Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Perkara Bontot


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Vania hanya diam tanpa ingin menanggapi karena ia tau suaminya belum selesai berbicara.


"Maaf, Sayang..". Ada jeda sebentar sebelum Varel melanjutkan ucapannya.


"Beberapa hari yang lalu, Lista terbaring di rumah sakit karena kebodohanku.. Karena Daddy nya yang bodoh yang tidak pernah memperhatikannya, putri kita harus menderita. Maafkan aku, karena kesalahan ku lah, Lista menyakiti dirinya.."


Ada raut wajah terkejut yang terlihat karena Vania sungguh tinggal mengerti ayang maksud suaminya. Seolah mengerti, Varel kembali melanjutkan ucapannya.


"Anak kita.. anak kita menyakiti dirinya.."


Vania akhirnya tersadar, ketika mengingat bahwa dirinya tidak sengaja melihat jari anaknya seolah ada bekas gigitan yang lumayan parah.


"Ya Tuhan.."


Vania merasa bahwa dirinya benar-benar tidak menjadi Ibu yang baik, karena ia pergi, Lista menjadi seperti sekarang. Ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi pada putri kecilnya.


"Maafkan suami mu yang bodoh ini"


"Tidak, itu salah ku karena pergi meninggalkan kalian"


Tangisan Vania kembali terdengar ketika ia membayangkan bagaimana putrinya harus menderita selama empat bulan terakhir.


Karena melihat istrinya menangis, Varel dengan segera menggenggam tangan Vania.


"Aku berjanji tidak akan membuat istri dan anak-anakku menderita lagi."


*****


"Apa kau sudah tidur?" tanya Vania ketika ia baru saja selesai menyusui baby El.


"Kemarilah. Aku ingin memelukmu". Varel merentangkan tangannya membuat sang istri dengan segera memeluknya.


"Maaf, karena tidak menyiapkan pesta yang meriah untukmu. Dan aku bahkan tidak menyiapkan hadiah. Selamat ulang tahun, suamiku. Semoga tahun ini akan menjadi tahun yang membawa sukacita untukmu dan keluarga kita". Vania menatap lekat manik mata elang milik suaminya.


Varel tersenyum tipis karena memang diantara yang lain, hanya Vania yang belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. "Hei, hadiahmu bahkan sangat luar biasa. Lihat saja dua bibitku yang sedang tidur disana."


Plak


Vania refleks memukul lengan suaminya ketika menyebut bayi mereka dengan sebutan bibit.


"Mereka mempunyai nama yang indah."


"Ah, maksudku Al dan El. Mereka hadiah yang sangat luar biasa" ucap Varel terkekeh pelan karena melihat wajah istrinya yang sedang marah.


Varel perlahan mengelus pucuk kepala Vania dengan sesekali menciumnya. "Kau memberikan hadiah yang sangat indah. Kehadiran dua malaikat kecil kita, bersatunya si pengadu dan si manja, dan keluarga kita yang sudah kembali bersama. Terima kasih sayang.. Terima kasih untuk semuanya."


Vania tersenyum tipis. "Tuan Varel Andreas Fernandez, maukah anda kembali bersama saya?"


"Hei, tiba-tiba sekali." Varel tertawa membuat sang istri seketika mengerucutkan bibirnya.


"Kau ini, mengacau saja. Padahal aku sedang mencoba untuk meminang mu."


Cup.


"Dan aku sepertinya tidak memiliki kekuatan untuk menolak bidadari ini."


"Ceh"

__ADS_1


Diam-diam Vania mengucap syukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya.


*****


Dua hari kemudian, dokter Ryan baru saja selesai melakukan pemeriksaan Ibu dan bayi hingga ia mengatakan bahwa Vania sudah boleh pulang hari ini.


"Setelah ini cek rekening mu"


"Terima kasih, Tuan Muda"


Dokter Hendra yang mendengarnya langsung mendekat. "Hei, bagaimana dengan rekening ku?"


"Memangnya kau melakukan apa?" tanya Varel mengerutkan keningnya.


"Memberi nasehat" jawab dokter Hendra santai yang membuat Vania tersenyum tipis mendengarnya.


Dengan segera, dokter Hendra berjalan mendekati Vania yang saat itu sedang melipat baju kedua bayi kembarnya. "Kakak ipar, bagai---"


"Jangan mendekati istriku, kau bau" potong Varel ketika dokter Hendra baru saja ingin berbicara dengan Vania.


"Aku hanya ingin meminta bonus kepada Kakak ipar"


"Dan aku tidak mengizinkannya."


"Bodoh. Aku tidak meminta kepadamu"


"Itu hakku melarang istriku memberikan uang kepada siapapun."


Vania merindukan perdebatan ini, perdebatan suaminya dengan orang-orang seperti dokter Hendra, Vandi, Sebastian, dan Daniel.


"Sayang, berikan saja kepada dokter Hendra. Siapa tau dia sedang menabung untuk menikahi Elin."


"Ya, bena--- apa yang ia katakan?" gumam dokter Hendra.


Lalu, "Hei, aku tidak ingin menikahi siapapun."


"Kakak ipar, aku lupa bahwa sekarang aku harus memeriksa pasien. Hati-hatilah dijalan"


Vania tertawa melihat dokter Hendra yang seolah menghindari topik Elin.


Ah, ia merindukan sahabatnya itu.


*****


Saat ini, mobil milik Varel sedang menyusuri jalanan yang terlihat sangat ramai dengan langit sore yang cukup cerah membuat pemandangan sore ini terlihat sangat indah. Varel mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata karena ia sekarang sedang membawa keluarga kecilnya untuk kembali ke rumah mereka.


"Mommy, what's wrong with baby Al?" tanya Lista heran.


Vania pun membalikkan tubuhnya, menatap baby Al yang sedang tidur dengan sangat pulas di dalam kereta yang dijaga oleh Varo dan Lista yang ada di kursi belakang. "Adikmu baik-baik saja. Ada apa, Sayang?"


"He is always silent" keluh Lista dengan wajah sedihnya.


"Itu karena kau sangat berisik."


"Kokooooo!!". Teriakan Lista membangunkan baby El yang ada dalam gendongan Vania.


"Diam, bodoh" ketus Varo menatap adiknya dengan kesal.


"Varo.. Lista.." tegur Varel menatap keduanya lewat kaca.


"Sorry, Dad"


Setelah memastikan bahwa baby El kembali tertidur, Vania membuka suara memecahkan keheningan di dalam mobil tersebut.


"Sudah saling meminta maaf?". Hanya dijawab dengan gelengan lemah dari keduanya.

__ADS_1


Vania menghela nafas. "Siapa yang salah disini?"


"Lista, Mom"


"Varo, Mom"


Ucap keduanya bersamaan.


"Karena sudah mengaku salah, mengapa tidak saling meminta maaf?"


"I am sorry."


"Koko, maaf."


Perlahan, senyum Vania terukir ketika melihat kedua anaknya saling meminta maaf.


"Jangan seperti itu lagi. Kalian membangunkan si bontot" ucap Varel yang mendapatkan tatapan aneh dari kedua anaknya.


"What?!"


"Bontot? What it is?"


"Astaga. Maksud Daddy, anak terakhir"


"Ah, Koko kira Daddy ingin membuat nama lain"


"Dengan nama bontot? Hei, namanya E.L.V.A.N.O, ELVANO AIRLANGGA FERNANDEZ. "


"Bontot juga bagus"


"Koko, apa kau ingin aku menamai mu bontot?"


"Tidak bisa karena aku anak yang paling tua"


"Baiklah, karena kau tua maka aku akan memanggilmu Ahjussi"


"Heh."


Vania dan Varel hanya tertawa karena mereka bisa mendengar kembali perdebatan diantara kedua anaknya yang selalu menjadi penyemangat mereka.


"Sepertinya itu karma untukmu karena kau selalu berdebar dengan Bryan" ucap Vania terkekeh pelan.


"Tidak masalah. Rumah akan semakin ramai terlebih ditambah dengan suara tangisan kedua bayi ini"


"Jangan lupakan bahwa hanya El yang selalu menangis"


"Ah, aku lupa jika Al sudah menjadi dingin sejak lahir."


*****


Mobil Varel mulai memasuki pekarangan rumah dan tak lama mobilnya berhenti tepat di depan pintu utama. Dengan segera Varel keluar dan membuka pintu untuk istrinya lalu menuju kursi belakang untuk membawa baby Al masuk.


"Biarkan Koko saja yang membawa kereta baby masuk, Dad"


"Terima kasih, Son"


Baru saja Varel membukakan pintu untuk keluarganya, tiba-tiba


"Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday.. happy birthday.. happy birthday Varel"


Lagi. Varel mendapatkan kejutan lagi.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2