
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_ 😘
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Rumah Keluarga Airlangga
"Kak, kita dimana?"
tanya Vania heran saat mereka memasuki perumahan mewah yang sangat jauh dari rumah Varel
"Rumah kita"
jawab Daniel singkat lalu turun dengan membawa Varo yang tertidur di pelukan Vania sedangkan wanita itu hanya mengikuti langkah Daniel walaupun masih banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan
Didalam rumah sudah ada begitu banyak pengawal bahkan para pelayan yang menyambut kedatangan mereka
"Selamat datang Tuan Muda dan Nona Muda"
ucap para pelayan dan para pengawal bersamaan
"Perketat penjagaan di rumah ini dan jangan sampai ada orang yang tau keberadaan kami"
ucap Daniel dingin lalu berjalan menuju lantai atas bersama Vania dan Varo
Hanya dengan satu kalimat saja, para pengawal langsung bersiap mengelilingi rumah dan menjaganya dari orang lain yang mencari keberadaan Daniel dan Vania.
*****
Kamar Daniel
"Kak?"
panggil Vania pelan
"Sebentar, Kakak tidurkan Varo dulu. Kau tunggu di sofa sana, sayang"
ucap Daniel lalu membaringkan Varo di atas tempat tidur dengan hati-hati sedangkan Vania langsung berjalan menuju sofa yang tak jauh dari balkon kamar
"Kau ingin menanyakan apa pada Kak El?"
Tiba-tiba Daniel sudah berada di sebelah Vania membuat wanita itu terkejut
"Kak El mengagetkan saja"
"Maaf"
"Eum, ini rumah siapa Kak?"
"Ini rumah peninggalan Kakek yang diberikan Papa kepada Kak El. Hanya di rumah ini lah Varel tidak bisa menemukanmu"
"Ini kamar Kak El, kan? Kak El sering kemari?'
__ADS_1
"Ya, ini kamar Kak El dan Kak El jarang pulang kesini kecuali jika Kak El merindukannya saja"
"Bagaimana dengan mereka yang dibawah tadi?"
"Mereka pengawal dan pelayan Kakek saat Kakek masih hidup dan seluruh keluarga mereka mengabdi di keluarga kita"
"Sekarang Kak El yang ingin bertanya padamu"
tanya Daniel lalu menatap Vania intens sedangkan wanita yang ditatapnya langsung menunduk
"Apa yang terjadi?"
tanya Daniel lembut seraya mengelus pelan pucuk kepala Vania
"Sebenarnya hanya kesalahpahaman kecil, Kak"
ucap Vania pelan
"Tidak perlu dilanjutkan jika kau tidak siap menceritakannya pada Kak El"
"Saat itu perutku tiba-tiba kram dan aku meminta izin untuk berbaring sebentar di sofa Kak Bas, karena Kak Bas kasihan terhadapku yang sedang menahan sakit perut akhirnya Kak Bas menyelimuti ku dan Varel masuk saat itu dimana Varel mengira bahwa aku dan Kak Bas memiliki hubungan gelap"
"Lalu apa yang terjadi?"
"Seperti yang Kak El tau bahwa Varel tidak bisa mengontrol emosi hingga memukul Kak Bas dan-"
ucapan Vania terhenti saat ucapan Varel yang meragukan buah hati mereka terngiang-ngiang jelas di telinga Vania
"Dan apa?"
"Varel meragukan mereka"
lirih Vania pelan seraya mengelus perut buncitnya hingga tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajah cantiknya
"APA??!!"
"Bagaimana bisa? Mengapa ia bodoh sekali?"
gerutu Daniel yang sudah berhasil menurunkan oktaf suaranya
"Karena emosi, aku langsung menampar wajahnya"
"Kita terbang ke Amerika ya sore ini"
pinta Daniel lalu menggenggam erat tangan Vania membuat wanita itu langsung mengangkat kepalanya menatap Daniel
"Kak El mengerti perasaanmu, kau sangat terpukul mendengar ucapan kurang ajar Varel tapi kau selalu ingin menyembunyikan kesedihanmu. Jika kalian menyelesaikan masalah sekarang pun Kak El ragu akan semakin membaik karena memang kalian masih dipenuhi emosi, Varel dengan masalah perusahaannya yang berimbas pada orang-orang yang ia sayangi dan kau dengan ucapan Varel yang terngiang-ngiang di telingamu.
Bukan maksud Kak El untuk mengajakmu lari dari masalah tapi hanya ini jalan keluarnya saat ini. Jika kalian sudah merasa tenang, kembali lah dan berbicara dari hati ke hati"
"A-apa yang ku katakan pada Mama dan Papa saat kita kesana, Kak?"
"Mama Papa akan mengerti. Kak El yang coba bicara pada mereka"
"Bagaimana dengan Lista?"
__ADS_1
"Kita tidak bisa membawanya ikut karena Varel akan tau dimana kau berada. Doakan Lista agar bisa hidup dengan baik selama kau dan Varo tidak ada"
ucap Daniel yang membuat Vania terdiam seketika
"Jika Varel tidak menganggap bayi kembar itu anaknya, tidak masalah saja karena Kak El yang akan menemanimu mengurusi mereka. Kau bisa hidup dengan bahagia ada atau pun tanpa Varel"
"A-apa tidak ada harapan untuk kami kembali, Kak?"
lirih Vania menatap Daniel dengan mata berkaca-kaca
"Jika Tuhan mengizinkan, bagaimana tidak? Yang terpenting kau jangan stress dan jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu sakit hati. Ingat bayi kembar mu"
"Eum, baiklah Kak"
"Apa kau setuju jika kita pergi ke Amerika?"
"Apapun yang direncanakan Kak El, aku percaya itu yang tepat"
"Kita bisa pergi sekarang"
"APA??!!"
"Lebih cepat lebih baik sebelum Varel menemukan kita"
"Apa kita tidak bersiap? Aku bahkan tidak membawa apapun bahkan ponselku tertinggal di apartemen Kak Bas"
"Pengawal Kak El sudah mengambil tas mu. Bersiaplah, jika kau ingin mandi pakaian mu ada di lemari ke dua. Kak El akan turun dahulu pamit kepada mereka"
ucap Daniel berpamitan lalu pergi ke lantai bawah meninggalkan Vania yang masih terdiam
Vania lalu berjalan mendekati Varo dan duduk di tepi tempat tidur seraya tangannya mengelus pelan pucuk kepala bocah itu
"Maafkan Mommy ya, maaf Mommy memisahkan mu dengan Lista dan Daddy tapi sekarang Mommy benar-benar tidak tau harus melakukan apa lagi selain pergi dari Daddy. Maaf jika Varo dan Lista yang menjadi korban dari pertengkaran ini, doakan Mommy agar Tuhan bisa melembutkan hati Mommy hingga Varo bisa bertemu lagi dengan Daddy dan Lista"
lirih Vania pelan dengan air mata yang mengucur dengan derasnya
Tanpa ia sadari bahwa Varo sudah terbangun saat Vania mengelus pucuk kepalanya karena memang Varo tipe anak yang mudah terbangun jika ada yang menyentuhnya
Varo mendengar jelas setiap ucapan kata yang berasal dari mulut Mommy nya, walau pun Varo masih kecil berumur 6 tahun tapi Varo bisa mengerti keadaan dimana Mommy dan Daddy nya sedang bertengkar hebat
Mommy tolong berhenti menangis Varo tidak kita melihatnya. Varo janji akan selalu bersama dan menjaga Mommy.-Varo
*
*
*
Maaf pendek, author lagi banyak tugas 😘.
*
*
"
__ADS_1