
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Terima kasih sudah bertahan hingga sekarang. Kau akan tetap menjadi Adik kecilnya Kak Andri yang selalu merengek minta ice cream"
ucap Andri pelan seraya mengelus pucuk kepala Vania dan menciumnya sesekali
"Kak Andri, maafkan Vania"
Tangis Vania tidak berhenti dan semakin kencang membuat Andri menangkup wajahnya dengan kedua tangan lalu menghapus jejak air mata di wajah Adik kesayangannya itu
"Berhentilah menangis, kau lupa bahwa dirimu sudah menjadi istri dan ibu?"
tanya Andri terkekeh pelan walaupun matanya berkaca-kaca
"Tunggulah sebentar, Kak Andri mempunyai sesuatu untukmu"
Andri pun pamit masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan dan akan diberikannya pada Vania saat mereka bertemu
Sebelum kembali, tiba-tiba Andri meminum sesuatu didalam botol kecil yang ia ambil dari saku celananya
"Ini, berikan untuk keponakanku nanti jika mereka sudah lahir"
ucap Andri pelan seraya memberikan kotak musik klasik yang ia mintai pertolongan kepada pengawal Varel untuk membelikannya
"Boleh Kak Andri mengelus perutmu?"
tanya Andri pelan sedangkan Vania hanya mengangguk dan menatap Andri dengan tatapan teduhnya
"Hai keponakan Uncle, bagaimana kabar kalian? Baik-baik saja ya disana sampai Mommy kalian mengajak kalian keluar dan menikmati dunia. Uncle berdoa semoga kalian menjadi anak yang baik dan pintar, jangan membantah ucapan Mommy dan Daddy"
ucap Andri tersenyum tipis membuat Vania bahkan Varel meneteskan air mata mendengar ucapannya yang begitu tulus
"Kemari lah Kak Andri ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya"
lirih Andri pelan seraya merentangkan tangannya membuat Vania memeluknya erat
"Terima kasih sudah hadir di kehidupan Kak Andri, dua tahun sudah cukup Kak Andri mengenalmu. Terima kasih sudah mau menjadi Adik dari seorang Andri yang dikenal dingin disekolah"
ucap Andri terkekeh pelan
"Tidak ada yang bisa menggantikan mu di hati Kak Andri. Sudah cukup selama dua tahun Kak Andri mengenalimu, menjagamu, dan menghiburmu. Saat ini Kak Andri pamit pergi ya, jaga dirimu baik-baik dan ingat bahwa kau sudah bersuami dan mempunyai anak, hormati suamimu dan didik anak-anakmu dengan baik"
"Kak Andri berbicara apa sih?"
ketus Vania kesal karena ia tidak ingin Andri mengatakan hal yang tidak-tidak
"Kak Andri begitu menyayangimu, Adik kecil Kakak. Oh iya, jika anak-anakmu sudah lahir jangan lupa ceritakan pada mereka bahwa mereka memiliki Uncle yang jahat dan bodoh, Uncle yang tidak bisa menjaga Mommy mereka, Uncle yang kehilangan Mommy mereka selama bertahun-tahun"
"Kak Andri-"
"Sungguh, Kak Andri begitu menyayangimu-"
Tiba-tiba Andri batuk-batuk dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya hingga dirinya lemas dan terjatuh dipelukan Vania
"KAK ANDRI...KAK ANDRI"
teriak Vania khawatir
"Kak, Kak Andri, ada apa dengan Kakak?"
Lagi-lagi hanya isak tangis Vania yang terdengar bahkan dirinya tidak merasakan pergerakan apapun pada Andri yang dipelukan nya
Sekretaris Dim maju mendekat dan meletakkan tangannya di leher Andri sebentar lalu mengatakan bahwa Andri sudah tak bernyawa
Deg
__ADS_1
Bagai disambar petir disiang bolong, tubuh Vania hampir kehilangan keseimbangan dan dengan sigap Varel menahannya
"TIDAK-TIDAK, KAK ANDRI BANGUNLAH"
"Sayang, tenanglah"
ucap Varel seraya memeluk Vania dengan erat
Sekretaris Dim lalu mengatakan kepada polisi yang berjaga disana bahwa Andri sudah tak bernyawa dengan darah yang keluar dari mulutnya
"Kak Andri, mengapa Kak Andri meninggalkan Vania lagi?"
Tangis wanita itu pecah saat melihat beberapa polisi mengangkat tubuh Andri menuju rumah sakit di kantor polisi tersebut
"Sayang, tenanglah dan ingat bayi kita"
"Tidak, tidak tolong katakan padaku bahwa Kak Andri baik-baik saja"
lirih Vania menatap Varel sendu sedangkan yang ditatap hanya diam
"VAREL, KATAKAN PADAKU"
teriak Vania yang membuat Varel semakin memeluknya erat
"Sayang, ini sudah menjadi rencana Tuhan dan kita harus menerimanya"
"Tidak, bagaimana bisa seperti ini? Kak Andri sungguh sudah berjuang untukku bahkan Kak Andri rela bertanggung jawab dengan kesalahan yang tidak dia buat hanya untuk melindungi ku. Bagaimana bisa ini terjadi, sayang?"
Tiba-tiba tubuh Vania ambruk dan dirinya pingsan di pelukan Varel, dengan sigap Varel menggendong istrinya dan membawanya ke ruang rawat inap yang ada di rumah sakit kantor polisi.
*****
Beberapa jam kemudian, Vania yang sudah sadarkan diri pun mencoba bangun namun dihalangi oleh Varel yang memintanya untuk tidak bangun segera
"Sayang, istirahatlah"
"Sebentar lagi pemakaman akan dilaksanakan, apa kau ingin pergi melihat Andri untuk yang terakhir kalinya?"
"Pemakaman siapa yang kau maksud? Kak Andri baik-baik saja"
"Sayang, cobalah menerima keadaan"
"Ta-tapi-"
Ucapan Vania terhenti saat Varel tiba-tiba membungkam mulutnya dengan ciuman hingga Vania tidak bisa menolak ataupun memberontak dan hanya bisa meneteskan air mata karena memang itulah kenyataannya, bahwa Andri memang pergi meninggalkannya selamanya
"Aku akan mengajakmu ke pemakaman jika kau berjanji akan kuat dan ingat bayi kita"
ucap Varel pelan yang membuat Vania hanya mengangguk
"Tolong temani aku untuk mengantarkan Kak Andri ke peristirahatannya yang tenang"
lirih Vania menunduk.
*****
Semua orang sudah berkumpul di pemakaman keluarga Fernandez, Varel memang sengaja memakamkan Andri di pemakaman keluarga karena sebagai bentuk terima kasihnya pada Andri yang sudah menyayangi Vania dengan tulus
Selama pemakaman berlangsung, Vania tak berhenti menangis walaupun tidak sampai meronta seperti saat di kantor polisi tadi, dirinya hanya menangis dalam diam seraya sesekali menggenggam erat tangan Varel yang berdiri disebelahnya
"Kau harus kuat, jika bersedih maka Andri disana juga sedih melihatmu"
bisik Varel pelan yang membuat istrinya menghela nafas berat
Selamat jalan Kak Andri, kau akan tetap ada di ruang hatiku.-Vania
*****
Kamar Utama
__ADS_1
Malam harinya, Vania yang masih merasakan dukacita yang paling mendalam hanya bisa duduk di atas tempat tidur dan melamun sedangkan Varel masih berada di kamar mandi
Beberapa menit kemudian, keluarlah Varel dari kamar mandi dan menatap istrinya yang hanya melamun, mungkin bahkan tidak menyadari bahwa Varel sudah selesai mandi
"Sayang?"
panggil Varel saat sudah memasang pakaiannya
"Sayang, apa kau ingin sesuatu?"
Lagi-lagi hanya helaan nafas berat yang terdengar hingga akhirnya Varel memutuskan untuk bergabung dan duduk disebelah istrinya membuat Vania terkejut
"Kau sudah selesai mandi?"
tanya Vania masih dengan raut wajah terkejut
"Kau bahkan tidak menyadarinya"
"Maafkan aku"
lirih Vania pelan
Saat sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba kotak musik hadiah dari Andri seolah menarik Varel untuk melihatnya hingga Varel pun mengambil kotak musik itu dan membukanya
"Sayang, didalam kotak musiknya ada surat"
"Surat?"
"Ya, surat dan mungkin ini tulis tangan Andri untukmu. Kau ingin membacakannya?"
"Kemari kan sayang"
Varel pun memberikan surat tersebut pada Vania dan disambut oleh istrinya lalu Vania membuka dan membaca surat dari Andri yang memang tertuju padanya
Dear, Adikku.
Hai, sayang. Bagaimana denganmu? Apa keadaanmu sudah membaik? Berhenti menangisi pria bodoh ini, air matamu sungguh berharga jika jatuh karena ku.
Kau tau bukan? Saat kau membaca ini, aku tidak ada lagi di sampingmu dan bahkan kita tidak pernah bertemu lagi namun aku mempercayai Varel untuk menjagamu dan melindungi mu, menggantikan posisiku yang tidak bisa lagi bersamamu.
Kau tau? Dulu aku benar-benar dibuat takjub saat mengenalmu, bagaimana tidak? Kau dengan beraninya memarahiku didepan umum padahal kau tidak tau bahwa aku ketua OSIS bahkan ketua panitia masa ospek hahaha.
Itu pertama kalinya aku dibuat seperti patung yang hanya diam saat dimarahi seorang gadis kecil, sungguh aku tidak tau bagaimana bisa lidahku terasa kaku walaupun aku ingin memarahi mu balik.
Hahaha itu akan menjadi kenangan yang sangat indah bagiku, bagaimana takdir mempertemukan kita hingga dua tahun lamanya kita bersama.
Terima kasih sudah masuk tanpa permisi ke dalam hidupku dan terima kasih sudah mengetuk pintu hatiku dan membukanya. Aku benar-benar tidak tau harus menulis apa, sungguh otakku langsung berhenti bekerja sekarang bahkan aku tidak tau apakah bisa melanjutkan surat ini atau tidak.
Eum, aku hanya ingin bilang bahwa aku menyayangimu, sungguh dan benar-benar menyayangimu dengan tulus.
Terima kasih sudah menjadi Adikku.
Salam cinta, Andri.
*
*
*
Jujur author mewek parah pas nulis part ini, kata-kata Andri bener-bener bikin air mata author keluar mulu😭.
Selamat jalan Andri😭.
*
*
*
__ADS_1