
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Cih, bocah menyebalkan. Apa yang kau inginkan?!"
Aurora hanya menganggap teror dari Varo main-main saja karena ia berpikir bahwa Varo hanyalah anak kecil yang marah karena Mommy nya diteror.
"Sebentar" ucap Varo seraya menekan sebuah remote.
Deg.
Aurora benar-benar terkejut ketika tiba-tiba televisi menyala dan memperlihatkan foto-foto panas nya dengan beberapa pria saat ia melakukan one night stand.
"What the **** are you doing?!" teriak Aurora dengan wajah penuh emosi.
Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa anak kecil seperti Varo bisa mengetahui semua hal tentangnya juga dengan siapa saja ia bercinta, bahkan Aurora pun sudah lupa dengan siapa saja ia menghabiskan malamnya.
"Tenanglah, ini hanya peringatan pertama. Jangan mengganggu keluarga ku atau kau akan menerima akibatnya."
Aurora tertawa mendengar ancaman dari seorang anak kecil. "Wow I'm so scared" ucapnya dengan nada mengejek.
"Kau hanya anak angkat. Untuk apa susah-susah bekerja sangat keras seperti ini dengan mencari segala hal tentang ku dan mengancam ku dengan itu?"
Varo terkekeh pelan. "Setidaknya aku bukan anak yang lahir di luar nikah" ucap Varo sengaja menekankan kalimatnya.
"****! Berhenti main-main denganku bocah gila."
Aurora benar-benar kehilangan kesabarannya menghadapi Varo yang membuatnya sangat emosi.
"Aku tidak akan bermain denganmu jika kau tidak memulai semuanya. Sudah ku katakan untuk jangan mengganggu keluarga ku. Terserah kau mau mendengarnya atau tidak."
Panggilan pun terputus bersamaan dengan televisi kamar hotel yang tiba-tiba mati.
Aurora dengan nafas terengah-engah duduk di tempat tidurnya seraya menatap sekeliling. Dalam hatinya ia berjanji akan membalaskan apa yang terjadi hari ini. Ia tidak akan memaafkan Varo, bocah lelaki yang berani mengusik nya.
"Alright, we'll see who survives to the end" ucap Aurora tersenyum.
*****
Saat ini semuanya sedang berkumpul di meja makan kecuali Varo yang membuat semua orang heran karena ini pertama kalinya Varo tidak ikut makan malam bersama.
"Ada apa dengannya?" tanya Varel menatap sang istri.
Vania menggeleng pelan. "Sepertinya dia sedang melakukan sesuatu yang sangat serius. Aku sudah mengatakan untuk turun makan malam."
"Dia tidak sedang putus cinta, kan?" tanya Vandi yang membuat semuanya tertawa.
__ADS_1
"Ayah, Koko itu tidak menyukai perempuan."
"Hei, lalu menyukai siapa? Lelaki?"
"Dia hanya menyukai anime" ketus Lista dengan wajah kesalnya.
Vania tersenyum tipis. "Lalu? Cici bagaimana? Siapa yang Cici suka?"
"Tentu saja Om Dimas.. dan Kak Tian" ucap Lista malu-malu.
Varel menggeleng pelan. "Hei, anak siapa dia? Masih kecil sudah mempunyai dua lelaki."
Plak
Mama Melinda yang duduk di sebelah kiri Varel pun segera memukul lengan anaknya dengan cukup keras.
"Tentu saja dia anakmu. Kau tidak sadar jika semua anakmu mengikuti sikap mu?" gerutu Mama Melinda dengan kesal.
"Mama, jangan KDRU" ucap Varel seraya mengelus pelan lengan bekas pukulan Mama Melinda.
Lista mengerutkan keningnya heran. "KDRT, Dad. Bukan KDRU" ucap Lista heran.
"KDRU apa?" tanya Vandi yang juga penasaran.
"Kekerasan Dalam Rumah Utama" jawab Varel santai.
"Aneh."
*****
Terlihat bahwa ia sedang memainkan ponselnya seolah menunggu panggilannya tersambung.
"How are you? Are you okay?" tanya Varo seraya tertawa.
"****! Aku tidak akan memaafkan mu!"
Ucapan itu membuat tawa Varo semakin terdengar, bukan tawa riang, melainkan tawa yang seolah sedang mengejek.
"Memangnya apa salahku? Aku hanya mengikuti permainan mu" jawab Varo santai.
"Berhentilah sekarang anak sialan! Jangan ikut campur dengan urusan ku!"
Ah, sepertinya Varo masih meneror Aurora..
"Hei, aku itu diajarkan oleh Daddy ku begini. "Jika ada yang mengganggu mu atau orang yang kau sayangi, balas lah dan jika perlu sepuluh kali lipat." Aku kira kau tidak bodoh dengan memilih target. Jika kau berani meneror seseorang, kau pasti sudah berpikir bagaimana resiko yang akan kau dapat. Jadi, selamat menikmati."
Panggilan pun terputus.
Varo menatap monitor yang ada di hadapannya. "Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang berani menyakiti Mommy ku, siapa pun itu!"
*****
__ADS_1
Dalam sebuah ruangan yang cukup berantakan, Dion berkali-kali menatap tidak percaya akan apa yang ia lihat sekarang. Layar komputernya yang menyala sedang menangkap gerak gerik Aurora yang sedang berada di kamar hotel.
"Astaga, Varo. Aku tidak ingin jika di usia mu yang sangat muda seperti ini kau sudah pantas memimpin geng mafia" gumam Dion pelan.
Dion sungguh tidak mengerti bagaimana bisa Varo melakukan semuanya sendiri. Ah ralat, dengan bantuan para pengawal utusan Dion.
Melacak alamat tempat tinggal Aurora, meretas cctv dalam kamar hotel Aurora, menemukan semua fakta kebusukan Aurora selama ia hidup, bahkan menerornya dengan sangat mengerikan.
Itu sangat tidak mungkin dilakukan oleh anak berusia enam tahun, namun percaya tidak percaya, ini memang dilakukan olehnya. Oleh Varo, anak yang sangat genius tersebut.
Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Varel dan Vania, Varo pernah diam-diam belajar cara meretas bersama Billy dan Mike, juga Varo pernah membaca beberapa berkas semua yang dilakukan oleh anak buah Varel kepada musuh yang mengganggu keluarga Fernandez saat ia mengunjungi rumah Dion beberapa kali.
Flashback on
"Om, bagaimana jika aku mewarisi geng mafia?" tanya Varo tiba-tiba.
Uhuk uhuk
Dion yang saat itu sedang minum pun tersedak mendengarnya.
"Apa yang Varo katakan?!"
"Aku ingin menjadi seperti Daddy. Tidak mengenal takut dan akan melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya."
Dion menatap Varo dengan tatapan tidak percaya. "Daddy Varo akan menjaga dan melindungi keluarga. Jangan ikut campur dan belajar lah dengan benar."
"No! Kau gila?! Jika dia belajar maka akan semakin pintar" ucap Mike menatap Dion dengan kesal.
Varo yang mendengarnya pun langsung tertawa. "Om Mike takut jika aku meretas ponsel lalu menemukan bukti bahwa Om Mike pernah berselingkuh dengan tiga wanita?"
"Lihat! Astaga, aku tidak bisa berlama-lama dengan bocah genius" gumam Mike mengelus dadanya.
Dion hanya terkekeh pelan melihatnya. Tak jarang jika Mike memang sering berlaku kurang ajar dengan Tuan Kecil tersebut namun Varo menyukainya karena ia sudah cukup lelah dengan banyaknya pengawal juga pelayan yang sangat sopan dengannya padahal ia hanya anak kecil.
Setelah akrab dengan Dion dan Mike, Varo merasa sangat senang karena seolah memiliki teman untuk melakukan apapun. Mereka akan menemani Varo bahkan mengajarkan Varo agar menjadi anak yang hebat dan kuat.
"Huh, untung saja aku berteman dengan Om Dion dan Om Mike" gumam Varo pelan.
"Untungnya dimana?"
"Karena jika aku berteman dengan Om Dim atau Om Bram, mereka pasti akan mengadu semuanya pada Daddy."
"Baiklah, aku juga akan mengadukan mu pada Daddy!"
"Om Mike pernah mendengar cerita seorang playboy di tolak mentah-mentah di depan umum oleh seorang gadis pengantar koran?!"
"Sial."
*
*
__ADS_1
*