
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Saat sedang mengobrol, tiba-tiba ponsel Daniel berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk, ternyata itu adalah panggilan dari asisten pribadi Daniel yang memberitahukan bahwa ada pekerjaan penting yang harus Daniel urus di perusahaan cabangnya di kota tersebut. Tidak menunggu lama, Daniel pun akhirnya berpamitan kepada Varel dan Vania
"Sayang, asisten kakak menelfon dan kakak harus kembali ke kantor cabang karena ada urusan penting yang harus diselesaikan, kapan-kapan kakak main ke rumah suami mu"
ucap Daniel lalu mengelus pucuk kepala Vania
"Kak, apa kak El akan kembali ke Amerika?"
tanya Vania ragu
"Tiga hari lagi kakak akan kembali ke Amerika sayang, tenanglah Papa sudah berencana akan memberikan perusahaan cabangnya yang disini untuk kakak, jadi sementara waktu kakak harus kembali ke Amerika untuk membantu dan belajar di perusahaan Papa"
ucap Daniel menjelaskan
"Tenanglah jika aku sudah sembuh kita bisa ke Amerika bertemu om Lyno dan tante Kusuma"
ucap Varel menatap Vania
"Benarkah?"
tanya Vania berbahagia
"Tentu saja"
jawab Varel tersenyum
"Rel cepatlah sembuh, jangan lupa aku akan sering-sering mampir ke rumah mu sebelum aku kembali ke Amerika. Ingat kata-kata ku jika kau menyakiti adikku, aku akan membawanya pergi dari hadapanmu"
ucap Daniel mengancam
"Jangan selalu mengancam ku"
ketus Varel kesal
"Hai anak-anaknya Papa El, Papa El mau pamit pulang dulu nih cium papa dong"
Lalu Varo dan Lista pun turun dari tempat tidur Varel dan mencium kedua pipi Daniel membuat Daniel tertawa
"Pintar-pintar ya, nanti Papa El main lagi dengan abang Varo dan dede Lista"
ucap Daniel tersenyum lalu berpamitan
Tak berapa lama pintu pun kembali terbuka dan masuklah Vandi, Casandra, mama Melinda, Alea, dan Angeline
"Gimana? Buburnya habis?"
goda Mama Melinda terkekeh
"Bubur? Kak Varel makan bubur Ma?"
tanya Vandi terkejut
"Iya Van, kakakmu sudah suka makan bubur"
ucap Mama Melinda lalu berjalan menuju sofa diikuti Casandra, Alea, dan Angeline sedangkan Vandi berjalan mendekati Varel
"Kok bisa kak? Kak Varel kan paling tidak suka makan bubur"
tanya Vandi mengerutkan kening
"Ya jelas bisa, disuapin istri loh"
lagi-lagi Mama Melinda menggodanya
"Oh pantas, buburnya jadi yang paling enak sedunia tuh"
ejek Vandi lalu duduk di sebelah Vania
"Apa sih"
ketus Varel membuang muka
"Kak bagaimana bisa kak Varel ditusuk? Seorang CEO Fernandez Group ditusuk oleh pria asing?"
tanya Vandi mengerutkan keningnya
"Entahlah"
jawab Varel singkat
"Daddy ditusuk?"
tanya Lista terkejut
"Daddy kenapa Daddy ditusuk?"
tanya Varo yang tak kalah terkejut
__ADS_1
"Daddy kenapa bisa ditusuk?"
tanya Lista yang sudah menangis dengan kencangnya
"Kau ini membuat susah saja"
ketus Varel menatap Vandi tajam
"Sayang, maksud Ayah tadi bukan ditusuk beneran, tapi perut Daddy tadi disuntik kan Daddy sakit perut makanya ayah bilang ditusuk"
ucap Vania berusaha menenangkan tangis kedua anaknya
"Benar Mom?"
tanya Lista disela-sela isak tangisnya
"Iya sayang, tadi Daddy disuntik"
ucap Varel tersenyum yang membuat Varo dan Lista percaya
"Maafkan Ayah ya tadi Ayah salah bicara"
kata Vandi menatap keponakannya
"Iya Ayah"
"Varo Lista sini duduk dekat Oma"
ucap Mama Melinda lalu Varo dan Lista pun berjalan dan duduk lesehan didekat Alea dan Angeline
"Bagaimana sekolahnya?"
tanya Mama Melinda kepada kedua cucunya
"Seru Oma, Lista punya teman namanya Echy dia baik, kata Echy dia tinggal dengan kakaknya, Mommy dan Daddy nya udah pergi ke surga. Surga itu apa ya Oma?"
ucap Lista dengan cadelnya
"Surga itu tempat yang sangat indah sayang, kalau Mommy dan Daddy Echy udah di surga berarti Echy tidak bisa lagi melihat Mommy dan Daddy nya"
ucap Mama Melinda menjelaskan
"Kasihan Echy"
ucap Lista menunduk
"Varo juga punya teman Oma namanya Tian, dia ganteng tapi lebih ganteng Varo kan Varo anaknya Daddy"
kata Varo yang membuat yang lainnya tertawa
celetuk Vandi
"Iya dong Ayah, Daddy itu ganteng banget"
jawab Varo bangga
"Tapi kok Ayah lihat biasa aja?"
"Mengapa kau sangat iri?"
cibir Varel kesal yang membuat Vandi terkekeh.
*****
Malam pun tiba, seluruh keluarga kembali ke rumah utama dengan Casandra termasuk Varo dan Lista sedangkan Alea dan Angeline sore tadi sudah berpamitan untuk kembali ke rumah mereka
Tinggal lah Vania dan Varel di dalam ruangan VVIP tersebut
"Kau belum ingin tidur?"
tanya Varel menatap Vania yang sedang duduk di sebelahnya
Vania pun menggeleng pelan
"Mendekat lah"
Lalu Vania pun menggeser kursinya agar bisa lebih dekat, tak lama kemudian Varel menyentuh pipi Vania, pipi yang pernah ia tampar dengan keras saat ia sedang kalap
"Maaf"
lirih Varel pelan
"Tidak masalah sayang"
ucap Vania tersenyum
"Aku benar-benar emosi saat mengetahui kau sangat membenciku"
ucap Varel pelan
"Itu bukan salahmu sayang, ini salahku, aku yang harusnya meminta maaf kepadamu"
lirih Vania meneteskan air mata
__ADS_1
"Hei mengapa kau selalu menangis saat kita membicarakan masalah ini?"
tanya Varel menangkup wajah istrinya sedangkan Vania hanya menggeleng pelan
"Aku benar-benar takut jika kau meninggalkanku karena hanya kau yang aku miliki"
lirih Vania menunduk
"Sudahlah jangan menangis, aku tidak akan pernah meninggalkanmu"
ucap Varel tersenyum
Tiba-tiba ponsel Varel berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk dari sekretaris Dim
"Halo?"
"...................................."
"Kirimkan ke e-mail ku segera"
Lalu Varel memutuskan panggilan
"Kenapa sayang?"
tanya Vania hati-hati
"Aku memerintahkan orang ku untuk mencari tau latar belakang teman Varo dan Lista"
"Echy dan Tian?"
"Iya dan Dimas sudah mendapatkan informasinya"
Ponsel Varel kembali berdering dan ternyata itu adalah e-mail dari sekretaris Dim.
Varel pun mulai membaca kata demi kata hingga ia membulatkan matanya dan ekspresi tersebut sempat dilihat Vania
"Ada apa sayang?"
tanya Vania saat melihat reaksi sang suami
"Seperti yang dikatakan Lista tadi, temannya yang bernama Echy hanya tinggal berdua dengan kakak perempuannya yang masih SMA.
Untuk kebutuhan sehari-hari kakaknya bekerja paruh waktu di sebuah cafe kecil"
ucap Varel menjelaskan
"Astaga, kasihan sekali"
ucap Vania terkejut
"Untuk teman Varo, Tian adalah anak dari rekan bisnis ku yang sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan perusahaan"
"Sayang, boleh aku minta satu hal denganmu?"
tanya Vania ragu
"Katakan"
"A-apa boleh kita mengajak Echy dan kakaknya tinggal bersama kita? Untuk pendidikan mereka, aku yang akan membiayainya dengan uang tabunganku"
Kau selalu saja baik terhadap orang lain.-Varel
"Kau ingin membawa mereka tinggal bersama?"
"I-iya sayang, jika kau keberatan aku tidak akan melakukannya"
ucap Vania lalu menggeleng cepat membuat Varel terkekeh melihatnya
"Boleh saja, tapi apakah kakaknya akan mau tinggal bersama kita? Bahkan dia tidak mengenal kita"
"Tenang saja, jika dia menolak aku bisa membujuknya"
ucap Vania tersenyum
"Baiklah, sekarang naik dan berbaringlah"
ucap Varel lalu Vania pun naik ke atas tempat tidur dan berbaring
Dengan cepat Varel mengubah posisinya dan memeluk erat sang istri
"Tidurkan aku"
ucap Varel dengan membenamkan wajahnya di dada istrinya membuat Vania tersenyum kecil
Lalu Vania pun mengelus pucuk kepala Varel berulang-ulang hingga sang pemilik kepala mulai mendengkur halus
"Selamat tidur baby besar"
ucap Vania terkekeh lalu memberanikan diri untuk mencium kening suaminya.
Terima kasih Tuhan untuk perhatian kecil dari suamiku.-Vania
*
__ADS_1
*
*