
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Ruang Keluarga
"Nak"
panggil Papa Lyno pelan saat Daniel dan Varo sudah berangkat ke kantor
Pasti masalah itu.-Vania
"Kenapa, Pa?"
tanya Vania pelan
"Sebelum Papa berangkat, Papa ingin berbicara dengan mu tentang masalah Varel"
"Ah, iya"
"Apa kau akan mengajukan surat perceraian?"
tanya Papa Lyno berhati hati membuat anak gadis nya langsung mengangkat kepala menatap Papa Lyno dengan intens
"Pa"
tegur Mama Kusuma
"Papa hanya bertanya bagaimana keputusan mu kedepannya? Bagaimana dengan kedua bayi mu dan bagaimana dengan Lista yang berada di Indonesia?"
"Vania juga tidak tau harus melakukan apa, Pa. Vania terlanjur kecewa dengan apa yang di perbuatnya tapi Vania tidak bisa begitu saja meninggalkan dia"
"Pa, beri lah Vania waktu hingga dia sudah mengambil keputusan nya"
ucap Mama Kusuma
"Baiklah, Papa akan memberikan waktu hingga kau memutuskan apa yang harus kau lakukan. Saran Papa, jika kau ingin menghindari Varel tidak masalah namun yang harus kau ingat adalah putri kecil mu yang ada di sana. Beri lah kabar kepada nya lewat Mama mertua mu, Papa dan Mama juga akan membicarakan ini kepada Melinda"
"Baiklah, Pa. Terima kasih sudah menolong Vania"
"Yasudah, Papa berangkat dahulu"
Kemudian Papa Lyno pun beranjak dari tempat duduk nya untuk pergi memantau proyek
"Sayang"
panggil Mama Kusuma pelan
"Ada apa, Ma?"
"Bagaimana kabar kedua cucu Mama yang di dalam kandungan mu?"
"Mereka baik baik saja, Ma. Vania sudah jarang merasakan kram lagi"
"Apa kau tidak ingin memakan sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak, Ma. Sepertinya mereka mengerti Mommy nya"
ucap Vania terkekeh pelan
"Besok Mama mengajak mu untuk periksa kandungan ya"
"Baiklah Ma"
"Sayang, bagaimana kabar mereka?"
"Vania tidak tau, Ma. Kak El memutuskan komunikasi dengan mereka padahal Vania merindukan Lista"
"Sabar ya, Sayang. Setelah ini Mama dan Papa akan berbicara dengan Melinda"
"Terima kasih, Ma"
*****
Flashback On
Hari Dimana Daniel Membawa Vania
Varel benar benar tidak kembali ke rumah hingga membuat Mama Melinda sadar bahwa ada yang tidak beres dengan rumah tangga nya terlebih Vania juga belum pulang ke rumah
Mama Melinda pun akhirnya meminta Pak San untuk menghubungkan panggilan ke Clara dan Tika untuk menanyakan dimana terakhir mereka bertemu Vania
Tika yang saat itu masih berada di apartemen Bastian pun menjelaskan semuanya ditemani oleh penjelasan Bastian yang membuat Mama Melinda terkejut bukan main terlebih mendengar kabar bahwa Daniel membawa Vania pergi entah kemana
Hingga Mama Melinda menelpon sekretaris Dim untuk meminta penjelasan sang sekretaris tentang apa yang terjadi pada Varel sehingga tidak bisa mengontrol emosi nya dan membuat rumah tangga nya di ambang perceraian
"Dim, apa Varel bersama mu?"
"Iya, Nyonya. Tuan Muda sedang bersama saya"
"Dimana kalian?"
"Villa ujung kota"
jawab sekretaris Dim singkat
Padahal Varel meminta sekretaris Dim untuk merahasiakan dirinya kepada orang lain namun sekretaris Dim tidak bisa merahasiakan itu dari Mama Melinda karena sekretaris Dim juga tau Mama Melinda tidak akan langsung menemui Varel
"Bagaimana keadaannya?"
"Maaf, terlihat sungguh menyedihkan"
"Apa yang dilakukannya sekarang, Dim?"
" Merokok dan minum minuman keras, Nyonya"
"Astaga anak itu. Mengapa dia punya jalan pikiran yang singkat? Apa-"
Pranggggg
Terdengar suara pecahan kaca di seberang sana membuat Mama Melinda bahkan sekretaris Dim sangat terkejut
"Tuan Muda"
teriak sekretaris Dim lalu melempar ponselnya sembarangan
__ADS_1
Sedangkan Mama Melinda hanya diam seraya menunggu penjelasan sekretaris Dim selanjutnya
Beberapa menit yang lalu
Varel terlihat begitu kacau dengan kemeja yang sudah kusut, dasi yang berantakan, dan wajah yang terlihat begitu menyedihkan
Dihadapannya ada sebungkus rokok dan beberapa botol minuman keras yang hampir habis diminum olehnya
Saat ini dirinya hanya ingin mabuk dan melupakan semuanya sejenak karena otaknya tidak bisa berpikir lebih keras. Yang ada dipikirannya hanya pengkhianatan Vania dan Sebastian
Dirinya bahkan menutup mata dengan ucapan sekretaris Dim, dengan keadaan Lista yang ditinggalkannya, dan dengan penjelasan Sebastian yang belum didengarnya
Ia sungguh kecewa dan tetap percaya pada apa yang dilihat oleh mata kepala nya sendiri. Bahkan sekarang dirinya tidak memikirkan Vania yang hamil besar
Prangggg
Varel menampar meja dihadapannya saat hal yang dilihat nya kembali berputar di pikirannya
"Tuan Muda"
terdengar teriakan sekretaris Dim yang terkejut karena mendengar suara pecahan itu
Darah segar menetes dari punggung tangan Varel namun ia tidak merasakan sakit karena yang dirasakannya hanya rasa kecewa dan benci menjadi satu
Sekretaris Dim berjalan mendekatinya dan ingin mengobati luka nya namun ditepis paksa oleh Varel membuat sekretaris Dim menghela nafas berat melihat sifat keras kepala sang majikan
"Sampai kapan?"
Mode adik : on
"Sampai kapan Kak Varel akan seperti ini? Terlihat sungguh menyedihkan dengan menutup diri dari fakta yang ada dan hanya percaya pada apa yang Kak Varel lihat tanpa memberikan kesempatan untuk mereka menjelaskannya?"
ucap sekretaris Dim tegas membuat langkah Varel yang akan pergi ke kamar terhenti namun tidak membalikkan badan menatap sekretaris Dim
"Apa tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya sebelum terlambat?"
"Tidak ada kesempatan untuk pengkhianat"
ucap Varel dingin
"Ck sudah ku duga bahwa Kak Varel akan mengatakan itu"
terdengar helaan nafas berat
"Kak, berhentilah untuk keras kepala. Kak Vania sedang hamil besar dan jangan lupakan anak yang kalian adopsi. Jika tidak becus mengurusnya untuk apa mengadopsi mereka? Apa Kak Varel tidak memikirkan perasaan Varo? Tidak memikirkan perasaan Lista yang menunggu Kak Varel dirumah? Jangan jadikan anak anak sebagai korban broken home. Mereka masih kecil untuk dipaksa mengerti keadaan"
Ucapan sekretaris Dim membuat Varel terdiam hingga tidak mempunyai alasan untuk menentang lagi karena yang dikatakan sekretaris Dim benar bahwa Lista dan Varo bahkan bayi yang ada di kandungan Vania tidak bersalah dan tidak pantas dijadikan korban broken home
"Akan ku berikan waktu hingga Kak Varel memutuskan apa yang akan dilakukan Kak Varel. Beristirahatlah dan tenangkan diri Kak Varel. Selamat malam"
Sekretaris Dim pun pergi meninggalkan Varel yang masih mematung tanpa berani beranjak dari tempatnya
Apa aku salah menjadikan anak anak sebagai korban? Lalu bagaimana dengan pengkhianatan yang dilakukan Mommy mereka?-Varel
*
*
*
__ADS_1