
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Kedua pasangan tersebut keluar dari kamar disambut dengan wajah kesal sang anak. Bagaimana tidak? Hari ini weekend namun Vania turun terlalu siang dan melewatkan sarapan paginya.
"Hei, ada apa dengan kalian?" tanya Varel dengan raut wajah heran.
Varo menatap Daddy nya dengan kesal. "Bisakah Daddy berhenti satu hari untuk tidak memakan Mommy?"
Pertanyaan Varo mengundang anggukan kecil dari yang lain. "Daddy selalu memakan Mommy dan membuatnya terlambat sarapan" ucap Elvano dengan wajah seriusnya.
Varel terkekeh pelan seraya menggaruk tengkuknya. Ia tidak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan anak-anaknya. Bagaimana bisa ia berhenti memakan Vania jika istrinya benar-benar terlihat sangat cantik di matanya. Ah, sepertinya jika Vania tidak meminum pil kontrasepsi, Elvano tidak jadi menjadi bontot.
"Aku tau Mommy sangat cantik, tapi jangan setiap hari."
Kali ini anak ketiga atau si lelaki dingin yang membuka suara.
Jika Alvino sudah berbicara, Varel saja malas menjawabnya.
"Hei, sudah-sudah. Mommy tidak apa-apa, jadi kembali lah beraktivitas."
Mereka pun kembali melanjutkan kegiatannya dengan Varo yang sedang bermain playstation bersama Elvano, Alvino yang sibuk membaca buku, dan Lista yang sibuk mewarnai gambar.
"Dimana Oma?"
Mama Melinda memang akan tetap tinggal bersama keluarga Varel walaupun anak-anaknya sudah besar. Sebenarnya, rumah itu adalah rumah peninggalan dari Papa Hendrik atas nama Mama Melinda. Namun, ketika Varel ingin keluar dari rumah itu membawa keluarganya, Mama Melinda menolak dengan alasan dirinya akan benar-benar kesepian.
Dan jadilah keluarga Varel masih tetap tinggal di rumah utama untuk menemani masa tua Mama Melinda. Untuk keluarga Vandi pun sebenarnya diminta tinggal bersama, namun Vandi merasa jarak tempat kerjanya dengan rumah tersebut lumayan jauh sehingga membuat dirinya dan Sandra memilih membeli rumah yang tidak jauh dari rumah sakit dan juga tidak jauh dari rumah utama.
Terkadang, Sheila pun dititipkan di rumah utama untuk menemani Vania dan Mama Melinda ketika tidak ada yang menemaninya di rumah karena Sandra tidak menyewa pengasuh.
"Oma sedang beristirahat di kamarnya. Mau El panggilkan?" tawar lelaki itu.
Varel menggeleng pelan. "Kalian lanjutkan saja. Daddy dan Mommy akan sarapan dulu."
__ADS_1
"Setelah itu, Koko ingin berbicara" ucap Varo yang membuat Vania mengangguk pelan.
*****
Varel mengajak istri dan anak-anaknya menuju ke ruang kerja dimana mereka akan membahas sesuatu seperti yang dikatakan oleh Varo tadi.
Seperti inilah kebiasaan keluarga Varel yang dibiasakan oleh Vania. Mereka akan selalu melibatkan anak-anaknya dalam bagian sekecil apapun. Setiap ada masalah atau pembahasan yang harus dibicarakan, mereka semua harus hadir dan mendengar langsung lalu memberikan pendapat masing-masing. Tujuannya sangat sederhana karena agar keempat anak mereka bisa merasakan bahwa mereka pun turut andil dalam menyelesaikan apapun.
"Bisa berbicara sekarang?" tanya Varo pelan ketika semua orang sudah berkumpul.
"Baiklah, disini Koko hanya ingin membahas tentang perkuliahan. Seperti yang Mommy dan Daddy tau bahwa Opa Lyno sejak dulu meminta Koko untuk berkuliah di sana, sebenarnya Koko juga sudah lama ingin merasakan kuliah dengan suasana yang berbeda. Jadi kemungkinan besar bahwa Koko akan menerima permintaan Opa untuk berkuliah di Amerika."
Ada perbedaan raut wajah yang Vania perlihatkan ketika ia mendengar ucapan sang anak. Memang, sejak dulu mereka tidak pernah berpisah lama. Namun, jika Vania memperlihatkan keegoisannya, itu sangat tidak mungkin dikarenakan ini sudah menjadi mimpi Varo sejak lama.
"Masih tertarik dengan bisnis?" tanya Varel yang membuat Varo mengangguk mantap.
Lelaki itu seolah-olah sudah terikat dengan hal yang berbau bisnis. Bagaimana tidak? Di usianya yang masih sangat muda saja ia sudah masuk ke dunia bisnis, bahkan saat usianya menginjak 15 tahun kemarin, Varo memimpin rapat besar perusahaan.
"Seperti yang bisa ditebak bahwa Daddy akan selalu setuju dengan apapun keputusan yang diambil Koko. Jika memang Koko berminat kuliah di luar negeri silahkan saja, asalkan dengan catatan bahwa jika sudah berani mencoba maka tuntaskan sampai akhir."
"How about me?" (Bagaimana denganku?) tanya Lista mengerutkan keningnya heran.
"I don't know.." (Aku tidak tau.)
"Cici pasti akan ikut ke Amerika jika ada Kak Tian" celetuk Elvano yang membuat semua orang terkekeh pelan.
"Jangan jadikan itu alasan untuk menempuh pendidikan. Seperti yang Daddy katakan kepada Koko, kalau sudah berani mengambil keputusan untuk berkuliah di sini dan mengambil jurusan ini, maka harus tuntaskan sampai akhir bagaimana pun caranya."
"Cici sudah siap berpisah dengan Mommy?" Sekarang, si lelaki dingin membuka suara.
"Hei, jangan katakan itu. Siapa yang siap berpisah dengan pelukan hangat Mommy. Tapi Cici tidak bisa seperti ini terus, Cici harus mencari zona baru."
"Apa nantinya semuanya akan berpisah dengan Mommy?"
Akhirnya Vania mengeluarkan pertanyaan yang sudah ia pendam sejak tadi. Rasanya sangat menyakitkan jika harus berpisah dengan anak-anak yang ia rawat bertahun-tahun.
"No one will leave Mommy." (Tidak ada yang akan meninggalkan Mommy.)
"Ah, Mommy hanya terbawa emosi" ucap Vania seraya menghapus jejak air matanya yang tiba-tiba mengalir membasahi wajahnya.
__ADS_1
Ia sudah banyak menghabiskan waktu bersama dengan anak-anaknya sehingga cukup sulit untuknya menerima bahwa anak-anaknya sudah tumbuh dewasa sekarang dan mereka akan memilih jalan hidupnya masing-masing.
"Aku akan menemani Mommy menikmati masa muda."
"Me too." (Aku juga )
*****
Setelah sesi pembahasan yang dilakukan oleh keluarga Varel, disinilah lelaki itu berada bersama dengan anak tertuanya karena mereka akan membahas beberapa hal mengenai perusahaan.
"Jadi, bagaimana? Sudah siap menerima tawaran Opa?" tanya Varel memulai pembicaraan.
Varo terdiam sejenak untuk memikirkan kata-kata apa yang cocok yang akan ia keluarkan di hadapan Daddy nya.
"Koko belum yakin untuk memimpin perusahaan Opa. Apa bisa dialihkan saja untuk Xavier?"
Varel menggeleng pelan. "Airlangga Group sudah ada di tangan Vier."
"How about Lucas?" (Bagaimana dengan Lucas?)
Lagi-lagi Varel menggeleng pelan. "Lucas sudah dibooking untuk membantu Vier di Airlangga Group. Jika memang Koko tidak sanggup memegang Knipshon Group, Daddy dan Opa juga Papa akan mencarikan orang lain."
Varo terdiam. Memegang perusahaan tidak semudah yang ia bayangkan sehingga membuat sedikit keraguan muncul walaupun ia sangat menyukai bisnis.
"What if I get married first?" (Bagaimana jika saya menikah dulu?)
"Who is your lover?" (Siapa kekasihmu.)
'There isn't any." (Tidak ada.)
"Lalu, kau ingin menikah dengan siapa jika kekasih saja tidak punya?"
"Echy."
*
*
*
__ADS_1