Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Vandi Kesal


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Vandi baru saja kembali menampakkan dirinya di bandara kota ini setelah sebelumnya sudah pergi ke luar kota selama satu minggu lebih. Ah, ia merindukan keluarganya.


Vandi tersenyum seraya berjalan keluar dari bandara. Ia membayangkan bagaimana wajah terharu Mama nya ketika melihat putra tampannya pulang, melihat wajah kesal kakak tertuanya karena merindukannya, mendengar perdebatan kedua keponakannya yang pasti akan menagih oleh-oleh padanya, atau sekedar mendengar ocehan kedua keponakan kecilnya yang bisa dipastikan menjadi semakin gembul.


Baru saja ia keluar dari bandara, raut wajah Vandi tiba-tiba berubah. Ternyata, realita tak seindah ekspektasi.


Jangankan mobil kelurganya, batang hidung mereka saja tidak terlihat.


"Ah, apa hanya aku yang tidak dijemput oleh keluarga?" gumamnya pelan seraya menatap sekeliling.


*****


"Hei, kenapa tidak ada foto Mama?!" protes Mama Melinda ketika ia berjalan-jalan mengelilingi apartemen sang anak.


Varel menatap Mama nya dengan heran. "Untuk apa Varel memajang foto Mama?"


Plak


"Jangan seperti itu dengan Mama" bisik Vania setelah memukul paha sang suami membuat Varel terkekeh pelan.


"Dasar anak nakal. Harusnya ada foto Mama disini."


"Baiklah nanti Varel pajang. Foto Mama bersama Mang Johan, kan?"


"HEH!"


"Hahahaha."


"Oma menyukai Kakek Johan?" tanya Varo seraya menatap Mama Melinda.


Mama Melinda pun segera duduk disebelah cucunya. "Jangan banyak bergaul dengan Daddy mu."


"Kenapa?"


"Ada banyak pengaruh negatif."


"Astaga, Mama. Jangan mengajari anak Varel seperti itu."


"Lagian, kau ini selalu menjodohkan Mama dengan Mang Johan. Apa kau ingin dikutuk?"


"Boleh, kutuk menjadi miliarder."


"Kalau begitu, Koko juga mau."


"Pantas saja ada pepatah yang mengatakan buah tidak jatuh jauh dari pohonnya" gumam Mama Melinda pelan yang mengundang gelak tawa semuanya.


*****


Taksi yang membawa Vandi dari bandara menuju rumah pun sudah sampa di halaman utama membuat mobil tersebut berhenti tepat di depan pintu masuk.

__ADS_1


Setelah membayar ongkosnya, Vandi pun keluar tak lupa dengan membawa satu buah koper besarnya.


"Kenapa sepi sekali?" gumam Vandi heran saat melihat mobil di garasi.


Ia pun segera masuk ke dalam rumah utama yang benar-benar sepi. "Pak San?" panggilnya.


Tak lama kemudian, ada seorang pelayan yang tidak ia kenal menghampirinya. "Maaf, Tuan Muda. Pak San sedang cuti karena pulang kampung" ucap pelayan tersebut dengan sopan.


Vandi hanya bisa menghela nafas berat. Ia tidak terlalu mengenal pada pelayan di rumah kecuali Pak San. "Oh ya, Mama dimana?"


Pelayan tersebut kembali menunduk sopan. "Nyonya Besar sedang ada jadwal arisan mingguan, Tuan Muda."


"Apa yang lainnya juga pergi?" tanya Vandi dengan raut sedikit kesal.


Pelayan tersebut kembali mengangguk sopan. "Tuan Muda dan Nona Muda sedang mengantarkan Tuan Kecil Al dan Tuan Kecil El untuk imunisasi di rumah sakit, Tuan."


"Varo? Lista?"


"Tuan Kecil Varo sedang berada di rumah Tian sedangkan Nona Kecil Lista sedang berada di mall bersama Nike."


"Huh baiklah. Aku akan tidur saja, mereka benar-benar tidak peduli dengan kepulangan ku. Terima kasih, Mbak."


Dengan perasaan kesal, Vandi beranjak menuju kamarnya seraya menarik kopernya dengan kasar. Ah, ia melampiaskan kekesalannya dengan koper besar tak bersalah itu.


Pak San yang sedang bersembunyi di kamar tamu pun terkekeh pelan saat memonitor pergerakan Vandi. Tak lupa ia segera mengabari kepada Tuan Muda.


"Selamat sore, Tuan Muda. Tuan Vandi baru saja sampai di rumah, ia segera mencari Nyonya Besar dan Tuan Muda. Terlihat, Tuan Vandi kesal karena ditinggal sendiri" ucap Pak San saat panggilan sedang berlangsung.


Terdengar gelak tawa Varel di seberang sana. "Benar-benar sesuai rencana. Terima kasih, Pak."


"Terima kasih kembali Tuan Muda."


Plak


"Kau ini jahil sekali dengan adikmu. Kasihan dia pasti kelelahan karena perjalanan jauh ditambah karwna ditinggal sendiri membuatnya semakin kesal saja."


"Siapa suruh dia pergi sangat lama?" protes Varel kesal.


Mama Melinda mengangguk setuju. "Kau benar, anak Mama yang itu juga sudah dewasa."


"Dia akan segera menikah, Ma."


"Huh, kalian pasti akan meninggalkan Mama."


"Oma, tidak ada yang meninggalkan Oma. Panjang umur ya, agar Koko bisa merawat masa tua Oma."


Ah, semua terharu mendengar ucapan sederhana dari Varo. Bahkan, Mama Melinda pun menatap cucunya dengan tidak percaya.


"Cucu Oma bahkan sudah dewasa sekarang."


"No! Koko masih kecil. Jika dewasa, pasti sudah menikah sekarang."


Oke, siapapun tau bahwa dia adalah anak Varel.


*****


Beberapa jam kemudian, sekarang semua orang sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah utama setelah menyembunyikan diri di apartemen Varel.

__ADS_1


"Sayang, sudah siap semuanya?" tanya Varel ketika melihat Vania yang sudah mempersiapkan barang-barang si kembar.


Vania mengangguk pelan. "Apa yang lain sudah kembali?"


"Sudah, Pak Alex sedang dalam perjalanan untuk mengantar Cici."


"Hei, sebentar. Koko masih tidur."


Vania baru sadar bahwa anak tertuanya masih tertidur dengan nyenyak. Dimana? Perpustakaan Varel..


Sebelumnya Varo langsung pergi ke sebuah ruangan yang bisa dipastikan itu adalah perpustakaan mini dengan cukup banyak buku didalamnya. Tentu saja bocah itu sangat senang ketika melihat makanan sehari-harinya ada dihadapannya.


Ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku hingga akhirnya tertidur nyenyak dengan buku-buku yang berserakan disebelahnya.


"Aku akan membangunkan Koko" ucap Vania lalu beranjak dari tempatnya untuk pergi ke perpustakaan untuk membangunkan anaknya.


Klek


"Loh? Sudah bangun, Nak?"


Terlihatlah Varo yang masih sibuk membaca buku.


"Apa sudah mau pulang sekarang, Mom?" tanya Varo kepada Mommy nya.


Vania mengangguk pelan. "Ayah pasti sudah sangat kesal sekarang karena anak-anaknya menghilang" ucap Vania terkekeh pelan.


"Ayah sudah mulai sibuk ya, Mom. Apa nanti akan sering pergi-pergi seperti ini lagi?"


Vania terdiam mendengar pertanyaan Varo. Memang, sekarang Vandi sudah sangat sibuk bahkan jarang mempunyai waktu untuk keluarga. Dulu, saat masih menjadi mahasiswa semester awal, Vandi selalu menghabiskan waktunya untuk sekedar mendengarkan Varo bercerita saat di panti asuhan dan sekarang, bahkan untuk saling sapa pun mereka sudah hampir tidak pernah.


"Koko kadang rindu mendengar cerita Ayah yang random. Tapi, jika Koko mengatakan hal itu, Koko takut Daddy merasa tersingkirkan.."


"Hei, tidak. Daddy tidak akan berpikir seperti itu, wajar kan Koko rindu Ayah" ucap Vania seraya mengelus pucuk kepala sang anak.


Varo hanya tersenyum tipis. "Ayo kita pulang."


*****


Vandi terbangun dari tidurnya dan merasakan badannya sangat lelah karena cukup lama tertidur. Ia mengambil ponselnya dan melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 19:38 WIB.


"Astaga, aku tidur sangat lama. Apa mereka sudah kembali?" gumam Vandi dengan suara khas bangun tidur.


Tak lama kemudian, ia pun segera bersiap untuk mandi dan turun ke bawah karena memang perutnya sudah berteriak meminta makan.


Vandi berjalan ke luar kamar dan melihat sekeliling ternyata masih tidak ada orang yang membuatnya lagi-lagi harus menghela nafas berat. Ia pun segera berjalan menuju dapur dimana hanya ada dua orang pelayan yang sedang menyiapkan makan malam untuknya.


"Makan malam hampir siap, Tuan."


Vandi hanya diam mendengar salah seorang pelayan membuka suara.


Tiba-tiba ia merasakan bahunya dipegang oleh seseorang.


"Aaa!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2