
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Dion yang saat itu sedang sibuk mempersiapkan laporan yang akan ia berikan pada Sekretaris Dim terkejut ketika mendengar ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
"Varo?" gumam Dion pelan seraya mengangkat panggilan tersebut.
Sebenarnya sejak awal, Dion terlihat cukup khawatir dan takut ketika Varo memintanya untuk mengirimkan foto-foto bukti teror Vania karena ia cukup mengenal bocah genius tersebut.
Benar saja, setelah mendengar keinginan Varo yang meminta Dion untuk mengirimkan paket pada alamat seseorang membuat kekhawatiran Dion semakin bertambah terlebih ketika ia mengenal alamat yang dikirimkan Varo tersebut.
Hotel Bintang Lima, kamar nomor 419.
Alamat kamar hotel Aurora, saudara kembar Dinda.
"Apa yang ia rencanakan?" gumam Dion pelan seraya menatap layar ponselnya dengan saksama.
Dion benar-benar terkejut membaca sesuatu yang dikirimkan oleh Varo. Ia sungguh tidak ingin jika bocah itu tumbuh seperti Daddy nya. Dion takut jika akhirnya Varo akan mendapat begitu banyak musuh seperti halnya dengan Varel.
"Astaga, bagaimana bisa dia mendapat semua ini?"
Mata yang tidak percaya masih fokus menatap layar ponselnya seraya sesekali membaca sesuatu yang dikirimkan oleh Varo.
Bugh
Seketika, Dion menendang kaki Mike yang sedang tertidur pulas dengan cukup keras.
"Apa yang kau lakukan?" gerutu Mike dengan kesalnya karena ia baru saja tertidur.
Memang, sejak Sekretaris Dim memberikan perintah untuk Dion mencari segala sesuatu tentang saudara kembar Dinda, baik dirinya maupun Mike tidak mempunyai waktu untuk sekedar beristirahat atau pun makan karena mereka memang selalu profesional dengan mencapai target yang ada.
Perlu diketahui bahwa Dion dan Mike adalah sepupu. Dion sudah bekerja cukup lama dengan keluarga Fernandez sedangkan Mike baru-baru saja direkrut oleh Sekretaris Dim.
Sejak dulu Mike selalu meminta Dion untuk memberitahukan kepada Sekretaris Dim agar merekrut dirinya karena ia pun ingin mengabdi kepada keluarga Fernandez. Namun, Dion tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu hingga tanpa ia sadari suatu saat Mike ternyata sudah direkrut dengan sendirinya.
Semua pengawal yang bekerja pada keluarga Fernandez memang mempunyai kemampuan tersendiri namun Varel juga akan memberikan pelajaran agar mereka bisa meningkatkan kemampuan yang ada.
Jika kau bilang bekerja pada Varel adalah hal yang menyenangkan, kau salah besar. Bekerja pada keluarga Fernandez itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawa mu apapun yang terjadi. Namun, hidup mu, masa depan mu, dan keluarga mu akan terjamin baik-baik saja di tangan Tuan Muda.
Karena itulah tak jarang ada banyak orang yang menginginkan bekerja pada Varel, namun Sekretaris Dim hanya merekrut orang-orang yang sudah melewati tahapan-tahapan yang ada.
"Ini, cetak dan kirimkan pada alamat yang tertera" ucap Dion seraya mengirimkan file yang dikirim Varo untuk Mike.
__ADS_1
Walaupun dengan keadaan setengah sadar, Mike pun segera mengikuti perintah Dion karena walaupun mereka keluarga, jika itu menyangkut keluarga Fernandez, Dion akan menjadi seperti singa.
*****
Vania menatap pintu kamar Varo dengan tatapan heran karena sejak pulang sekolah tadi, anak lelakinya tidak keluar kamar sama sekali hingga membuatnya sedikit khawatir.
Tok tok tok
Varo yang saat itu sedang asyik menatap layar komputernya pun terkejut mendengar ketukan dari luar.
"Nak, ini Mommy. Ada apa dengan Koko?" tanya Vania yang terdengar jelas di telinga Varo.
Varo menatap jam yang ada di dinding kamarnya, jam yang menunjukkan pukul 17:21 WIB. "Astaga, aku lupa waktu."
Dengan segera ia membuka pintu kamar dan keluar, tidak lupa dengan menutup rapat pintu kamarnya agar Vania tidak melihat apa yang sedang ia lakukan.
"Hei, Koko bahkan belum berganti pakaian. Apa yang terjadi?" tanya Vania dengan raut wajah khawatir.
Varo terkekeh pelan seraya menggaruk tengkuknya. "Ada sesuatu yang harus Koko lakukan, Mom."
Vania terdiam seraya menatap pintu kamar yang sengaja ditutup rapat. "Koko tidak menyembunyikan anak gadis orang, kan?"
"Astaga, Mommy. Yang ada Koko akan diikat lalu dijadikan makanan hiu oleh Daddy jika hal itu terjadi" ucap Varo seraya mengelus dadanya.
Vania tersenyum tipis. "Baiklah, jangan lupa untuk mandi dan makan. Jangan membuat Mommy khawatir dengan tidak ada kabar seperti tadi."
"Maaf karena Koko membuat Mommy khawatir. Setelah ini Koko akan turun untuk makan malam" ucap Varo tersenyum.
Setelah memastikan sang anak baik-baik saja, Vania kembali ke kamar utama dimana Varel sudah menunggu.
"Apa dia sedang putus cinta?" tanya Varel setelah melihat sang istri mendekat.
"Hei, jangan berbicara seperti itu. Kau ingin Varo mengikuti jejak mu?" gerutu Vania dengan kesalnya.
Varel mengerutkan keningnya heran. "Jejak ku? Apa maksudnya, Sayang?"
"Playboy?" gumam Vania tertawa.
"Hei, aku tidak playboy" ucap Varel tidak terima.
Vania terkekeh pelan. "Ya, baiklah Tuan Muda."
*****
Aurora yang saat itu baru saja kembali dari bar malam untuk merayakan hari bahagianya berjalan menuju kamar hotel miliknya.
Langkahnya terlihat sangat bahagia dengan raut wajah yang selalu tersenyum membuat orang-orang bertanya apa yang membuat suasana hatinya saat ini sedang senang.
__ADS_1
Aurora berjalan menuju kamar hotelnya. Baru saja rasanya ia membuka pintu, tiba-tiba pemandangan yang ada di hadapannya membuatnya benar-benar terkejut.
"****! What happened?!" teriak Aurora dengan raut wajah paniknya.
Bagaimana tidak? Kamarnya sudah sangat berantakan dengan begitu banyak bercak merah di lantai dan tempat tidurnya.
Aurora berjalan pelan untuk masuk lebih dalam melihat kamar hotelnya yang seperti kapal pecah.
"What the ****?!"
Bantal dengan bentuk wajahnya dipenuhi dengan puluhan suntikan juga bercak darah membuat Aurora semakin panik.
Saat hendak menelepon polisi, ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Dengan sedikit takut, ia pun mengangkat ponsel tersebut.
"H-halo?! Who's this?!"
"Hi, how are you there? What about the gifts you got?" ucap seseorang diseberang sana.
Siapa ini? Suara anak kecil?-Aurora.
Aurora mengerutkan keningnya heran karena mendengar suara anak kecil dari ponselnya. "Kau siapa?!"
"Aku?! You don't know me but you know my Mom."
"K-kau?! Are you son the Vania?!"
Varo terkekeh pelan. "Jangan takut seperti itu. Bukan wajah itu yang terlihat ketika kau meneror Mommy ku."
Aurora mengepalkan tangannya dengan penuh emosi ketika ia sedang dipermainkan oleh bocah kecil. "Kau hanya anak kecil! Tidak perlu ikut campur dengan urusan ku!"
Terdengar tawa yang menggema. "I am a child. But I won't let anyone hurt my Mom."
"Cih, bocah menyebalkan. Apa yang kau inginkan?!"
Aurora hanya menganggap teror dari Varo main-main saja karena ia berpikir bahwa Varo hanyalah anak kecil yang marah karena Mommy nya diteror.
"Sebentar" ucap Varo seraya menekan sebuah remote.
Deg.
*
*
*
__ADS_1