk kekayaan.”


“Sayang, ja—”


“Apalagi ketika aku dibentak hanya karena membuat kopi hitam sendiri.”


“Sayang.. ay—”


“Dan ketika kepala ku terbentur kaca mobil saat pesta Nona Dinda. Juga ketika di apar—”


Ucapan Vania terpotong ketika bibirnya menyentuh sesuatu yang kenyal. Ya, Varel langsung membungkam mulut istrinya dengan ciuman tak lupa dengan menutup mata kedua anaknya dengan tangannya walaupun kedua bayi kembar tersebut sedang tidur.


Setelah ciuman tersebut berlangsung lumayan lama, Varel melepaskan ciumannya lalu mengelap bibir sang istri.


“Hei, kau membuat anak-anak melihatnya” gerutu Vania kesal karena suaminya menciumnya dihadapan kedua bayi kembarnya.


“Aku sudah menutup mata mereka. Kau berbicara seperti itu, jadi aku tidak tahan”


“Kan memang seperti itu faktanya. Ak—”


“Sayang..”


“Hei, aku hanya bercanda” ucap Vania terkekeh pelan membuat Varel memeluknya erat.


“Terima kasih sudah menjadi wanita yang sangat kuat. Terima kasih sudah bertahan denganku. Dan terima kasih untuk hadiah yang kau berikan..”

__ADS_1


“Hem”


Seketika, Varel melepaskan pelukannya dan menatap istrinya dengan penuh tanda tanya seolah bertanya mengapa.


“Aku hanya ingin belajar cuek.”


“Heh”


“Hahaha”


*****


Setelah membantu istrinya membasuh diri, Varel dengan sigap menggendong Vania dan mendudukkannya di atas tempat tidur seraya dirinya berlari ke walk in closet untuk mencari piyama tidur istrinya.


Vania menatap suaminya haru, ia benar-benar menjadi sosok suami yang siap siaga dengan membantu apapun yang Vania butuhkan selama ini.


Tuhan, terima kasih atas semuanya. Aku sungguh bersyukur.-Vania.


Ternyata, perpisahan itu mengajarkan mereka untuk lebih menghargai satu sama lain dan belajar untuk tidak egois karena mereka sudah memiliki empat orang anak bahkan anak yang benar-benar keluar dari rahimnya pun sudah ada. Vania bersyukur karena jarak yang memisahkan mereka selama kurang lebih empat bulan membuat mereka bertemu dengan sosok yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Karena terlalu larut dengan pikirannya, Vania tidak menyadari bahwa suaminya sudah kembali.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Varel setelah mencium pucuk kepala istrinya.


Vania terkekeh melihat suaminya kembali menjadi bucin setelah sekian lama. “Hanya memikirkan mengapa Tuan Muda ini sangat bucin.”


“Hei, mengapa kau baru menyadarinya?”


“Astaga, bagaimana jika anak-anakku menjadi seperti Daddy mereka?”


“Anak kita, Sayang. Anak kita” tegur Varel yang membuat Vania seketika tertawa.


“Ya, maksudku anak kita”


“Mereka akan menjadi sepertiku” ucap Varel membanggakan diri.


Vania mengerutkan kening. “Menjadi pria arogan dan tidak pernah senyum?”


“Hei, bukan itu astaga. Kau hanya memikirkan keburukanku saja”


Vania tertawa mendengar suaminya kembali protes. “Bukannya memang seperti itu Tuan Muda?”


“Sayang, kau tidak ingin kan aku memakan mu sekarang?”


Plak


Refleks Vania memukul lengan suaminya dengan raut wajah yang kesal.


“Kau ingin membunuhku lalu kau akan menjadi duda keren?” gerutu Vania dengan kesal.


Varel benar-benar merindukan momen itu, momen dimana ia menikmati wajah kesal istrinya. “Tentu saja tidak. Bagaimana aku hidup jika bidadari ku saja tidak ada?”


“Ceh, berhenti bertingkah. Bidadari apanya? Tubuhku akan melebar setelah melahirkan”


“Aku tidak peduli. Kau tetap yang tercantik”


“Tidak, aku tidak akan cantik lagi. Tubuhku akan semakin gemuk dan lemak tidak akan berpindah dari tubuhku” ucap Vania seraya menghela nafas berat.

__ADS_1


Varel terkekeh melihat istrinya yang khawatir akan tubuhnya, namun Vania mengira sang suami tertawa karena membenarkan ucapannya.


Plak


“Sana, kau tidur saja di luar” ucap Vania lalu membaringkan dirinya membelakangi Varel yang sedang mengutuk dirinya yang tanpa sadar tertawa.


Mati aku.-Varel.


“Sayang?”. Hening.


“Hei, Sayang. Bukan begitu maksudku”. Hening.


Varel menghela nafas karena istrinya benar-benar mendiaminya.


Saat mendengar helaan nafas sang suami, Vania seketika berbalik dengan tatapan yang mematikan membuat Varel refleks menelan ludah karenanya.


“Kau sudah tidak mencintaiku lagi, ya?”


“Hei, tiba-tiba sekali. Siapa yang bilang begitu?”


“Itu buktinya. Jika memang kau mencintaiku, kau akan menjawab “aku mencintaimu” tapi ternyata kau menjawab lain. Sudahlah, kau tidur saja diluar”


Jika kalian melihat wajah lucu Vania ketika marah, kalian semua tak akan bisa sesabar Varel yang sedang menahan tawa karena takut anak-anaknya terbangun dari tidur.


Varel segera memeluk tubuh wanita yang sedang kesal kepadanya seraya terkekeh pelan. “Kau sengaja agar aku tidak melepaskanmu hem?”


“Aku serius” ketus Vania dengan kesalnya.


Varel melonggarkan pelukannya seraya mengelus pelan pucuk kepala sang istri. “Ada apa dengan istriku? Kenapa tiba-tiba memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan?”


“Kau sudah tidak mencintaiku?” tanya Vania menatap lekat mata elang yang juga sedang menatapnya membuat Varel terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


Cup.


“Apa yang harus aku lakukan agar pertanyaan itu tidak keluar lagi dan agar kau tidak meragukan perasaanku?”


Vania tiba-tiba membenamkan wajahnya pada dada bidang milik sang suami. “Entahlah”


“Hei mengapa seperti itu?”


“Bagaimana jika tubuhku melebar? Apa kau akan meninggalkanku? Apa kau akan mencari wanita lain yang sangat seksi? Apa kau akan menikah lagi? Atau—”


“Sayang..”


“Apa?”


“Untuk apa aku mencari wanita lain? Dengan istriku saja aku benar-benar bahagia.”


“Ceh, jangan menggombal” ucap Vania tersenyum tipis.


“Berhentilah memikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkan”


“Jika begitu, otakku akan menjadi pengangguran”


“Astaga.”


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2