
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Sesuai janji author, di part kali ini dimulainya masalah baru yang berkaitan dengan trauma di masa lalu Vania
Siap-siap ya😍...
*****
"Nenek, mengapa Nenek memberi izin saat Daddy mengatakan ingin menikahi Mommy? Huh, andai saja Nenek tau bahwa Daddy itu sangat manja melebihi manjanya Varo dan Lista"
keluh Varo saat Varel baru saja selesai menceritakan perjalanannya kemari bersama sekretaris Dim
"Eh tapi jika Nenek tidak memberi izin pasti Varo juga tidak bisa bertemu Nenek"
ucap Varo lalu terkekeh pelan
"Apa kalian hanya ingin menggosip tentang Daddy?"
tanya Varel mengerutkan kening seraya mendengus kesal
Bagaimana tidak? Sudah beberapa kali ia mendengar kedua anaknya baik Varo maupun Lista selalu menceritakan tentang Varel, entah itu tentang manjanya Varel dengan Vania ataupun saat Varel kesal ada pria yang menatap Vania
"Dan Nenek tau? Daddy sangat cemburuan hihi"
ucap Lista terkikik
"Daddy marah-marah jika ada Om-Om yang melihat Mommy. Daddy sangat aneh kan, Nek? Bagaimana bisa Om-Om tidak melihat Mommy, kan Mommy sangat cantik"
"Apa sudah selesai bercerita nya anak-anak? Kita akan berkunjung ke rumah Nenek Aidah setelah ini"
ucap Vania tersenyum tipis
"Sudah Mom, kapan-kapan kita mendatangi Kakek dan Nenek lagi ya"
"Tentu sayang, jika Daddy punya waktu luang kita akan mengunjungi Kakek dan Nenek"
"Ayah, Ibu, Vania sekeluarga pamit pulang ya, doakan Vania dari sana agar bisa menjadi istri dan Ibu yang baik terlebih beberapa bulan lagi Vania dipercayakan untuk ditambahkan anak lagi. Doakan semua proses kehamilan dan melahirkan ya Yah, Bu"
ucap Vania tersenyum tipis seraya mengelus perutnya
"Varel pamit undur diri Ayah, Ibu. Terima kasih Bu, sudah melahirkan putri yang sangat cantik dan baik hati, dan terima kasih juga sudah memberikan izin untuk Varel menikahinya"
"Daddy romantis juga ya"
celetuk Lista tiba-tiba yang membuat Varel dan Vania tertawa
"Kakek, Nenek, Varo pamit pulang ya. Varo janji kapan-kapan akan kesini lagi"
"Lista juga Nek, Kek. Lista pamit ya"
Setelah berpamitan, Varel sekeluarga pergi dari area pemakaman dan kembali berjalan menuju desa
"Mom, dimana rumah Nenek Aidah?"
"Apakah jauh?"
"Lista lelah? Masih kuat berjalan? Hanya beberapa menit lagi sayang. Kemari lah, Mommy akan menggendong mu"
"Tidak Mom, Lista tidak lelah. Jika Mommy menggendong Lista, bagaimana dengan Dede bayi? Mereka akan terjepit dan kesakitan"
ucap Lista menatap Vania
"Ingin Daddy gendong?"
tawar Varel yang membuat Lista bersemangat
"Gendong, Dad"
ucap Lista senang seraya tangannya mengarah ke Varel
"Abang juga?"
tanya Varel lalu menatap kearah Varo
"Tidak Dad, aku berjalan saja"
ucap Varo singkat seraya tangannya menggenggam tangan Vania.
__ADS_1
*****
Rumah Nenek Aidah
"Shalom Nek, selamat pagi"
ucap Vania dari halaman rumah
"Nek, apa Nenek ada dirumah?"
"Ya, sebentar"
teriak seseorang dari dalam rumah
Lalu pintu rumah pun terbuka dan keluarlah Nenek Aidah dengan raut wajah terkejut saat menatap wanita dihadapannya adalah Vania, wanita yang sudah ia anggap sebagai cucu kandungnya sendiri
Nenek Aidah adalah teman lama Nenek dari Ayah kandung Vania. Saat Nenek Vania meninggal, Nenek Aidah lah yang ia anggap sebagai Nenek kandungnya juga. Nenek Aidah tau betul bagaimana cerita hidup Vania hingga istri dari Adik kandung Ayah nya membuat hidupnya menderita
Setiap kembali dari makam Ayah dan Ibu nya, Vania selalu mampir ke rumah Nenek Aidah untuk hanya sekedar mampir dan memberikan uang untuk mencukupi kebutuhan Nenek, atau bahkan bermalam jika keadaan memaksanya bermalam di desa tersebut
"Vania?"
"Ya Nek. Apa kabar? Maafkan Vania yang lama tidak berkunjung"
"Nenek sangat sehat Nak, bagaimana kabarmu? Apa Tya masih jahat?"
tanya Nenek Aidah dengan raut wajah khawatir bahkan melupakan seorang pria dan kedua anak kecil yang berada disebelah Vania
Vania sudah hafal pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Nenek Aidah pasti tentang Bibi Tya, jadi setiap mampir kemari Nenek Aidah akan selalu mengutarakan kejengkelan dan kemarahannya terhadap Bibi Tya. Bahkan pernah sekali Nenek Aidah berkata "andai saja aku masih muda, mungkin tulangnya sudah ku patahkan"....Wah garang sekali ya Nenek Aidah hihihi
"Puji Tuhan, Vania sangat baik Nek. Nenek tidak perlu khawatirkan Bibi Tya"
"Astaga"
pekik Nenek Aidah terkejut
"Kenapa Nek?"
"Apa kau hamil Nak?"
tanya Nenek Aidah seraya mengelus perut Vania
"Ya Nek, ini suami dan anak-anak Vania"
"Saya Varel, Nek"
ucap Varel tersenyum tipis seraya mencium tangan Nenek Aidah
"Lalu kedua cucu Nenek ini namanya siapa?"
"Hai Nenek, ini Lista dan itu Abang Varo"
"Wah nama yang sangat indah. Nama Nenek, Nenek Aidah"
"Oh iya, ayo masuk Nak, ajak suami dan anak-anakmu"
"Tidak perlu Nek, kita duduk di luar saja"
"Baiklah. Nenek akan buatkan minum dahulu"
"Vania bantu ya"
Lalu Vania dan Nenek Aidah pun masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minum sedangkan Varel ditinggalkan bersama kedua anaknya yang tidak bisa diam
"Abang, itu apa?"
"Itu namanya cacing"
"Mengapa panjang sekali?"
"Entahlah"
"Abang, tolong ambilkan untukku"
"Mau kau apakan?"
tanya Varo menyelidik saat melihat Lista yang tersenyum penuh arti
"Ambilkan cepat. Kita tunjukkan pada Daddy"
Setelah Varo mengambil cacing tersebut menggunakan ranting kayu, akhirnya mereka dengan berhati-hati berjalan mendekati Varel yang sedang fokus pada ponselnya
__ADS_1
"Daddy"
panggil Lista dengan suara manjanya
"Astaga"
pekik Varel terkejut lalu berdiri di atas kursi sehingga mengundang tawa untuk kedua anaknya
"Daddy lihatlah dia lucu bukan?"
"Lista, jauhkan itu dari Daddy"
teriak Varel dengan wajah yang begitu takut membuat tawa Lista dan Varo semakin pecah
"Ada apa ini?"
tanya Vania yang baru saja keluar membawa nampan minuman dan beberapa kue kering
"Sayang"
ucap Varel lalu berlari dan bersembunyi dibelakang Vania
"Hei ada apa? Mengapa Daddy takut?"
tanya Vania mengerutkan kening
"Astaga apa Daddy tidak lihat? Ini sangat lucu Dad"
ucap Lista seraya mendekatkan ranting pohon kepada Varel
"Ish ish ish Daddy takut dengan cacing?"
"Tidak takut, hanya geli"
kilah Varel cepat yang membuat semuanya tertawa
Sedangkan dibalik pohon ditempat yang tersembunyi ada seorang pria yang memantau kearah mereka
"Hanya saat ini ku izinkan senyum terukir di wajah kalian. Jika aku tidak bisa membunuh Varel, maka aku akan membuatnya menderita dengan menghilangkan satu per satu orang tersayangnya".
*****
Malam harinya Lista merengek untuk kembali makan di warung makan kemarin padahal sore tadi Vania sudah berbelanja bahan makanan
Hingga akhirnya Varel pun menyetujui dan mereka sekarang sudah berada di warung makan yang kemarin
"Kalian ingin memesan apa?"
tanya Vania kepada kedua anaknya
"Seperti kemarin saja Mom"
ucap Lista bersemangat lalu Vania pun mulai menuliskan menu dan setelah selesai ia memberikannya kepada pelayan
"Sayang, aku ke toilet sebentar"
"Perlu ku temani?"
"Astaga, tidak perlu. Aku juga tidak akan diculik"
ucap Vania terkekeh pelan lalu pamit pergi ke toilet.
*****
Beberapa menit kemudian, Vania yang sudah selesai pun keluar dari dalam toilet bersamaan dengan beberapa pria yang menariknya paksa
"Astaga, tolongggg"
teriak Vania yang membuat salah satu pria langsung menutup mulut dan membiusnya hingga Vania tak sadarkan diri
"Obat bius tidak mengganggu kehamilannya, kan?"
tanya salah satu dari mereka
"Tidak, kau tenang saja"
"Aku berjanji untuk menculiknya dan tidak untuk menyakitinya dan calon bayi"
ucap pria tersebut lalu pergi membawa Vania yang sudah tak sadarkan diri.
*
__ADS_1
*
*